
Fuad dan Asmila baru selesai sarapan pagi, Ibu Kusnadi sejak tadi diam saja sambil menghabiskan sarapan paginya.
"Bu, Fuad dan Mila ijin mau pergi sebentar, menengok istri teman kantor yang baru saja melahirkan," ujar Fuad kepada Ibu Kusnadi.
"Menengok orang melahirkan terus, istrimu kapan ditengok orang. Sudah dua tahun kalian menikah, Ibu juga ingin cucu seperti orang lain," sahut Ibu Kusnadi yang malah jadi sindiran keras kepada Asmila.
"Mungkin memang belum dipercaya saja bu, kami juga sudah berusaha tapi memang belum rejeki dari Allah," Fuad mencoba memberikan pembelaan.
Ibu Kusnadi hanya mendengus kesal, lalu meraih gelas yang berada di samping piringnya dan meminum airnya.
Asmila mengangkat piring kotor dan mencucinya, lalu dia membersihkan meja sambil menyimpan sisa lauk ke dalam lemari khusus makanan.
Fuad sudah rapih, dia tengah menunggu Asmila yang masih berdandan untuk pergi bersama dirinya.
Ibu Kusnadi berbincang di teras rumah dengan Fuad, membahas rencana Fuad untuk membeli kendaraan roda empat.
"Untuk apa mobil? masuk ke jalan rumah kita juga susah. Nanti malah jadi menghalangi jalan orang lain," Ibu Kusnadi tampak tak setuju dengan keinginan anaknya.
"Begini bu, setidaknya kalau ada mobil kan kita bisa sesekali keluar kota bersama. Atau mungkin Fuad sesekali ingin mengajak Ibu dan Mila makan di rumah makan atau belanja bersama," Fuad mencoba menyampaikan keinginan kepada Ibunya.
"Ah, kalau Ibu sih tak setuju yah, mau disimpan dimana coba. Halaman rumah kita harus dibongkar dulu untuk jadi garasi," lagi-lagi Ibu Kusnadi menunjukkan tidak sepakat.
"Bisa diatur, nanti Fuad yang merapihkan halaman agar bisa untuk parkir mobil tanpa mengganggu pepohonan ibu," sahut Fuad mencoba kembali menunjukkan keinginannya.
Disaat bersamaan Asmila selesai berdandan, lalu menghampiri suaminya.
Ibu Kusnadi melirik ke arah Asmila, lalu berkata dengan sinis," Fuad, daripada sibuk urusan ingin beli mobil, urusi dulu istrimu. Kapan mau pakai hijab, perempuan sudah punya suami tak menutup aurat".
Seketika Asmila merasa terpojok, dia baru datang langsung disindir pedas. Dia hanya diam saja tak berani mengucap sepatah katapun.
"Nanti bu, Asmila pasti pakai hijab. Saat ini kan pekerjaan yang dia lakukan tak mungkin untuk pakai hijab," malah Fuad yang menjelaskan kepada Ibunya.
"Terserah saja, Ibu ini cuma orang tua jadi wajar kalau sekedar mengingatkan. Apa salahnya berhenti kerja di sana dan carilah kerja lain yang membolehkan pakai hijab".
Fuad dan Asmila pamit kepada Ibu Kusnadi, Asmila memeluk pinggang suaminya dengan erat saat duduk di jok belakang sepeda motor milik mereka.
"Ayo kapan nyusul? jangan ditunda lama-lama. Ambil cuti lalu bulan madu berdua yang jauh ke pulau, biar tenang tak ada yang mengganggu," kata teman kantor Fuad yang istrinya baru saja melahirkan.
"Tenang saja yah pak Fuad, bulan depan pasti dengar kabar mbak Mila hamil. Ya kan...," istrinya juga ikut memberi semangat.
Asmila hanya senyum saja, matanya tak bisa lepas menatap bayi kecil yang sedang tidur di ranjang bayi dengan begitu nyenyak.
Pulang dari menengok bayi, lalu keduanya berjalan-jalan sambil mencari rumah makan yang enak.
Keduanya duduk di bale-bale yang ada di sebuah rumah makan khas sunda.
Sambil menunggu pesanan Asmila berkata kepada suaminya," Mas, Mila bukan tak mau berhijab, tapi kan Mas juga paham kalau kulit kepala aku pasti alergi jika tertutup rapat. Keringat terlalu banyak nanti akan menimbulkan bintik merah gatal dan panas".
"Ya, Mas paham Mila. Tapi kalau Ibu kan tahu sendiri, sifatnya keras apalagi setelah Bapak meninggal, beliau membesarkan aku sendirian membentuk pribadinya semakin keras," ujar Fuad dengan tatapan sayang kepada istrinya.
"Nanti aku coba minta saran kepada kak Mida, kerudung seperti apa yang tidak bikin kepala berkeringat," kata Asmila sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Aku sih sebenarnya tidak mempermasalahkan kamu mau berhijab atau tidak, yang penting sikap dan perilaku juga hatimu yang musti berhijab. Banyak wanita yang aku tahu berhijab tapi dibalik itu sikapnya tidak baik," Fuad menyampaikan pandangannya tentang masalah hijab.
"Mas tapi nanti kalau aku pakai hijab cuma mau pergi dan cuma dihadapan Ibu, apakah tidak masalah. Nanti dikatakan mempermainkan agama oleh orang-orang," ujar Asmila sambil memegang lengan suaminya.
"Yah mau bagaimana, kondisi kulit kepalamu bermasalah, yah sudah tak usah pikirkan apa kata orang, yang penting jangan meninggalkan Sholat. Kalau sudah tak berhijab juga tak Sholat, itu yang disebut mempermainkan agama," sahut Fuad yang selalu bijak.
"Tidak Mas, walau di tempat kerja aku berdandan juga pasti aku sholat. Kan makeup bisa aku pakai lagi sehabis sholat," Asmila menjelaskan kepada suaminya.
Fuad mengusap kepala istrinya sambil menganggukan kepalanya.
"Ini loh kerudung dari bahan kain katun khusus, jadi dingin di kepala tak akan berkeringat banyak, kecuali memang kamu berdiam di bawah terik yah," Asmida menunjukkan sebuah kerudung berbahan katun khusus kepada adiknya.
"Nanti aku coba cari deh di pasar baru, kerudung dengan merek dan bahan seperti ini," kata Asmila mengamati kain kerudung milik kakaknya.
"Tapi belikan aku satu yah, kan sudah aku beritahu masa tidak diberi bonus," biasa Asmida selalu ingin untung dalam hal apapun.
"Tenang saja, nanti aku besok aku belikan".
"Assalamualaikum," Ibu Jaka baru saja kembali dari pengajian.
"Waalaikumsalam," sahut Asmida dan Asmila berbarengan.
"Nah, kebetulan kamu di sini. Milaaaaa...Ya Allah, kapan kamu hamil sih. Telinga ibu sudah panas saja kalau datang ke pengajian, hampir semua ibu-ibu membicarakan kamu yang tak kunjung hamil juga," Ibu Jaka langsung saja menyerocos saat melihat Asmila ada di rumahnya.
"Mila belum dipercaya untuk menjadi seorang ibu, tenang saja sih nanti juga pasti akan segera dipercaya sama Allah," sahut Asmila dengan tenang.
"Ya memang benar, tapi coba dong usaha periksa ke dokter, kalian sudah dua tahun menikah tapi terlihat tenang saja tak punya keinginan untuk segera punya anak," Ibu Jaka mengomel mendengar penuturan anaknya.
"Bu, Mila sudah ke dokter kok, dan hasilnya rahim Mila sehat. Tapi kan dokter bilang bukan hanya Mila tapi Mas Fuad juga harus periksa. Cuma Mas Fuad belum ada waktu untuk periksa," Asmila kembali menjelaskan kepada ibunya.
"Ya....tapi kalau kata aku sih Fuad juga harus menyediakan waktu untuk periksa, jangan tenang-tenang saja seperti selama ini loh," Asmida juga mencoba mengingatkan adiknya.
"Kak Mida, untuk test berdua bersama pasangan itu butuh waktu lebih dari tiga hari. Sementara Mas Fuad baru ijin sehari saja, handphone nya tak pernah berhenti berdering. Dari kantornya selalu saja menghubungi, mana bisa dia merasa tenang. Yang ada malah terus saja kepikiran pekerjaannya," Asmila lantas memberitahu kondisi dia dan suaminya seperti apa.
"Hmmm...seharusnya Fuad itu cuti lama sekalian, dulu waktu kalian sebelum menikah dia bisa cuti lama. Masa sekarang jadi tidak bisa," Ibu Jaka tak habis pikir Fuad sulit ambil jatah cutinya.
"Sudah mengajukan beberapa kali jatah cuti panjang, tapi ya itu atasannya tidak memberi ijin dengan alasan belum ada yang bisa menggantikan posisi pekerjaan Mas Fuad".
Asmida dan Ibu Jaka saling bertatapan lalu mengangkat bahunya masing-masing, keduanya merasa tidak punya jalan lain untuk menasehati Asmila dan Fuad.
Baik Asmila maupun Fuad, di mata keluarga besarnya di cap terlalu santai dan tidak ada usaha untuk memeriksa kondisi kesehatannya dengan benar agar bisa segera punya momongan.
__ADS_1
Ibu Kusnadi mertuanya Asmila apalagi, sehari-hari harus melihat Asmila yang selalu saja terlihat tidak punya beban padahal menikah sudah cukup lama.
Semua orang bisa saja menilai begitu, padahal dalam hati Asmila yang paling dalam tidak ada yang tahu.
Dia juga sudah sangat ingin merasakan bagaimana rasanya hamil, bagaimana rasanya ngidam, bagaimana rasanya melahirkan dan bagaimana rasanya punya bayi.
Fuad juga begitu, dia juga ingin sekali merasakan diminta yang aneh-aneh oleh istrinya yang hamil. Hampir semua teman di tempat kerjanya selalu pusing saat istrinya hamil.
Ada yang minta mangga muda di malam hari, ada yang minta makanan aneh yang sulit di dapat, bahkan ada yang istrinya menangis minta makan nasi goreng masakan suaminya.
"Pusing bro, masa minta buah duku, padahal ini kan belum musimnya," kata salah satu teman kerja Fuad sambil menepuk dahinya ketika istrinya minta dibelikan buah duku.
"Iya benar, istriku juga waktu itu pernah minta buah jambu monyet, entah dimana mencari pohonnya juga," sahut yang satunya lagi.
"Hahaha...tapi kalian harus bersyukur loh, setidaknya sudah merasakan bagaimana istri meminta sesuatu kepada kita saat hamil. Aku sudah menikah dua tahun, tapi masih belum diberi kesempatan merasakan hal itu," ujar Fuad mengomentari keluhan kedua teman kerjanya.
"Sabar bro, jangan kecil hati. Yakin suatu saat kamu juga akan segera merasakannya," kedua sahabatnya akhirnya tersadar kalau Fuad selama ini belum punya pengalaman seperti mereka.
"Aamiin, semoga saja segera diberikan kepercayaan dari Allah," sahut Fuad penuh harapan.
"Mbak As, mau tidak ikut aku ke Bengkulu nanti kalau aku mudik. Nanti aku bawa Mbak As ke Kyai Rajo, orang pintar yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit juga bisa membuat orang yang sulit punya keturunan jadi segera punya keturunan," kata Ratna teman kerjanya Asmila saat mereka berdua sedang makan siang di kantin dekat tempat kerjanya.
"Bengkulu? dekat banget Na, kalau bisa ke Papua saja sekalian biar lebih dekat lagi," sahut Asmila dengan wajah sedikit kesal.
"Hahaha...Mbak As, aku serius nih, benar di sana di kampung tempat orang tuaku tinggal ada seorang Kyai terkenal yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Serius aku," Ratna mencoba meyakinkan Asmila.
"Aku percaya Na, cuma kota kelahiranmu itu dekat banget yah...mana ada aku ongkos untuk ke kampungmu itu yah," ujar Asmila mendelik kepada Ratna.
"Hahahah, aku kan menawari Mbak As, siapa tahu tertarik. Memang sih biaya pulang ke kampungku mahal sekali, aku juga pulang lima tahun sekali, hahahah....," Ratna malah ngakak melihat ekspresi Asmila.
"Nah itu dia, kamu saja untuk pulang kesana masih mikir, apalagi aku...hmmm...dasar Ratna".
"Ya siapa tahu Mbak As ada uang, kan suaminya kerja di perusahaan negara seperti itu pasti banyak uangnya, besar pastinya gaji suami Mbak As".
"Mana aku tahu gaji suamiku besar atau tidaknya, aku kan selama ini diberi uang sekedar saja olehnya, uang untuk kebutuhan rumah tangga dan lain-lain sih diberikan kepada mertuaku. Kami kan masih tinggal di perumahan mertua indah permai sejuta rasa," kata Asmila sambil setengah kesal dengan kondisi rumah tangganya selama ini.
"Kan mertua Mbak As baik dong, selama ini yang masak dan sebagainya kan mertua Mbak As, kan?" tanya Ratna.
"Baik sih orangnya, cuma kalau sudah menyindir soal anak dan soal hijab, hmmm, bikin hati kesal deh," keluh Asmila.
"Tapi kan setidaknya tidak pernah menyuruh Mbak mencuci pakaian atau membersihkan rumah sambil mengomel seperti di sinetron kan?"Ratna menggodanya.
"Monyong kamu Na, ya tidak begitu jugalah. Tapi kalau aku sedang off pasti aku juga selalu membersihkan rumah kok, biasa menjadi menantu yang baik dan cantik...hahaha," Asmila bisa saja memuji diri sendiri.
"Eh, nanti sore antar aku dong Na, aku rencananya mau membeli kerudung yang berbahan tidak panas," ajak Asmila kepada Ratna.
"Wah serius Mbak As mau berhijab nih?" Ratna terkejut mendengar ajakan itu.
"Lah kok gitu sih Mbak, kalau belum siap kenapa maksa juga sih," Ratna tidak setuju dengan rencana Asmila.
"Na, kamu tahu sendiri kan, aku pakai motor saja tanpa helm, jadi kalau harus berhijab total aku belum mampu. Aku belum bisa membayangkan bagaimana kulit kepalaku nanti".
"Mbak As tinggal jelaskan saja sama mertua kan lebih mudah daripada harus pakai drama segala pura-pura berhijab," Ratna masih tak suka dengan ide Asmila.
"Ya anggap saja sebagai bahan aku belajar berhijab deh. Aku sudah jelaskan juga tetap saja ibu mertua tak bisa memahami kondisi kulit kepalaku. Dianggapnya cuma alasan saja, karena aku takut tidak kelihatan cantik kalau berhijab," Asmila menjelaskan tentang mertuanya yang memang keras kepala.
"Sabar bu, sayang sama mertua itu salah satu ibadah juga loh," ujar Ratna sambil menyenggol bahu Asmila.
Ibu Kusnadi tersenyum senang saat melihat Asmila pamit untuk bekerja, karena pagi itu Asmila memakai hijab berwarna coklat muda serasi dengan pakaian seragam yang dikenakannya.
"Nah, gitu dong. Kamu terlihat cantik sekali, ibu senang melihatmu seperti ini," Ibu Kusnadi terpesona melihat penampilan menantunya.
Asmila hanya tersenyum, lalu dia meraih tangan mertuanya dan mencium punggung tangan tua itu sambil minta ijin berangkat bekerja.
Seperti biasa Asmila pergi bekerja mengendarai sepeda motornya dan tentu saja tak pernah memakai helm.
Untung tempat bekerjanya tidak jauh dari rumahnya, dia bekerja menjadi beauty advisor atau pemberi saran untuk pemakaian kosmetika.
Dia bekerja di suatu brand kosmetika terkenal, dan kebetulan perusahaan itu membuka sebuah cabang di sebuah pertokoan di dekat pasar baru yang tidak jauh dari kediaman Asmila.
Sesampainya di tempat kerja, Asmila segera memarkirkan sepeda motornya lalu segera berlari menuju toilet umum di sana dan segera membuka kain kerudungnya.
Lalu menyisir rambutnya, dan melihat kain tadi lalu segera diselipkan ke dalam tasnya.
Setelah itu dia berjalan menuju stand kosmetik tempat kerjanya dan segera berdandan memakai produk tersebut.
Pulang kerja, kembali ke toilet umum untuk mengenakan lagi kerudungnya, setelah itu kembali ke rumah mertuanya.
Hal itu berlangsung berbulan- bulan lamanya, Fuad paham kelakuan istrinya dan dia tidak mempermasalahkan karena tahu kalau istrinya akan alergi kulit kepalanya kalau tertutup rapat seharian.
Tapi tentu ada rasa bersalah, setidaknya mereka berdua telah membohongi Ibu Kusnadi. Hal ini mereka sepakati agar Ibu Kusnadi merasa senang dan tidak terus menyindir Asmila.
Di suatu hari minggu Asmila sedang menikmati liburan dengan suaminya. Sejak pagi hari dia memasak makanan kesukaan suaminya.
Sayur lodeh dan ikan kembung goreng sudah siap di meja makan, sekarang dia sedang mengulek sambal yang pedas.
Lalu di meja juga sudah ada lalaban beserta tempe juga tahu goreng.
"Waduh enak banget ini, masakanmu bikin perut jadi keroncongan, aku sudah ngiler nih. Ayo cepat sambalnya dong sayang," Fuad tak tahan melihat sajian masakan di meja makan.
"Sabar, ini sudah jadi kok," kata Asmila sambil membawa sambal ke ruang makan.
"Aku panggil ibu dulu ya mas, biar kita makan barengan," kata Asmila sambil mencari mertuanya.
__ADS_1
Ibu Kusnadi sedang menata pot bunga di teras depan, memang beliau sangat suka dengan tanaman.
"Bu, ayo makan, Mila masak sayur lodeh dan ikan goreng," ajak Asmila kepada Ibu mertuanya.
"Ya, nanti ibu menyusul deh, tanggung ini satu lagi pohon lidah mertua baru ibu pecah jadi beberapa pot barusan," sahut Ibu Kusnadi yang ahli memperbanyak tanaman hias.
Asmila menurut lalu, dia masuk ke dalam melayani suaminya makan.
"Ah, ibu lupa kemarin tidak menyuruh pembantu untuk membersihkan kamar mandi. Barusan cuci tangan, dinding kamar mandi lengket dan bau," kata Ibu Kusnadi saat duduk di meja makan.
"Nanti Mila saja yang akan membersihkan, sekalian akan mencuci sepatu olah raga punya mas Fuad".
Ibu Kusnadi mengangguk, lalu mereka bertiga makan bersama dengan sangat nikmat sekali.
"Ibu makan ikan banyak begitu tapi tidak menambah nasi?" tanya Fuad yang merasa tumben melihat ibunya makan ikan goreng hampir dua ekor.
"Iya nih, enak banget ikan goreng buatanmu Mila, kapan lagi aku bisa makan seenak ini. Terima kasih Mila".
Asmila hanya senyum saja, dia merasa senang sekali ibu mertuanya begitu semangat makan hasil masakannya.
Setelah selesai makan, Ibu Kusnadi bersama Fuad seperti biasa mengobrol di teras depan.
Masih berkutat dengan tanaman tadi yang rupanya masih belum selesai dirapihkan.
"Fuad, lama-lama ibu pikir, kalau kamu mau beli mobil silahkan saja. Ibu tidak keberatan sama sekali, senang juga rasanya melihat anak bisa membeli kendaraan baru," ujar Ibu Kusnadi secara tiba-tiba, sehingga Fuad merasa terkejut.
"Benar bu? wah ibu sungguh mengijinkan halaman depan agak sedikit di bongkar?" Fuad bertanya karena tak percaya.
"Ya sudah, mau apa lagi. Ibu juga kasihan sama kamu".
"Terima kasih bu, nanti Ibu pilih yah mobilnya mau yang mana. Nanti kita ke dealer mobil yah bu," ajak Fuad.
"Ah, sudah ibu tak tahu soal mobil, terserah kamu saja dan istrimu. Ibu juga mau kemana pakai mobil, orang setua ibu paling juga naik mobil jenazah".
"Aahhh...ibu itu selalu saja bicara begitu, semangat dong bu, kan Fuad ingin mengajak ibu jalan-jalan," kata Fuad sambil memeluk ibunya.
Ponsel Asmila berbunyi berkali-kali, Fuad mencari asal bunyi dan ternyata dari dalam kamar tidur mereka.
Terpampang nama Ratna telah mencoba menghubungi istrinya beberapa kali.
"Mila!!!, ini Ratna telepon dari tadi, mau kamu angkat atau bagaimana?!" teriak Fuad di depan kamar mandi.
"Nanti saja deh aku hubungi lagi, atau mas angkat saja deh. Mau apa sih anak itu, aku sedang tanggung mas masih banyak sabun di lantai kamar mandinya!!!" sahut Asmila sambil berteriak dari dalam kamar mandi.
"Ratna, ini Fuad, maaf Mila masih sibuk katanya, nanti biar Mila yang menghubungi Ratna yah".
"Aduh, Mas Fuad, ini penting banget loh. Ada yang mau Ratna sampaikan kepada Mila. Penting banget Mas, tolong yah panggilkan sebentar saja," pinta Ratna dengan nada memelas kepada Fuad.
Lalu Fuad kembali memanggil istrinya dan memberitahu kalau Ratna menyampaikan ada yang penting untuk dibicarakan.
"Aduh mas, ini lantainya masih banyak sabun, aku baru selesai membersihkan dinding kamar mandi tinggal lantainya saja," ujar Asmila dengan baju yang basah.
"Sudah terima saja dulu, nanti kamu lanjutkan lagi".
"Ya, tapi mas tolong jaga agar ibu jangan dulu ke kamar mandi yah, takut jatuh karena licin".
"Iya".
Asmila menyahuti telepon Ratna, dan seperti biasa anak itu pasti membahas gosip yang baru saja terjadi di pasar.
"Mbak As, percaya tidak, itu si bapak pemilik toko kain tadi ketahuan selingkuh dengan perempuan pegawai toko handphone, ini lagi ramai loh mbak," Ratna begitu semangat memberi laporan kejadian di pasar saat ini.
"Ah, aku kira mau ngomong apa. Aku sudah paham hal itu".
Dan pembicaraan masih berlangsung antara Asmila dan Ratna.
Sementara Fuad saat kembali ke teras, ternyata dari jalan ada yang memanggilnya sambil naik sepeda.
Rupanya pak RT sedang olah raga bersepeda dan mengajak Fuad berbincang, tentunya Fuad segera menghampiri dan pak RT berencana akan mengadakan acara sepeda santai untuk seluruh warga.
Fuad tertarik membahasnya, sampai dia lupa akan sesuatu.
Baik Asmila maupun Fuad, sedang saling sibuk dengan bahasan masing-masing. Suaminya bersama pak RT di depan pagar, istrinya pada ponsel dengan Ratna teman kerjanya di halaman belakang.
"Alhamdulillah selesai juga semua tanamanku. Semoga aku bisa melihat mereka tumbuh semakin banyak lagi. Cuci tangan dulu ah, aku juga ingin buang air kecil," guman Ibu Kusnadi sambil beranjak berjalan menuju kamar mandi.
"Sudah dulu yah Na, aku belum selesai membersihkan kamar mandi. Nanti mertuaku masuk kan bahaya," kata Asmila mencoba menghentikan pembicaraan dengan Ratna.
"Iya deh, nanti kalau ada berita baru lagi aku telepon lagi yah," sahut Ratna begitu semangat.
"Oke pak RT, saya sih siap saja kalau ada acara begitu. Nanti saya hubungi anak-anak lain juga agar membantu acara bersepedanya lancar," ujar Fuad sambil mengacungkan jempolnya kepada pak RT.
"Oke deh, terima kasih yah Fuad sudah bersedia membantu," kata Pak RT dengan terlihat senang karena Fuad akan membantunya.
Dari dalam rumah terdengar suara yang sangat keras.
GUBRAAAAKKKK!!!!
GEDEBUUUUGGG!!!!
PLARAAAAAKKKK!!!!
"ASTAGFIRULLAH!!!! IBUUU!!!!".
__ADS_1