PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Hari Selasa Fuad dan Aletha


__ADS_3

"Pak Fuad, sudah dua hari di lepas pantai. Bukannya lebih enak di kantor sana, di belakang meja. Ini malah di sini terus," komentar salah satu karyawan bagian pengecekan pipa di pemboran minyak lepas pantai.


"Hahaha, saya malah pegal duduk terus. Lebih enak di sini, banyak tantangannya daripada di belakang meja menghadapi komputer," sahut Fuad sambil tertawa.


"Tapi mau tak mau, Pak Fuad harus tetap menghadapi komputer. Karena laporan dari kami semua masuk ke e-mail bapak," ujar karyawan itu.


"Ya, tak apalah. Tiga hari di sini, tiga hari di kantor. Yang penting semua berjalan dengan baik," kata Fuad lagi.


Sementara di darat, tepatnya di kantornya Fuad, terlihat ada dua orang Polisi mencarinya.


Saat ini kedua Polisi sedang bertemu dengan Pak Nugraha, atasan langsung Fuad.


"Selamat pagi, kami dari Kepolisian Kota Cirebon, dan kami juga sudah mendapat ijin dari Kepolisian Kabupaten Indramayu untuk bertemu dengan Bapak Fuad Rahardian Kusnadi. Apakah nama tersebut benar merupakan karyawan di kantor ini?" tanya Polisi tersebut.


"Ya, benar nama tersebut adalah karyawan kami. Dan beliau adalah salah satu kepala divisi di sini. Ada yang bisa kami bantu terkait dengan pencariannya oleh pihak Kepolisian?" tanya Pak Nugraha.


"Maaf, kami berbicara dengan siapa dan apa jabatan bapak?" tanya Polisi lagi.


"Saya Nugraha, Pimpinan Divisi pengeboran minyak dan gas di lepas pantai. Fuad kebetulan Kepala Divisi sektor tiga yang lokasinya tak cukup dekat dari sini," sahut Pak Nugraha.


"Baik, Pak Nugraha, mohon maaf kami mau bertanya lagi apakah benar Pak Fuad mempunyai istri bernama Asmila Maryana?".


"Hmmm, ya, setahu saya memang benar istri Fuad bernama Asmila. Hanya nama panjangnya saya tidak terlalu hafal," sahut Pak Nugraha.


"Jadi begini, istri Pak Fuad yang bernama Asmila Maryana, hari minggu kemarin ditemukan telah meninggal dunia karena tenggelam di Kota Palembang. Mungkin berita tentang hal itu sempat ada pada berita di televisi," kata Polisi menerangkan kepada Pak Nugraha.


"Innalillahi wa innalillahi rojiun, benarkah demikian, Pak Polisi?" Pak Nugraha sangat terkejut luar biasa.


"Begitulah, dan kami juga membawa bukti-bukti yang kami dapat dari Kepolisian Palembang melalui e-mail kemarin," jawab Polisi sambil menyerahkan sebuah map kepada Pak Nugraha.


Dengan hati-hati Pak Nugraha membuka map itu, dan terlihat cetakan foto wajah wanita yang dia kenal sebagai istri dari kepala divisinya.


"Benar, saya ingat ini adalah istri Fuad. Astagfirullah, mengapa bisa terjadi kepadanya. Seingat saya Fuad dan istrinya adalah orang yang sangat baik dan ramah," Pak Nugraha merasa ikut bersedih mengetahui kenyataan tersebut.


"Apakah Pak Fuad sekarang ada di kantor ? Kalau ada apakah boleh kami bertemu dengan beliau ?" tanya Polisi.


"Fuad sekarang ada di lepas pantai, tapi saya akan mencoba menghubungi ponselnya dan memintanya untuk ke darat," ujar Pak Nugraha.


Ponsel Fuad ada di dalam tas, sekarang dia bersama timnya di lepas pantai sedang memperbaiki ada satu pipa minyak yang mengalami kebocoran.


Walau sudah lebih dari sepuluh kali di hubungi, tapi Fuad tidak juga menjawab telepon dari Pak Nugraha.


Kemudian Pak Nugraha meminta salah satu petugas untuk menyusul Fuad ke pengeboran minyak lepas pantai dan menjemputnya ke kantor.


Hari menjelang siang, dan Fuad bersama timnya terlihat tengah memperbaiki kebocoran pipa di bawah laut.


Fuad harus berenang ke dalam laut bersama beberapa orang untuk memperbaiki kebocoran salah satu pipa di dalam laut tersebut


Hampir satu jam lamanya berkutat di bawah laut memperbaiki pipa, lalu Fuad dan timnya kembali naik ke permukaan air.


Baru saja Fuad duduk melepas lelah sambil minum air mineral, tiba-tiba dari kejauhan terlihat ada kapal motor sedang menuju tempat pengeboran tersebut.


Tak lama kapal motor menepi ke dermaga tempat pengeboran tersebut, lalu seorang petugas utusan Pak Nugraha turun dan segera mencari Fuad.


"Selamat siang, maaf mengganggu istirahatnya. Cuma saya diminta Pak Nugraha menjemput bapak untuk segera ke kantor," kata petugas tersebut kepada Fuad.


"Ada apa? bukankah saya sudah mendapat ijin dari Pak Nugraha kalau saya akan di sini sampai dua hari mendatang," kilah Fuad mencoba menolak untuk dibawa ke kantor.


"Iya, tapi saat ini ada dua Polisi sedang menanti bapak di kantor Pak Nugraha," sahut petugas itu.


"Polisi? memangnya saya punya salah apa? jangan aneh-aneh anda kepada saya," Fuad meradang kepada petugas itu.


"Pak, mungkin saja Pak Nugraha butuh bantuan bapak untuk berbicara sesuatu kepada Polisi yang tengah mencari suatu informasi," ujar ketua timnya.


"Iya, ada masalah apa. Seharusnya Pak Nugraha menghubungi aku dulu dong," Fuad masih tak terima penjemputan itu.


"Menurut Pak Nugraha, beliau sudah menghubungi bapak lebih dari sepuluh kali tapi tak ada jawaban sehingga saya diutus kemari untuk menjemput Pak Fuad," sahut petugas tetap bersikukuh karena mengemban amanat dari atasannya.


Fuad merengut wajahnya, lalu dia berdiri dan berjalan ke arah ruangan loker karyawan. Lantas Fuad membuka lemari lokernya untuk mengambil ponselnya. Dilihatnya memang benar ada sebelas kali panggilan tak terjawab dari nomor telepon kantornya.


Dengan berat hati Fuad segera membasuh dirinya yang masih lengket dengan air laut, setelah itu bertukar pakaian dan ikut dengan petugas tadi ke darat menuju kantornya.


Sebenarnya Fuad sedang kesal karena istrinya tidak menjawab panggilan teleponnya dan juga pesan chat dan pesan singkat selalu tidak terkirim.


Ponsel istrinya seakan sudah tidak aktif lagi dalam beberapa hari ini, sehingga Fuad kesal sekali. Lalu dengan menyibukkan diri di lepas pantai telah membuat dirinya sedikit terhibur karena hanyut dalam pekerjaannya.


Setibanya di darat, dengan langkah gontai dia berjalan di sepanjang selasar kantor menuju ke ruangan atasannya.


"Selamat siang, maaf saya terlambat," ujar Fuad ketika memasuki ruangan Pak Nugraha.


"Silahkan masuk, ini ada Bapak Polisi dari Kepolisian Kota Cirebon. Kedua Bapak Polisi datang dengan membawa surat persetujuan memasuki wilayah Indramayu dari Kepolisian di sini," Pak Nugraha memperkenalkan kedua Polisi kepada Fuad.


Lalu Fuad mengulurkan tangan menjabat tangan kedua Polisi tersebut.


"Mohon maaf, apakah ada yang bisa saya bantu? jujur saya merasa agak terkejut karena saya dicari oleh pihak Kepolisian," ujar Fuad setelah bersalaman dengan kedua Polisi sambil duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan itu.


Kedua Polisi saling berpandangan sebentar lalu salah satu dari mereka berkata kepada Fuad.


"Pak Fuad, apakah benar nama istri anda adalah Asmila Maryana?" tanya Polisi tersebut.


"Oh, iya, benar. Apakah ada masalah dengan istri saya?" tanya Fuad.


"Istri anda ditemukan telah meninggal dunia pada hari minggu kemarin. Istri anda menjadi salah satu korban yang tenggelam dari mobil travel yang tergelincir ke jurang lalu masuk ke sungai dan tenggelam di wilayah Kota Palembang," Polisi tersebut menyampaikan demikian kepada Fuad.


"Benar, nama istri saya Asmila Maryana, dan nama seperti itu banyak sekali bukan hanya istri saya saja. Lalu istri saya tidak mungkin ke Palembang, karena saya sendiri yang mengantarkan istri saya ke stasiun pada hari sabtu pagi kemarin ini".


"Istri saya seorang Direktur Agency sebuah perusahaan asuransi jiwa ternama. Jadwal istri saya di hari sabtu akan menghadiri jamuan makan di hotel berbintang bersama jajaran direksinya," Fuad menyampaikan penjelasan tentang istrinya kepada kedua Polisi.


"Jadwal istri saya minggu ini adalah road show seminar ke beberapa kota besar di jawa barat dan jawa tengah. Mana mungkin dia ke Palembang".


Fuad terlihat sangat tidak percaya dengan pernyataan kedua Polisi tersebut.


"Maaf, mungkin benar demikian. Tapi mohon bapak lihat dulu map ini, di dalamnya ada cetakan foto istri anda juga beberapa tanda pengenalnya," kata Polisi sambil menyerahkan sebuah map yang sebelumnya sudah diperlihatkan kepada Pak Nugraha.


Lalu Fuad mengambil map itu dan mulai membukanya, di awal terlihat cetakan foto tanda pengenal istrinya, seperti kartu tanda penduduk, kartu identitas di kantornya, juga pin logo perusahaannya.


Tibalah pada lembaran cetakan foto, terlihat wajah seorang wanita dengan wajah membengkak dan leher terlihat patah.


Wajah yang sangat dia kenal, dari potongan rambutnya, warna kulitnya, dan beberapa tanda lahir kecil di pipinya.


Fuad memandang cetakan foto itu, tak terasa air matanya mengalir di pipinya. Jelas sekali itu adalah istrinya, Asmila Maryana yang sejak kecil sangat dikenalnya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa istri saya ada di mobil itu?" Fuad bertanya tapi tak ada satu orang juga yang bisa menjawab.


"Apakah keluarga istri saya sudah diberitahu, Pak Polisi?" tanya Fuad lagi.


"Belum".


"Bagaimana cara saya menjelaskan kepada keluarga istri saya?" Fuad kembali bertanya sambil air matanya tak terbendung lagi.


"Saya tak sanggup mengatakan kepada mereka".


"Biar kami antar Pak Fuad untuk menemui keluarga istri anda, dan nanti kami yang menjelaskan kepada mereka," ujar Polisi menawarkan membantu Fuad untuk menemui keluarga Asmila.


Tak lama terlihat beriringan dua buah mobil, yang satu mobil Polisi dan satunya mobil Fuad yang dikemudikan oleh seorang Polisi lainnya.


Mereka menuju ke rumah keluarga Bapak Jaka, rumah keluarga besar Asmila.


Hastomo sedang membersihkan kompor yang akan digunakan malam nanti untuk berdagang nasi pecel lele.


Asmida hari ini tidak ke kantor asuransi jiwa, jadi dia membantu suaminya mencuci tomat dan cabai untuk bahan membuat sambal pecel lele.


Mobil Fuad memasuki halaman rumah keluarga Bapak Jaka, diikuti mobil Polisi di belakangnya.


Melihat itu Hastomo tentu saja sangat terkejut, dia menghentikan pekerjaannya dan berjalan menghampiri mobil Fuad.


Terlihat Fuad membuka pintu mobil dan berlari menghambur kepada Hastomo.


"Mas, Asmila meninggal," ujar Fuad sambil memeluk Hastomo.


"Innalillahi wa innalillahi rojiun, kapan dan apa yang terjadi. Ayo, kamu masuk ke dalam," kata Hastomo berusaha tenang sambil memapah Fuad ke dalam rumah mertuanya.


"Itu Fuad kemari bersama Polisi, ada apakah gerangan?" Asmida bertanya-tanya melihat adik iparnya datang bersama Polisi.


"Mana?" Ibu Jaka ikut mengintip kedatangan menantunya.


"Ada apa Fuad kemari bersama Polisi?" Pak Jaka juga ikut merasa aneh.


Hastomo mempersilahkan kedua Polisi duduk di ruang tamu, dia sendiri duduk di samping Fuad.


Asmida bersama kedua orang tuanya mendekati Fuad dan Hastomo. Lalu Pak Jaka bertanya," Ada apa ini?".


Kemudian Polisi memperkenalkan diri dan menyampaikan apa yang terjadi kepada Asmila.


Ibu Jaka menjerit lalu tak sadarkan diri, untung Hastomo segera menangkap tubuh ibu mertuanya sebelum sempat jatuh ke lantai.


Asmida menangis sampai bergulingan di lantai, menjerit-jerit histeris mendengar adiknya meninggal seperti itu.


Pak Jaka hanya bengong diam, tidak ada reaksi hanya diam sambil duduk menangisi kepergian anak bungsunya.


Kedua anak Asmida juga ikut menangis saat melihat ibunya bergulingan di lantai seperti orang tak waras.


"Jenazah anak saya ada dimana?" tanya Pak Jaka.


"Masih di Kepolisian Palembang, bila setuju untuk segera di bawa ke kota ini. Maka kami mohon bantuan ada surat yang harus ditanda tangani," ujar Polisi tersebut.


Fuad tanpa banyak bertanya segera menandatangani surat tersebut, semua berharap jenazah Asmila dapat segera dikirim dari Palembang untuk dimakamkan dengan layak di kota tempat tinggal mereka.


Di hari yang sama di Kota Semarang, Polisi tetangga mencoba mengetuk rumah Asrul dan Aletha.


Polisi tetangga sendiri sudah tahu kalau Aletha pasti ada tempat prakteknya, sehingga setelah yakin rumah tersebut kosong maka segera menuju ke klinik gigi milik Aletha.


Di klinik gigi sudah ada Aletha, dia adalah pemilik klinik sekaligus menjadi dokter senior di sana.


Yunita sahabatnya juga memiliki jadwal praktek di klinik tersebut, tapi karena pagi dirinya bertugas di puskesmas sehingga baru sore hari menuju malam praktek di klinik milik sahabatnya tersebut.


Selain Aletha dan Yunita, saat ini ada juga Haris, orang ini sepupu jauhnya Aletha dan sekarang sedang tugas praktek di klinik gigi tersebut.


"Tumben pagi ini cuma ada lima enam pasien, biasanya sudah lebih dari sepuluh orang mengantri," ujar perawat bernama Nana di pagi itu.


"Jangan banyak-banyak, cukup segitu dulu. Aku nanti kelelahan kalau harus menangani banyak orang," timpal Aletha.


"Wah, biasanya dokter semangat kalau banyak orang, hari ini kok malah tak semangat," perawat Nana merasa heran setelah mendengar dokter Aletha mengeluh.


"Aku bukan robot, ada juga merasa lelah sesekali," Aletha melirik perawat Nana sambil melotot pura-pura kesal.


Perawat Nana langsung terdiam takut dokter tersinggung, padahal dalam hati Aletha tertawa geli melihatnya.


Lalu setelah terlihat Aletha siap, perawat Nana memanggil pasien dengan nomor urutan pertama.


Keluhannya adalah gerahamnya sakit kalau dipakai mengunyah makanan, dilihat di cermin tak ada lubang tapi terasa sakit selalu.


Dokter Aletha sangat teliti, dia yakin kalau lubang ada di antara dua gigi yang renggang, sehingga dari luar tak terlihat tapi menimbulkan sakit yang luar biasa.


Lalu Aletha memeriksa gigi pasien tersebut dan berusaha mencari lubang gigi yang mengganggu itu dengan sangat teliti.


Setelah selesai pemeriksaan, lalu memberi beberapa tips kepada pasiennya cara merawat gigi dan juga tambalan gigi tersebut.


"Ingat yah, jangan dipakai mengunyah yang keras dulu sampai besok. Kalau merasa lapar minum sereal dulu, agar tambalan gigi tidak terganggu sampai lima jam ke depan," ujar Aletha yang diikuti anggukan pasiennya.


Ketika menunggu pasien berikutnya, tiba-tiba pegawai bagian administrasi masuk ke ruangan praktek dan mengatakan ada Polisi di depan mencari dokter Aletha.


Perawat Nana tentunya terkejut dan menyampaikan kepada dokter Aletha tentang hal itu.


"Wah, ada apa yah? Hmmm, coba diminta masuk saja kemari dan sampaikan kepada pasien berikut untuk bersabar sejenak," sahut Aletha ketika perawat Nana menyampaikan perihal kedatangan Polisi.


Perawat Nana mempersilahkan Polisi untuk masuk ke dalam ruangan praktek dokter Aletha.


"Selamat pagi, dokter Aletha," sapa Polisi yang merupakan tetangga rumahnya dulu.


"Selamat pagi, walah....ini sih ayahnya Jojo temannya Edwin anak saya. Apa kabar, pak?" Aletha memang sangat ramah sekali.


"Ayo, silahkan duduk. Apa kabarnya Jojo? sudah lama anak-anak kita tidak bermain bersama yah".


"Kabar baik, anak saya juga baik-baik saja. Terima kasih, bu dokter," sahut Polisi tetangga dengan ramah juga.


"Waduh, senang rasanya bisa bertemu karena saya sudah cukup lama tidak tinggal di rumah sana," Aletha masih tampak begitu senang dengan kunjungan Polisi tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu, pak?" tanya Aletha lagi.


Polisi tetangga merasa sangat tidak karuan hatinya, dia melihat dokter Aletha yang sangat ramah dan ceria. Bagaimana jadinya kalau akhirnya dia harus menyampaikan berita buruk ini.


Sambil menelan ludah, Polisi mencoba menata hatinya sejenak untuk menyampaikan berita kematian Asrul kepada Aletha.

__ADS_1


"Ibu dokter, mohon maaf kami harus menyampaikan berita yang tidak menyenangkan. Suami ibu dokter yaitu Bapak Asrul Mubarok, pada hari minggu kemarin ditemukan telah meninggal dunia akibat kecelakaan di Palembang. Mobil yang ditumpangi beliau tergelincir ke dalam jurang, lalu mobil tersebut tenggelam ke sungai. Tak ada satupun yang selamat dari kejadian itu, termasuk suami anda," Polisi tersebut menyampaikan dengan hati-hati kepada Aletha.


Mendengar penuturan Polisi tentu membuat Aletha sangat terkejut dan gemetaran.


"Astagfirullah, innalillahi wa innalillahi rojiun. Bagaimana bisa terjadi kepada suami saya," Aletha mulai menangis.


"Dan ketika ditemukan, Pak Asrul meninggal bersama dengan istri siri dan bayi mereka," lanjut Polisi tadi.


"Pak, suami saya memang pergi ke Palembang untuk bekerja. Dan dia berangkat sendiri, bagaimana bisa bapak mengatakan ada istri dan bayi bersama suami saya," Aletha terlihat kesal mendengarnya.


"Betul, Pak Asrul Mubarok mempunyai catatan pernikahan secara siri dengan Jena Anindia dan mereka sudah memiliki bayi perempuan. Dari catatan Kepolisian mereka menikah sekitar dua minggu yang lalu di daerah Semarang Utara, dan bayi mereka lahir di sebuah klinik bidan di daerah yang sama sebulan sebelumnya," Polisi melanjutkan keterangannya.


"Sungguh tak masuk akal, suami saya memang bulan lalu pamit ke Palembang karena ada pekerjaan mendadak".


"Tidak bu, suami anda tercatat menjadi penumpang PLB Air pada hari sabtu minggu lalu. Lalu kemungkinan naik travel bersama istri dan anaknya menuju suatu kota lain di Palembang. Tapi mobil mereka tergelincir dan tenggelam di sungai di kaki gunung".


"Lalu dimana sekarang jenazah suami saya?" Aletha terlihat panik.


"Maaf, sudah dimakamkan bersama istri dan bayi mereka di Palembang oleh pihak keluarga almarhumah Jena Anindia," jawab Polisi tersebut.


"APA!!!!".


"Aku istri sahnya, bahkan aku juga belum melihat jenazah suamiku. Berani sekali mereka menguburkan suamiku. Aku tak terima," Aletha marah dan kecewa sekali


Tubuhnya gemetar dan berguncang, perawat Nana segera meraih dan memeluk Aletha yang terlihat lemas seakan mau pingsan.


"Pak Polisi, mohon antarkan saya ke rumah keluarga saya. Rasanya tak sanggup saya membawa kendaraan saya ke sana," pinta Aletha.


"Baik, mari saya antarkan ibu pulang ke rumah keluarga anda," ujar Polisi tersebut.


Lalu Aletha meminta tolong perawat untuk memanggil sepupunya menggantikan dirinya menangani pasien.


Dia sendiri ikut dengan mobil Polisi untuk diantarkan ke rumah orang tuanya.


Beberapa pasien yang melihat ada yang bergunjing, ada yang bertanya-tanya mengapa Aletha ikut naik ke mobil Polisi.


Ada yang sempat mencuri dengar dan saat ini bergunjing soal mobil tenggelam di Palembang.


Kebanyakan berkasak kusuk kalau mobil terguling itu adalah mobil curian dan penumpang saat itu hampir semuanya pasangan selingkuhan.


"Anwar, tolong bawa abi dan umi ke rumah orang tua saya segera," kata Aletha menelepon adik iparnya sambil perjalanan menuju ke rumah orang tuanya.


"Ada apa, mbak? aku sedang di kantor, dan masa tokonya umi dan abi harus tutup kalau aku bawa mereka ke rumah orang tua mbak di jam segini?" Anwar mencoba memberi alasan karena sesungguhnya merasa malas kalau harus ke rumah besannya itu.


"Tolong Anwar, segera bawa abi dan umi ke rumah orang tuaku. Aku tak akan meminta kalau tak ada hal yang penting," Aletha setengah membentak Anwar.


"Ada apa sih sebenarnya?" tanya Anwar lagi terdengar nada enggan.


"Kalau bukan karena Asrul meninggal, aku tak akan meminta kalian datang ke rumah orang tuaku," Aletha berkata demikian sambil menutup teleponnya.


Anwar terkejut mendengar ucapan terakhir yang kakak iparnya sampaikan barusan.


Antara percaya dan tak percaya, lalu dia minta ijin pulang kepada atasannya karena mendapatkan kabar karena kakaknya meninggal dunia.


Setelah itu Anwar segera meloncat ke motornya lalu mengemudikannya dengan kencang menuju rumah orang tuanya.


"Abi...Umi...toko tutup sekarang juga, dan segera ikut aku. Mana kunci mobil?" tanya Anwar ketika tiba di rumah orang tuanya dan segera mencari kunci mobil.


"Raya, sebentar lagi aku jemput kamu di kantor. Cepat minta ijin ke atasanmu, dan katakan ada keluarga meninggal dunia," kata Anwar dengan cepat dan singkat berkata seperti itu kepada istrinya lewat telepon.


Raya istrinya Anwar tentu saja kebingungan, tidak tahu siapa yang meninggal tapi diminta suaminya untuk segera ijin ke atasannya seperti demikian.


Setelah menemukan kunci mobil milik ayahnya, lalu Anwar segera menutup toko. Tentu saja beberapa pelanggan mengomel termasuk orang tuanya, tapi Anwar tak peduli, dia tetap melanjutkan menutup toko tersebut.


"Kamu kenapa sih? datang kemari langsung berbuat seperti orang kesurupan," Pak Hasan kesal kepada Anwar.


"Abi, Umi, tolong dengarkan aku dan sekarang ikut ke dalam mobil. Nanti aku jelaskan di perjalanan," kata Anwar sambil meminta kedua orang tuanya segera masuk ke mobil tua milik ayahnya.


"Raya, aku sudah dekat ke kantormu. Cepat kamu ke depan kantor, aku menunggu segera," kembali Anwar menelepon istrinya dengan terburu-buru membuat istrinya gelagapan tak sempat diberi kesempatan bertanya.


Dengan wajah cemberut, Raya terlihat keluar dari kantor sebuah Koperasi dan langsung naik ke dalam mobil yang di dalamnya sudah ada kedua mertuanya.


"Mas, ada apa sebenarnya?" tanya Raya sambil memberi salam dengan mencium punggung tangan kedua mertuanya.


"Iya, dari tadi abi dan umi bertanya juga tak dijawab, malah suamimu ini menutup toko dan memaksa beberapa pelanggan untuk segera meninggalkan toko," Umi Hasan juga ikut kesal dengan kelakuan Anwar tadi.


"Kita akan ke rumah keluarga Pak Edmun Nayoan, tadi Mbak Aletha meneleponku dan mengatakan kalau Bang Asrul meninggal dunia," sahut Anwar dengan bibir bergetar sambil mengemudikan mobil.


"Astagfirullah, Ya Allah, apa maksudmu berkata begitu?" Abi Hasan terkejut mendengar penuturan Anwar.


"Aku juga tak paham, makanya aku juga ingin tahu sekarang. Mbak Aletha hanya berkata begitu tadi di telepon," sahut Anwar sambil menyeka air matanya.


Umi Hasan menangis di pelukan Raya, keduanya tak bisa berkata apa-apa selain menangis karena tak percaya dengan pernyataan tadi.


Tak lama mereka tiba di rumah keluarga Edmun Nayoan, ada sebuah mobil Polisi dan juga sudah ada beberapa kerabat keluarga Nayoan terlihat berkumpul di dalam rumah tersebut.


Abi Hasan turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah, sontak disambut tangis oleh Aletha dan Edwin cucunya.


Begitu juga ketika Umi Hasan yang dipapah oleh Anwar dan Raya, begitu masuk langsung dipeluk oleh Aletha sambil menangis.


Abi Hasan minta penjelasan lagi atas apa yang sesungguhnya telah terjadi, lalu Polisi kembali menjelaskan semuanya sambil memperlihatkan map berisi foto dan tanda pengenal Asrul anaknya.


Air mata mengalir deras di pipi keluarga Hasan, tidak pernah terbesit sedikitpun kalau Asrul akan meninggalkan mereka selamanya.


"Berarti si Asrul itu durhaka, dia selingkuh sampai punya anak haram. Makanya meninggal seperti itu," terdengar ucapan kasar dari mulut salah satu kerabat keluarga Nayoan.


"Iya, benar begitu. Dia membohongi Aletha dan keluarga besar selama ini," sahut yang lain ikut memanasi.


Kasak kusuk ucapan buruk tentang Asrul menggema di seluruh ruangan rumah keluarga Nayoan.


"DIAAAMMM!!!! SEMUA DIAM!!!TAK ADA SATUPUN YANG BERHAK MENILAI SUAMIKU. HANYA AKU YANG TAHU SIAPA SUAMIKU!!!".


Jerit Aletha yang tak tahan lagi mendengar ucapan kotor dari sana sini tentang suaminya.


Sontak semua kerabat terdiam, dan yang tadi bergunjing segera meninggalkan ruangan tersebut.


"Anwar, temani aku ke Palembang. Aku tak terima diperlakukan tak adil oleh keluarga Jena. Aku harus mencari kebenaran atas apa yang telah terjadi, jangan sampai ada fitnah atas suamiku yang sudah tiada," pinta Aletha kepada Anwar.


Lalu keluarga inti saling berunding, malam nanti akan diadakan tahlilan untuk Asrul.


Dan nanti setelah tujuh hari, baru akan diadakan persiapan Aletha beserta Anwar dan istrinya untuk berangkat ke kota Palembang.

__ADS_1


__ADS_2