PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Menjelang 4


__ADS_3

"Win, maunya apa sih? tadi minta ke rumah sini, sekarang ribut menangis tengah malam begini ingin pulang ke rumah Oma dan Opa. Bunda jadi jengkel, tahu !!!" Aletha terlihat sangat kesal kepada anaknya.


"Bunda...hu..hu..hu...Win takut bunda...dari atas kamar terdengar ada orang jalan, ada orang loncat-loncat...hu...hu


...hu...hu...," Edwin anaknya Aletha dan Asrul menangis tersedu-sedu menjelang tengah malam.


"Terus bunda harus bagaimana? harus percaya sama khayalanmu. Ini sudah kedua kali kamu seperti begini. Keseringan menonton film horor dan acara horor, jadinya otaknya kacau seperti begini. Apapun juga kamu takut," Aletha semakin marah dan kesal dengan penuturan anaknya yang katanya mendengar suara-suara dari tempat kerja ayahnya yang tepat berada di atas kamarnya.


Asrul turun mengunci pintu kamar kerjanya dan turun ke kamar anaknya.


"Ayah sudah periksa kamar kerja ayah, itu cuma suara jendela yang lupa ayah tutup. Tidak ada apa-apa di atas sana, percayalah kepada ayah yah," Asrul mencoba menenangkan anaknya.


"Tapi Win tak mau tidur sendirian di kamar sini, ayah temani Win tidur di sini...


hu...hu...hu...," Edwin masih saja menangis ketakutan.


"Ayo, sudah atau tidur di sini sama Ewin, jangan menangis lagi yah. Anak laki-laki pantang menangis ketakutan seperti ini," ujar Asrul sambil memeluk anak mereka satu- satunya itu.


"Ayah sekarang yang memanjakan dia, jadi jangan selalu menyalahkan aku memanjakan anak yah. Terserah kalau kalian mau tidur berdua, bunda mau tidur di bawah sendirian," ujar Aletha sambil bergegas turun ke lantai bawah menuju ke kamarnya.


BRAAAKKK....BLLAAAMMM!!!!


Pintu kamar bawah terdengar dibuka kasar dan dibanting keras oleh Aletha.


Asrul lalu menutup pintu kamar anaknya, setelah itu segera berbaring berdua dengan Edwin di atas tempat tidurnya yang menjadi sempit kalau diisi oleh dua orang.


Bagi Asrul ini momen yang sangat jarang dia dapatkan, secara sejak anak ini bayi, seorang ayah mau menggendong anak sendiri juga selalu dicegah oleh mertua dengan alasan ini dan itu.


Jena tertawa geli di lantai atas, dia memang sengaja sejak tadi mondar-mandir di ruangan atas dan sesekali menghentakkan kakinya agar terdengar ke bawah seakan- akan ada orang sedang meloncat-loncat di atas sini.


"Hahaha...akhirnya anaknya nangis dan mereka tak bisa bercinta...hahahah...," Jena merasa senang sekali hatinya.


"Enak saja ada aku di sini mau bercinta, kalian tidak akan bisa bahagia selama aku tinggal di atas sini".


Jena sekarang memang tinggal di lantai atas di ruangan yang dijadikan studio kerjanya Asrul.


Sengaja Asrul juga telah menyediakan sebuah tempat tidur dan sudah merancang sebuah lemari ditutup oleh sekat di pinggir tembok sebagai tempat Jena bersembunyi manakala Aletha atau Edwin tiba-tiba naik ke atas sana.


Tapi sejauh ini baik Aletha maupun Edwin tak pernah sengaja naik untuk melihat ruangan di atas itu, karena alasan Asrul banyak serpihan maket untuk miniatur bangunan yang berserakan.


Asrul mengatakan khawatir kalau pecahan miniatur yang dibuatnya nanti dipegang Edwin lalu tercampur dengan yang lainnya, karena sudah dipisahkan masing-masing bagian.


Biasalah akal-akalan Asrul saja agar istri dan anaknya tidak naik ke ruangan lantai paling atas di rumah tersebut.


"Ayah, tolong jangan selalu menyudutkan aku dan mengatakan aku selalu memanjakan anak kita. Buktinya semalam dia menangis tak jelas malah ayah yang membelanya," Aletha protes kepada suaminya atas kejadian semalam.


"Bun, aku bukan membela tapi dia mungkin semalam ingin ditemani tidur oleh ayahnya," sahut Asrul sambil membuat roti selai dalam jumlah banyak.


"Ya, cuma aku kesal karena kejadian ini sudah yang kedua kali, selalu mengatakan mendengar suara aneh dari lantai atas tempat studio kerja ayah. Sebenarnya ada apa di sana ?"tanya Aletha sambil masih merasa kesal.


"Ya ampun, ada apa? hanya tumpukan karton, styro foam, cat, meja gambar, laptop lalu apalagi. Oh ya ada tempat tidur, kalau aku kelelahan tinggal tisur di atas sana," sahut Asrul sambil mulai memasukan roti selai itu ke dalam panggangan.


"Siapa tahu saja ayah menyimpan hewan, atau mungkin juga ada seseorang di atas sana. Aku kan tak tahu sama sekali keadaan di atas sana".


"Astaga, mana mungkin aku memelihara hewan di atas sana. Apalagi orang aku tempatkan di sana, kenapa sih bunda jadi berpikiran aneh begitu?"Asrul agak meradang mendengar penuturan istrinya.


"Ya siapa tahu saja...kalau tak ada apa-apa, yah jangan marah dong," ujar Aletha sambil membuka kaleng susu bubuk yang disimpan di lemari dapur.


"Ayah sekarang minum susu? luar biasa sekali, ini susu bubuknya sudah mau habis," Aletha terpana saat melihat isi kaleng susu hanya tinggal untuk satu gelas lagi saja.


"eeemmm...ya...aku suka susah tidur, jadi minum susu hangat menolong sekali untuk bisa tidur," sahut Asrul terdengar agak gemetar.


"Bagus kok minum susu, secara ayah sering di sini sekarang, jadi pola makan ayah tidak sempat aku perhatikan belakangan ini".


Asrul tersenyum kepada istrinya, padahal hatinya sangat tidak tenang atas ucapan Aletha.


"Rotinya banyak amat ayah, buat siapa, sebanyak ini akan dihabiskan oleh siapa?"Aletha terkejut saat melihat tumpukan roti panggang di atas piring.


"Edwin juga suka, dan aku hari ini banyak pekerjaan. Lumayan untuk cemilan di atas sana," sahut Asrul tapi tak berani memandang wajah istrinya.


"Hmmm, roti panggang paling hanya setangkup saja dimakan Edwin. Mana bisa dia makan banyak, tambah besar malah tambah susah makan. Harus yang dia inginkan saja baru bisa makan banyak," Aletha mengeluhkan kebiasaan anaknya sekarang.


"Siapa tahu saja roti buatan ayahnya sih dia akan suka dan banyak makannya," ujar Asrul perlahan.


"Bunda, ayo pulang ke rumah Oma dan Opa. Ewin tak mau lama-lama di sini," Edwin tiba-tiba turun dari lantai atas dan segera menghambur memeluk ibunya.


"Kenapa lagi sih, Win?".


"Bunda, Win itu selalu mendengar ada suara orang berjalan di atas sana. Kedengaran dari ruangan kerja ayah," Edwin terlihat ketakutan sambil memeluk ibunya.


"Ayah, sepertinya anakmu harus dibawa ke atas sana agar dia bisa melihat kalau tidak ada apa-apa di atas sana," pinta Aletha kepada Asrul.


Seketika Asrul melotot dan tentu saja dia sangat gusar dengan ucapan istrinya.


"Baiklah, nanti ayah bereskan dulu jalan masuknya. Nanti ayah panggil Ewin ke atas yah," ucap Asrul sambil melangkah ke lantai atas. Dia berjalan sambil berpikir keras harus bagaimana, karena di atas ada Jena yang mungkin masih tidur di jam segini.


"Mana rotiku? aku lapar tahu!!!"kata Jena sambil melotot saat Asrul tiba di lantai paling atas rumahnya.


"Sabar Jena, ada kok rotimu. Tapi sekarang aku minta tolong kamu masuk ke sekat pinggir lemari dulu, sebentar saja. Anakku mau naik ke atas sini," pinta Asrul kepada Jena.


"Hmmm, harus aku sembunyi terus seperti kucing. Aku tak mau, aku lapar, cepat mana rotiku?"Jena malah merajuk keras.


" Jena...tolong sebentar saja, Edwin menengok kemari sebentar saja. Nanti aku bawakan roti ke atas, please help me. Aku mohon sama tolong aku sebentar saja," Asrul memohon kepada Jena.


Sambil kesal, sebal dan jengkel, Jena mengomel tapi dia akhirnya mau juga masuk ke sekat di pinggir lemari yang ada di ruangan itu.


"Lihat, tak ada apa-apa di atas sini. Hanya ruangan kecil, banyak urusan pekerjaan ayah di atas sini. Mana mungkin ada orang berjalan - jalan atau berlarian di atas sini," kata Asrul ketika membawa Edwin ke studio kerjanya yang tepat berada di atas kamarnya.

__ADS_1


Edwin menatap ke setiap sudut ruangan kerja ayahnya, dia meneliti setiap detil apa yang ada di ruangan itu.


Anak itu mengangguk, lalu segera minta turun dari ruangan lantai atas tersebut karena Aletha memanggilnya dari bawah.


"Ayah, ayo antar belanja sebentar ke supermarket. Aku lihat di lemari es semua persediaan makanan di sini sudah hampir habis semuanya," ajak Aletha kepada suaminya.


"Hmmm, ayo, tapi sebentar aku simpan dulu roti ini ke atas," kata Asrul tampak terburu-buru membawa roti panggang ke lantai atas.


"Aneh ayah itu, buat apa juga roti panggang disimpan ke atas?" tanya Aletha saat Asrul sudah tiba di bawah lagi.


"Biar aku enggak lupa saja, jadi aku simpan di lantai atas untuk aku makan nanti. Ayo sudah kita berangkat, jangan dipikirkan soal roti tadi".


Lantas mereka bertiga pergi ke supermarket berbelanja berbagai makanan untuk keperluan di rumah yang ditinggali oleh Asrul.


Setelah itu menghabiskan waktu bersama makan siang bersama di sebuah mall.


"Edwin akan tidur dimana malam ini?"tanya Asrul sambil mengusap kepala anaknya yang sedang lahap makan ayam goreng tepung kesukaannya.


"Win bobo di rumah Oma sajalah, kalau di rumah ayah dan bunda selalu takut. Yakin sekali Win dengar ada orang jalan kaki mondar-mandir. Mungkin ada monster di ruangan kerja ayah," Edwin bergidik ketakutan membayangkan ada mahluk halus di ruangan kerja Asrul.


"Kamu terlalu banyak main games zombie, nonton film vampire, pastinya jadi terobsesi pikirannya dengan hal-hal semacam itu deh," sahut Asrul sambil mendelik ke arah anaknya.


"Tapi lain ayah, ini lain. Aku sungguh mendengar ada orang jalan kaki. Yakin banget".


"Semalam tidur sama ayah, kan. Tapi ayah tak mendengar suara apapun, kok".


"Mungkin monster itu takut sama ayah".


Aletha hanya mesem-mesem saja mendengar pembicaraan ayah dan anaknya, sungguh tak jelas pembicaraan keduanya bagi dirinya.


Monster atau mahluk halus, hal yang tak masuk akal bagi Aletha, dan dia memilih diam saja daripada emosi lagi kepada anaknya.


Asrul mengantar anak dan istrinya ke rumah mertuanya, segala yang tadi mereka beli dibawa pulang oleh Asrul karena memang itu semua untuk keperluan Asrul selama satu pekan ke depan.


"Enak banget makan di mall, sementara aku di sini kelaparan tingkat dewa," Jena mengomel ketika Asrul tiba kembali ke rumahnya.


"Ini aku bawakan kok ayam goreng tepung dan juga kentang gorengnya," Jena langsung merebut bungkusan plastik yang disodorkan Asrul kepadanya.


Jena segera makan ayam goreng itu dengan lahap seperti orang yang sudah dia tahun tak menemukan makanan.


"Pelan-pelan sedikit kalau makan tuh, nanti tersedak malah bikin repot," Asrul memperingatkan Jena.


"Biarin ah, orang sudah lapar banget dari tadi".


Lalu Asrul mencuci buah-buahan dan memasukan ke dalam lemari es, berikut juga sosis dan beberapa macam makanan lainnya.


"Pasti tiga hari juga sudah habis semua makanan ini, heran aku melihat Jena. Hamil tapi malah rakus, lain dengan istriku dulu yang malah susah makan ketika hamil Edwin dulu," guman Asrul sambil menata semua bahan makanan tadi di dalam lemari es.


"Mila, kamu lagi apa, sayang?" tanya Fuad melalui telepon kepada istrinya.


"Ya ampun, dari kemarin marah terus. Aku bukan jalan-jalan, Mila. Aku ada pekerjaan di Kalimantan, kebetulan atasanku minta aku memperbaiki salah satu pipa minyak di sini," jawab Fuad dengan sabar kepada istrinya.


"Memang suamiku itu lebih cinta pekerjaan dibanding sama istri sendiri. Sedang berdua dengan istri juga bisa rela membiarkan aku, lalu langsung suka laptop ngurusin pekerjaan yang tak akan pernah habis," Asmila mengoceh lagi kepada Fuad.


"Mila, maafkan aku sayang. Habis bagaimana lagi, memang begini pekerjaanku. Tolong pahami yah sayang," Fuad mencoba merayu istrinya.


"Mas bisa ke Kalimantan, tapi menyambangi istri di Jakarta susah minta ampun. Sampai aku memohon juga masih tetap tak mau kemari".


Fuad menghela nafas, lalu menjawab Mila pernyataan Mila barusan.


"Aku ke Kalimantan bukan untuk main atau jalan-jalan, Mila. Demi Allah. Aku bersama atasanku ada pekerjaan di sini, ada pipa mereka yang rusak dan kebetulan aku paham soal perbaikan pipa".


Asmila tidak menjawab, tapi terdengar oleh Fuad kalau istrinya sedang menangis.


"Baiklah sayang, sebagai gantinya nanti minggu depan kita bertemu di Bandung. Kita habiskan waktu berdua saja di sana. Setuju tidak?" Fuad membujuk istrinya dengan membuat janji untuk minggu depan.


"Terserah mas saja, aku tak mau bilang iya, nanti aku kecewa lagi. Sudah sering kita membuat janji pergi berdua dan hasilnya tak pernah ada".


"Aku mau melanjutkan menonton drama korea lagi. Sudah dulu ya, mas. Nanti saja kita bicarakan lagi kalau Mas sudah benar yakin bisa mengajak aku jalan-jalan berdua," ujar Asmila dengan nada dingin kepada suaminya.


Lalu telepon merekapun diakhiri, Asmila langsung menangis ketika mengakhiri pembicaraan dengan suaminya itu.


Fuad di seberang sana juga menggenggam ponselnya, ada rasa sedih karena selama ini dia merasa sering mengecewakan istrinya yang minta waktu ingin berdua saja di suasana berbeda.


Hari senin pagi merupakan hari yang baru lagi bagi Soraya, dia segera berangkat menuju kampus yang sudah lebih dari satu tahun lamanya ditinggalkan olehnya.


Hampir seluruh staf kampus menyambutnya, para dosen juga beberapa seniornya berdatangan menyambut Soraya yang baru lulus strata 3 dari Universitas New Zealand.


"Nanti setelah jam makan siang, kita ada pertemuan dengan ketua yayasan dan dewan penasehat Universitas. Tolong nanti Ibu Soraya hadir tepat waktu yah," kata rektor di universitas tempat Soraya mengajar.


Soraya tentu saja merasa tersanjung karena mendapatkan undangan secara khusus seperti itu.


Sambil menunggu waktu, Soraya berkumpul dengan kedua sahabatnya di kampus.


Yang satu adalah kepala administrasi, namanya Ibu Kristi dan seorang lagi seorang pria agak lembut namanya Pak Tatang.


Mereka bertiga menamakan diri "Triple O", yaitu Otang, Oti dan Oya.


Kristi ini orang Binjai aslinya, dia kalau memanggil teman selalu ada kata O nya.


Contoh misalkan memanggil Soraya," Ya..O...Ya...Soraya...


O...Ya...!!!".


Dan kalau memanggil Tatang juga seperti itu," Tang...O..Tang


....Tatang...O....Tang...!!!".

__ADS_1


Dan Kristi mengamankan diri sendiri Titi, jadi Soraya dan Tatang membalas panggilannya," Ti...O...Ti...Titi..


O...Ti....".


Berawal dari situlah maka tercipta "Triple O" tersebut.


"Akhirnya Triple O bisa kumpul lagi yah," ujar Kristi alias Oti dengan gembira.


"Iya betul say, aku juga kangen banget sama Oya. Cerita dong say di NZ gimana aja, eh, say makasih loh hadiahnya. Aku suka bingit," ujar Otang alias Tatang dengan gaya manjanya.


"Ah, di NZ sama saja kayak di sini, cuma enggak ada siomay, batagor, cendol...hahahah," sahut Soraya menggoda Otang.


"Hahaha...dasar Oya...bukan cerita yang benar deh," Otang seperti biasa merajuk manja.


Lalu Soraya mulai bercerita tentang selama dia di sana dan juga tentang teman-teman dari negara lain yang juga menjadi sahabatnya selama belajar di sana.


"Eh...katanya ada yang baru pulang dari luar negeri, pakai bagi-bagi gantungan kunci sama tempelan magnet lemari es segala. Kirain lama di luar negeri, pas pulang bawa apa gitu. Tahunya bawa barang murahan juga pamer. Capek deh...," terdengar suara seseorang dengan sengaja menyindir Soraya.


Tentu saja Soraya paham siapa yang bicara begitu, tapi dia diam saja pura-pura tak mendengar perkataan orang tadi.


Ketiganya lantas melanjutkan ceritanya yang sempat beberapa saat terpotong.


Ira adalah salah satu dosen yang sangat berambisi untuk menduduki kursi sebagai rektor.


Ketika tahu Soraya ternyata berhasil lulus dari luar negeri tentu saja membuat dirinya merasa terancam akan direbut posisinya yang diincarnya oleh Soraya.


Dan Ira didukung oleh seorang temannya yang juga dosen di sana yang bernama Anes.


"Iya yah , coba kalau yang berangkat ke luar negeri itu Ibu Ira, pastinya ketika pulang akan membagi oleh-oleh yang mahal harganya," ujar Anes menambah panas suasana.


"Pasti dong, aku sih walau bukan lulusan luar negeri tapi kualitasnya jauh lebih baik dong daripada yang baru pulang dari luar negeri," sindir Ira lagi ditujukan kepada Soraya.


Kristi mulai agak panas hatinya mendengar ucapan kedua orang itu.


"Otang, aku nanya dong. Kalau orang yang suka nyindir itu namanya apa sih?!!!" Kristi mulai melancarkan balasan.


"Oh...kayaknya sih namanya enggak tahu diri deh," sahut Tatang sok polos.


"Masa?!!!" teriak Kristi lagi.


"Bodoh!!!" sambut Tatang.


"Masa Bodoh!!!...Hahahaha," Triple O tertawa membalas sindiran Ira dan Anes.


"Kalian mengejek aku?!!!" Ira tiba-tiba memandang tajam ke arah Kristi.


"Eh...ada yang ngajak ngomong sama kita nih. Kayaknya pengen gabung jadi Lima O deh," ejek Kristi tapi sengaja tidak memandang ke arah Ira.


"Kalau Lima O jadi apa dong, Ti?" tanya Soraya menahan tawa.


"Otang, Oti, Oya, lalu Onyet dan Onyong...hahahahah..!!!" seru Kristi dengan lantang.


Ketiga sahabat itu tertawa keras mendengar jawaban Kristi, dan tentu saja Ira juga Anes semakin kesal dan mereka meninggalkan ruangan dengan wajah cemberut.


Siangnya Soraya menemui rektor dan segera menghadap kepada ketua yayasan. Lalu mereka terlibat pembicaraan soal rencana penggantian rektor dikarenakan rektor lama akan segera memasuki usia pensiun.


"Maaf pak, menurut saya sebaiknya diadakan ujian kelayakan dan kepatutan atau biasa disebut fit and proper test kepada beberapa kandidat agar lebih adil," ujar Soraya memberi masukan.


"Ibu Soraya tidak percaya diri dengan kemampuan anda sendiri?" tanya ketua yayasan.


"Bukan begitu pak, maksudnya agar adil dan tidak ada orang yang tersakiti. Karena mungkin ada dosen lain yang juga punya keinginan menjadi rektor. Dan juga saya walau lulusan luar negeri, mungkin juga tidak mempunyai kemampuan menjadi pemimpin".


"Namun kalau ada ujian seperti itu, maka akan lebih adil dan lebih jelas untuk menentukan siapa yang layak menggantikan bapak rektor saat pensiun nanti," Soraya menjelaskan dengan luar biasa.


Tentu saja ketua yayasan dan rektor saat ini setuju dengan pendapat Soraya.


"Mbak As, aku besok pulang ke Bengkulu. Karena orang tua sudah meninggal semua, sayang rumah warisan kalau dijual begitu saja. Jadi aku dan suami akan pindah semua kembali ke kampung halaman," ujar Ratna sahabat Asmila jaman dahulu saat masih bekerja di toko kosmetik.


"Yang penting sampai di Bengkulu nanti kamu harus tetap semangat berusaha yah. Kalau misal memungkinan, kamu gabung dengan perusahaan tempat aku bekerja yang ada di cabang sana," Asmila memberi semangat kepada sahabatnya.


Mereka berdua sedang duduk di sebuah cafe, kebetulan Ratna menghubungi Asmila yang sedang suntuk di rumah kostnya.


"Besok pagi kami ke bandara dan langsung kembali ke tanah kelahiran," Ratna tampak sedih karena akan semakin jauh dengan sahabatnya.


"Eh, ngomong-ngomong dulu kamu pernah cerita soal kyai yang bisa mengobati segala macam penyakit. Apakah beliau masih ada?" Asmila tiba-tiba ingat akan cerita Ratna beberapa tahun lalu.


"Wah, aku harus sampai kesana dulu, baru nanti aku bisa tahu beliau masih ada atau sudah meninggal. Nanti setelah aku tinggal di sana, aku akan memberi kabar lagi kepadamu," sahut Ratna.


Tak lama kedua sahabat harus berpisah, karena Ratna sudah dijemput oleh suaminya.


Mereka saling berpelukan, dan Asmila sangat berharap kyai yang pernah diceritakan oleh Ratna masih ada.


Dia rencananya ingin membawa Mario kesana, harapannya besar sekali ingin Mario bisa sehat kembali seperti sedia kala.


Kemarin ini Mario sempat bercerita kepadanya kalau dia takut di operasi, sebab menurut banyak cerita orang operasi kanker itu sama saja bohong.


Biaya besar keluar tapi malah membuat orang yang sakit akan bertambah parah.


Berbekal pemikiran itu, Mario saat ini sedang berusaha mencari obat herbal untuk penyembuhannya.


Hanya saja sayang sekali, Mario tak pernah membahas penyakitnya dengan keluarganya, padahal kakaknya merupakan seorang dokter handal.


Selama ini Mario menyembunyikan penyakit yang dideritanya kepada seluruh keluarganya.


Dia tetap berusaha menunjukkan kalau dia baik-baik saja di hadapan siapapun.


Padahal semakin hari penyakit itu semakin parah menggerogoti seluruh tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2