PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Astaga Jena


__ADS_3

Magenta dan Jena berfoto berdua, keduanya memasang gaya dan wajah keduanya memancarkan kebahagiaan dan rasa bangga.


Mereka baru saja selesai wisuda sarjana, kedua orang tua Jena juga hadir, sengaja datang dari Palembang untuk melihat anaknya dilantik menjadi sarjana.


"Kak Etha, coba di sebelah sana yah, fotokan kami lagi yah!!!" pinta Magenta kepada kakaknya.


"Ya, cepat!"sahut Aletha mengikuti keinginan adiknya.


Bukan hanya berdua saja, tetapi berpose juga dengan teman- teman lainnya yang sama-sama di wisuda pada hari itu.


"Jena, sekarang orang tuamu dan orang tuaku ajak foto bersama yuk," ajak Magenta kepada sahabatnya.


"Oke, hayuk," sahut Jena.


Lalu Jena dan Magenta mengajak orang tua masing-masing, lantas mereka berfoto bersama.


"Sudah belum?"tanya Aletha yang mulai merasa lelah sejak tadi mengikuti adiknya berfoto kemana-mana.


"Aduh kasian, kakak tercinta kecapekan yah," ujar Magenta sambil memeluk Aletha.


"Iyalah capek, mengejar kamu kalian kesana kemari. Perasaan dulu sewaktu aku wisuda enggak ganjen kayak kamu deh foto-fotonya," sahut Aletha sambil pura-pura kesal.


"Kak Etha kan jaman kapan wisudanya, aku kan jaman sekarang," sahut si bungsu sambil mengedipkan mata.


"Sudah yuk, sekarang ajak Jena dan kedua orang tuanya, kita makan bersama. Papih sudah pesan tempat di restoran," kata Pak Edmun meminta Magenta mengajak keluarga sahabatnya makan bersama.


Lalu Magenta segera menemui Jena dan menyampaikan ajakan tersebut.


"Ayolah Jena, Papih dan Mamih sudah memesan tempat di restoran," kata Magenta mengajak Jena.


"Aduh, kata Ibu dan Bapakku tak usah merepotkan. Biar keluarga kalian saja, kami nanti membuat acara sendiri," Jena berusaha menolak halus.


Magenta tak terima, lalu dia mengajak orang tua Jena secara langsung.


"Ayo Oom dan Tante harus ikut bergabung. Papih dan Mamih sudah memesan tempat di restoran," ajak Magenta kepada orang tua Jena.


Keduanya tampak kikuk dan merasa tak enak hati.


Melihat itu, Ibu Edmun segera menghampiri dan mengajak mereka semua.


"Mari Bapak dan Ibu bergabung, kan Jena sudah saya anggap anak sendiri. Kita anggap saudara sendiri," ajak Ibu Edmun.


Akhirnya kedua orang tua Jena mau ikut bergabung dengan keluarga Magenta.


Kedua orang tua Jena dan juga Jena ikut ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Pak Edmun.


Sementara Aletha dan Asrul menyusul di belakang mobil mereka, dan Asrul masih setia dengan mobil tuanya yang masih terawat sampai saat itu.


Mereka semua memasuki restoran yang mewah dan tentu saja harganya selangit.


Ternyata Pak Edmun juga sudah memesan masakan yang enak yang pasti keluarga Jena tak akan sanggup membayarnya.


"Terima kasih pak Edmun, sudah mengajak kami makan di tempat sebagus ini dengan makanan seenak ini," ujar bapaknya Jena.


"Sekali- sekali pak, mumpung sedang ada momen anak-anak di wisuda," sahut Pak Edmun.


"Kalau nanti Jena akan kerja dimana pak?"tanya Pak Edmun sambil menuangkan teh hijau dari poci ke cangkir bapaknya Jena.


"Bukankah sejak tiga tahun lalu sudah bekerja di Pak Asrul. Jena kan sudah lama bergabung di kantor milik Pak Asrul," jawab bapaknya Jena dengan polosnya.


Tentu saja Pak Edmun kaget, karena selama ini yang dia tahu menantunya adalah hanya seorang dosen saja.


Memang selama ini ada perjanjian antara Asrul, Husein dan Arya. Untuk menutupi kegiatan Asrul dan Husein di luar kampus, maka perusahaan yang mereka bertiga dirikan memakai nama "AHA Construction".


Dan yang maju sebagai Direktur tentu saja Arya, sehingga Asrul dan Husein masih bisa tetap menjadi dosen sekaligus pengusaha tanpa diketahui oleh pihak Kampus.


Bahkan yang tidak tahu juga adalah mertuanya, karena selama ini Asrul tidak pernah menyampaikan kalau dia punya usaha lain selain mengajar.


"Bapak tahu Asrul itu orangnya yang mana?"tanya Pak Edmun lagi kepada bapaknya Jena.


"Saya tidak tahu pak, bertemu juga belum pernah. Hanya tahu dari anak saya saja kalau dia punya atasan tiga orang, Asrul, Arya dan Husein kalau tidak salah," jawab bapaknya Jena lagi apa adanya.


"Kalau Genta nanti kerja atau mau lanjut S 2, pak?"tanya bapaknya Jena kepada Pak Edmun.


"Dia ingin kerja, dan mulai awal bulan depan dia akan ke Jakarta. Sudah keterima di "Power Construction", kebetulan pemiliknya adalah teman saya sejak lama," sahut Pak Edmun sambil tersenyum kecut.


"Wah, perusahaan konstruksi besar dan ternama itu sih. Hampir seluruh gedung pemerintahan dan proyek pemerintahan di kerjakan oleh perusahaan itu," bapaknya Jena kagum mendengar Pak Edmun kenal dekat dengan pemilik perusahaan besar tersebut.


Pak Edmun hanya tersenyum, tapi hatinya dongkol setengah mati. Dia merasa bodoh sekali karena tidak tahu kalau menantunya punya perusahaan konstruksi juga.


Lalu Pak Edmun terlihat menelepon seseorang, dan tak lama datang sebuah mobil dan seorang pengemudinya.


Pengemudi mobil masuk ke dalam restoran segera menemui Pak Edmun.


"Jena, ajak kedua orang tuamu berjalan-jalan berkeliling kota Semarang. Ini sudah oom sediakan mobil dan juga sopirnya, nanti bapak sopir ini akan menemani keluarga Jena sampai bapak dan ibumu kembali ke Palembang," kata Pak Edmun memberitahu Jena dan kedua orang tuanya.


"Oom, terima kasih, maaf kami jadi merepotkan Oom dan Tante sekeluarga," sahut Jena merasa terharu.


"Tak apa Jena, kita kan sudah seperti saudara. Jangan punya perasaan begitu yah," Ibu Edmun juga ikut menambahkan.


Kedua orang tua Jena dan juga Jena mohon diri, mereka diantar oleh sopir yang sudah diperintahkan oleh Pak Edmun.


Setibanya di rumah, Pak Edmun memanggil Asrul ingin mengajaknya bicara.


"Asrul, papih mau tanya di batas kota ada hotel dan apartemen baru. Dulu yang membangun gedung itu katanya perusahaan AHA Construction, apakah kamu tahu perusahaan tersebut ?" tanya Pak Edmun sambil melirik ke wajah menantunya.


Mendengar pertanyaan mertuanya, tentu saja Asrul cukup terkejut. Tapi dia segera menarik nafas dan berusaha memberikan penjelasan kepada mertuanya.


"Ya, itu perusahaan milik teman Asrul namanya Arya. Tapi kebetulan Asrul bersama Husein diajak bergabung di sana," jawabnya perlahan.


"Mengapa kamu tidak cerita kepada kami? bahkan Papih sampai kaget mendengarnya karena ternyata rumah Aletha dijadikan kantor perusahaan tersebut," Pak Edmun berkata lagi sambil menunjukkan nada tidak senang.


"Benar, rumah Aletha dijadikan kantor dan studio untuk operasional perusahaan itu. Dan saya melakukan itu atas ijin Aletha," sahut Asrul.


"Hmmm, lalu mengapa kamu tidak memberitahu Papih dan Mamih, lalu mengapa juga Magenta tidak kamu ikut sertakan. Malah dia sampai harus susah-susah mencari tempat magang di Jakarta".


"Untung saja akhirnya ada teman Papih yang pemilik Power Construction Indonesia, sehingga dia bisa magang dan langsung bekerja di sana setelah lulus ini," Pak Edmun protes keras kepada menantunya.


Aletha mendengar ayahnya sedang adu mulut dengan suaminya, lalu dia segera berlari menghampiri.


"Nah, Aletha mengapa kamu juga menutupi usaha suamimu sampai papih baru tahu tadi saat berbincang dengan bapaknya Jena. Ternyata Jena diambil menjadi karyawan di perusahaan suamimu, tapi adikmu sendiri malah dibiarkan. Kalian keterlaluan sekali!!!" Pak Edmun marah dan kesal kepada anak dan menantunya.


Aletha menatap suaminya yang duduk terdiam di kursi tamu rumah keluarganya.


"Begini Papih, alasan Mas Asrul tidak mengajak Magenta untuk bergabung karena kami ingin dia menjadi lebih mandiri".

__ADS_1


"Karena kalau Magenta diajak bergabung dengan Mas Asrul, pasti dia akan tetap saja bersikap manja dan merasa perusahaan milik Mas Asrul sehingga dia bisa seenaknya. Terbukti di kampus juga sikapnya begitu manja kepada Mas Asrul," Aletha mencoba memberikan pengertian kepada ayahnya.


"Maaf Papih, perusahaan ini juga sebenarnya pemiliknya Arya teman Asrul dan Husein. Kebetulan Aletha dan saya tinggal di rumah ini, sehingga rumah di sana kosong. Jadi saya minta ijin Aletha untuk dijadikan kantor dan studio," Asrul mencoba menjelaskan lagi.


"Oke, soal Magenta bisa papih terima alasannya, hanya kamu punya usaha lain selain menjadi dosen. Lalu mengapa tidak cerita kepada kami, sampai papih harus tahu dari orang lain. Keterlaluan dong namanya," Pak Edmun masih tidak terima karena Asrul tak pernah memberitahu dirinya.


Aletha terdiam karena dia juga tak paham alasan suaminya tidak mau memberitahu ayahnya soal perusahaan itu.


"Saya hanya ingin mandiri saja, tidak ingin ada campur tangan keluarga dalam mendirikan perusahaan ini. Ingin punya usaha benar-benar dari nol," sahut Asrul sambil menatap mertuanya.


Pak Edmun mencerna kalimat yang disampaikan oleh Asrul, lalu beliau menjawab," Baiklah, Papih tidak akan ikut campur. Tapi besok Papih ingin tahu kantormu seperti apa".


Asrul menganggukan kepala, memahami keinginan mertuanya.


Keesokan harinya Pak Edmun dan istri segera menuju rumah kediaman Aletha yang dijadikan kantor oleh menantunya.


Pintu masuk rumah tampak terbuka, tapi tidak terlihat ada orang di dalamnya.


Pak Edmun mencoba masuk ke dalam rumah, lalu dia dan istrinya naik ke lantai dua.


Husein tampak sedang sibuk menghadapi meja gambar sedang merancang suatu bangunan, sementara Jena juga sedang terlihat sibuk membuat maket.


"Ehm...Assalamualaikum," Pak Edmun memecah suasana dengan memberi salam.


"Oh...Walaikumsalam...Oom Edmun, tante...silahkan naik," Jena terlihat terkejut melihat kedatangan kedua orang tua sahabatnya.


"Lagi sibuk semua yah," ujar Ibu Edmun.


Husein dan Jena segera menghampiri kedua orang tua itu dan memberi salam sambil mencium punggung tangan keduanya.


"Tidak sibuk juga, hanya sedang menyelesaikan pesanan gambar dan maket untuk proyek di Yogyakarta," sahut Husein menerangkan.


Pak Edmun dan istrinya hanya manggut- manggut saja sambil melihat-lihat apa saja yang tengah dikerjakan oleh teman-temannya Asrul.


"Oom dan Tante darimana? sengaja kemari?" tanya Jena sambil meletakan dua gelas minuman segar.


"Ah tidak juga, kami habis mengantar Magenta ke stasiun, dia besok harus sudah mulai bekerja di Jakarta," sahut Ibu Edmun.


"Alhamdulillah yah Tante, ternyata Genta bisa diterima di perusahaan sebesar itu," Jena terlihat senang mengetahui sahabatnya bekerja di salah satu perusahaan ternama di Indonesia.


"Kamu juga bisa kerja di sini, sudah lebih lama lagi sebelum Magenta punya pekerjaan," ujar Ibu Edmun, entah memuji atau menyindir.


"Saya kerja di sini karena dulu di ajak Pak Asrul, karena waktu dulu ada pekerjaan membangun hotel milik Louis Orlando," sahut Jena apa adanya.


"Oh, hotel di batas kota itu milik Louis Orlando, luar biasa kalian bisa mendapatkan pekerjaan dari orang ternama seperti dia," Pak Edmun juga menyampaikan kalimat dengan nada agak menyindir.


"Kebetulan Louis teman sekolahnya Asrul dulu, Oom," Husein menerangkan siapa Louis Orlando sehingga mereka bisa mendapatkan proyek tersebut.


"Hmmm, AHA Construction, nama yang keren," celetuk Pak Edmun lagi.


"Ya, itu singkatan dari Arya, Husein dan Asrul, Oom".


"Perusahaan sudah tiga tahun, tapi saya baru tahu kemarin dari bapaknya Jena. Sungguh saya kaget, dan merasa tidak dianggap oleh kalian semua," Pak Edmun menyindir kepada Husein dan Jena.


"Yunita istrimu Husein adalah sahabat Aletha. Dan Aletha kalau ada apa-apa pasti memberitahu dan mengajak istrimu, contohnya sekarang istrimu bergabung di klinik gigi milik Aletha," sindir Ibu Edmun kepada mereka berdua lagi.


Jena yang paling merasa jadi tertunduk diam, dia tak tahu harus bicara apa kepada kedua orang tua Magenta.


"Sekarang menantu tante yang paling sholeh itu kemana yah?" tanya Ibu Edmun dengan nada yang tak enak didengar.


"Sedang pergi dengan Arya ke tempat Louis Orlando untuk membicarakan masalah pembangunan di Yogyakarta nanti," jawab Husein.


Mata Ibu Edmun melirik ke arah kamar tidur yang tepat berada di samping tangga.


"Ini kamar Aletha kok banyak barang? siapa yang menempati?"tanya Ibu Edmun sambil meneliti ke dalam kamar.


"Saya yang menempati tante, karena diminta Pak Asrul untuk tinggal di sini. Menjaga rumah sekaligus bersih- bersih juga," sahut Jena sedikit gemetar.


Ibu Edmun hanya mengangguk saja, lalu bersama suaminya pamit kepada Jena dan Husein.


Sore harinya ketika Asrul dan Arya kembali ke kantor, segera Jena dan Husein bercerita kalau siang tadi mertua Asrul datang memeriksa kantor.


"Ada sedikit kalimat bernada manis bro yang mereka sampaikan," ujar Husein sambil menepuk bahu Asrul.


Mendengar itu Asrul hanya bisa tersenyum sambil mencoba menerka apa yang akan terjadi saat kembali ke rumah mertuanya.


Benar saja saat malam kembali ke rumah mertuanya, Asrul dan Aletha segera di sidang oleh Pak Edmun dan istrinya.


Walapun sudah mencoba membela diri dan memberi berbagai argumen, mertua Asrul tidak terima dengan keberadaan kantor di rumah milik anaknya.


"Rumah itu dulu Papih yang beli, untuk tempat tinggal Aletha dan suami juga anaknya. Tapi ternyata sekarang dipakai kantor, lalu kamar tidur dipakai orang lain. Segera kamu cari tempat lain, dan kembalikan kondisi rumah menjadi tempat tinggal lagi?" Pak Edmun memutuskan demikian yang mau tak mau harus diikuti oleh Asrul.


Keesokan harinya Asrul membicarakan masalah keinginan mertuanya kepada semua rekan kerjanya.


"Sudahlah, kita pindah ke rumahku saja untuk sementara waktu. Biarkan Asrul membereskan rumah ini. Dan Jena, kamu bisa tinggal di paviliun rumahku," ujar Husein mencoba memberi solusi.


"Tapi nanti keluargamu akan protes loh," ujar Asrul.


"Bro, rumahku memang benar rumah peninggalan orang tua. Dan rencananya akan dijual oleh kakakku. Tapi selama belum terjual, kita pakai saja dulu. Siapa tahu ada rejeki, bisa kita beli rumah itu untuk kantor," Husein menjelaskan kepada Asrul.


"Benar juga, lebih enak rumah orang tuamu loh. Di pinggir jalan raya, jadi kalau ada rejeki kita bayarkan saja ke keluarga Husein," sambung Arya mendukung ide Husein.


Maka mereka segera memindahkan seluruh peralatan kerja mereka ke rumah milik keluarga Husein.


Arya memerintahkan beberapa tukang untuk membantu Asrul memperbaiki rumah Aletha agar kembali seperti semula.


Dan Asrul juga menambahkan sebuah ruang tidur di lantai dua untuk anaknya, lalu sebuah kamar lagi di lantai paling atas untuk tempat kerjanya.


Dalam waktu satu bulan rumah Aletha sudah selesai di renovasi dan siap ditinggali lagi sebagai rumah tinggal.


"Nanti saja Edwin tinggal di rumah kalian kalau sekolahnya libur. Sekarang tinggal di sini saja dulu, kamu saja kembali ke rumahmu, Etha," kata Ibu Edmun ketika diberi tahu rumah sudah beres dan Asrul ingin membawa anak istrinya tinggal bersama.


"Ewin mau sama bunda, Ewin enggak mau bunda ke sana. Bunda harus di sini sama Ewin," ujar Edwin anak mereka merajuk menolak diajak pindah dari rumah nenek dan kakeknya.


Asrul merasa jengkel luar biasa, karena mertuanya tetap saja berusaha mempertahankan cucunya untuk tinggal bersama mereka.


Aletha dalam hal ini sulit mengambil keputusan, di satu sisi suami dan sisi lain orang tua juga anaknya.


"Terserahmu saja, yang pasti aku sudah memenuhi semua keinginan orang tuamu. Aku cuma menantu, dan juga suami yang tidak punya hak atas istri dan anak sendiri," ujar Asrul kepada Aletha sambil meninggalkan rumah mertuanya.


Aletha hanya bisa menangis karena tidak bisa berbuat banyak, dia merasa dirinya selalu lemah dan tak bisa membuat keputusan untuk diri sendiri juga anaknya.


Akhirnya Aletha sesekali menginap di rumahnya sendiri, namun Asrul tidak bisa hangat seperti biasanya.


Asrul hanya ingin mereka bertiga bisa berkumpul dan tinggal di rumah sendiri, membesarkan dan mendidik anak bersama istrinya.

__ADS_1


Yang ada saat ini, dia punya anak yang merasa asing kepada ayah sendiri. Istri yang tidak punya sikap, hanya bisa menuruti orang tuanya tanpa mau tahu perasaan suaminya.


"Pak Asrul dimana? bukankah kita harus pergi survey ke lokasi di luar kota?" tanya Jena lewat ponselnya kepada Asrul.


"Jena, mungkin nanti siang saja yah. Pagi ini saya harus mengantar keluarga saya ke bandara," sahut Asrul dan Jena segera paham kalau atasannya sedang bersama keluarganya.


Siang harinya Asrul menjemput Jena di rumah keluarga Husein yang merupakan kantor barunya.


"Siapa saja yang akan ikut ke lokasi selain aku dan Jena?" tanya Asrul kepada semua kawannya.


"Aku tak bisa, gambar ini harus segera selesai," sahut Asrul.


"Saya juga tak bisa ikut pak, proyek pembangunan sekolah swasta kemarin, rancangan gambar diminta sore ini oleh pihak yayasannya," sahut Arman.


"Saya dan Pak Arya hari ini mau bertemu dengan pemilik sebuah rumah sakit. Mereka mau membangun lahan belakangnya untuk dijadikan tambahan ruangan lagi," Nurdin juga tidak bisa ikut karena harus pergi dengan Arya.


Akhirnya Asrul dan Jena yang pergi berdua ke daerah pinggiran kota Semarang, di sana ada sebuah lahan yang akan dijadikan lokasi wisata.


"Ini proyek dari pak Louis Orlando juga kah?"tanya Jena sambil membantu Asrul mengukur luas lahan tersebut.


"Ya begitulah, orang yang sukses beliau itu. Dan usaha tempat wisata itu sangat membuat dia semakin kaya raya," sahut Asrul sambil mencatat hasil pengukuran lahan itu.


"Senang punya nasabah yang begitu percaya kepada perusahaan kita yah pak. Walau beliau sangat teliti dan cerewet tetapi membikin kita juga jadi lebih hati-hati dalam mengerjakan keinginannya," ujar Jena lagi.


Setelah melakukan pengukuran, foto lahan dan juga membuat video atas lahan itu, keduanya segera masuk ke mobil lagi karena langit tiba-tiba mendung.


Sudah satu jam jalanan macet, karena hujan lebat dan angin kencang sehingga ada pohon besar tumbang menghalangi jalan.


Asrul dan Jena menuju ke timur, tetapi mobil tidak bisa bergerak dan antrian sangat panjang sekali. Begitu juga dari arah sebaliknya, tak ada satupun kendaraan lewat berarti tertahan di ujung jalan sana.


Sambil menanti makanan lancar lagi, mereka berbincang ringan di dalam mobil.


"Jena, selama ini saya tidak pernah lihat kamu di jemput cowok. Memangnya kamu tak punya pacar?" tanya Asrul iseng.


Jena tertawa kecil, lalu dia menjawab," Mana ada cowok mau sama saya, pak".


"Memangnya kamu kenapa bisa berpikir begitu?"tanya Asrul merasa aneh.


"Susah jawabnya, sudahlah pak pokoknya saya tidak terlalu memikirkan hal itu," sahut Jena.


"Ah kamu ini, memangnya kenapa sih? pernah punya dibuat sakit hati sama cowok? diperkosa pacar lalu ditinggalin?" Asrul lagi-lagi iseng menggodanya.


Jena terdiam, wajahnya jadi berubah seperti menerawang kedalam suatu ingatan masa lampau.


"Mending kalau oleh pacar sih, ini oleh paman sendiri, pak," sahut Jena lagi perlahan.


"Maksudmu?"tanya Asrul terkejut.


"Iya, saya diperkosa paman, lalu malah saya di usir dari Palembang. Diberi uang sepuluh juta untuk tutup mulut. Lalu saya disuruh ke Semarang menjaga nenek, walau bukan nenek kandung. Tapi hanya saudara jauh yang dianggap nenek," ucapan itu meluncur begitu saja dari bibir Jena sehingga membuat Asrul matanya membelalak.


"Uang sepuluh juta, diberi kepada orang tua sebagian. Dan sebagian lagi saya pakai untuk membayar kuliah di kampus. Untung kampus kita bersahabat dengan mahasiswa miskin seperti aku, jadi biaya bisa dicicil setiap bulan," lanjut Jena lagi.


"Tiga tahun lalu nenek meninggal, lalu saya diusir oleh anaknya karena rumah akan mereka jual. Untung juga Pak Asrul menarik saya bekerja dan saya boleh menempati kamar di rumah dulu. Sampai beberapa bulan lalu kembali diusir oleh mertua bapak".


Asrul menatap Jena, tapi dia bingung entah mau komentar apa. Tadinya hanya ingin iseng menggoda Jena, tak tahunya malah mendengar kisah hidup gadis itu.


Mobil di depan tiba-tiba bergerak, rupanya jalanan mulai lancar dan Asrul segera mengikuti rangkaian kendaraan yang mulai bergerak maju.


"Ini sudah jam sepuluh malam, dari sini lebih dekat ke tempat tinggal saya dibanding ke paviliun Husein. Kamu mau bagaimana? mau saya antar ke paviliun atau ke rumah saya saja?" tanya Asrul sambil melirik Jena.


"Ke tempat tinggal bapak saja, tak masalah kok," jawab Jena.


"Tapi nanti Husein atau Yunita akan mencarimu tidak?"tanya Asrul lagi.


"Tentu tidak, mereka sih tak peduli sama saya. Apalagi Mbak Yunita, boro-boro nanya, saya sapa juga tak bakal menjawab," sahut Jena sambil terkekeh.


Akhirnya Asrul membawa Jena ke tempat tinggalnya.


"Nanti kalau Kak Etha kemari bagaimana?" tanya Jena jadi khawatir.


"Pagi tadi kan saya ke bandara, mertua membawa anak dan istri saya Eropa. Liburan satu bulan keliling negara Eropa," jawab Asrul sambil tersenyum.


Keduanya segera masuk ke dalam rumah, karena merasa lapar lalu Jena membuat mie goreng untuk mereka berdua.


Kebetulan Asrul ketika membereskan rumah dulu sempat menemukan beberapa potong pakaian Jena yang tertinggal. Pakaian disimpan di kamar untuk pembantu, lalu Jena mengambilnya dan segera mandi membersihkan dirinya.


Asrul keluar kamar sehabis mandi dan mendapatkan ada mie goreng hangat di atas meja dapur.


Jena juga tak lama keluar dari kamar mandi belakang dan menghampiri Asrul yang sedang duduk menghadapi mie goreng.


"Saya ambil piring satu lagi yah," ujar Jena.


"Untuk apa, sudah sini kita makan sepiring berdua. Kita kan teman sekarang, bukan dosen dan mahasiswa lagi".


Jena tersenyum lalu mereka makan sepiring berdua sambil bercerita dan tertawa gembira. Lalu mereka juga terbawa suasana, jadi saling menyuapi satu sama lain.


Malam itu keduanya jadi saling terbuka, saling bercerita tentang kehidupan masing-masing dan juga saling mencurahkan perasaan.


"Sudah larut malam, kamu mau tidur dimana? Mau di kamar Edwin di atas atau mau di kamar bawah sini?" tanya Asrul ketika mereka akan melepas lelah.


"Dimana saja bebas, pak. Saya kan sudah tidak perawan ini. Mau tidur di kursi sini juga tak masalah," Asrul merasa ucapan itu sangat menggoda.


"Kalau sekamar sama saya memang kamu mau?" lelaki kalau dipancing pasti jadi penasaran.


Tidak ada jawaban dari bibir Jena, tapi Asrul mendapat tatapan penuh hasrat dari perempuan yang pernah jadi mahasiswanya.


Tanpa ada kata lagi, keduanya larut dalam pelukan dan ciuman di ruangan itu. Lalu Asrul menarik Jena memasuki kamar tidur yang seharusnya hanya dia dan Aletha yang menempatinya.


Desahan penuh nafsu membara terdengar riuh diiringi derasnya air hujan di luar sana.


Keduanya saling memagut, saling menindih, sampai menjerit merasakan hasrat yang tercurah dengan dahsyatnya.


Malam itu terjadi, esoknya terjadi lagi begitu juga di hari-hari selanjutnya, tak ingat lagi kalau Asrul adalah kakak ipar sahabatnya.


Lupa ingatan kalau Jena itu sekarang hanya rekan kerjanya.


Di tempat kerja, mereka biasa saja seakan tak ada apapun diantara keduanya.


Sepulang kerja, Jena pasti ijin pergi ke rumah teman. Tak ada satupun yang tahu siapa yang dimaksud teman oleh Jena.


Satu bulan anak dan istri berlibur ke negeri orang, satu bulan juga suaminya bercinta dengan wanita lain.


Siang itu Asrul sedang menunggu kedatangan anak dan istrinya, juga mertuanya yang baru pulang berlibur di bandara.


Matanya terpaku kepada ponsel yang dipegangnya, tangannya gemetar, jantungnya seakan berhenti mendadak.

__ADS_1


Pesan singkat yang baru saja diterimanya dari Jena membuat dirinya serasa ditimpa reruntuhan bangunan.


"Aku hamil".


__ADS_2