PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
H - 1


__ADS_3

"Aduh...Mas...penginapan macam apa ini? Dari semalam berisik sekali kanan dan kiri kamar sebelah. Untung anak kita bisa tidur, " pagi itu Jena mengomel kepada Asrul.


"Kita harus hemat, jadi aku ambil saja kamar di penginapan ini. Toh besok juga kita akan keluar dari sini," Asrul menjelaskan alasannya memilih penginapan murah di pinggiran kota Jakarta.


"Ya, tapi tidak seperti ini juga dong mas. Untung saja anak kita tidak rewel, mana AC nya berisik ditambah kamar kiri dan kanan juga berisik. Dasar dosen menyebalkan kamu itu mas," Jena meluapkan kekesalannya kepada Asrul.


"Hanya ini yang bisa aku sewa, kita harus mencari tiket untuk besok. Sudah sekarang tak usah marah-marah, bawa anak kita. Lalu ke bandara kita cari tiket untuk besok," ajak Asrul kepada Jena.


Sambil sebal dan kesal, lantas Jena menggendong anaknya lalu mengikuti langkah Asrul menuju ke lobby penginapan.


Setelah menitipkan kunci ke resepsionis, lalu mereka keluar penginapan untuk mencari sarapan sambil sekalian mencari tiket untuk ke Palembang esok hari.


"Kebetulan masih ada dua kursi kosong untuk ke Palembang, besok berangkat pukul satu siang dari Bandara SS," ujar petugas penjualan tiket di salah satu kantor biro perjalanan.


"Baik, jadi berapa yang harus saya bayar?" tanya Asrul sambil membuka dompetnya.


Petugas tadi menyodorkan kwitansi pembelian tiket, lalu Asrul segera menyerahkan sejumlah uang sesuai tagihan yang tercantum pada kertas tersebut.


Lalu setelah pembayaran dilakukan, Asrul menerima dua buah tiket untuk keberangkatan mereka esok hari ke Palembang.


Jena merasa senang sekali karena sudah mendapatkan tiket untuk pulang ke Palembang.


"Mas, jangan kembali dulu ke penginapan. Aku malas kembali ke sana, sangat berisik sekali keadaan di sana," Jena mengeluhkan soal penginapan yang disewa oleh Asrul semalam.


"Ya sudah, sambil jalan kita sambil cari penginapan lain yang murah dan dekat bandara sini," kata Asrul mengajak Jena.


Untung Jena mau diajak jalan kaki, walaupun Jakarta termasuk kota yang panas.


Akhirnya Mereka menemukan penginapan yang harganya hampir sama dengan penginapan sebelumnya, hanya lebih mahal beberapa ribu rupiah tapi nyaman dan bersih.


Pemilik penginapan juga sepertinya orang tua yang punya rumah besar tapi hanya tinggal berdua saja ditemani beberapa pembantu.


Asrul menyewa salah satu kamar kosong di sana, dia tengah bertransaksi dengan seorang wanita pengurus penginapan tersebut.


"Kamu di sini saja, aku akan mengambil dulu barang-barang di penginapan sana yah," ujar Asrul sambil pamit menuju ke penginapan sebelumnya.


"Sini anak muda, bawa bayinya kemari. Duduk disini bersama kakek dan nenek," ajak pemilik penginapan itu kepada Jena.


Lalu Jena menghampiri ke tempat duduk yang kosong di dekat pemilik penginapan itu duduk.


"Itu suamimu orangnya baik, sabar. Kamu juga harus sabar dan patuh sama suami yah," kata nenek pemilik penginapan sambil mengelus punggung Jena.


"Iya, terima kasih, nek. Suami saya memang orang yang baik," sahut Jena sambil senyum.


Kakek pemilik penginapan hanya tersenyum saja melihat istrinya tengah mengajak Jena berbincang.


"Anakmu tenang sekali yah, bayi yang sangat cantik".


Jena menganggukan kepala sambil tersenyum kepada nenek itu.


"Dekap selalu dia, apapun yang akan terjadi. Jangan sampai lepas dekapanmu, karena anak ini kunci yang akan membawa kebahagiaan bagi kalian berdua," nenek tadi memegang tangan Jena seraya menitipkan pesan agar dirinya harus selalu menjaga bayi mereka.


Tak lama Asrul kembali ke penginapan itu sambil membawa koper dan tas mereka.


Jena pamit kepada nenek dan kakek, lalu menyusul Asrul ke kamar yang sudah di tunjukkan oleh petugas penginapan di situ.


"Kakek dan nenek pemilik penginapan ini sangat baik sekali ya, mbak," ujar Jena kepada petugas penginapan itu.


Petugas tadi malah bengong, dia tak paham siapa yang dimaksud. Memang dulu pemilik penginapan ini adalah sepasang orang tua, tapi sudah lama meninggal.


Penginapan itu dikelola oleh cucunya, dan cucunya juga sekarang tinggal di luar negeri. Jadi hanya para pegawai saja yang dipercaya untuk menjalankan usaha penginapan tersebut.


"Papa, hari ini kami sekolah hanya setengah hari. Karena sebenarnya pelajaran sudah selesai semester ini, tinggal menunggu pembagian rapor saja nanti," kata Maya ketika Mario sedang mengantarkan dirinya dan adiknya ke sekolah.


"Mega juga sama? pulang setengah hari?" tanya Mario sambil mengintip anaknya dari spion tengah di dalam mobil.


Mega hanya mengangguk saja ke arah bayangan ayahnya di kaca spion, lalu kembali menatap keluar jendela samping mobil dari kursi belakang.


"Hmmm, ya sudah nanti jam dua belas siang papa jemput lagi yah. Nanti kita makan di rumah makan," kata Mario.


"Hore!!! papa memang keren banget," seru Maya sambil memeluk ayahnya.


Lalu Maya mencium pipi papanya dan segera turun dari mobil ketika sudah tiba di depan halaman sekolah.


"Papa tega sekali akan pergi lama?"tanya Mega yang sejak tadi cemberut.


Mario menatap anaknya, lalu memintanya mendekat.


"Sini sayang, papa sangat sayang sama Mega. Maafkan papa sayang, tapi papa harus pergi dulu. Mega harus sabar yah, papa akan selalu ada untukmu," ujar Mario sambil mencium kening anaknya dan mengelus rambut anaknya.


Lalu Mega turun dari mobil, dan segera masuk ke dalam gerbang sekolahnya.


Mario tak segera pulang ke rumah tapi dia meluncur menuju ke rumah orang tuanya.


"Tumben Rio, kamu tidak ke kantor hari ini?" tanya Mamih Regina ketika melihat anaknya datang ke rumah mereka.


"Kan sudah ada Jimmy, biar saja dia yang menjalankan perusahaan," sahut Mario sambil memeluk dan mencium ibunya.


"Papih mana?" tanya Mario.


"Oh, Papih ada di belakang, biasa sudah tua begini kami sering duduk di halaman belakang. Rasanya nyaman dan tenang kalau duduk di belakang sana," kata Mamih Regina sambil mengajak Mario ke halaman belakang.


"Eh, Rio, tumben kemari, biasanya hari minggu kalian kemari," ujar Papih Hansen sambil membetulkan letak bingkai kacamatanya.


"Iya, sengaja kemari, kebetulan anak-anak sekolah juga cuma sampai pukul dua belas siang. Jadi nanti sekalian menjemput mereka pulang sekolah," sahut Mario sambil merangkul dan mencium kening ayahnya.


"Nanti anak-anak akan kamu bawa kemari?"tanya Mamih Regina.


"Tidak, kami ada janji makan di rumah makan. Biasa agar Mega tidak marah, soalnya besok Rio akan keluar kota dalam waktu lama," jawab Mario.


"Mau kemana lagi kamu Rio?" tanya Papih Hansen.


"Hmmm, keluar kota bersama teman ada urusan. Cuma mungkin agak lama perginya, jadi Rio harus merayu Mega biar jangan marah terus," ujar Mario.


"Kapan perginya?".


"Besok siang".


Lalu Papih Hansen dan Mamih Regina saling berpandangan dan memahami kalau anaknya akan ada kesibukan di luar kota.


Orang tua dan anak saling bercerita di halaman belakang, mereka membahas soal Jimmy yang belum juga menikah.


"Papih heran sama dia, sejak ditinggal menikah dulu sama pacarnya, sampai sekarang hatinya tertutup sama perempuan siapa juga. Aneh, mengapa dia tidak bisa berpikir jernih," keluh Papih Hansen menyesalkan sikap Jimmy selama ini.


"Mamih dan Papih ingin segera melihat dia menikah, sebelum kami meninggal setidaknya semua anak sudah berkeluarga semuanya," ujar Mamih Regina menambahkan perkataan suaminya.


"Soal meninggal sih urusan Tuhan, bisa saja Rio duluan yang meninggal. Jangan suka berpikir begitu dong Mamih dan Papih tuh....".


"Kamu yang ngomong ngaco, mana boleh orang tua belum meninggal tapi anaknya meninggal duluan," Mamih Regina menatap anaknya dengan tajam.


"Ini lagi ngomong soal Jimmy, kok malah jadi ke urusan meninggal. Semua orang juga akan meninggal, tinggal tunggu urutannya saja," tegur Papih Hansen.


Mario cekikikan melihat ibunya jadi cemberut, lalu dia duduk di samping Mamih Regina dan memeluknya.


"Urusan jodohnya Jimmy, lalu urusan meninggal, semua Tuhan yang mengatur. Yang penting saat ini Mamih dan Papih sehat selalu, panjang umur biar bisa lihat anak-anak Rio nanti jadi sarjana," ujar Mario sambil memeluk erat ibunya.


"Amin....amin...semoga Tuhan memberikan kesempatan itu kepada Papih dan Mamih".


Menjelang pukul dua belas siang, Mario pamit kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Mam, sekarang jam istirahat, apakah bisa kita makan siang bersama anak-anak di rumah makan?" tanya Mario kepada Soraya lewat ponselnya.


"Bisa saja, aku ada jadwal mengajar lagi sekitar jam dua siang, jadi masih ada waktu untuk makan bersama," jawab Soraya.


"Oke, nanti aku kirim alamatnya melalui chat yah. Sampai berjumpa di rumah makan," kata Mario menyudahi pembicaraan.


Kedua gadis sudah menanti di depan gerbang sekolah, Maya terlihat sedang berbincang dengan seorang murid lelaki, sementara Mega seperti biasa tampak memasang wajah manyun sambil duduk di tembok di bawah pohon.


Mario menghentikan mobil tepat di depan gerbang sekolah, murid lelaki tadi tersenyum dan menganggukan kepalanya kepada Mario lalu pamit kepada Maya.


Mega sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang lalu selonjoran sambil kepalanya ditataki bantal kecil yang ada di dalam mobil.


"Masuk mobil kok manyun?" tanya Mario.


"Malas lihat Kak Maya pacaran melulu," sahut Mega sambil memejamkan matanya.


"Apa pacaran, enak saja kalau nuduh orang tuh," Maya yang baru masuk mobil langsung mengomel setelah mendengar apa yang adiknya ucapkan.


Mario senyum-senyum geli melihat tingkah kedua anaknya.


"Papa juga pernah punya pacar kok waktu SMA dulu," kata Mario kepada kedua anaknya.


"Siapa pacar papa dulu itu?" tanya Mega dari arah belakang.


"Teman sekolah dulu waktu SMA dong?" sahut Mario.


"Namanya siapa? terus papa kenapa putus sama dia?"Maya semangat bertanya.


"Namanya lupa, sudah lama sekali tak bertemu lagi. Putus karena apa juga lupa, sudah lama Maya. Namanya juga cinta monyet, pasti cepat terlupakan," jawab Mario lagi.


"Hihihi...monyet....monyet," Mega cekikikan di belakang.


"Apa lu!!! pasti bilang gue monyet yah???!!!"teriak Maya kepada adiknya.


"Enggak!!! siapa yang bilang Kak Maya monyet, kalau enggak merasa enggak usah marah dong," sanggah Mega.


"Dasar lu, yah...," Maya berusaha mencubit adiknya.


"Eh...sudah...sudah...kalian itu dimana saja selalu ribut, hal kecil jadi besar...sudah diam. Nanti papa batalkan makan di rumah makannya," ancam Mario.


Kedua adik kakak saling berbalasan menjulurkan lidah, sang kakak kesal, sementara sang adik puas dengan keisengannya.


Tak lama mereka tiba di sebuah rumah makan, lalu segera turun masuk.


"Rumah makannya lucu yah bentuknya, unik banget," kata Maya sambil mengamati setiap sudut bangunan rumah makan yang dibuat seolah seperti tabung dan penuh dengan ornamen lengkungan.


Mega juga terlihat senang melihat desain bangunan rumah makan itu.


"Siapa dulu dong arsiteknya, pasti kalian tidak percaya," ujar Mario.


"Siapa memangnya?" tanya Maya penasaran.


"Oom Jimmy dong, kan Oom Jimmy sama papa pekerjaannya mendirikan bangunan," jawab Mario lagi.


"Tapi kata papa pekerjaan papa membuat jembatan dan bendungan," kata Mega terlihat bingung.


"Iya, tapi Oom Jimmy juga sekarang menerima pekerjaan lain, memperbaiki bangunan lama menjadi baru lagi atau mendirikan bangunan sesuai keinginan orang yang memesan kepada kantor kami," Mario menjelaskan sambil memilih tempat duduk.


Mereka memilih tempat duduk yang dekat jendela, lalu tak lama datang seorang pelayan wanita.


"Selamat datang di Big Beauty Resto, ini menu kami. Bapak dan adik-adik akan langsung memesan atau mau melihat dulu, kami persilahkan," ujar pelayan wanita yang bertubuh gemuk tapi berdandan rapih dan terlihat sangat manis.


"Kami baca dulu yah, mbak, sambil menunggu mamanya anak-anak menyusul kemari," kata Mario kepada pelayan itu.


Lalu pelayan tadi pamit meninggalkan meja mereka.


"Lucu yah, bangunannya interiornya terkesan bulat-bulat. Nama rumah makannya Big Beauty Resto, lalu karyawannya rata-rata gemuk semua yah," kata Maya sambil memperhatikan seluruh ruangan dan orang-orang yang ada di sekitarnya.


Dan ketika Maya dan Mega membuka buku menu, keduanya saling bertatapan dan tertawa terbahak-bahak.


Menu makanan yang tercantum di dalamnya sangat lucu sekali , semuanya menggambarkan sesuatu yang gemuk.


Contohnya adalah Nasi Goreng Endud, Mie Bakso Bundar, Ayam Goreng Gembul dan lain-lainnya menggambarkan hal yang bersifat gemuk.


Makanan kebarat-baratan juga demikian, Chubby Sirloin Steak, Chubby Tenderloin Steak, Big Beauty Lasagna, Spaghetti meat Big Ball, dan sebagainya.


"Kalian bukannya pesan tapi malah tertawa terus," kata Mario.


"Lucu banget menunya, nanti saja tunggu mama datang biar pesan makanannya barengan," sahut Maya sambil terlihat geli saat membaca seluruh menu makanan di rumah makan itu.


Soraya turun dari taksi tepat di depan sebuah rumah makan yang disebutkan suaminya pada chat yang diterimanya.


Ketika melangkah menuju pintu rumah makan, ada seorang wanita muda bertubuh gemuk tapi cantik jelita turun dari mobilnya.


Wanita muda itu tersenyum ramah kepada Soraya, dan tentu saja Soraya membalas senyum manisnya itu.


Mereka masuk ke pintu utama rumah makan itu secara bersamaan.


"Itu mama datang!" seru Mega.


"Wow...Meghan Trainor !"seru Mega lagi saat melihat wanita yang berjalan di samping ibunya.


(Meghan Trainor adalah penyanyi luar negeri yang memiliki tubuh tidak langsing namun memiliki suara indah dan cantik jelita)


"Iya ih...mirip Regina juga loh," Maya ikut mengomentari.


(Regina nama seorang penyanyi di Indonesia, jebolan suatu ajang kontes menyanyi. Sama bersuara indah dan cantik jelita namun bukan wanita langsing)


"Pak Mario!!! apa kabar?!!!" seru wanita itu ketika melihat Mario yang sedang menoleh ke pintu karena ada istrinya datang.


"Halo nona Kristy, kabar baik. Apa kabar juga nona?" Mario bertanya balik sambil menjabat tangan Kristy yang terulur kepadanya.


"Sama kabar baik juga, oh, membawa anak-anak. Apa kabar nona-nona cantik, senang melihat kalian," sapa Kristy dengan ramahnya.


"Nona Kristy, ini kenalkan istri saya," kata Mario sambil merangkul bahu Soraya.


"Oh...ibu yang baru datang bersama saya, aduh...senang sekali berkenalan dengan ibu. Saya Kristy," ujar Kristy begitu ramah menyambut Soraya.


"Saya Soraya," sahut Soraya sambil membalas senyum wanita itu.


"Pak Mario sudah pesan makanan?" tanya Kristy.


"Belum, tadi anak-anak minta tunggu mamanya agar bisa memesan barengan," sahut Mario.


"Ayo silahkan duduk," Kristy mempersilahkan semuanya duduk kembali.


"Kalau belum pesan, saya referensikan menu utama di rumah makan ini, yah. Paling istimewa di sini adalah Big Beauty Lasagna dan ayam goreng gembul. Tapi yang lainnya juga enak kok," Kristy mempromosikan menu makanan di rumah makannya.


"Aku mau lasagna," kata Mega.


"Aku ingin spaghetti," Maya juga memesan.


"Mam, pesan apa?" tanya Mario.


"Sama dengan pap sajalah".


"Saya dan istri nasi goreng, dan ayam goreng," kata Mario.


"Oke," sahut Kristy.

__ADS_1


"Oci!!!!" Kristy memanggil pegawainya.


Lalu pelayan bernama Oci tadi segera datang menghampiri, dan Kristy menyebutkan pesanan yang tadi disebutkan oleh Mario dan anak-anaknya.


"Untuk minuman, nanti saya buatkan yang spesial untuk keluarga Pak Mario, tunggu yah," ujar Kristy sambil pamit menuju ruang kerjanya.


"Papa kenal dengan pemilik rumah makan ini?" tanya Soraya.


"Iya, nona Kristy itu nasabah kami, bangunan ini hasil renovasi Jimmy. Dulunya rumah tua tak terurus, warisan keluarga nona Kristy. Lalu dia mendatangi kami minta merenovasi untuk dijadikan sebuah rumah makan," Mario menjelaskan kepada Soraya dan anak-anaknya.


"Orangnya baik dan ramah sekali, tapi dipanggil nona. Memangnya belum menikah yah?" Soraya mempertanyakan.


"Belum, masih singel, tapi aku tidak tahu apakah sudah punya kekasih atau belum," jawab Mario.


"Sudah saja jodohkan dengan Oom Jimmy, pastinya mereka pernah bertemu karena rumah makan ini kan dibuat oleh Oom Jimmy," ujar Mega secara tiba-tiba dan mengejutkan.


Soraya dan Mario bertatapan sambil tersenyum, lalu Mario berkata ," Bisa saja sih, karena hampir setiap minggu nona Kristy mengirimkan makanan ke kantor. Makanan yang dikirim disesuaikan dengan banyaknya jumlah karyawan yang hari itu masuk kerja".


"Pastinya Jimmy akan selalu mendapatkan bagian makanan itu dong," Soraya menebaknya.


"Nah itu dia, selalu ada kotak khusus untuk Jimmy seorang," sahut Mario sambil tertawa kecil.


"Cantik kok tante itu, walau memang tidak langsing. Tapi kulitnya putih, rambutnya panjang bergelombang, pakaiannya modis, penuh percaya diri. Aku mau punya tante seperti dia," Maya juga menilai demikian.


"Hahahaha....sudahlah, biarkan Oom Jimmy sendiri yang akan memutuskan. Jangan terlalu ikut campur dengan urusan pribadinya, Oom kalian satu itu sangat sulit diajak bicara soal jodoh," ujar Mario menyudahi dan kebetulan makanan yang dipesan juga sudah datang.


Mereka berempat menikmati makanan itu dengan sangat nikmat dan lahap sampai tak ada sebutirpun remahan makanan tersisa.


Tak lama Kristy juga datang lagi menghampiri sambil membawa empat gelas juice yang sangat menggoda sekali tampilannya.


Dan ketika dicoba, rasa minuman itu sangat enak sekali, tidak terlalu manis tapi rasa buah-buahannya sangat terasa sekali.


Dalam hati Maya dan Mega sangat berharap tante cantik itu suatu saat akan menjadi istri Oom Jimmy.


Asmila sedang memesan beberapa menu makanan di sebuah rumah makan.


Fuad suaminya menunggu di luar rumah makan sambil menelepon orang kantornya menanyakan soal pekerjaan dan kendala yang dihadapi hari itu.


Untungnya semua yang dilaporkan oleh stafnya adalah hal yang baik-baik saja, semua pekerjaan di kantor lancar tidak ada kendala berarti.


Setelah membayar makanan tersebut, lalu Asmila mendekati suaminya. Dan Fuad juga segera menghentikan pembicaraan dengan orang kantornya, lalu segera masuk mobil bersama istrinya.


"Wah, pesan berapa macam masakan, banyak sekali yah. Aku jadi lapar nih," kata Fuad ketika melirik bungkusan plastik yang dibawa istrinya.


"Lima macam saja, mie goreng, cap cay, tahu tausi, ikan gurame asam manis dan kangkung cah daging sapi," sahut Asmila tapi terdengar seperti malas menjawabnya.


"Kamu jangan cemberut begitu, ini mau ke rumah ibu dan bapak. Coba senyum dong, tunjukkan semangat bertemu dengan orang tua," Fuad menasehati istrinya karena dilihatnya istrinya tidak senang hati.


"Mas kan tahu sendiri, kalau ibu ketemu aku juga pastinya akan sebal kepada aku. Seperti biasa ibu akan selalu ketus kepadaku," ujar Asmila terlihat malas dan tak bersemangat.


"Coba berpikir positif, siapa tahu hari ini Ibu tidak begitu. Kalau kamu dari awal datang saja sudah membawa aura negatif, maka pastinya ibumu juga jadi terbawa negatif. Tapi kalau kamu datang dengan aura positif, pasti ibumu juga akan senang hati menerimamu," Fuad mencoba memberi semangat kepada istrinya.


Asmila tersenyum kepada suaminya sambil mencoba untuk memikirkan hal-hal kebaikan antara dirinya dengan ibu kandungnya.


Mobil Fuad memasuki jalan rumah ibu mertuanya, dulu rumahnya juga tepat di seberang rumah mertuanya.


Saat ini sudah berubah bangunan tua itu menjadi sederetan kamar yang disewa-sewakan, menjadi kamar kontrakan bagi karyawan atau mahasiswa.


Fuad menghentikan mobil di halaman rumah mertuanya, dia keluar dari mobil sambil menatap deretan kamar-kamar sewaan di seberangnya.


Sudah tidak ada lagi halaman luas tempat kandang ayam yang merupakan tempat persembunyian Asmila kalau sedang dimarahi oleh ibunya.


"Mila," panggil Fuad.


"Ya, apa mas," sahut Asmila.


"Aku cuma mau tanya, dari dulu ingin bertanya tapi selalu lupa saja, kebetulan sekarang ingat".


"Apa sih?".


"Apakah dulu kamu tidak merasa bau bersembunyi di balik kandang ayam milik ayahku?" tanya Fuad sambil menahan tawa.


"Oh...hahahah...bau dong, tapi mau sembunyi dimana lagi. Cuma itu tempat aman yang tidak akan ditemukan oleh siapapun," jawab Asmila sambil tertawa geli mengingat masa kecilnya.


"Cuma aku yang tahu kalau kamu sembunyi di situ. Aku saja malas kalau mengingat harus membersihkan kandang dan kotoran ayam setiap hari. Tapi kamu luar biasa bisa betah berjam-jam duduk di belakang kandang ayam menghirup bau kotoran ayam...hahahaha," Fuad tertawa lagi sambil merangkul istrinya.


"Aduh, sudah ah...aku jadi malu, betapa bodohnya aku waktu kecil yah...hahahaha," Asmila jadi tertawa lagi dengan wajah merona merah.


"Anak perempuan bodoh itu jadi istriku sekarang...hahahah, kamu bau kotoran ayam iiihhh," Fuad menggoda istrinya.


"Enak saja," Asmila mencubit kecil pinggang suaminya, dan Fuad hanya tertawa sambil menahan perih cubitan itu.


Mereka masuk ke rumah Ibu Jaka, dan ternyata kosong tidak ada siapapun.


Asmila terus masuk ke dalam rumah, dan ternyata semua sedang ada di halaman belakang.


"Assalamualaikum, wah...ada apa ini, semua kok kumpul di belakang?" Asmila terlihat kebingungan.


"Waalaikumsalam, hei...Mila... sini...hahahaha...tadi ada tetangga mengirim singkong sebanyak ini. Jadi kami semua sedang ramai-ramai mengolah singkong ini, rencananya mau dijadikan keripik dan sebagian lagi mau digoreng atau dikukus saja," Ibu Jaka begitu ramah menyapa anak bungsunya.


"Mila bantu yah," kata Asmila sambil duduk di samping ibunya.


"Hahaha...kamu memangnya bisa mengupas singkong?" tanya Ibu Jaka sambil tertawa.


"Bisa dong, ini kan tugas aku dulu, mengupas kentang, mengupas singkong atau mengupas bawang dan lain sebagainya...hahahah," sahut Asmila sambil tertawa juga.


"Iya yah, hahahaha....kamu itu memang dari dulu suka ibu beri tugas begitu yah...hahahaha... maafkan ibu yah suka menyuruh kamu mengerjakan banyak pekerjaan jaman dulu itu," Ibu Jaka berkata begitu sambil kepalanya ditempelkan ke lengan atas Asmila.


Semua yang melihat saling melirik, tak menyangka ibu Jaka bisa semanis itu kepada Asmila.


"Kamu membawa apa kemari?" tanya Asmida kepada adiknya.


"Eh, iya, kami membawa masakan chinese food, ayo, kita makan yuk," ajak Asmila.


"Wah, enak itu. Ayo, ah, kita makan dulu, nanti masakan begitu kalau sudah dingin jadi kurang sedap," Ibu Jaka mengajak semua untuk segera menuju ruang makan.


Asmila menyiapkan semua masakan yang dibelinya, dan semua merasa senang sekaligus takjub karena selama makan dan sepanjang hari itu Ibu Jaka terlihat sangat ceria sekali.


Bahkan kepada Asmila yang biasanya selalu ketus, hari itu sangat ramah dan sering berseloroh penuh canda menceritakan kenakalan Asmila saat kecil dulu.


Saat Asmila dan Fuad pamit pulang, tiba-tiba Ibu Jaka menghampiri anaknya itu dan memeluknya erat.


"Maafkan ibu yah, selama ini selalu saja memperlakukan kamu dengan tidak baik. Padahal ibu sangat sayang kepadamu, kamu itu anak yang paling ibu cintai, dulu ibu suka memarahimu karena takut kehilangan kamu," Ibu Jaka memeluk Asmila sambil berkata demikian, dan tentu saja Asmila menjadi menangis mendengar penuturan ibunya.


"Mila juga minta maaf sama ibu, selama ini selalu menyusahkan hati ibu. Mila tak punya maksud untuk membuat ibu sedih dan kecewa karena aku," Asmila tersedu-sedu menyampaikan kalimat itu kepada ibunya.


"Tidak sayang, ibu yang minta maaf kepadamu. Kata Mida besok kamu akan keluar kota, ini bawa tasbih ibu. Selalu berdzikir kalau di perjalanan itu yah sayang. Jangan lupa sholat dan selalu berdzikir dalam hati," Ibu Jaka memberikan tasbih kedalam genggaman tangan Asmila.


Mereka saling berpandangan dan kembali lagi saling berpelukan sambil menangis.


"Ayo, sudah pelukannya, itu Fuad sudah menunggu. Sudah sana pulang, nak. Ingat pesan ibumu yah," ujar Pak Jaka seraya memisahkan pelukan keduanya.


Asmila mencium tangan ibu dan ayahnya, lalu pamit pulang bersama Fuad.


Sepanjang jalan menuju rumah, hatinya sangat diliputi kebahagiaan.


Serasa mendapat hadiah yang sangat istimewa sekali, ibu kandungnya tercinta bisa tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat.


Fuad melirik istrinya yang sedang senyum-senyum sambil ada linangan air mata di pipinya.

__ADS_1


Fuad paham sekali istrinya sedang merasa bahagia karena ibu mertuanya tiba-tiba saja berubah. Entah mungkin beliau mendapatkan hidayah darimana sehingga bisa menerima kekurangan anaknya dengan tulus.


__ADS_2