
Jam sembilan pagi Jimmy sudah tiba di depan Big Beauty Resto, setelah parkir segera turun dan masuk ke dalam rumah makan itu.
Semua karyawan sudah datang, tapi rumah makan memang belum dibuka, sejam dari sekarang baru akan dibuka biasanya.
Saat Jimmy masuk, terlihat Oci masih sedang membersihkan meja-meja dan kursi-kursi yang akan diduduki pengunjung nanti.
Ada yang namanya Andri yang biasa menjadi pelayan seperti Oci, dirinya tengah mengepel lantai rumah makan di sisi barat.
Di dapur ada Joyo sang koki masak, dibantu Nur asisten koki masak dan juga ada Siwi yang bertugas mencuci piring dan kebersihan dapur.
Ketiganya tampak sibuk di dapur, ada yang memotong sayuran, mengiris daging dan juga seperti sedang mencuci buah-buahan juga sayuran dan lain-lain.
Sementara Rian petugas yang biasa mengantar pesanan makanan sedang membantu menyapu di sisi timur rumah makan tersebut.
Kristy boss mereka tidak terlihat, pastinya masih ada di lantai atas di ruangan kantornya yang kecil.
"Aku ke atas yah," ujar Jimmy minta ijin kepada Oci.
"Hmmm, sedang ada tamu di atas," sahut Oci.
"Menunggu di depan ruangannya boleh, kan?" tanya Jimmy lagi.
Oci saling berpandangan dengan Andri, lalu dia menganggukan kepala kepada Jimmy tanda memperbolehkan untuk naik ke atas.
Tentu saja Jimmy segera melangkah menuju tangga dan naik ke atas, sementara Rian yang sedang menyapu di bawah tangga, barusan merasa sangat terkejut karena ada sosok tinggi besar langsung lewat di sampingnya melesat bagaikan angin.
Tiba di lantai atas, pintu ruang kantor Kristy sedikit terbuka, dan terlihat Kristy sedang duduk sambil berhadapan dengan dua orang pemuda.
Jimmy duduk di depan ruangan itu, sambil duduk bisa menguping sedikit pembicaraan mereka yang ada di dalam.
Dari pembicaraan terdengar kedua orang pemuda tadi menawarkan kerjasama untuk iklan secara digital, dan juga masalah pembagian keuntungan dan lain-lainnya.
Terdengar juga kedua pemuda itu akan membantu Kristy dalam pembuatan konten untuk ditayangkan di media sosial.
Kristy tampak menyambut baik penawaran kedua pemuda tadi, dan mereka saling berjabatan tangan sebagai tanda kerjasama akan segera dimulai.
"Besok kami akan kemari lagi, nanti mbak Kristy siapkan bahan makanan apa yang akan dimasak, kami buat videonya dan setelah proses editing akan segera tayang di media sosial," ujar salah satu pemuda saat akan keluar dari ruangan.
"Baik, besok akan saya siapkan semuanya, nanti kita lakukan di depan ruangan ini. Karena kebetulan belum dijadikan apa-apa, sehingga bisa saya siapkan untuk pembuatan konten," sahut Kristy sambil berjalan menuju pintu ruangan kantornya.
Dan ketika dia membuka pintu, alangkah terkejutnya karena melihat Jimmy sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya di depan ruangan kantornya itu.
"Wah, ada suaminya mbak Kristy?" tanya salah satu pemuda.
Jimmy segera bangkit dan memberi salam kepada kedua pemuda itu dengan sok percaya diri seakan dirinya adalah suaminya Kristy, lalu Jimmy berbincang sebentar soal layout untuk pembuatan konten iklan Big Beauty Resto esok hari.
"Baik, terima kasih, pak. Besok kami kemari lagi sambil membawa perlengkapan pembuatan videonya dengan lengkap," ujar salah satu pemuda tadi.
Lalu keduanya pamit kepada Kristy dan Jimmy, setelah keduanya turun ke bawah, Kristy melirik tajam kepada Jimmy sambil berjalan cepat menuju ruangan kerjanya.
Ketika akan menutup pintu, Jimmy segera menahan pintu ruangan tersebut, tampak Kristy masih mencoba menutup seakan menolak Jimmy untuk masuk. Tapi tenaga wanita walau bagaimana juga tetap saja kalah dibandingkan pria.
Kristy duduk di meja kerjanya, lalu Jimmy mengikuti dan duduk di hadapannya. Sambil cemberut Kristy pura-pura mengutak-atik komputer yang ada di atas meja kerjanya.
"Kamu kenapa sih? Aku telepon balik, tidak diangkat. Aku kirim chat, tidak dibalas. Tapi aku paham, seharian kemarin kamu video call kepada kakakmu, aku tahu itu cuma buat ngecek aku, kan," ujar Jimmy memulai pembicaraan.
Kristy menatap Jimmy sambil berkata," Buat apa aku ngecek, percaya diri sekali anda".
"Hmmm, maaf, mungkin aku salah duga. Jadi sekarang kenapa dan ada apa, kamu dari kemarin bertingkah seperti anak kecil. Bicara sajalah, jangan menyebalkan begini," Jimmy menunjukkan dirinya kesal.
Kristy diam sambil wajahnya cemberut, tapi dia mulai tak tahan ingin bicara apa yang membuatnya kesal kepada Jimmy.
"Yang menyebalkan siapa? waktu awal kita jalan berdua, aku masih ingat, aku cerita kepadamu kalau aku sedang kesal dengan pengunjung bernama Damayanti. Karena wanita itu minta sesuatu yang tidak patut ada di rumah makanku".
"Dua hari yang lalu, Damayanti dan kawan-kawannya datang lagi. Lalu dia duduk bersama Jimmy Maliangkay, lalu ngobrol dengan gembiranya. Ternyata kamu kenal dengan Damayanti, aku tidak sangka sama sekali," ujar Kristy sambil mendelik kesal ke arah Jimmy.
"Oohhhh, iya itu Damayanti, dulu teman kampus aku. Tepatnya dia adik angkatan di bawahku," sahut Jimmy.
"Tapi kenapa waktu kemarin ini aku cerita soal Damayanti, seakan kamu tidak tahu orang yang namanya Damayanti?" tanya Kristy ketus.
"Ya ampun, waktu itu memang aku tidak tahu. Mana aku tahu kalau yang kamu ceritakan menyebalkan itu ternyata Damayanti teman kuliahku dulu. Memangnya yang namanya Damayanti cuma dia saja, banyak nama seperti itu. Jadi tentu saja aku tak paham kalau yang kamu maksud adalah orang itu," tukas Jimmy membela diri.
"Tapi kata petugas parkir memberitahu Oci, lalu Oci bilang sama aku, malam itu kamu mengantar pulang perempuan yang namanya Damayanti itu. Katanya dia dan kedua temannya berpisah mobil, kamu mengantar Damayanti itu pulang," Kristy juga terlihat kesal kepada Jimmy.
"Hmmm, iya benar, dia ikut aku sampai perempatan jalan. Lalu dia turun dan naik taksi on line. Aku tidak mengantarkan ke tempat tinggalnya karena jauh di Jakarta Utara sana,"Jimmy menjelaskan apa adanya.
"Kok gitu, bohong yah," Kristy tak percaya.
"Kristy, malam itu kamu video call aku jam sepuluh malam. Dan kamu tahu sendiri aku ada dimana, kan. Aku baru sampai rumah, baru selesai mengunci pintu rumah. Kalau aku mengantar perempuan itu, jam sepuluh malam pasti aku belum kembali ke rumah," Jimmy menukas tuduhan Kristy.
Setelah mendengar itu, lalu Kristy diam saja, tapi sambil berpikir kalau yang diungkapkan Jimmy itu sangat masuk akal.
"Teman kuliahmu itu sudah menikah atau belum? kalau sudah, masa malam-malam masih pergi dengan teman-temannya?" lanjut Kristy mulai menyelidiki lagi.
"Mana aku tahu, sudah menikah atau belum. Bukan urusan aku".
"Masa sih, aneh sekali kamu tidak bertanya sedikit soal kehidupan pribadi kepada teman kuliah dulu. Setidaknya kalau masalah sudah menikah atau belum, biasanya umum untuk ditanyakan," Kristy merasa aneh dengan penuturan Jimmy.
"Aku saja belum nikah, buat apa menanyakan orang lain soal pernikahan. Lain urusannya kalau aku juga sudah menikah," kembali Jimmy membela diri, dan masuk akal juga atas penuturannya itu.
"Tapi, kalian pasti saling bertukar kontak, bertukar sosial media, iya kan?" Kristy mengulik lagi.
"Ini periksa ponselku, nih ada dua, yang satu untuk pekerjaan dan satu lagi untuk pribadi, dipakai sosial media. Silahkan periksa," kata Jimmy sambil meletakkan kedua ponselnya di hadapan Kristy.
"Tapi bisa saja namanya kamu ganti".
"Nama bisa diganti, tapi foto profil mana bisa diganti oleh orang lain. Periksa saja semuanya, chat pribadi aku juga silahkan kamu periksa. Kalau ada foto dan nama Damayanti silahkan perlihatkan kepadaku," tantang Jimmy kepada Kristy.
__ADS_1
Tentu saja Kristy sebagai perempuan merasa senang disuruh seperti itu oleh kekasihnya, tentu bukan hanya nama Damayanti saja yang akan dia bidik, tapi bisa saja ada nama perempuan lain yang suka berkomunikasi dengan Jimmy.
Sementara Kristy memeriksa ponselnya, Jimmy turun ke lantai bawah untuk meminta Oci membuatkan kopi untuknya.
Kristy semangat menelusuri ponsel Jimmy, dia memeriksa rekam jejak panggilan masuk dan keluar, kebanyakan nama lelaki yang tampil.
Memeriksa menu chat, ada beberapa nama wanita tapi kebanyakan ibu-ibu yang menanyakan soal pekerjaan seperti meminta penawaran renovasi rumah atau sejenisnya.
Kopi selesai dibuat, kemudian Jimmy naik lagi ke atas, langsung ke ruangan kerja Kristy lagi.
"Jadi bagaimana? ada nama itu di ponselku atau di sosial mediaku?" tanya Jimmy sambil menyeruput kopinya.
Kristy diam saja sambil masih mengamati media sosialnya Jimmy, dan memang tidak ada nama teman atau pengikutnya yang bernama Damayanti atau Yanti, bahkan fotonya nama itu juga sama sekali tidak ada.
Tiba-tiba ponsel Jimmy berdering, terlihat nama Samuel muncul menghubunginya.
"Terima saja olehmu, aktifkan speakernya, itu Samuel temanku yang waktu itu aku ajak makan kemari," ujar Jimmy menyuruh Kristy menerima panggilan itu.
Kristy ingat akan Samuel yang memang pernah Jimmy bawa ke rumah makan, juga pernah tahu saat Mario meninggal dulu.
Ponsel Jimmy ada di tangan Kristy, maka segera Kristy menekan tombol hijau sambil mengaktifkan speaker ponsel itu.
"Jimmy !!!!!Gila!!!!! tebak gue barusan ketemu siapa!!!???" teriak Samuel dari seberang sana ketika Kristy selesai menekan tombol hijau.
"Apaan sih elu, teriak-teriak enggak jelas," sahut Jimmy terkesan sebal mendengar teriakan itu.
"Jiiiimmmmm!!!!! Yanti!!!! Yanti...., Jiiimmmm...,
Damayanti mantan pacar lu!!!" teriak Samuel dengan kencang, tentunya membuat Kristy langsung mendelik, juga mata Jimmy jadi terbelalak.
"Mati gue," batin Jimmy dalam hati setelah mendengar teriakan Samuel.
"Jimmy!!! itu si Yanti barusan ketemu gue, dia mau ke dokter kulit. Gila!!! tambah cantik saja dia, badannya masih langsing, pakai baju seksi banget tadi. Tambah keren saja, dan tadi gue sempat ngobrol sebentar, ternyata dia sudah janda anak satu," Samuel menjelaskan kepada Jimmy dengan terang-terangan.
Jimmy ingin sekali merebut ponselnya, tapi tentu saja Kristy menggenggam erat sambil mendengarkan setiap ucapan Samuel.
Wajah Kristy dingin dan datar saat mendengarkan apa yang diucapkan Samuel itu.
"Kalau elu ketemu dia lagi, gue yakin elu bakalan naksir lagi, Jim. Dari dulu elu memang suka sama cewek tinggi langsing kayak dia. Makanya gue heran, sekarang lu bisa pacaran sama cewek yang badannya montok".
"Memang sih yang montok mantap kalau dipeluk, cuma kan elu doyan yang kurus biar enak diangkat, badan kecil kurus kata elu enak kalo diajak ciuman sambil dipangku. Benar kan dulu elu suka ngomong kayak begitu," Samuel bicara tanpa ada rem membuat Jimmy semakin sakit kepala.
"Sam, sudah dulu, yah. Gue kagak mau tahu soal si Yanti. Bukan urusan gue, sudah matikan telepon lu!!!" teriak Jimmy.
"Wah, reseh lu, belum lihat saja elu sekarang Yanti kayak apa. Nanti kalau ketemu Yanti, pasti lu kagak bisa tidur. Gue jamin bakalan teringat terus," Samuel tidak paham kalau ada Kristy tengah bersama Jimmy.
"Kalau lu ngomong sekali lagi soal dia, pas ketemu gue tabok mulut lu," ujar Jimmy kesal.
"Iya, deh. Eh... Memang lu lagi sama siapa sih? suara lu bergema, lu lagi dimana Jim?" tanya Samuel polos.
Jimmy diam saja tak mau menjawab, wajahnya terlihat sangat gusar.
"Ini Kristy, Jimmy lagi sama aku, kebetulan handphone Jimmy sedang ada tanganku".
Samuel langsung terdiam, lalu sedetik kemudian terdengar suara "Tut...Tut...Tut". Ponsel Samuel ditutup tanpa ada aba-aba lagi.
Kristy meraih kedua ponsel Jimmy dan meletakkan di hadapan Jimmy, lalu berkata,
"Ternyata mantan pacar, luar biasa sekali".
Kristy beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Jimmy segera menghadang, sambil kedua tangannya berusaha ingin memegang kedua lengam Kristy tapi tak mungkin karena Kristy memasang wajah garang.
"Kristy...dengar dulu, tolong dengarkan aku dulu, aku mau menjelaskan kepadamu," ujar Jimmy terlihat panik.
"Dengarkan apa? Sudah jelas kalau Kristy itu memang cewek gemuk yang bodoh dan tolol, dan pantas dibohongi. Lain dengan janda langsing pasti lebih menggoda dibandingkan aku yang seperti ini," ujar Kristy dengan bibir bergetar, matanya terpejam tak mau menatap Jimmy.
"Aku mau keluar, jangan halangi aku. Sumpah aku kecewa denganmu, diam-diam kamu mengkhianati aku. Memang aku bodoh, dulu pacaran sama homo, sekarang pacaran sama tukang bohong. Awas... minggir.... aku mau keluar...!!!" pekik Kristy sambil berusaha menarik Jimmy dari pintu.
Jimmy berdiri di pintu menghalangi Kristy agar tidak keluar ruangan kerjanya itu.
"Aku harus dengar apa? sudah jelas kamu bohong sama aku, menutupi hubungan dengan mantanmu, lalu menjelekkan aku, menghina aku seperti itu. Kamu juga sebenarnya tidak suka sama aku, sudah sering kamu juga menghinaku," ujar Kristy dengan kesal dan nafas tersengal.
"Kristy, tolong diam dulu dan dengarkan aku. Sekarang aku mau menjelaskan semuanya kepada kamu. Tapi kalau kamu marah dan teriak-teriak terus, semuanya malah akan kacau. Jadi tolong dengarkan aku bicara," ujar Jimmy sambil terus berusaha menenangkan Kristy yang masih terlihat emosi dan sakit hati.
"Percuma, sudah basi. Sungguh aku kecewa, apa maksudmu mendekati aku, apa maksudmu mengatakan fix you, bohong semua. Cuma membuat aku semakin sakit hati saja, basi tahu!!!" seru Kristy lagi sambil melotot kepada Jimmy.
Jimmy berusaha tetap diam sambil menarik nafas dalam-dalam, berusaha tetap tenang agar bisa menguasai keadaan saat itu.
Mendengarkan luapan amarah Kristy yang sedang dipenuhi emosi, sikap Jimmy tetap berusaha tenang dengan diam tidak mengeluarkan komentar apapun.
"Aku memang gendut, jelek, paham aku juga sama keadaan diri sendiri. Tapi aku tidak terima kalau harus dibandingkan sama orang lain. Apalagi dibandingkan sama mantan pacarmu. Setidaknya walau aku gendut, jelek, tapi aku masih punya harga diri. Aku tidak suka mabuk, tidak suka merokok. Biar begini juga aku hidup sehat dan melakukan hal yang berarti," Kristy lagi-lagi meluncurkan kalimat-kalimat kesedihan yang tengah dirasakannya.
"Temanmu itu keterlaluan sekali menghina aku, tapi aku yakin makanya dia berani berkata seperti itu, pasti sebelumnya ada perkataan jelek dari mulutmu tentang diriku," keluh Kristy lagi sambil terdengar masih emosi.
Lalu Kristy duduk di sofa sambil terlihat menyeka air yang keluar dari ujung mata kanannya.
Jimmy juga ikut duduk di sebelah Kristy, sontak Kristy bergeser membelakangi dirinya.
Hening....hanya sesekali terdengar isakan tangis Kristy, terasa oleh Jimmy kalau suara yang dikeluarkan Kristy saat itu karena ada rasa sesak dalam dadanya karena merasa direndahkan oleh orang lain.
"Kristy, aku memang salah, benar kalau Damayanti adalah mantan pacarku. Aku baru tahu dia ada lagi di kota ini, kemarin saat sedang makan di bawah".
"Aku waktu itu duduk sendirian karena aku menunggu kamu selesai melayani pengunjung. Tiba-tiba Damayanti dan dua temannya datang menghampiri, alasannya ikut duduk sebentar dan kalau sudah ada meja lain yang kosong, mereka akan segera pindah meja".
"Meja lain di sekitar meja kami ternyata tidak ada yang kosong, jadi mau tak mau mereka terus ikut makan dan ngobrol di mejaku," ujar Jimmy memulai penjelasannya.
"Memangnya aku buta, aku lihat kamu senang duduk sebelah perempuan itu. Tangan kamu di sentuh, lengan kamu di elus, sesekali dia menepuk pundak kamu sambil tertawa-tawa," tukas Kristy dengan ketus.
__ADS_1
"Waduh, detil sekali dia memperhatikan aku," bisik hati Jimmy.
"Hmmm, baiklah, sekarang jawab, apakah aku tampak senang dan membalas perlakuan dia sama aku?" tanya Jimmy dengan nada menekan.
Kristy terdiam, karena dia ingat waktu itu Jimmy terlihat rikuh dan risih dengan tingkah Yanti.
"Mana aku tahu, kan kamu yang dipegang dia. Aku cuma melihat sekilas saja," tukas Kristy
"Aku kemarin banyak diam, aku hanya membalas percakapan dengan kedua temannya Yanti. Sedangkan dengan Yanti, aku jarang menjawab, bahkan hampir tidak menanggapi ucapannya".
"Tak lama Oci datang ke mejaku, dia membisikan ke telingaku katanya kamu tidak bisa menemani aku makan karena masih sangat sibuk".
"Jadi aku memilih untuk pulang saja, walaupun aku merasa lapar karena malam itu aku belum makan, lalu bilang sama Oci kalau aku pulang saja".
"Nah, ketiga perempuan itu malah mengejar aku, lalu Yanti begitu saja masuk ke mobilku. Kedua temannya bilang titip Yanti, karena mereka ada urusan lain. Lantas aku menjalankan mobil, sesampainya di perempatan jalan, aku pesan taksi online".
"Dia bilang tinggal di apartemen di Jakarta Utara, aku pesankan dan bayarkan taksi on line saja. Memang dia turun sambil marah-marah ketika taksinya tiba, tapi aku tak peduli, bukan urusanku dan bukan tanggung jawabku mengantarkan dia".
"Masalah aku tadi menjawab pertanyaan kamu tentang Yanti, memang benar dia teman kuliahku dulu. Dan kenapa aku tidak menjelaskan kalau dia mantanku, alasannya karena dia sudah tidak penting bagiku".
"Buat apa aku harus bilang ke orang-orang kalau Yanti mantanku, dia sudah tidak penting, malas juga rasanya membahas orang itu".
Jimmy menjelaskan panjang lebar kepada Kristy yang masih duduk di sofa sambil masih membelakangi Jimmy.
"Sekarang masalah ucapan Samuel, sudah tak usah didengarkan. Aku paham kamu pasti kamu sakit hati mendengarnya, tapi itulah memang gurauan lelaki".
"Pada dasarnya lelaki itu memang suka menilai perempuan secara fisik. Tapi itu hanya sekedar kata-kata, tidak ada artinya".
"Yang namanya lelaki kalau melihat perempuan pasti ada saja komentarnya. Yang kulitnya putih, dikomentari. Ada perempuan kulitnya hitam, pasti diberi komentar. Lihat lagi perempuan badannya kurus, tentu dikomentari, begitu juga melihat perempuan gemuk, sudah pasti ada komentarnya".
"But...it's nothing, only joke. Bukan yang sesungguhnya diucapkan pakai hati".
"Karena bagi lelaki urusan mencari pasangan beda dengan sekedar iseng menilai perempuan. Pasangan hidup dicari memakai hati, bukan sekedar mata memandang".
"Memang di awal seorang lelaki pasti menilai perempuan dari fisik dan penampilannya, tapi kalau untuk mencari pasangan hidup, itu harus dari hati paling dalam. Yang lelaki cari perempuan yang bisa memberi rasa nyaman dan kebahagian buat dirinya".
"Tak selalu perempuan cantik bisa membuat lelaki bahagia, tapi perempuan yang bisa membahagiakan seorang lelaki akan selalu cantik di matanya".
Jimmy kembali menjelaskan sekaligus membagikan cara pandang lelaki terhadap wanita.
Kristy diam saja mendengarkan semua penuturan Jimmy, sambil mencoba mencerna apa yang disampaikan Jimmy itu masuk akal atau tidaknya.
"Terus aku masuk kategori yang mana? apakah aku perempuan yang bisa membahagiakan kamu atau tidak?" tanya Kristy mulai agak melunak.
"Aku sudah bilang, aku yang bodoh karena pernah kasar sama kamu. Masalahnya jujur aku punya trauma sama perempuan, tapi walau berusaha menyangkal dan menghindar dari kamu, entah mengapa kita selalu saja dipertemukan".
"Kolega mengajak makan, yang dipilih makan kemari. Bahkan untuk dapat pekerjaan juga harus rapat di sini. Sampai pekerjaan saling disepakati juga di tempat ini. Dan tempat ini punya Kristal Yelena Handoyo alias Kristy si rambut gulali, si dedek putih gemes".
"Keluargaku semua sering menanyakan Kristy, walau waktu itu aku belum menjadikan kamu sebagai pacarku tapi semua keluargaku sudah sayang sama Kristy".
"Mamihku, dan keponakanku semua telanjur sayang sama tante Kristy. Masa aku harus cari perempuan lain, sementara yang dicari adalah Kristy".
"Tapi itu kan keluargamu yang sayang sama aku, terus memangnya aku tahu perasaan kamu. Bisa saja keluargamu sayang sama aku, tapi kamu sayang orang lain," Kristy mulai merajuk.
Jimmy paham, Kristy sudah mulai melunak. Tanpa ragu lagi dia raih tubuh Kristy dan dia peluk dari belakang.
Kristy sontak meronta, tapi Jimmy malah semakin erat dan kuat memeluk dirinya.
"Aku harus dengan cara apa membuktikan kalau aku sayang sama kamu dan aku cinta sama kamu, hah!!!???" tanya Jimmy sambil memeluk erat Kristy dari belakang dan menciumi aroma rambut Kristy yang sangat wangi.
"Ojim...lepas, apa-apaan sih kamu...!!!" seru Kristy sambil tangannya berusaha melepas tangan Jimmy yang melilit pinggangnya.
Melihat Kristy berontak malah membuat Jimmy makin gemas, lalu dengan satu gerakan kedua tangan Kristy bisa dia kunci erat.
Tanpa banyak bicara, tubuh Kristy dia baringkan di kedua pahanya, dan langsung bibir Jimmy menerkam bibir mungil Kristy yang merah merekah.
Ciuman Jimmy semakin bergairah, sekarang dirinya sudah memeluk tubuh Kristy yang terbaring di pangkuannya.
Kristy berusaha menolak, tapi Jimmy malah semakin kuat memeluknya dan semakin gencar mencium bibirnya.
Rasanya Kristy seperti hampir kehabisan nafas, tapi tak kuasa mendorong tubuh Jimmy yang begitu kuat memeluk dirinya.
Sedari tadi ponsel Jimmy berdering dan bergetar, tapi diabaikan begitu saja karena saat ini Jimmy sedang sangat menikmati bibir Kristy.
Sementara di depan rumah makan Big Beauty Resto, mobil Andreas Cheung tampak sedang parkir di halaman depan rumah makan itu.
"Boss Louis, itu bukannya mobilnya Jimmy?" tanya sopir mobilnya Andreas Cheung.
"Wah, sinting Jimmy. Gue telepon berkali-kali kagak diangkat, kagak tahunya ada di tempat adik gue. Lagi apa dia di sini?" Louis terlihat kesal karena sedari tadi menelepon Jimmy tak kunjung disahuti.
Setelah mobil parkir, Louis segera masuk ke rumah makan dan matanya mencari keberadaan sosok Jimmy.
"Oci, ada Jimmy di sini?" tanya Louis dengan suara agak keras.
"Eh, boss Louis...iya, ada di atas. Sejak tadi sudah lama di atas sama boss Kristy," sahut Oci dengan terkejut dan agak takut kepada Louis.
"Sialan, gue dari tadi nelponin Jimmy, kagak diangkat terus. Kagak tahunya lagi sama adik gue. Sinting, ngapain dia pagi-pagi sudah ada kemari?" Louis terlihat sangat kesal kepada Jimmy.
"Saya tidak paham, boss," sahut Oci gemetaran.
"Ya sudah, gue ke atas deh. Sinting, Jimmy ngerjain gue. Untung saja ada di sini," sambil berjalan ke atas Louis tampak mengomel sendirian.
Sementara di atas Jimmy masih berpelukan dengan Kristy, bahkan suasananya keduanya sekarang semakin memanas, keduanya saling menikmati ciuman di bibir mereka.
Tanpa pikir panjang setibanya di lantai atas, Louis segera meraih pegangan pintu ruang kerja Kristy dan kebetulan tidak terkunci.
Pintu terbuka dengan lebar, dan langsung terdengar suara menggelegar.
__ADS_1
"LAGI NGAPAIN KALIAN !!!???".