PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Kejutan Kecil di Hari Jum'at


__ADS_3

Hari jumat pagi Asmida mendapat telepon dari kantor pusat tempat dirinya menjadi agent asuransi jiwa di bawah mentor adiknya sendiri yaitu Asmila.


Karena Asmila sudah meninggal, maka otomatis mentor langsung ditangani oleh direktur utama karena belum ada pengganti.


Asmida gemetaran di telepon langsung oleh direktur utama yang menegur dirinya, karena dianggap lalai dalam bekerja.


"Saya tidak mau tahu, hari senin kamu harus ada di kantor pusat. Harus membuat seremonial pembayaran klaim atas nama Mario Maliangkay yang kemarin meninggal dunia. Dalam catatan, kamu sebagai agen yang menangani nasabah tersebut," Direktur utama marah besar kepada Asmida.


"Jangan mau enaknya saja mendapat uang, tapi giliran ada klaim meninggal dunia malah diam saja tidak mau mengurusi. Saya tidak mau tahu, kamu harus bisa menghubungi istri nasabah, lalu sampaikan senin pagi harus ada di kantor pusat untuk pembayaran klaim".


Asmida tidak bisa berkata apa-apa selain gemetar dan tidak bisa mengeluarkan kalimat lain selain "baik pak" dan " maaf pak".


Pagi itu Asmida segera bergegas ke kantor cabang perusahaan itu di kotanya, mencari data nama dan nomor telepon istrinya Mario Maliangkay yang bisa dihubungi .


Soraya baru mengantar kedua anaknya ke sekolah, lalu dia segera menuju ke kampus tempatnya mengajar.


Sepanjang jalan ponsel di dalam tasnya terus berbunyi, tapi tak mungkin dia angkat karena sedang mengemudi.


"Siapa yang telepon dari tadim aku tak mungkin angkat. Nanti ada polisi malah panjang urusan," ujar Soraya bicara sendiri sambil mengemudi.


Sesampainya di gerbang kampus tempatnya mengajar, segera dia memasuki area tempat parkir khusus dosen.


Setelah parkir, baru mencari ponsel miliknya di dalam tas. Ada tiga panggilan dari nomor yang tak dia kenal, Soraya tak mau ambil resiko menghubungi balik. Jujur dia masih khawatir, takut ada awak media yang masih mencari informasi seputar kematian suaminya.


Soraya segera keluar dari mobil dan berjalan menuju ke gedung kampus. Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya ada yang mengangguk, ada yang menyapa dengan ucapan selamat pagi, ada yang sibuk dengan gawainya dan ada juga yang tidak mempedulikannya dengan pura-pura tidak melihatnya.


Namun Soraya juga santai saja, karena memang pemandangan seperti itu sudah lumrah setiap harinya.


Memasuki ruang dosen, Soraya segera duduk di mejanya dan bersamaan dengan itu ponselnya kembali berbunyi memunculkan nomor yang tadi.


"Halo, dengan Soraya Wongso, ada yang bisa saya bantu?" ujar Soraya ketika menjawab panggilan telepon tersebut.


"Selamat pagi ibu Soraya, maaf mengganggu. Semoga di pagi ini ibu diberikan kesehatan dan juga penuh semangat. Saya Asmida, agen asuransi jiwa yang menangani polis milik bapak Mario Maliangkay. Apakah benar ibu Soraya adalah istri dari almarhum bapak Mario Maliangkay?" Asmida memberondong dengan sapaan dan pertanyaan.


"Siapa!!??? anda siapa?" Soraya terkejut mendengar nama yang disebutkan orang itu.


"Saya dengan Asmida," jawab Asmida mantap.


"As...siapa?"Soraya terlihat terkejut mendengar nama itu.


"Asmida, bu. Nama saya Asmida," jawab Asmida.


"Apa hubungannya dengan Asmila?" tanya Soraya penasaran.


"O, iya, Asmila adik saya. Tapi sudah tiada, jadi saya sekarang yang diberi tugas oleh perusahaan untuk mengurus klaim kematian pak Mario," sahut Asmida menjelaskan kepada Soraya.


"Asmida, Asmila, hmmm. Baiklah, jadi bagaimana urusan klaim kematian suami saya tersebut?" tanya Soraya lagi.


"Begini, nanti di awal minggu depan, di hari senin pagi, kami tunggu ibu Soraya ke kantor kami. Membawa polis asuransi atas nama suami ibu, kalau tidak salah ada dua buah polisnya," kembali Asmida menjelaskan kepada Soraya.


"Polis asuransi, hmmm. Saya harus mencari dulu dimana almarhum suami saya menyimpannya".


"Harapan kami semoga polis tersebut ada, namun kalau memang tidak ketemu, nanti kami coba cari cara lain di internal kami," sahut Asmida.


"Baik, nanti saya cari dulu. Kalau memang ada, nanti saya hubungi anda lagi atau bagaimana ?" tanya Soraya.


"Silahkan hubungi saya di nomor ini. Ibu bisa kontak saya di nomor ini, dan nanti saya juga akan kirim alamat kantor pusat untuk kita bertemu hari senin," sahut Asmida penuh semangat.


Setelah itu pembicaraan diakhiri karena Soraya harus mengajar di kelas. Sementara Asmida setelah menghubungi Soraya, segera mempersiapkan semua data Mario untuk keperluan pencairan klaim kematiannya.


Kemarin Reynaldi dan juga Magenta masing-masing sudah minta ijin cuti kepada perusahaan tempat mereka bekerja masing-masing, dan kebetulan atasan-atasan mereka memberi ijin.


Sehingga hari jum'at ini mereka bisa berangkat ke Semarang, karena Reynaldi ingin berkenalan dengan kedua orang tua Magenta.


"Aku mengajak Fuad beserta kita, tidak keberatan, kan ?" ujar Aletha kepada Magenta.


"Wow, luar biasa. Aku dan Rey pasti tidak masalah, cuma dia beda tujuan, bukan? Kota tempat tinggalnya Fuad itu di Cirebon, yah," Magenta bertanya-tanya.


"Kemarin aku mengajak dia beserta, karena kita akan lewat jalan tol. Nah, kalau lewat jalan tol pasti akan melewati kota tempat tinggal Fuad," jawab Aletha.


"Lalu dia tentu segera mau dong," goda Magenta.


"Awalnya menolak, tapi aku sedikit memaksa kepadanya. Jadi saja dia mau ikut bersama," sahut Aletha lagi.


"Hmmm, kak Etha pasti sedikitnya mulai jatuh hati sama dia".


"Tidak juga, setidaknya kami bersahabat. Begitu saja, tidak ada unsur lain".


"Sahabat...hmmm, kenal belum lama, lalu merasa senasib. Boleh juga, tuh. Sahabat awalnya, mungkin suatu saat jadi suami. Entahlah," Magenta kembali menggoda sang kakak.


"Sudah, sekarang kamu telepon Rey. Tanyakan dia sudah ada dimana, nanti terlalu siang kita jalannya," ujar Aletha sambil berlalu ke kamarnya.


Magenta geleng-geleng kepala, dia yakin sekali kalau sang kakak mulai tertarik kepada Fuad.


Tak lama Aletha keluar dari kamar sambil menarik kopernya, tapi Magenta jadi terbelalak ketika melihat penampilan kakaknya.


"Astaga, kak Etha serius?" tanya Magenta sambil memelototi Aletha.


"Seriuslah...".


"Alhamdulillah, Ya Allah. Sudah membukakan pintu hidayah, kak Etha berhijab. Semoga tetap dengan keyakinannya ini," ujar Magenta terpana memandang kakaknya.


"Insyaallah, aku masih belajar. Dan semoga saja hijab ini tak akan lepas," jawab Aletha.


Magenta mendekati kakaknya dan memeluknya dengan terharu.


"Insyaallah aku juga akan menyusul. Setelah akad dengan Rey, aku juga akan berhijab," ujar Magenta.


"Alhamdulillah, seharusnya kita dari dulu melakukan ini. Tapi mungkin memang belum jalannya, baru sekarang hatiku terketuk".


"Tapi jujur, bukan karena Fuad, yah".


"Hahahaha, bukan dong. Ini ketetapan hatiku. Aku sekarang menyandang status janda, tak enak kalau orang memandang aku masih berdandan terbuka. Setidaknya dengan status janda malah sekarang membuka hati agar aku menutup aurat," jawab Aletha mantap.


Kedua kakak beradik kembali berpelukan sambil menitikkan air mata haru.


Ponsel Magenta berbunyi, rupanya dari Reynaldi kekasihnya. Rey memberitahu kalau dirinya sudah ada di basemen apartemen bersama Fuad.


"Ayo, kita segera ke bawah. Ini kunci mobilku, nanti kamu serahkan kepada Rek saja, biarkan dia yang mengemudikan mobilnya nanti".


Aletha menyerahkan kunci mobil miliknya kepada Magenta, lalu keduanya segera keluar pintu apartemen dan memasuki lift menuju lantai parkir di lantai dasar gedung tersebut.

__ADS_1


Keduanya terlihat keluar dari pintu lift menuju mobil, dan di depan mobil ada Reynaldi bersama Fuad tengah berbincang-bincang.


Saat Fuad menengok ke arah lift, dirinya juga terpana melihat penampilan Aletha yang sangat berbeda.


Berpakaian tunik lengan panjang, celana panjang hitam, memakai kaus kaki dan sepatu tertutup dan yang lebih mempesona adalah penutup kepalanya.


Fuad sampai tak bisa berkedip melihat Aletha berhijab, terlihat berbeda dan aura cantiknya malah lebih terpancar.


"Masyaallah, luar biasa, sampai aku tak mengenali ibu ini," ujar Fuad sambil menatap lekat kepada Aletha.


"Ah, pak Fuad, ini aku Aletha. Masa lupa, hehehe".


"Sungguh saya sampai terpana, ibu ini cantik sekali berhijab. Sejak kapan, kemarin masih terlihat rambut diikat ekor kuda," ujar Fuad yang masih terpesona dengan penampilan Aletha.


"Pak, saya kan jendes. Masa jendes terbuka, sudah saatnya saya tobat," sahut Aletha bercanda.


"Tapi saya berharap semoga mbak Aletha selamanya berhijab. Jangan sampai dilepas lagi, saya sebenarnya senang kalau melihat wanita berhijab," ujar Fuad sambil masih menatap Aletha.


Ucapan itu membuat Aletha jadi salah tingkah, wajahnya segera terasa panas merona. Dalam hatinya merasa bahagia berbunga-bunga atas ucapan Fuad itu, tapi walau bagaimana juga dia baru saja kehilangan suami.


Tentu Aletha harus menjaga sikap, apalagi saat ini dia sudah yakin akan terus berhijab. Maka sudah saatnya sebagai wanita muslimah harus lebih menjaga kehormatan dirinya.


Fuad meminta dirinya saja yang mengemudikan mobil sampai nanti di perbatasan kota Cirebon.


"Kami mau makan siang empal gentong dan sedikit berbelanja oleh-oleh kota Cirebon. Jadi mas Fuad harus mengantar kami sampai ke tempat makan yang paling enak di sana," kata Aletha saat mobil sudah mulai bergerak.


"Oke, siap. Nanti aku carikan tempat makan yang enak yang tidak jauh dari pintu tol," sahut Fuad.


Reynaldi duduk di kursi samping pengemudi, dan di belakangnya tentu saja Magenta. Sedangkan Aletha duduk tepat di belakang kursi pengemudi. Sambil menyetir mobil dan berbincang-bincang di dalam mobil, sesekali Fuad mencuri pandang melalui kaca spion dalam melihat Aletha yang duduk tepat di belakangnya.


"Ya Allah, baru saja Asmila pergi, lantas aku dipertemukan dengan Aletha yang senasib denganku. Apakah ini sebenarnya pertanda daripada Mu. Semoga Allah membukakan jalan terbaik, aku tidak berani terlalu cepat melangkah," batin Fuad berkata demikian sambil melirik ke arah Aletha dari kaca spion dalam mobil.


Sekitar tiga jam perjalanan dari Jakarta menuju kota Cirebon, menjelang tengah hari tepatnya pukul sebelas siang mereka sudah tiba di kota Cirebon.


"Saya carikan tempat makan yang ada empal gentong dan makanan lainnya. Nanti mbak Aletha dan Magenta tunggu di rumah makan, saya dan mas Reynaldi akan sholat jum'at dulu di Masjid terdekat".


"Oke, siap mas Fuad. Kami ikut saja karena jujur saya belum pernah ke kota Cirebon," sahut Reynaldi.


"Cirebon kecil dibanding Semarang, kapan-kapan menginap di kota ini. Nanti saya antar berkeliling kota Cirebon".


"Mas Fuad juga kapan-kapan harus ke Semarang, yah. Apalagi nanti kalau kami menikah, mas Fuad wajib hadir," ujar Magenta sambil melirik sang kakak.


"Insyaallah, kalau diundang ke pernikahan mbak Magenta dan mas Reynaldi, pasti saya usahakan hadir," sahut Fuad sambil kembali melirik Aletha.


Reynaldi dan Magenta saling berpandangan, mereka paham kalau di dalam mobil itu ada yang tengah saling mencuri pandang.


"Saya akan catat nama mas Fuad di daftar undangan, nanti kami kirim undangannya," ujar Reynaldi sambil senyum penuh arti.


Aletha hanya diam saja, dalam hatinya merasa bahagia mendengar Fuad akan hadir kalau kelak adiknya menikah.


Selepas sholat jum'at dan makan siang sesuai keinginan Aletha dan adik-adiknya, maka waktunya Fuad harus berpisah dengan mereka.


"Nanti mas Reynaldi putar arah kembali ke jalan tadi, dan masuk lagi ke pintu tol yang menuju kota Semarang," ujar Fuad menjelaskan kepada Reynaldi.


"Terima kasih mas Fuad, sudah mengemudi, sudah membayari makan, lalu membelikan kerupuk juga cemilan lain untuk oleh-oleh. Saya bahagia sekali, semoga saja bisa keterusan bareng-bareng mas Fuad," ujar Magenta sambil menggoda kakaknya dan juga Fuad.


"Sama-sama, saya juga menebeng gratis sampai Cirebon. Senang sekali bisa berkenalan dengan kalian semua," sahut Fuad.


"Insyaallah, suatu saat saya akan menemui mbak Etha," sahut Fuad sambil senyum menatap Aletha.


Semua bersalaman, lalu Aletha dan adik-adiknya segera melaju meninggalkan Fuad untuk meneruskan perjalanan pulang ke Semarang.


Berat rasanya hati harus berpisah dengan Fuad, hal yang sama juga terjadi dalam hati Fuad.


Setelah mobil Aletha sudah tidak terlihat lagi, lalu Fuad memesan ojek online untuk menuju pulang ke rumahnya.


Sementara di tempat lain, Jimmy sedang menandatangani kontrak di ruangan kantor Andreas Cheung bersama Louis Orlando Handoyo.


"Sesuai dengan kesepakatan dalam surat kontrak kerja ini, aku tidak mau ada tangan ketiga dalam proyek ini. Aku yang akan turun tangan langsung karena ini adalah permintaan ibu aku," ujar Louis Orlando menatap Jimmy dengan mantap.


"Baik, saya akan berusaha menjaga kepercayaan pak Louis kepada perusahan kami," sahut Jimmy.


"Jimmy, aku sudah transfer sebesar dua puluh lima persen dari nilai kontrak ke rekening perusahaanmu. Tolong hari senin depan setelah peletakan batu pertama oleh ibu Ivanna, pekerjaan harus segera dimulai," kata Andreas Cheung sambil menatap Jimmy juga.


"Baik, terima kasih. Saya akan segera persiapkan semuanya dengan sebaik mungkin".


Tiba-tiba pintu ruangan Andreas Cheung terbuka dan masuklah sosok Kristy dibantu oleh salah satu petugas kantor membawa masuk beberapa kotak berisi makanan.


"Wah, bontot datang juga akhirnya," ujar Louis sambil menyongsong adiknya dan membantu membawakan kotak makanan tadi.


"Huh, aku ngebut masak tadi sehabis olah raga. Baru selesai mandi, langsung ngebut lagi nyetir bawa makanan kemari. Memangnya untuk siapa makanan ini?" tanya Kristy dengan setengah mengomel sambil membuka kotak makanan yang dibawanya.


"Untuk aku dong. Kakakmu ini sedang jauh dari istri, mama minta aku bantu proyek pembangunan kampus. Jadi aku harus di sini beberapa minggu ini, kamu tidak kasihan sama aku?" Louis menjawab sambil melirik manja kepada adiknya.


"Ando kan ada di rumah mama, masa asisten rumah tangga di sana tidak memasak. Aneh sekali".


"Ya ampun, kamu tidak rela memasak untuk kakakmu ini. Jahat sekali".


"Bukan begitu, minta buru-burunya itu loh. Aku sampai kelabakan, pulang olah raga langsung masak. Sekarang aku capek, Ando tanggung jawab. Aku ingin makan kue tiramisu yang enak, belikan aku sekarang juga," rengek manja Kristy kepada kakaknya.


"Ehm...saya tahu toko kue yang menjual kue tiramisu yang enak dekat sini. Apakah mau saya belikan?" tiba-tiba Jimmy ikut nimbrung diantara pembicaraan Louis dengan adiknya.


"Nah, sudah kamu saja yang belikan kue itu, aku mau makan dulu masakan adikku," sahut Louis sambil langsung mengambil kotak makanan yang sudah dibuka adiknya.


"Baik, saya pamit sebentar. Saya belikan kue itu sekarang juga," ujar Jimmy sambil beranjak lalu segera keluar dari ruangan kantor itu.


"Hmmm, tampaknya adik kita sedang diperjuangkan oleh seorang pria," goda Andreas Cheung sambil ikut mengambil salah satu kotak makanan yang ada di meja tamu di ruangan kerjanya.


"Aku tidak yakin dia akan kembali kemari membawakan aku kue tiramisu," ujar Kristy sambil membuka salah satu botol air mineral yang ada di ruangan itu dan meminumnya.


"Kita tunggu saja," sahut Andreas Cheung sambil mulai menikmati hasil masakan adik iparnya.


Jimmy segera turun dari lantai dua puluh gedung Margo's Tower, lalu dia bergegas berjalan kaki menuju jembatan penyeberangan yang berada tak jauh dari gedung itu.


Ada dua jembatan penyeberangan yang harus dia tempuh untuk menuju ke toko kue itu.


Tak lama Jimmy tiba di sebuah toko kue yang merupakan langganan ibunya, Jimmy segera memilih kue tiramisu berbagai varian di toko itu.


Ada sekitar tujuh macam varian kue tiramisu, dan Jimmy segera membayar semua pesanannya dan bergegas kembali ke kantornya Andreas Cheung.


Karena berjalan kaki, seluruh punggung kemeja Jimmy sekarang basah karena keringat yang bercucuran karena tadi dia berjalan cepat dan juga ditambah teriknya kota Jakarta.

__ADS_1


Sesampainya di lobby gedung, petugas penjaga sudah kenal dengannya, jadi dapat segera masuk ke dalam gedung tanpa harus menghadapi protokoler dari para petugas penjaga.


"Sudah hampir empat puluh lima menit, rasanya tak mungkin dia akan kembali membawa kue," ujar Kristy sambil melihat jam tangannya.


"Rupanya menghitung waktu juga, bontot kamu kayaknya jatuh cinta sama dia," goda Louis sambil menatap adiknya yang terlihat gelisah.


"Sudahlah, aku mau kembali ke rumah makan. Malas juga nunggu orang tidak jelas," Kristy bangkit dari duduknya dan beranjak pergi.


Baru saja dia membuka pintu ruangan kantor kakak iparnya, di depan pintu ada Jimmy yang masih ngos-ngosan mengatur nafas dan di tangannya ada sekotak kue tiramisu untuk Kristy.


"Kamu memangnya lari untuk membeli kue ini?" tanya Kristy.


"Kalau pakai mobil harus berputar jauh, ditambah macet di ujung jalan sana dan juga harus mencari tempat parkir. Jadi tadi aku jalan kaki menyeberangi jembatan penyeberangan di depan gedung ini," sahut Jimmy sambil nafasnya masih tidak beraturan.


"Oke, terima kasih. Aku bawa kue ini, aku harus segera ke rumah makan," sahut Kristy sambil menenteng kotak kue dari Jimmy.


Louis dan Andreas hanya pura-pura tidak mendengar pembicaraan Kristy dan Jimmy, keduanya pura-pura sibuk membicarakan sesuatu.


Jimmy lalu masuk ke ruangan kantor itu dan meminta sebotol air mineral, segera dia minum karena sangat kehausan.


"Jimmy, tampaknya anda sudah selesai urusan di sini. Mungkin harus segera ke lapangan untuk persiapan pembangunan senin nanti," ujar Andreas Cheung seakan mengusir dirinya dari ruangan itu.


"Baik, mohon maaf. Saya segera ke lapangan sekarang," ujar Jimmy sambil membawa botol air mineral tadi.


Kristy rupanya tadi bertemu dengan ibunya yaitu ibu Ivanna, lalu mereka berdua sekarang duduk di taman yang tak jauh dari depan pintu lift yang ada di lobby.


"Anak mama, kapan mau pulang ke rumah sayangku?" tanya Ibu Ivanna sambil memeluk Kristy.


"Mama, aku sayang sama mama. Nanti aku pasti pulang, seorang aku mau mewujudkan mimpi dulu memajukan rumah makanku," sahut Kristy.


"Padahal papa sudah setuju dengan semua keinginanmu. Papa sudah banyak berubah, tidak sekeras dulu yang selalu ingin mengatur dirimu," lanjut ibu Ivanna.


"Kristy paham, tapi untuk saat ini sepertinya aku belum bisa pulang. Maafkan Kristy, mama," ujar Kristy menyahuti ibunya.


"Apa yang kamu bawa? kotak apa ini?" tanya Ibu Ivanna ketika melihat ada kotak kue di tangan anaknya.


"Ini kue dari Jimmy, tadi aku membawakan Ando makanan. Tapi ketika aku minta Ando membelikanku kue tiramisu, malah Jimmy yang segera membelikannya untukku. Dia malah jalan kaki menyeberangi jalan raya di depan untuk ke toko kue itu," Kristy menceritakan kepada ibunya.


"Coba mama lihat kuenya?" tanya Ibu Ivanna.


"Ini lihat, sepertinya enak. Ayo, kita makan kuenya, mama," ajak Kristy kepada ibunya.


Ibu Ivanna mengambil salah satu kue yang berwarna coklat, dan Kristy mengambil kue berwarna coklat muda.


"Enak sekali, ternyata Jimmy punya selera makan yang bagus," ujar Ibu Ivanna.


"Mama, masih ingat sama ibu Regina teman senam yoga mama dulu?" tanya Kristy.


"Tentu saja ingat, sudah lama sekali mama tidak jumpa. Sejak mama diminta untuk aktif kembali mengajar, lalu sudah tidak senam lagi. Memangnya kamu ingat ibu Regina?" terlihat ibu Ivanna merasa keheranan.


"Kemarin aku bertemu beliau".


"Kok bisa, dari mana kamu tahu ibu Regina. Saat itu kamu masih sangat kecil sekali, usiamu baru sekitar dua atau tiga tahun".


"Aku belajar membuat kue panada kepada beliau".


"Oh, iya benar, mertuanya dulu pandai sekali membuat kue panada. Kalau tidak salah anaknya ibu Regina dulu ada yang sangat sayang sama kamu ketika dulu kecil, tapi mama lupa siapa namanya," ibu Ivanna ingat kejadian masa lalu ketika masih senam yoga.


"Jimmy".


"Jimmy? maksudnya?" Ibu Ivanna tidak paham.


"Iya, namanya anak itu Jimmy".


Ketika itu pintu lift terbuka, dan Jimmy keluar dari sana. Bertepatan saat itu Kristy dan ibu Ivanna sedang memandang ke arah pintu lift, sehingga Jimmy otomatis bertatapan dengan keduanya.


"Jimmy!" Spontan ibu Ivanna menyebutkan nama Jimmy.


Jimmy segera mengangguk, lalu menghampiri ibu Ivanna dan menyalaminya.


"Apa kabar, bu?" tanya Jimmy dengan nada sopan.


"Baik, kamu pasti habis bertemu Andre dan Louis, yah," sahut Ibu Ivanna ramah.


Jimmy hanya menganggukan kepalanya sambil senyum.


"Saya pamit dulu, bu. Saya harus segera ke lokasi pembangunan".


"Baik, sukses yah. Jangan kecewakan saya, Jimmy".


"Baik, bu. Saya pamit".


Lalu Jimmy menatap Kristy yang sejak tadi diam saja sambil sesekali melirik Jimmy.


"Kristy, aku jalan dulu".


Kristy menatap Jimmy, lalu menganggukan kepalanya tanpa menjawab apapun.


Jimmy berjalan menuju tempat parkir di lantai dasar gedung itu, sambil melangkah tanpa dia sadari kalau Kristy terus menatap punggungnya.


"Mama jadi ingat, Jimmy itu anak ibu Regina. Oh, semoga saja pembicaraan kami dulu menjadi kenyataan," ujar ibu Ivanna tiba-tiba.


"Maksud mama apa?" Kristy bingung tiba-tiba ibunya terlihat begitu senang.


"Tak apa-apa, mama ke atas dulu. Kamu hati-hati di jalan, nanti kapan-kapan mama ingin bertemu dengan ibu Regina," ujar ibu Ivanna sambil segera berjalan menuju lift untuk ke ruangan kerjanya.


Sore hari Aliong terlihat sedang mengawasi barang-barang bahan bangunan yang sedang diturunkan dari atas bak truk.


Ketika uang sudah dibayarkan oleh Andre, lalu Marsela memeriksa rekening perusahaan. Setelah uang masuk, lalu Jimmy memintanya untuk memesan bahan-bahan bangunan dari supplier rekanan mereka.


Aliong sejak pagi sudah siap di lapangan, mengawasi pembuatan gudang untuk menyimpan bahan bangunan dan juga meminta beberapa karyawan untuk membuatkan tenda di bawah pohon untuk penjual makanan.


Dan sekarang sedang mengawasi barang datang dan mulai diturunkan untuk disimpan ke dalam gudang yang sudah dibuat sejak pagi.


Aming sedang ikut seniornya di bengkel, mereka naik mobil derek menuju ke lokasi yang dilaporkan oleh seorang pemilik mobil yang kondisinya mogok saat itu.


Kebetulan lokasi mogoknya mobil itu berada tidak jauh dari lapangan tempat Aliong sedang bekerja mengawasi pembongkaran barang dari atas truk.


Sambil melihat cara seniornya memeriksa mobil mogok, sesekali Aming menatap ayahnya yang sedang memakai helm proyek dan mengawasi para karyawan bangunan sedang bekerja menurunkan barang.


"Nanti aku akan periksa dan memastikan kalau dia benar-benar bekerja," bisik Aming dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2