PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Sesal Aliong


__ADS_3

"Pokoknya aku tidak mau ikut, aku tidak suka kepada mereka," jawab Yu Chen istrinya Aliong ketika diajak suaminya ke rumah Soraya.


"Mengapa kamu begitu, kasihan Soraya. Dia baru kehilangan Mario suaminya, mengapa kamu jadi seperti ini, sih?" Aliong merasa aneh melihat sikap istrinya.


Yu Chen diam saja, dia selama tujuh tahun ini menyimpan rasa kecewa dan sakit hati kepada keluarga Mario.


Suaminya dan Mario bekerja bersama-sama, keduanya berurusan dengan Mr. A dan mendapatkan uang dari orang tersebut bersama-sama juga.


Tapi mengapa ketika akhirnya ditangkap, hanya Mr. A dan suaminya saja yang harus mendekam di penjara.


Sementara Mario bebas merdeka, keluarganya bahagia bahkan istrinya bisa keluar negeri dengan leluasa.


"Dengar, ketika kamu masuk ke dalam sel penjara, saat itu masa kehancuran bagiku dan bagi kedua anak kita".


"Mobil disita negara, rumah juga tak lama disita bank karena aku tak sanggup membayar cicilannya. Lantas aku dan kedua anak kita akhirnya memilih tinggal di sini".


Yu Chen istri Aliong dan kedua anak lelakinya memang tinggal di ruangan belakang showroom mobil milik keluarga Aliong yang sekarang di kelola oleh Asiaw adiknya.


Ruangan itu adalah ruangan bekas gudang yang disulap oleh Asiaw menjadi tempat tinggal kakak ipar dan kedua keponakannya.


Aliong terdiam mendengar istrinya meluapkan amarahnya.


"Memang semua salahku, gara-gara aku terlalu serakah, kalian semua yang menanggung penderitaannya," ujar Aliong penuh penyesalan.


"Tujuh tahun aku berjuang mencari nafkah agar kedua anak kita bisa terus sekolah. Tak kenal hujan badai, tak kenal petir kilat menyambar, tak kenal panas menyengat, aku setiap hari berkeliling ke berbagai tempat untuk melatih senam," Yu Chen berkata sambil mulai menitikan air mata.


"Kamu pikir aku bahagia menjadi guru senam, di hadapan puluhan orang atau ratusan orang aku penuh dengan senyum dan tawa. Tapi hati menjerit, aku sedih dan lelah. Pagi hari sampai siang di lapangan kampung dan sore sampai malam di tempat kebugaran".


"Mungkin orang menilai aku sehat, senang, tapi mereka tak tahu ada apa dibalik semua itu. Bayaran senam orang sekali datang itu paling mahal dua puluh ribu dan itu dibagi dua dengan temanku. Untuk menambah penghasilan, aku mengajar senam ke kampung- kampung, bayaran per orang lima ribu juga aku ambil".


"Seharusnya seorang pelatih senam itu makan dan minum bergizi. Tapi aku tidak, aku makan sisa anak kita, sop ayam yang hanya tinggal kuah dan beberapa gelintir daun. Ayam goreng, yang aku makan cuma kepalanya saja. Dagingnya untuk anak kita, agar mereka tumbuh sehat".


"Aku beruntung mengajar senam di perkampungan, karena ibu-ibunya jauh lebih baik dan ramah kepadaku. Kadang mereka membawa makanan untuk aku sebagai tanda terima kasih telah mengajarkan mereka senam kebugaran. Orang kota mana ada, sudah memberi uang, ya sudah. Mau aku kelaparan atau kehausan, tak peduli yang penting aku sudah dibayar".


Yu Chen benar-benar meluapkan semua perasaan yang tertunda selama tujuh tahun suaminya mendekam di penjara.


"Aku naik motor kesana kemari, digoda pria hidung belang saat motor mogok. Bahkan banyak yang melecehkan aku dengan mencoba menawarkan uang banyak asal aku mau tidur dengannya".


"Kamu pikir aku senang, kamu pikir aku baik-baik saja?!!! Tidak Aliong, aku tidak baik-baik saja. Aku harus berjuang sendirian, aku tak mungkin minta terus atau menunggu bantuan dari Asiaw. Dia juga punya keluarga dan punya tanggung jawab. Masih untung istrinya bisa menerima aku dan mau menolong kakak iparnya yang malang ini".


Yu Chen menangis tersedu-sedu sambil menutup wajahnya dengan bantal.


"Aku tak paham, aku menderita begini tapi kamu masih membela Mario dan istrinya. Aku benci sama Soraya, sungguh aku tak suka sama dia. Aku iri hati sama perempuan itu!!!" teriak Yu Chen.


"Kamu kenapa? bicara baik-baik jangan teriak-teriak, katakan baik-baik dengan aku," pinta Aliong sambil merangkul istrinya.


"Enyah!!!" Yu Chen melepaskan tangan suaminya dengan kasar.


"Kamu tahu, waktu itu hujan deras, aku baru pulang melatih senam dari sebuah perkampungan. Lampu lalu lintas berwarna merah, aku berhenti di samping sebuah mobil. Terlihat di dalamnya Soraya tampak tengah bersenandung menikmati lirik lagu yang diputar di mobilnya. Sementara aku terkena guyuran air hujan, menggigil kedinginan".


"Pemandangan yang miris sekali, andai ada yang tahu kalau antara aku dan dia, punya suami yang sama-sama pernah makan uang haram dari Mr. A. Cuma dia beruntung, sementara aku ketiban sial".


Ternyata itu penyebab Yu Chen begitu benci kepada Soraya, dia merasa selama ini kehidupan tidak adil kepadanya. Yu Chen harus susah payah mencari nafkah dengan naik sepeda motor kena panas dan hujan, sementara Soraya enak-enak naik mobil kemana-mana tanpa harus merasakan apa yang Yu Chen rasakan.


Yu Chen berkemas, memasukan beberapa peralatan olah raga, seperti baju senam, handuk, kaos kaki dan sepatu olah raga.


Tak lupa membawa flashdisc yang berisikan lagu-lagu untuk senam ke dalam tas tersebut.


"Hari ini kamu melatih senam juga?" tanya Aliong kepada istrinya.


"Tentu dong, harus melatih senam. Besok pagi Ahan pasti minta uang saku dan juga ongkos untuk pulang pergi ke sekolah. Mending sekarang cuma Ahan, dulu sebelum Aming kerja, tiap pagi harus sedia uang saku dan ongkos untuk dua orang anak," Yu Chen kembali mengomel sambil menjawab pertanyaan suaminya.


"Aku senang kamu sudah membesarkan anak-anak kita selama tujuh tahun ini seorang diri. Sampai bisa mengantarkan Aming lulus SMK dan sekarang bisa bekerja di bengkel resmi sebuah otomotif ternama," ujar Aliong memuji istrinya.


"Aku tak mau kalau anak-anak harus ikut berhenti mimpinya ketika kamu harus mendekam dalam sel. Maka aku harus bangkit untuk terus mendukung mereka mendapatkan pendidikan yang terbaik," sahut Yu Chen sambil kembali berlinang air mata.


"Dulu sewaktu kamu awal masuk penjara, itu awal aku terpuruk luar biasa. Aku dulu melatih senam di sanggar senam terkenal, anggotanya kebanyakan cici-cici Tionghoa yang kaya raya. Kamu ingat dulu aku seperti apa, bukan?".


"Ketika semua tahu kamu di tangkap dan dipenjara, besoknya aku di keluarkan jadi pelatih senam di sanggar itu. Tapi aku tak hilang semangat, lalu aku mencari sanggar senam lain. Namun sama saja semuanya menolak aku dengan alasan suamiku pesakitan".


"Aku bingung entah harus bagaimana, sementara anak-anak juga harus tetap makan dan dibiayai. Dalam bingung aku lapar dan membeli gado-gado di sebuah perkampungan kumuh. Dan dari situ aku mengobrol panjang lebar, ternyata banyak Ibu-ibu rumah tangga yang ingin olah raga tapi tak mampu bayar mahal".


"Lantas menawarkan diri menjadi pelatih senam di kampung itu. Dari situlah aku sekarang terkenal sebagai pelatih senam di beberapa kampung. Siapa yang tidak kenal sama Cici Yu, hampir semua kampung kenal. Orang kampung tenyata lebih baik dan lebih menghargai aku".


"Sekali datang lima ribu per orang, senamnya di halaman rumah ketua RT atau di lapangan desa. Listrik nyolok dari rumah terdekat, alat audio biasanya pinjam punya karang taruna".


"Kalau yang datang lebih dari dua puluh orang, lumayan aku dapat seratus ribu. Kalau kurang, ya sudah apa adanya".


Yu Chen menceritakan apa yang dijalani olehnya selama suaminya mendekam di dalam tahanan.


Aliong terharu mendengar penuturan istrinya, sungguh dia merasa bersalah dan menyesali semua perbuatan yang pernah dilakukannya dulu.


"Aku antar kamu, boleh?" tanya Aliong.


"Hahahah, boleh saja dong. Asal tahan saja mendengar ibu-ibu berisik," ujar Yu Chen.


"Aku pasti tahan, mumpung suamimu masih pengangguran. Jadi biar ada kegiatan, aku akan antar kamu melatih senam".


Yu Chen tentu saja jadi merasa senang karena setidaknya hari akan sedikit berkurang rasa letih, karena suaminya yang akan mengemudikan sepeda motor.


Jadwal hari ini, jam delapan pagi melatih senam di kampung Melati.


Menuju daerah situ cukup berliku-liku, ketika akhirnya sampai juga di sebuah lapangan.


Semua ibu-ibu sudah peserta senam sudah menanti, dan begitu gembira saat melihat kedatangan Cici Yu.

__ADS_1


"Cici Yu, sama siapa ini?" tanya ibu-ibu karena melihat Yu Chen dibonceng seorang lelaki.


"Ini suami aku, dong. Baru pulang jadi TKI. Kan suamiku jadi sopir truk di Malaysia selama ini," ujar Yu Chen menutupi kebenaran suaminya selama ini.


Aliong tentu saja terkejut mendengar jawaban Yu Chen kepada ibu-ibu itu, dia tidak bisa menjawab hanya membalas komentar ibu-ibu dengan senyuman.


Latihan senam segera dimulai, ibu-ibu yang hadir segera membentuk barisan tanpa harus dikomandoi lagi oleh Yu Chen.


"Kita berdoa dulu, yah!!!" ajak Yu Chen dan diikuti oleh semua peserta berdoa dalam hati sebelum memulai aktifitas senam tersebut.


Setelah berdoa, kemudian Yu Chen mengajak semua peserta untuk memulai kegiatan senam.


"Kita mulai dengan senam jantung sehat, lalu aerobik, body language dan terakhir kita salsa dangdut. Siap yah, ibu-ibu semangat!!! Mana suaranya?!!!"teriak Yu Chen.


"EEEEEE....AAAAAA!!!!"teriak ibu-ibu peserta senam dengan penuh semangat.


Irama musik mulai berkumandang, Yu Chen mengajak semua berjalan di tempat sebagai awalan senam.


Tak lama Yu Chen dengan lincah meloncat kiri dan kanan, sambil menggerakan seluruh tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya diikuti oleh peserta senam di belakangnya.


Wajahnya penuh senyum, tak pernah lepas canda tawanya ketika ada yang salah gerakan pesertanya. Dia mengulang lagi sambil tertawa ceria penuh semangat.


Aliong melihat istrinya seperti itu, hatinya menangis pilu. Tujuh tahun lamanya ternyata istrinya harus menyusuri beberapa perkampungan untuk mengais rejeki dengan melatih senam.


Lima ribu rupiah apalah artinya, jaman dulu uang sebesar itu sering di sia-siakan baik oleh Aliong maupun istrinya. Sekarang istrinya bercucuran keringat, meloncat dan berjingkrak demi uang lima ribu rupiah.


"Koko punya istri yang hebat. Cici Yu penuh semangat, tak kenal lelah dan sepertinya tidak pernah bersedih hati," celoteh salah satu ibu peserta senam kepada Aliong ketika mereka beristirahat sejenak.


"Terima kasih, memang istri saya luar biasa," sahut Aliong yang diikuti dengan sorakan ibu-ibu.


Di Kampung Melati senam selesai pukul sembilan pagi, lalu mereka bergerak lagi menuju kampung Dahlia.


Di situ senam dimulai pukul sepuluh sampai sebelas siang, sama seperti tadi di Kampung Melati, Yu Chen juga melakukan hal yang sama dengan penuh semangat.


Selesai mengajar di dua kampung, lalu sepasang suami istri tampak sedang istirahat sambil makan di sebuah warung nasi.


"Lumayan, dapat dua ratus ribu. Tinggal nanti pukul dua siang di Kampung Mawar, lalu pukul empat nanti baru ke tempat kebugaran di Bintang Fitness. Di situ aku mulai melatih dari pukul empat sampai delapan malam. Lumayan tiga sesi, tapi bayaranku dibagi dua dengan teman pelatih yoga," Yu Chen bercerita sambil menyantap makanannya dengan lahap.


"Kamu dibayar berapa di pusat kebugaran itu?" tanya Aliong.


"Peserta sekali datang ke tempat itu harus membayar lima puluh ribu sekali datang. Lalu aku dan teman mendapat tiga puluh ribu dibagi dua, jadi sekitar lima belas ribu per orang," jawab Yu Chen.


"Pesertanya lebih banyak dibandingkan di perkampungan, dong?" tanya Aliong lagi.


"Sama saja, kadang banyak kadang sedikit. Yang pasti pelatih kalau bisa tidak boleh absen," jawab Yu Chen lagi.


"Besok jadwalmu kemana?" tanya Aliong.


"Hari rabu, aku pagi kosong. Lumayan hari rabu pagi aku gunakan mencuci pakaian. Siang pukul dua ke Kampung Flamboyan, sore ke pusat kebugaran lagi sampai malam".


"Besok pagi ikut aku sebentar, yah. Gantian dong, sudah tak usah memikirkan mencuci pakaian. Besok siang aku yang mengerjakannya. Asal pagi ikut denganku," pinta Aliong.


"Bukanlah, pokoknya ikut aku. Ada undangan sarapan pagi di rumah temanku. Setelah mengantar Ahan, nanti kita pergi bersama," ujar Aliong.


Yu Chen mengangguk setuju, lalu dia memesan sebungkus nasi dengan lauknya.


" Untuk siapa?" tanya Aliong.


"Untuk anak kita, dong. Kita ke sekolah Ahan, dia pasti sudah menanti di pintu sekolah. Aku setiap hari mengantar nasi bungkus untuk makan siangnya," jawab Yu Chen.


Aliong menjadi sedih lagi, ternyata istrinya luar biasa sekali. Melatih senam, tapi masih menyempatkan memberi makan kepada anaknya lalu melanjutkan lagi perjalanan melatih senam ke tempat lainnya.


Setibanya di sekolah Ahan, tampak anak itu sudah menanti. Lalu Yu Chen memberikan bungkusan nasi kepadanya, Aliong memeluk Ahan dengan erat.


"Yu Chen, kamu pergi melatih senam sendirian saja. Aku mau pulang bersama Ahan, mungkin aku mau sebentar berjalan-jalan bersamanya," Aliong meminta ijin kepada istrinya.


"Kamu ada ongkos tidak?" tanya Yu Chen dan Aliong tentu saja menggelengkan kepala karena memang tak ada satu rupiahpun di saku bajunya.


Yu Chen menghela nafas, lalu diam-diam dia memberi selembar uang kertas berwarna biru kepada suaminya agar tidak terlihat anaknya.


"Siapa tahu Ahan minta jajan, setidaknya kamu pegang sedikit uang," bisik Yu Chen yang membuat Aliong semakin terharu.


Lalu Yu Chen segera melaju menuju ke tempat tujuannya melatih senam.


"Kita mau kemana, papah?"tanya Ahan kepada ayahnya.


"Kita ke kantor teman papah sebentar, baru nanti kita pulang. Papah mau memastikan soal pekerjaan kepada teman papah," jawab Aliong.


Ahan mengangguk, lalu ayah dan anak itu berjalan kaki berdua sambil Aliong mendengarkan cerita dari anaknya tentang selama tujuh tahun ditinggalkan oleh ayahnya.


Aliong menuju ke kantornya Jimmy, dia membawa anaknya ke kantor tersebut. Ahan diajak Marsela untuk makan siang di dapur kantor, dan dia dibelikan minuman segar yang dipesan dari warungnya Agus.


Aliong terlihat bicara serius di ruangan Jimmy, keduanya membicarakan sesuatu yang serius.


Ketika keduanya terlihat sudah sepakat akan sesuatu hal, kemudian Aliong keluar ruangan Jimmy dan mencari anaknya yang sudah selesai makan.


Ahan kemudian pamit kepada Marsela, dan juga pamit kepada Jimmy.


"Kamu kelas berapa?" tanya Jimmy kepada Ahan.


"Kelas sembilan, Oom," jawab Ahan.


Jimmy lalu mengeluarkan selembar uang kertas dan menyerahkan kepada Ahan, sambil berkata," Ini buat kamu jajan".


Tentu saja siswa SMP itu senang sekali, dan segera berterima kasih sambil memasukan uang tadi ke dalam tasnya.

__ADS_1


"Besok jam sembilan pagi, aku tunggu Ko Aliong di sana," ujar Jimmy dan diikuti anggukan kepala Aliong.


Setelah itu Aliong dan Ahan anaknya segera menuju pulang ke rumahnya dengan naik angkutan kota.


Malam harinya Ahan yang siang tadi merasa senang diberi uang oleh Jimmy, meminta ayahnya untuk mengantarkan dirinya membeli sate.


"Ayo, Papah, sudah lama aku tidak makan sate. Kita belikan juga untuk Mamah, biar nanti pulang senam bisa makan enak," pinta Ahan.


Aliong terharu sekali, malam itu mereka bertiga makan sate sesuai keinginan Ahan. Dan anak itu makan dengan sangat lahap, membuat Aliong merasa semakin bersalah karena setidaknya selama tujuh tahun telah membuat keluarganya sengsara akibat perbuatannya.


Keesokan paginya, sesuai dengan janjinya kemarin, Yu Chen sedang bersiap akan pergi dengan suaminya.


"Siapa sih yang mengajak kita sarapan enak pagi ini?" tanya Yu Chen.


"Ada deh, ayo, kalau sudah siap kita jalan sekarang," ajak Aliong yang sudah siap berangkat.


Lantas keduanya segera naik sepeda motornya, mereka bergerak menuju ke rumah Opa Hansen dan Oma Regina.


Sementara pagi itu di rumah Opa Hansen dan Oma Regina, terlihat Bik Tati sedang menyiapkan sarapan pagi yang cukup banyak.


"Ada apa ini, Tati? kok, kamu masak banyak amat. Ada sup ayam, telur balado, dan perkedel kentang. Siapa yang mau makan sebanyak ini?" Oma Regina merasa heran karena Bik Tati memasak banyak sekali.


"Kata Den Jimmy mau ada tamu, lalu Den Robert sama Neng Soraya juga mau datang," sahut Bik Tati sambil menata makanan di atas meja makan.


Melihat makanan banyak, Oma Regina jadi ingat Mario. Apalagi melihat ada telur balado, itu salah satu masakan kesukaannya Mario.


"Coba ada Mario, pasti dia senang ada masakan kesukaannya," ujar Oma Regina sambil wajahnya begitu sedih.


"Sudah jangan bersedih lagi, Mario sudah bahagia bersama Oma Elisabeth," tiba-tiba dari belakang Opa Hansen menyela istrinya.


Oma Regina mengangguk sambil terlihat masih sedih sekali.


Tak lama ada mobil memasuki halaman rumah mereka, dan ternyata Robert dan Rosalinda yang datang.


Selang sedetik kemudian ada mobil lain masuk ke halaman juga, ternyata mobilnya Samuel.


Robert lalu mengajak Samuel masuk ke dalam, sementara Rosalinda sudah mendahului dan tengah berpelukan dengan mertuanya.


Sesaat kemudian terdengar ada sepeda motor datang memasuki halaman rumah tersebut, Jimmy segera keluar kamarnya dan menyambut kedatangan Aliong dan Yu Chen.


Aliong segera bersalaman dengan Opa Hansen dan Oma Regina, kedua orang tua itu ingat kalau Aliong adalah teman lamanya Mario tapi tidak paham kalau Aliong baru bebas dari penjara.


Yu Chen agak canggung dan kikuk ketika ternyata dirinya saat ini tengah dikelilingi oleh keluarga almarhum Mario, tapi setidaknya masih mending karena tidak ada sosok Soraya di ruangan itu.


Tak lama terdengar ada suara mobil lagi datang, dan ternyata Soraya yang baru saja datang.


Tampak Soraya mulai turun dari mobil dan memasuki pintu utama rumah tersebut sambil membawa sekotak kue.


Setelah menyalami dan mencium mertuanya, lalu Soraya juga bersalaman dengan Aliong dan Yu Chen.


Soraya terharu mendapatkan simpati dari Aliong yang mengatakan minta maaf karena tidak bisa hadir saat pemakaman Mario.


Yu Chen tentu saja merasa kesal dan dia mulai cemberut kepada suaminya yang dianggap telah membohongi dirinya.


Kemudian Oma Regina mengajak semua sarapan bersama, lalu semua berjalan menuju ruangan makan dan menikmati sarapan bersama di pagi itu.


Selesai sarapan, semua berkumpul di ruang keluarga, dan saatnya Robert membuka pembicaraan di pagi itu.


"Jadi saya mengumpulkan semua di rumah Papih dan Mamih, karena ada yang mau disampaikan. Mohon Papih, Mamih dan terutama Soraya bisa menerimanya dengan ikhlas," kata Robert membuka pembicaraan.


Lalu Robert menceritakan kalau ternyata selama ini Mario telah mengidap sakit kanker paru-paru dan sel kanker telah menyebar hampir ke seluruh tubuhnya terutama ke bagian tulang belakang.


Soraya tentu terkejut mendengar ucapan Robert, lalu Samuel juga ikut menjelaskan penyebab Mario bisa mengidap penyakit itu.


"Memang benar apa kata Kak Soraya, kalau Bang Mario sudah lama tidak merokok sejak kelahiran anak kedua. Tapi ada di suatu masa Bang Mario sering berada di ruangan AC tertutup yang semua orang di dalamnya merokok. Menurut pengakuannya adalah beliau sering berada di ruangan karaoke, lalu di ruangan kantor yang semua tamunya merokok di dalamnya," Samuel menambahkan menjelaskan kepada semua orang di ruangan itu.


"Saya salah satu orang yang menyebabkan dia begitu, karena dulu saya yang selalu membawa Mario ke tempat penuh asap rokok," tiba-tiba Aliong menyela, dan Yu Chen sangat terkejut dengan pengakuan suaminya itu.


Lalu Aliong melanjutkan pembicaraan kalau dia sangat merasa berhutang budi kepada Mario.


"Kalau bukan Mario yang menolong saya, pastinya saya sudah mendekam selama dua puluh tahun bersama Mr. A".


"Dulu Mario tak mau menerima uang dari saya dan Mr. A, dia melakukan pekerjaan sesuai dengan perhitungan yang sebenarnya. Mr. A yang markup harga pembangunan. Dan bodohnya saya mau saja menerima uang suap dari Mr. A, sementara Mario terus mengingatkan saya agar berhenti melakukan perbuatan itu".


Aliong menghela nafas, lalu melanjutkan lagi ceritanya.


"Saat di pengadilan dulu, Mario membuktikan kalau saya melakukan pembayaran kepadanya dengan nilai sesuai tagihan dari dirinya. Sedangkan uang kelebihan dikembalikan kepada Mr. A, sementara saya dengan bodohnya mau saja diberi uang tidak halal oleh Mr. A tersebut".


Lalu Aliong menatap istrinya, dan berkata," Kamu tahu tidak Yu Chen, selama tujuh tahun aku mendekam di penjara. Setiap bulan pasti ada kiriman beras, telur, mie instan dan lain-lain kebutuhan bahan pokok. Itu semua Mario yang melakukannya, dia meminta Soraya untuk membelikan dan mengirimkan bahan makanan itu ke rumah kita".


Yu Chen melongo mendengar penuturan suaminya, selama tujuh tahun ini memang setiap bulan pasti ada kiriman bahan makanan dari suatu toko. Dan ketika ditanya siapa yang memesan, pasti pengirim tak mau menyebutkan nama orang yang telah memberi dan meminta semua belanjaannya dikirim ke alamat Yu Chen.


"Mario sudah tiada, dia sudah bahagia bersama Tuhan di atas sana. Kita hanya bisa berdoa dan meminta kepada Tuhan agar dosanya selama hidup diampuni," Opa Hansen memotong semua pembicaraan.


"Kita semua sedih kehilangan dia, tapi mengungkit kembali siapa dan apa yang menyebabkan dia sakit, sudah tak perlu lagi. Doakan saja anak Papih dan Mamih, doakan Mario agar bisa berada di sisi Tuhan dalam keabadian," tangis Opa Hansen pecah dan beliau berpelukan dengan Oma Regina yang tentunya keduanya sangat kehilangan akan meninggalnya Mario.


Soraya tak berkata apapun, dia hanya diam sambil air matanya terus mengalir deras.


Saat semua hendak pamit pulang, Yu Chen mendekati Soraya. Lalu Yu Chen berkata sambil menitikan air mata," Maafkan aku Soraya, aku pernah begitu membencimu karena merasa tidak adil. Suamiku masuk penjara sementara Mario tidak".


"Ternyata sekarang kamu akan jauh lebih berat menjalani hidup, karena suamimu tak akan pernah kembali lagi seperti suamiku saat ini".


"Maafkan aku, terima kasih atas perhatianmu selama ini. Aku tak pernah tahu kalau kamu melakukan sesuatu yang tulus dengan membagi sedikit kebahagiaan bagi aku dan anak-anakku".


Soraya memeluk Yu Chen, keduanya menangis tapi tak sanggup mengatakan apa-apa lagi.

__ADS_1


Yang pasti saat ini satu belenggu kebencian antara Yu Chen kepada Soraya sudah lepas.


Semoga saja Soraya juga akan segera bisa melepaskan belenggu misteri antara suaminya dengan Asmila.


__ADS_2