PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Hari-hari Selanjutnya


__ADS_3

Tiga hari berlalu sejak Mario dimakamkan, suasana rumah Soraya masih juga ramai didatangi teman dan kerabat.


Seakan tak ada hentinya, tamu-tamu melayat dan memberikan semangat agar jangan terlalu lama dalam kesedihan kepada Soraya dan kedua anak gadisnya.


Opa Hansen dan Oma Regina kemarin sudah dibawa pulang ke rumahnya, sehingga hari ini benar-benar hanya Soraya bersama kedua anaknya dan ditemani oleh Mince asisten rumah tangga yang paling setia.


"Mama, sejak tadi Mega mengunci diri di kamarnya. Entah apa yang dia lakukan di dalam kamar," ujar Maya mengadu kepada ibunya.


"Maya sudah tanya belum sama Mega, dia lagi apa di dalam kamarnya?" tanya Soraya kepada anak sulungnya.


"Mama, kalau Maya tahu juga pasti tidak akan bilang sama mama. Dia itu sudah sejam ini mengunci diri, tadi Maya ketuk pintu kamarnya juga tidak dibuka," sahut anaknya lagi.


"Hmmm, ada apa anak itu? sebentar lagi makan siang pula, aneh-aneh saja," kata Soraya sambil naik menuju ke kamar anaknya.


TOK ...TOK... TOK...


"Mega, coba buka pintunya. Kamu sedang apa sayang? ayo jawab mama," Soraya mengetuk dan memanggil nama anak bungsunya.


Tapi sudah beberapa kali mengetuk pintu kamar, tetap tidak ada jawaban dari anaknya.


"Mega...Mega...ayo buka pintunya, nak!" teriak Soraya mulai meninggi suaranya.


Tetap tidak dibuka dan tidak ada jawaban dari anaknya.


"VALERIA MEGANA MALIANGKAY!!!! AYO BUKA PINTUNYA!!!!" tanda Soraya sudah sangat marah kalau memanggil nama lengkap anaknya dengan nada tinggi.


Seharusnya anaknya paham kalau ibunya sudah memanggil namanya dengan lengkap dengan nada tinggi berarti amarah ibunya sudah sampai pada puncaknya.


CEKLEK..


Pintu kamar terdengar kuncinya diputar dan pintunya terbuka, lalu terlihat wajah anaknya berwajah sembab dengan air mata menggenang membasahi hampir seluruh wajahnya.


"Kamu kenapa, nak? ada apa kamu menangis sambil mengunci diri? cerita sama mama, ada apa Mega?" tanya Soraya sambil terlihat panik.


Mega menangis lebih keras sambil memeluk erat Soraya, Maya yang berada di bawah menjadi penasaran lalu mengajak Mince naik ke atas.


"Ada apa Mega? bilang sama mama, jangan mengunci diri nanti kamu sesak nafas sendirian bagaimana. Mama tak mau kalau harus kehilangan kamu juga," ujar Soraya yang jadi ikut menangis melihat anaknya seperti itu.


Mega menangis sambil memeluk Soraya, dan tentunya Soraya juga memeluk sambil mengelus punggung anaknya agar tangisnya mereda.


Setelah mulai mereda tangisnya, lalu Mega mengambil inhaler dan menyemprotkan alat itu ke mulutnya agar tidak menjadi sesak nafasnya.


"Ada apa sayang? cerita sama mama, jangan seperti itu mengunci diri sambil menangis. Tidak baik seperti itu, nak," kata Soraya sambil mengusap kepala anaknya.


Mega pelan-pelan mengatur nafasnya, lalu dia menatap Soraya dan berkata," Mama, kalau Mega tanya sesuatu, apakah mama akan marah sama aku?".


"Kamu mau tanya apa, nak? katakan saja, mama akan dengarkan pertanyaanmu," jawab Soraya.


Mega menatap mata Soraya, lalu dia bertanya ," Mama, apakah benar kata orang lain dan juga kata di televisi. Papa telah selingkuh?".


Soraya tentu saja terkejut mendengar pertanyaan itu, dan berusaha menjawab sebijak mungkin," Mega, apa alasanmu percaya dengan ucapan orang di luar sana? mereka hanya sekedar bicara saja, tak mungkin papa kalian berbuat setega itu, nak".


"Tapi, Mega pernah lihat ada pakaian dalam perempuan di dalam koper papa. Mbak Mince yang jadi saksinya".


Soraya sangat kaget dan terperanjat, tapi dia berusaha tetap tenang dan berpikir cepat agar anaknya jangan sampai punya pikiran buruk kepada almarhum ayahnya.


"Mega, kenapa bisa punya pikiran begitu kepada papa. Mega tahu kan bagaimana papa sangat sayang sama kamu, nak".


"Tapi kemarin banyak orang-orang televisi bertanya sama Oom Jimmy tentang papa. Semua menanyakan apakah benar papa saat kecelakaan itu sedang pergi sama selingkuhan papa," tukas Mega.


"Oom Jimmy menjawab apa?".


"Kata Oom Jimmy sih "No comment", kami sedang berduka dan setahu kami kakak saya orang yang sangat mencintai keluarga. Jadi kemungkinan untuk selingkuh itu tidak benar. Begitu Oom Jimmy menjawab pertanyaan orang-orang televisi," sahut Mega.


Mungkin yang dimaksud anak itu orang televisi adalah awak media yang bertanya kepada pamannya tentang ayahnya.


"Tapi, memangnya mama pernah tahu perempuan yang pergi bersama papa itu siapa?"tanya Maya yang tiba-tiba ikut masuk ke dalam kamar.


Soraya terdiam sejenak, lalu menatap wajah kedua anak gadisnya satu per satu.


"Mama tidak tahu, dan mama tidak perlu tahu".


"Sekarang dengar mama, kamu Natalia Mayana Maliangkay dan kamu Valeria Megana Maliangkay," ujar Soraya menunjuk satu persatu anaknya.


"Satu, yang mencari nama dan memberikan nama untuk kalian adalah papa kalian".


"Dua, apa pernah papa kalian marah, kasar dan menyakiti hati kalian?".


"Tiga, apa pernah papa kalian menolak permintaan kalian? Walau sedang jauh di luar kota, di daerah pedalaman sekalipun, kalian minta apapun pasti papa kalian penuhi".


"Mungkin saat pulang tidak semua permintaan kalian dibawanya, tapi papa akan mencari semua keinginan kalian sampai berhasil".


"Kalau papa kalian selingkuh, tidak akan ingat sama kalian dan pasti sudah lama pergi meninggalkan kita bersama wanita lain. Tapi sampai terakhir papa mau meninggal, papa masih sempatkan waktu bersama kita. Kalian ingat bukan?".


"Ayolah, jangan punya pikiran buruk sama papa. Yang paling kenal sama papa adalah kita, kalian berdua. Sejak kalian berdua masih bayi, papa kalian selalu menjaga dengan penuh kasih sayang. Bahkan mama yang sering dimarahi papa kalau kalian jatuh atau sakit".


Kedua anaknya tentu saja tambah menangis tersedu-sedu mendengar ucapan Soraya.


"Sekarang papa sudah tidak ada, hanya tinggal kita bertiga sama Mbak Mince di rumah ini. Kita bertiga harus banyak berdoa, mendoakan papa, memaafkan papa barangkali pernah punya salah semasa hidupnya. Memohon kepada Tuhan agar papa bisa berada di sisi Tuhan dan nyaman di dalam surga," Soraya panjang lebar menasehati dan menyemangati kedua anaknya.


"Mama, maafkan Maya. Seharusnya Maya percaya kalau papa adalah papa yang terbaik".


"Iya, maafkan Mega juga mama. Mega salah mendengar ucapan orang lain tentang papa".


"Biarkan saja orang lain mau menilai apa sama papa, yang penting kita doakan yang terbaik untuk papa. Orang lain tidak akan pernah tahu tentang papa, kita yang paling kenal sama papa dan kita yang harus menjaga nama papa," sahut Soraya sambil memeluk kedua anak gadisnya.


Keduanya menatap Soraya dan kembali ketiganya saling berpelukan erat.


"Tapi pakaian dalam itu punya siapa ?" tanya Mega dengan polos.


Soraya berpikir lagi sejenak, lalu dia segera pasang akting malu-malu.


"Itu punya mama".


"Tapi masa renda-renda, lalu bentuknya juga begitu amat".


"Nanti ada saatnya setelah kalian dewasa dan menikah, akan tahu juga kenapa sesekali harus memakai pakaian dalam seperti itu," jawab Soraya berbohong untuk menutupi rasa yang sebenarnya berkecamuk di dalam hatinya.


Mega hanya mengangguk tak paham, Maya hanya angkat bahu sambil menebak apa maksud perkataan ibunya.


"Nyonya, di bawah ada Bang William menanti Non Maya dan Mega, katanya mau mengajak pergi makan," ujar Mince di depan pintu kamar.


"Wow, kalian ada janji dengan Bang William?" tanya Soraya.


Keduanya menggeleng, lalu Soraya mengajak kedua anaknya turun untuk menemui William.


"Hai Tante, aku diminta Papih untuk membawa tante, Maya dan Mega makan bersama. Sekarang papih dan mamih sedang menjemput Opa dan Oma," ujar William ketika melihat Soraya turun bersama kedua sepupunya.


"Hmmm, Maya dan Mega saja yang pergi, tante di rumah saja. Sangat lelah sekali dari kemarin tamu melayat tak berhenti datang bergantian," sahut Soraya.

__ADS_1


"Mama, kalau mama tidak ikut, kami juga tak mau ikut," Mega merajuk.


"Jangan begitu, kalian pergilah. Mama sama Mbak Mince akan membereskan rumah. Kalian ikut saja dengan Bang William dan Opa Oma," ujar Soraya.


Kedua anak gadis kembali naik ke atas ke kamar mereka untuk berganti pakaian, setelah rapih mereka langsung turun dan pamit kepada ibunya.


"William, titip yah adik-adikmu, sampaikan terima kasih kepada Papih dan Mamihmu. Salam untuk Opa dan Oma, juga untuk kalian semua," ujar Soraya sambil merangkul bahu keponakannya.


"Oke tante, pasti aku sampaikan. Tante juga semangat selalu yah, jaga kesehatan," sahut William sambil berpamitan kepada Soraya.


Ketika mobil William sudah tidak terlihat lagi, segera Soraya berteriak memanggil Mince.


"Mince!!!! kemari cepat!!!!" teriak Soraya.


Dengan tergopoh-gopoh Mince mendekati Soraya dan bertanya dengan polosnya," Ada apa nyonya?".


"Hmmm, anak-anak sudah pergi. Sekarang jelaskan kepadaku soal pakaian dalam. Mengapa kamu selama ini diam saja, mengapa kamu tidak bilang sama aku?" Soraya mencecar Mince.


"Astagfirullah, maaf nyonya. Saya bingung mau memberitahu nyonya bagaimana waktu itu," sahut Mince ketakutan.


"Sekarang tunjukkan benda itu kepadaku, kamu simpan dimana?"Soraya menampakan wajah kesalnya.


"Ada di gudang belakang. Dan di sana juga ada tas dan koper tuan yang belum dibongkar, bekas tenggelam kemarin. Apa mau sekalian kita bongkar saja, nyonya?" tanya Mince ragu-ragu.


"Ayo, aku ingin tahu ada apa sebenarnya dengan suamiku".


Soraya dan Mince menuju gudang di halaman belakang rumahnya, tempat yang sangat jarang diinjak oleh siapapun di rumah itu kecuali Mince seorang.


Lalu sebuah koper besar ditarik oleh Mince dan berdua dengan Soraya membongkarnya.


Hanya berisi pakaian Mario yang basah akibat terendam air sungai dan sudah seminggu tidak dibuka juga dibersihkan.


"Mana pakaian dalam yang kamu maksud. Ini cuma kemeja suamiku saja semuanya," Soraya merasa penasaran.


"Oh, itu bukan di sini. Sebentar nyonya, aku ambilkan," lalu Mince berlari ke gudang dan tak lama keluar lagi sambil membawa pakaian dalam penuh dengan hiasan renda dan juga ukurannya sangat minim sekali.


"Siapa yang punya pakaian dalam seperti ini. Apakah seorang p*lac*r atau wanita murahan sejenisnya," ujar Soraya sambil mengangkat tinggi benda itu dengan ujung jarinya dengan penuh rasa jijik.


Mince hanya diam saja memperhatikan dan tidak berani berkomentar apapun.


"Nyonya, ini tas selempang punya tuan. Sama basah dan juga bau, nyonya mau lihat?" tanya Mince sambil menenteng sebuah tas dan diserahkan kepada Soraya.


"Kemarikan, aku harus tahu ada apa saja isinya?" Soraya jadi terlihat semangat ingin membongkar tas selempang milik almarhum suaminya.


"Dompet, obat, handphone dan kunci. Eh...kunci apa ini?" Soraya menggenggam sebuah anak kunci yang asing ada di dalam tas itu.


"Ini apa?Hmmm, tiket pesawat. Kok ada dua. Ini Mario, dan ini As..mi...la...,Asmila," ujar Soraya ketika melihat ada lembar tiket pesawat yang basah dan hampir robek.


Mince diam saja, dia hanya melihat Soraya membongkar tas itu dengan wajah yang mulai memperlihatkan kemarahan.


Setelah tak ada lagi apapun di dalam tas itu, lalu dia terdiam dan menatap Mince.


"Minceeee!!!huhuhuhu....aku dibohongi. Huhuhuhu....," Soraya terisak lalu jongkok sambil menangis tersedu-sedu.


"Nyonya, sabar. Belum tentu semua ini benar, belum tentu tuan Mario membohongi nyonya," ucap Mince berusaha menenangkan Soraya yang menangis.


"Tapi kenapa aku harus tahu ketika Mario sudah pergi selamanya. Bagaimana aku akan tahu siapa wanita itu, dan apa alasan Mario membohongi aku selama ini. Huhuhuhu....," Soraya menangis penuh rasa kecewa dan sakit hati.


Tiba-tiba telepon rumah berdering, Mince segera bangkit dan berlari untuk menjawab panggilan telepon itu.


Lima menit kemudian dia kembali menghampiri Soraya dan berkata," Nyonya, ada telepon dari orang namanya Fuad. Katanya dia suami dari salah satu korban kecelakaan kemarin. Mau bicara dengan nyonya".


"Mau bicara apa sama aku?" tanya Soraya merasa aneh.


Tanpa harus bertanya lagi, Soraya segera bangkit dan berjalan menerima telepon dari Fuad.


"Halo, selamat sore. Saya Soraya, ada yang bisa dibantu?".


"Selamat sore, perkenalkan saya Fuad, saya suaminya Asmila".


Memang tadi siang Fuad juga di tempat berbeda sedang membongkar tas milik istrinya.


Fuad sangat terkejut karena saat membongkar tas jinjing milik istrinya ada buku tabungan dan kartu ATM atas nama Mario Maliangkay.


Lalu Fuad mengkonfirmasi kepada Polisi, siapa tahu ada barang orang lain terbawa masuk ke dalam tas milik istrinya.


Tapi jawaban yang dia dapatkan sangat mengejutkan, karena Polisi mengatakan bahwa isi yang ada di dalam tas korban itu tidak ada satupun yang tertukar.


Karena saat ditemukan semua tas korban dalam keadaan tertutup rapat, baik tas yang ada ritsleting atau kancing saja, semuanya tertutup rapat tidak ada yang terbuka.


Sehingga menandakan isi dalam tas korban tidak ada yang berceceran dan akhirnya tertukar isi di dalamnya.


Fuad kemudian meminta nomor telepon istri Mario Maliangkay kepada pihak Polisi, alasannya adalah untuk sekedar bersilaturahmi sebagai sesama keluarga korban.


Pihak Kepolisian Kota Cirebon kemudian berkomunikasi dengan Kepolisian Kota Depok, hingga akhirnya Fuad menerima nomor telepon rumah Soraya.


Fuad mencoba menghubungi Soraya ketika sudah mendapatkan nomor telepon rumahnya, dan mencoba menceritakan apa yang dia temukan di dalam tas milik istrinya.


"Hmmm, sama di tas suami saya juga ditemukan ada tiket pesawat terbang atas nama Asmila istri anda," ujar Soraya dengan bibir bergetar.


"Ibu Soraya, saya mohon maaf sebesar-besarnya, karena mungkin kita di posisi yang sama dan kita adalah korban. Saya mohon bantuan ibu, kalau memungkinkan agar dapat mengirimkan handphone suami ibu ke alamat saya," kata Fuad memohon bantuan Soraya.


"Untuk apa? handphone sudah rusak terendam, mana bisa di aktifkan kembali".


"Maaf bu, ada kawan saya yang bisa melakukannya. Ini bukan untuk mencari kesalahan, tapi hanya bermaksud mencari kebenaran. Saya ingin mengetahui pembicaraan di chat antara suami anda dengan istri saya".


"Lantas kalau sudah dikirim, bagaimana saya bisa tahu hasilnya?" tanya Soraya.


"Kalau boleh saya minta nomor kontak pribadi ibu. Nanti saya pasti akan hubungi kalau sudah ada hasilnya dari kawan saya. Untuk itu mohon ibu berkenan memberikannya, nanti saya kirimkan alamat pengiriman handphone melalui chat kepada ibu," Fuad menjelaskannya kembali.


Soraya menangis, dia merasa bingung di satu sisi ingin tahu apa yang telah dilakukan suaminya, sementara di sisi lain merasa tidak bijaksana kalau harus mengorek sesuatu dari orang yang sudah meninggal.


"Ini nomor saya, tolong anda catat 0811234567xxx, anda kirimkan alamatnya melalui chat. Sementara saya akan pertimbangkan dulu apakah benar yang akan kita lakukan ini. Setidaknya kita harus mengorek sesuatu hal tersembunyi dari orang yang telah tiada," ucap Soraya.


"Saya paham, karena jujur saya juga mengalami hal yang sama dengan ibu. Batin saya juga bergejolak, tapi alangkah baiknya kita juga harus tahu apa yang sesungguhnya telah terjadi antara suami anda dengan istri saya. Dengan harapan bukan suatu hal yang buruk yang bisa membuat fitnah kepada yang sudah tiada," Fuad berusaha meyakinkan Soraya.


"Baik, anda kirim saja dulu alamatnya ke nomor tadi. Nanti akan saya kirim handphone suami saya ke alamat anda".


"Terima kasih, saya akan segera kirimkan alamatnya dan saya menunggu kiriman benda tersebut ke tempat tinggal saya," Fuad mengakhiri pembicaraannya.


Soraya menutup telepon rumahnya, dan dia kembali menangis lagi.


Entah hatinya serasa ditusuk pisau yang sangat tajam sekali, luka terasa menyayat ulu hatinya.


Mau bilang kepada keluarga suaminya, tentu akan menjadi polemik. Belum tentu mereka akan menerima kenyataan kalau misalkan benar Mario selingkuh.


"Mince, aku pergi sebentar," ujar Soraya sambil segera meraih tas dan kunci mobilnya.


Mince hanya bisa mengangguk saja, dan dia segera kembali kebelakang rumah membereskan seluruh barang milik Mario yang terendam.

__ADS_1


Soraya ternyata menuju ke samping gereja, ke rumah pendeta Yosep yang merupakan suami dari Nania sahabatnya.


Ternyata pendeta Yosep kebetulan ada di rumahnya, dan beliau mempersilahkan Soraya masuk ke dalam rumahnya.


Ketika masuk ke dalam, lalu Soraya segera mencurahkan seluruh isi hatinya kepada pendeta Yosep.


Soal Mario yang ijin ke Madura tenyata pergi ke Palembang dan harus pergi selamanya.


Tentang pakaian dalam yang ditemukan oleh anak gadisnya, juga tentang tiket pesawat dan pembicaraannya dengan salah seorang keluarga korban yang bernama Fuad orang dari kota Cirebon.


Pendeta Yosep mendengarkan seluruh uneg-uneg Soraya, dan setelah puas semua isi hati dikemukakan barulah beliau bicara.


"Saya rasa tidak masalah kalau handphone itu dikirim saja ke bapak tadi, mungkin beliau memang punya ahlinya di kota tempat tinggalnya," sahut Pendeta Yosep.


Lalu beliau melanjutkan lagi," Dan saya juga setuju dengan penjelasan bapak tadi, bahwa hal ini dilakukan bukan untuk mencari kesalahan tapi mencari kebenaran".


"Bapak Mario tentu punya alasan mengapa mengatakan hal berbeda kepada anda. Kalau mau kita tarik pendapat sendiri tentu sudah pasti anda menilai suami anda telah membohongi dan mencurangi anda. Tapi siapa tahu dengan handphone dikirim dan bisa diperbaiki, akan ketahuan apa sebenarnya motif suami anda".


"Hanya butuh kebesaran hati anda untuk tetap memaafkan dan mendoakan suami anda, apapun juga hasilnya kelak".


Soraya kembali berlinang air mata, tapi dia setuju dengan pendapat pendeta Yosep. Dan dia akan mencoba mengirimkan gawai milik suaminya ke alamat yang disampaikan oleh Fuad.


Tinggal sekarang adalah menguatkan dirinya dan imannya, ketika nanti tahu hasilnya seperti apa kalau handphone suaminya bisa diperbaiki.


Baik atau buruk sekalipun tetap harus bisa mendoakan dan memaafkan, walau mungkin akan terasa nyeri di hati kalau misalkan benar kenyataan suaminya benar selingkuh.


Tapi untuk sementara harus dirahasiakan oleh Soraya, karena bukan tak mungkin akan menjadi masalah besar apabila keluarga suaminya tahu akan hal ini.


"Pendeta Yosep, mana istrimu Nania? aku dengar dia sudah tidak bekerja lagi di sekolah Cahaya Tri Tunggal. Dan sudah cukup lama aku tidak bertemu di gereja. Apakah Nania baik-baik saja?" Soraya ingat akan sahabat masa kecilnya.


"Nania ada, dia sedang sakit. Kurang enak badan," sahut Pendeta Yosep dengan nada penuh keraguan.


"Oh, kasihan sekali. Sakit apa? bolehkah aku menjenguknya mumpung aku sedang di rumah ini?" tanya Soraya penuh harap.


Pendeta Yosep terdiam, dia sebenarnya sangat takut kalau memberitahu yang sebenarnya terjadi kepada istrinya.


"Kenapa? masa aku tak boleh menjenguk sahabatku sendiri?" Soraya merasa aneh.


Dengan senyum penuh kecanggungan, Pendeta Yosep akhirnya membawa Soraya menuju ke kamar yang ditempati Nania istrinya.


Ketika pintu kamar dibuka, terhirup bau amis menyengat dari luka basah yang menganga.


Soraya tentu sangat terkejut, ketika dia melihat tubuh Nania yang kurus dan penuh dengan luka basah yang berbau amis menyengat.


"Istri saya terkena diabetes, dan sekarang tubuhnya penuh dengan luka dari penyakit itu. Kami tidak punya biaya untuk membawanya ke rumah sakit. Selama ini aku menutupi dari jemaat, kami hanya membawa Nania ke dokter di Puskemas," ujar Pendeta Yosep sambil menangis.


Soraya tentu saja terhenyak dan dia segera menghambur mendekati Nania yang terlihat sangat kurus dan lemah.


"Nania, oh sayangku. Kenapa dengan dirimu?"Soraya bertanya sambil menangis lagi.


"Pendeta Yosep, mengapa tidak membicarakan kepada semua Penatua Gereja. Setidaknya ada dana untuk pengobatan bagi keluarga pendeta," Soraya berkata dengan tegas karena tidak tega melihat kondisi Nania yang sangat tidak berdaya.


"Soraya, pihak Gereja dan jemaat selama ini sudah membiayai pengobatan ayah saya. Pendeta Lukas, ayah saya selama ini sakit tua dan sudah begitu banyak biaya yang dikeluarkan untuk beliau yang kami terima dari jemaat. Lalu istri saya sekarang sakit, masakan saya harus membebankan lagi kepada jemaat. Saya malu, mana berani meminta lagi biaya pengobatan untuk ke rumah sakit," Pendeta Yosep sekarang mulai menangis.


Soraya tak ambil pusing, segera dia menghubungi Robert kakak iparnya. Ketika Robert menyahut, lalu Soraya segera menyampaikan apa yang sedang dia hadapi. Soraya menceritakan kondisi Nania dan juga menyampaikan alasan Pendeta Yosep tidak segera membawa istrinya ke rumah sakit.


Robert paham, lalu setelah menutup pembicaraan dengan Soraya, dia segera menghubungi rumah sakit tempat dia praktek dan meminta ambulans menuju rumah Pendeta Yosep.


Sekitar tiga puluh menit kemudian ambulans tiba di rumah Pendeta Yosep, dan segera membawa Nania ke dalam rumah sakit.


Ketika Soraya menuju mobil hendak menyusul Pendeta Yosep dan Nania ke rumah sakit, Yohanes anaknya pendeta Yosep tiba dengan naik sepeda motornya.


"Ibu Soraya, ada apa ini?" tanya Yohanes.


"Ayo, simpan sepeda motormu ke dalam rumah dan ikut aku ke rumah sakit," ajak Soraya kepadanya.


Lalu pemuda itu segera menyimpan sepeda motornya dan segera masuk ke mobil Soraya.


"Ibumu kami bawa ke rumah sakit. Maafkan, saya baru tahu kalau ibumu kondisinya sudah sangat demikian parah," ujar Soraya sambil mengemudi.


"Maafkan kami jadi merepotkan lagi semua jemaat. Bukan kami tidak mau memberitahu kondisi mama saya. Hanya kami malu sudah terlalu banyak menyusahkan pihak Gereja dan juga jemaat sekalian," sahut Yohanes.


"Ngomong-ngomong, mobil tua kalian dimana?" tanya Soraya kepada Yohanes.


"Sudah kami jual, untuk pengobatan mama dan juga sebagian untuk pengobatan Opa Lukas," jawab Yohanes.


"Kamu sendiri sekarang kuliah atau tidak? bukannya aku dengar kamu juga akan kuliah menjadi pendeta juga?" tanya Soraya lagi.


"Sebenarnya iya, saya sudah mendapat bea siswa untuk kuliah tersebut di salah satu Universitas Teologia di Kota Malang. Tapi saya tunda dulu setahun ini, saya sekarang bekerja di sebuah mini market," jawab Yohanes terlihat sedih.


"Mengapa ditunda? apakah tidak akan hangus?" Soraya yang merasa dirinya seorang dosen merasa agak rancu mendengar penerima bea siswa menunda studinya.


"Pihak Universitas tersebut mengatakan tidak hangus, karena alasan saya orang tua sakit. Untung mereka memberi kesempatan tahun depan nanti," Yohanes menjelaskan kepada Soraya.


"Bukannya kalau Universitas Teologia seperti itu ada asrama dan lalu mendapat makan juga tiga kali sehari. Mengapa sampai harus ditunda?" tanya Soraya lagi.


"Untuk ke Kota Malang itu butuh ongkos, bu. Lalu ada keperluan pribadi yang tidak ditanggung oleh pihak Universitas. Masa saya harus meminta dari Gereja lagi. Papa tak mungkin memberi saya uang bulanan, karena pengobatan mama juga cukup mahal. Dan sekarang kami kalau ada uang juga lebih baik fokus kepada pengobatan mama saya," jawaban dari bibir pemuda yang usianya tak jauh beda dari anak sulungnya.


Luar biasa Yohanes, pemuda yang sangat baik dan bijaksana, di usianya yang mungkin saja baru sekitar sembilan belas tahun tapi sudah sangat dewasa pemikirannya.


Soraya amat kagum kepada anak muda itu, diam-diam berpikir andai saja punya kesempatan ingin membantu anak muda ini agar bisa mencapai cita-citanya.


Setibanya di rumah sakit, Nania segera mendapat perawatan dari dokter dan tenaga medis yang sudah diberi amanat oleh Robert.


Setidaknya Robert adalah wakil direktur rumah sakit tersebut, seorang dokter senior ahli bedah jantung yang cukup tersohor namanya.


"Soraya, bagaimana kami bisa membayar rumah sakit ini?" keluh Pendeta Yosep yang merasa tidak enak hati karena ternyata istrinya mendapat perawatan di sebuah kamar yang terbaik.


"Pendeta Yosep, anda tugasnya adalah berdoa. Maka doakanlah kami agar dapat membantu menyembuhkan Nania istri anda," jawab Soraya sambil tersenyum.


Pendeta Yosep merasa terharu dengan kebaikan Soraya, padahal setidaknya Soraya datang ke rumahnya untuk berkeluh kesah atas apa yang telah menimpa suaminya dan juga dirinya.


Namun sekarang Soraya bahkan seakan tak peduli urusan pribadinya, saat ini dia terlihat begitu semangat untuk bisa membantu kesembuhan Nania istri Pendeta Yosep.


Robert juga datang ke rumah sakit dan memeriksa Nania sambil dia membahas penyakit yang diderita Nania dengan dokter yang menanganinya.


Setelah yakin dokter muda yang akan menangani Nania dapat memberikan analisa dan menyampaikan rencana pengobatan Nania kepada Robert dengan jelas, lalu Robert keluar ruangan sambil sebelumnya memberi semangat kepada Nania.


Pendeta Yosep juga mengucapkan terima kasih kepada Robert, lalu setelah sedikit berbincang dengan Pendeta lantas Robert menghampiri Soraya.


"Untung kamu datang tepat waktu, kalau saja lewat sehari atau dua hari lagi. Bisa-bisa Nania akan meninggal dunia tanpa mendapat perawatan yang baik sebelumnya," ujar Robert sambil menepuk bahu iparnya itu.


"O, iya, Bang Robert, aku menemukan obat di tas Mario. Ada banyak sekali macamnya, bukan hanya sekedar obat batuk aku rasa. Ini sudah aku foto obat tersebut," kata Soraya sambil memperlihatkan foto obat-obatan milik Mario.


"HAAAHHH! ini obat kanker!!! apakah Mario kena kanker paru-paru?" Robert sangat terkejut dan tentu saja Soraya juga kaget.


"Apakah Mario pernah bicara kepadamu soal sakitnya?" tanya Robert sambil membelakakan matanya.


Soraya menggelengkan kepalanya, karena memang selama ini Mario tak pernah bicara soal penyakitnya.

__ADS_1


Hanya batuk dan batuk, kalau ditanya selalu menjawab tidak apa-apa, baik-baik saja, sudah ada obat dari dokter.


"Mengapa Samuel tidak mengatakan apapun kepadaku tentang sakit Mario," guman Robert yang selama ini kalau ketemu Samuel yang menangani penyakit Mario sama sekali tidak pernah menyampaikan apapun kepadanya.


__ADS_2