PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Awal Hari Baru Cemburu


__ADS_3

"Bro, nanti malam kita makan bersama, aku mau merayakan Aliong bebas dari sel. Kamu harus ikut, yah. Jangan sampai menolak," ajak Wildan kepada Jimmy.


"Boleh, siapa saja nanti yang bergabung?" tanya Jimmy.


"Biasalah, aku, Danu, kamu, lalu Aliong dan Asiaw adiknya," jawab Wildan.


"Oh, resto dimana?" tanya Jimmy lagi.


"Nanti sore aku kabarin, sekarang aku masih ada perlu. Sekalian kita bahas soal pekerjaan di resto itu nanti," sahut Wildan sambil menutup pembicaraannya dengan Jimmy.


Setelah menutup telepon dari Wildan, kemudian Jimmy tampak memikirkan sesuatu.


"Aliong itu dulu sarjana teknik sipil, mungkin tidak kalau diajak bergabung di perusahaan ini?" pikir Jimmy.


Ada keinginan Jimmy mengajak Aliong bergabung, tapi di sisi lain ada juga rasa penolakan.


Setidaknya Aliong mantan narapidana, kasusnya dulu makan uang proyek.


Kantor Jimmy urusannya dengan proyek, bukankah suatu hal yang sangat mudah bagi Aliong untuk kembali terjebak di dalam urusan yang proyek.


Tapi Jimmy mengesampingkan dulu pemikirannya itu, masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.


Soraya berada di kampus, seperti biasa pasti ditemani dua sahabatnya yaitu Oti dan Otang.


"Sudah jangan nangis lagi, yakin pasti ada jalannya untuk biaya anak-anak. Kamu masih kerja di sini, kariermu juga masih terbuka lebar di kampus ini," Oti memberikan semangat kepada Soraya.


Sambil menyapu air matanya dengan kertas tisue, Soraya mendengarkan semangat dan dukungan dari kedua sahabatnya itu.


"Tenang say, kami pasti menemani kamu selalu. Makanya kamu sekarang harus semangat ingin jadi rektor. Kemarin ini ogah-ogahan," ujar Otang dengan gaya lembutnya.


"Oke, semoga saja kesempatan untuk ujian kompetensi menjadi rektor masih terbuka untuk aku," ujar Soraya penuh harapan.


"Eehhh, ada nyonya janda. Ternyata nyonya janda sudah masuk mengajar?" siapa lagi kalau bukan Ira yang selalu merasa tersaingi oleh Soraya.


"Jaga mulut, jangan sembarangan bicara," Oti menegur Ira.


"Loh, memang benar kok, Ibu Soraya sekarang kan janda. Masa suami sudah meninggal tidak boleh dipanggil janda," Anes antek-antek Ira ikutan bicara.


"Setahu saya seorang dosen statusnya janda masih boleh kan mengajar di kampus ini. Tidak ada undang- undang yang melarang kalau janda tidak bisa menjadi tenaga pengajar," Soraya mulai kesal dan membalas ucapan kedua orang itu.


"Oh, boleh kok, janda boleh mengajar. Cuma kasian banget jadi janda, suaminya meninggal barengan selingkuhannya," Ira kembali menyindir Soraya.


"Hmmm, memang iya. Suami saya orangnya tampan, jadi banyak selingkuhannya. Soal meninggalnya sama siapa, itu sudah takdirnya," sahut Soraya lagi.


"Cuma sekedar info saja nih, suami Soraya meninggal juga banyak warisannya, kok. Jadi dia bukan janda miskin tentunya," Otang ikut menambah suasana menjadi panas.


"Benar banget, daripada ada orang jadi dosen. Eh, suaminya pengangguran, kalau suatu saat suaminya mati yang ada cuma ninggalin hutang bukannya warisan," Oti menyindir keras kepada Ira.


"Biar pengangguran, tapi suami gue anak orang kaya, setidaknya masih ada warisan dari orang tuanya," Ira mulai terpancing emosinya.


"Alamak, biar kata orang gue ini cowok bencong. Tapi gue kerja dong. Harga dirilah buat cowok, walau kerjaan gue gajinya kecil tapi gue punya duit keringat sendiri," Otang juga mulai melepaskan ucapan sindiran tajamnya.


"Kalian ngajak ribut sama aku? hah!!!" teriak Ira.


"Sorry, kagak level ribut sama situ. Yang duluan nyindir Soraya siapa? Kalau tadi mulut situ sopan, pasti kita juga bakalan sopan," Oti maju ke hadapan Ira sambil berkacak pinggang.


"Sudah, sabar Kak Ira. Ayo, kita keluar saja, jangan peduli dengan urusan mereka," Anes segera menarik tangan Ira keluar dari ruangan itu.


Setelah Ira dan Anes keluar ruangan, ketiga sahabat yang menyebut dirinya Triple O itu tertawa ngakak bersama.


"Ya Tuhan, ampuni ucapanku. Aku tak pernah mau sombong dan menyakiti orang lain," ujar Soraya.


"Kebiasaan orang dua itu, nyinyir selalu. Bukan sama kita saja, tapi hampir ke setiap orang selalu demikian," Oti meradang kalau ingat kelakuan Ira.


"Hahahah, ember. Makanya aku paling males sama kedua orang itu. Pengen rasanya sesekali aku tarik bibir keduanya," ujar Otang yang masih terlihat geram.


"Kamu juga Otang, bilang aku banyak warisan. Sudah tahu tadi aku nangis memikirkan biaya anak-anak, hahahaha," Soraya tertawa geli.


"Biarin, biar panas hatinya. Biar dia kebakaran jenggot, orang tak pernah mau kalah dan tak pernah mengaca diri," sahut Otang dengan nada gemas jengkel.


"Sudahlah, biarkan saja. Nanti juga suatu saat akan kena batunya sendiri," kata Soraya berusaha meredam kekesalan kedua sahabatnya.


Di tempat lain terlihat Fuad sedang menghubungi salah satu teman lamanya yang bisa mereparasi peralatan elektronik yang rusak.


"Buluk, apakah kamu bisa memperbaiki handphone yang sudah jatuh terendam ke dalam sungai?" tanya Fuad.


"Insyaallah bisa, memang ada barang demikian?" tanya temannya yang dipanggil Buluk, entah apa pasalnya orang itu dipanggil demikian.


"Ada bro, cuma ini terendam lama, sekitar dua atau tiga hari terendamnya," ujar Fuad.


"Ada yang dua bulan terendam juga bisa aku akalin, cuma memang banyak data hilang," sahut Buluk.


"Justru aku butuh datanya bro, bukan handphonenya," kata Fuad lagi.


"Hmmm, nanti aku lihat dulu barangnya. Aku akalin dan usahakan agar bisa keluar datanya," sahut Buluk lagi.


"Besok aku bawa, dua handphone dan satu laptop," kata Fuad sambil setengah tertawa.


"Walah, PR nya banyak amat, boss. Iya, siap, bawa saja kemari besok barangnya".


"Oke, besok siang aku ke tempatmu".


"Eh, Boss Fuad, kayaknya kerja sambil makan pizza enak loh".


"Hahahah, dasar Buluk. Oke, besok aku bawakan juga pizza untukmu".


"Nah, gitu dong. Perut kenyang kerjaan lancar boss".


Fuad tertawa mendengar ucapan Buluk dari seberang teleponnya.


Menjelang sore ketika Fuad sedang ketiduran di sofa di ruang tamu rumahnya, ada teriakan dari depan rumah.


Rupanya orang mengirim paket, dan ternyata benar paket kiriman dari Soraya yang datang.


Pagi tadi Soraya memilih pengiriman super express, cukup mahal ongkos kirimnya. Tapi demi keinginan untuk segera menyelesaikan masalah, maka harga berapapun pasti akan dibayar.


Fuad segera mandi sekalian berwudhu, lalu menunaikan sholat Ashar. Dalam doanya setelah sholat, selalu nama istrinya disebut dimohonkan ampunan atas segala dosa selama hidupnya.


Setelah rapih berpakaian kaos polo dan celana blue jeans, lalu dia mengemudikan mobilnya menuju resto pizza.


Satu box pizza ukuran jumbo sudah ada di tangannya, lalu bersama mobilnya melaju menuju rumah Buluk.


"Hahahah, nah...mantap. Sini mana barangnya," ujar Buluk ketika menerima satu box pizza dari Fuad.


"Aku usahakan yah, soalnya barang terendam itu susah-susah gampang. Cuma yang pasti aku akan coba buka semua data yang ada di ketiga barang elektronik ini," ujar Buluk lagi sambil geleng kepala melihat ketiga gawai tersebut.


"Sip, aku tunggu. Tapi aku akan keluar kota beberapa lama. Jadi nanti kalau punya info apapun, kamu kirim saja ke email aku. Ini alamat emailnya," kata Fuad sambil menuliskan alamat email pribadinya.


"Dan ini uang untuk beli kopinya," imbuh Fuad sambil menyematkan beberapa lembar uang kertas ke saku baju Buluk.


"Siap komandan, segera aku laksanakan!".


Sementara di hari yang sama di siang hari tadi, tepatnya di Kota Jakarta di Margo's Tower, ada sepasang suami istri setengah baya sedang berbincang dengan anak perempuannya.


Pasangan suami istri setengah baya itu adalah Sumargo Handoyo dengan istrinya Ivanna.

__ADS_1


Di tahun sembilan belas delapan puluhan, ada seorang pria bernama Sumargo Handoyo menikah dengan wanita asing yang berasal dari Amerika.


Mereka adalah teman kuliah, karena Sumargo Handoyo adalah lulusan dari salah satu Universitas terkenal di negara paman Sam tersebut.


Wanita Amerika itu akhirnya ikut dengan Sumargo Handoyo ke Indonesia dan tinggal di Kota Semarang.


Mereka mempunyai seorang anak lelaki bernama Louis Orlando Handoyo.


Sumargo Handoyo adalah seorang yang pandai juga pekerja keras, dia mendirikan pabrik pipa PVC untuk keperluan bangunan dan juga merintis pembuatan kusen berbahan alumunium.


Di usia pernikahan yang ke sepuluh tahun, istrinya meninggal dunia karena di tembak oleh perampok yang akan menggasak rumah mereka.


Louis Orlando Handoyo akhirnya tinggal bersama orang tuanya Sumargo Handoyo, sementara Sumargo Handoyo sendiri pergi ke Jakarta untuk membuka usaha baru di sana, sambil menghilangkan kesedihannya.


Ada ajakan dari salah satu kawan lamanya untuk membuka peluang usaha property di Jakarta, mendirikan apartemen dan gedung bertingkat untuk perkantoran.


Sumargo Handoyo tertarik dan mulai menggeluti usaha itu, sementara usaha pabriknya di Semarang juga tetap berjalan karena dia sudah punya karyawan yang handal dan bisa dipercaya.


Suatu saat dia diajak bergabung untuk mendirikan sebuah universitas swasta, lantas dia juga tertarik dan menanamkan modal yang cukup besar di sana.


Ketika peresmian gedung universitas swasta tersebut, dia bertemu dengan seorang wanita yang merupakan salah satu tenaga pengajar asing di universitas tersebut.


Wanita itu akan mengajar di fakultas sastra Inggris, ketika diajak berkenalan Sumargo Handoyo merasa kaget karena nama wanita itu seperti orang Rusia.


"Saya Ivanna Romanov, berasal dari Rusia, tapi saya besar di Inggris karena ayah saya seorang atase kedutaan Rusia di sana. Lalu saya menikah dengan orang Indonesia yang berasal dari Denpasar Bali. Hanya kami terpaksa harus berpisah karena mantan suami saya seorang pemabuk," ujar Ivanna ketika berkenalan dengan Sumargo Handoyo.


Lantas Sumargo Handoyo juga menceritakan kisah hidupnya, dan akhirnya keduanya menjadi dekat sejak saat itu.


Ivanna mempunyai seorang anak perempuan bernama Komang Ayu Stevanya atau dipanggil dengan nama Stevie.


Sumargo Handoyo akhirnya menikah dengan Ivanna Romanov dan tinggal di Jakarta.


Dari pernikahannya mereka dikaruniai seorang anak bernama Kristal Yelena Handoyo.


Sekarang Ivanna Handoyo, begitu panggilannya sudah menjadi ketua Yayasan yang menaungi beberapa lembaga sosial dan salah satunya adalah Universitas tempat Soraya mengajar.


Karena mereka mempunyai anak yang gemar memasak, akhirnya Ivanna berencana mendirikan sebuah Sekolah Tinggi Pariwisata dan Perhotelan.


Termasuk nantinya akan ada fakultas bahasa asing juga di tempat tersebut.


"Jadi rencana mama, fakultas sastra sekarang akan dipindahkan ke tempat baru. Namanya akan berubah menjadi fakultas Bahasa Inggris dan nantinya akan ada beberapa tambahan fakultas bahasa asing lainnya seperti Bahasa Perancis, Bahasa Jerman dan tentu saja Bahasa Rusia," ujar Ivanna kepada suami dan anaknya.


"Jadi jurusan Pariwisata dan Perhotelan, juga bahasa asing di tempat baru nanti?" tanya Stevie.


"Ya, seperti itu, dan mama sudah mengantungi ijinnya dari Menteri Pendidikan langsung," jawab Ibu Ivanna dengan bangga.


"Iyalah, yang punya teman menteri sih beda," Stevie menggoda ibunya.


Ibu Ivanna hanya senyum-senyum saja mendengar anaknya menggoda dirinya.


"Kita belum mendapatkan ahli konstruksi dan arsitek yang sesuai untuk mendirikan bangunan Sekolah Tinggi tersebut. Sejak kemarin ini beberapa proposal masuk tapi kurang berkenan di hati dan juga insinyur yang presentasinya seperti orang sok tahu," sahut Sumargo Handoyo suaminya.


"Sebenarnya Stevie punya teman, nah, adik ipar lelakinya itu seorang arsitek. Dan kabarnya sedang dekat dengan Kristy," ujar Stevie ikutan bicara.


"Kristy, punya teman dekat lelaki?" Ibu Ivanna terkejut.


"Iya, malah Stevie tahu dari kakak iparnya. Kemarin kan kakaknya lelaki itu meninggal dunia. Itu loh, yang tenggelam di sungai di Palembang," lanjut Stevie.


"Ya Tuhan, kasihan sekali. Pasti istri dan anaknya sangat sedih sekali," Ibu Ivanna terlihat bersimpati.


"Istrinya kalau tidak salah adalah salah satu dosen di kampus mama. Dia dosen bahasa Inggris, namanya lupa deh. Pokoknya yang baru pulang mendapat beasiswa S3 di New Zealand," balas Stevie.


"Oh, iya, mama tahu. Kalau tidak salah namanya Soraya. Hmmm, dia dosen yang sangat pintar, mama terkesan dengan metoda mengajarnya," rupanya Soraya sudah terkenal sampai ke level petinggi.


"Mana suamimu, Stevie? coba panggil kemari!" perintah Bapak Sumargo Handoyo.


"Andre, sayang, papa memanggilmu," kata Stevie kepada suaminya.


"Oke, sebentar aku menyusul kesana. Ini ada yang harus aku tanda tangan dulu, nanti aku segera ke tempat papa," sahut Andre suaminya Stevie.


Memang Stevie menikah dengan salah satu karyawan ayahnya. Dulu mereka pacaran diam-diam, karena Andre takut dipecat kalau ketahuan mencintai anak pemilik perusahaan.


Tapi ternyata diam-diam Bapak Sumargo Handoyo sudah menaruh hati kepada kinerja Andre, bahkan punya rencana menjodohkan dengan Stevie.


Memang sudah jalannya, ketika keduanya dipertemukan, akhirnya mereka mengakui kalau sebenarnya mereka sudah lama pacaran.


Maka tak butuh waktu lama, Andre dan Stevie segera dinikahkan oleh Sumargo Handoyo.


Dan tentu saja, jabatannya yang semula hanya manager, sekarang menjadi wakil direktur utama.


Stevie kembali ke ruangan ayahnya dan mengatakan Andre akan segera menyusul karena masih ada sedikit pekerjaan.


Tak lama Andre benar menyusul, dia masuk ke ruangan sambil minta maaf kepada mertuanya karena tidak bisa segera hadir saat barusan dipanggil.


"Andre, kamu tahu kan lokasi tanah mama yang akan dijadikan kampus pariwisata dan perhotelan?"tanya Pak Sumargo Handoyo.


"Oh, tentu saja tahu. Tapi sampai saat ini belum ada arsitek yang bisa memberikan presentasi yang mumpuni," jawab Andre.


"Begini, Stevie punya teman yang adiknya seorang arsitek. Kamu cari tahu kinerja orang itu bagaimana? tadi Stevie bilang nama perusahaannya CV. Maju Mandiri. Nama orang itu Jimmy. Coba kamu cari tahu bagaimana orang itu dan perusahaan itu," perintah Pak Sumargo Handoyo.


"Mengapa harus sedemikian detail saya mencari arsitek. Bukankah hanya sekedar perusahaan konstruksi dan arsitek, kalau tidak cocok tinggal kita putuskan saja kontrak kerjanya," jawab Andre sambil merasa heran.


"Masalahnya lelaki itu sedang mencoba mendekati Kristy. Papa tak mau sampai kecolongan dua kali".


"Kasihan adikmu, sudah tujuh tahun sejak kejadian dulu. Sampai sekarang dia tidak pernah mencoba membuka hati. Baru papa dengar dia dekat dengan lelaki lagi, jadi papa ingin tahu orang itu bagaimana," Sumargo Handoyo memperlihatkan wajah penuh penyesalan kalau ingat kejadian lelaki yang dulu menyakiti anaknya.


"Oh, siap. Berarti ini lain cerita, bukan hanya sekedar kontrak pekerjaan. Saya akan segera. mengerahkan anak buah untuk mencari tahu," sahut Andre sambil mengedipkan mata ke istrinya.


"Mama, tadi Oom Jimmy memberi kami uang. Masing-masing tiga ratus ribu untuk satu minggu," Maya memberitahu ibunya ketika dijemput sehabis pulang sekolah.


"Waduh, banyak sekali. Untuk apa kalian uang sebanyak itu?" Soraya kaget mendengarnya.


"Kata Oom Jimmy, mulai hari ini dan seterusnya yang memberi uang saku itu Oom Jimmy. Tapi seminggu sekali, ini tiga ratus ribu untuk seminggu," Mega juga menyampaikan kepada ibunya.


"Iya, tapi banyak sekali uang itu Kalian untuk apa pegang uang sebanyak itu," Soraya terlihat tidak setuju.


"Daripada mama, tiap hari yang saku kami cuma lima belas ribu. Kadang tidak cukup, jadi kami suka tidak jajan akhirnya," Maya protes kepada ibunya.


"Dengar, kalian itu pagi diantar ke sekolah, sore dijemput. Kalau mama tidak bisa jemput, kadang dijemput Oom Jimmy atau naik taksi dibayar di rumah. Masa uang lima belas ribu sehari tidak cukup. Bekal juga bawa dari rumah, memang kalian jajan apa lagi?" Soraya mulai sewot.


"Kadang pengen jajan bakso atau siomay. Suka bosan kalau bawa bekal dari rumah itu," Mega juga ikutan mengeluh.


"Bakso berapa sih, paling lima ribu. Masih ada sisa juga, kan," tukas Soraya.


"Ada saja sih jajanan lain, kadang kami juga ingin beli aksesoris rambut atau alat tulis lucu. Kan banyak macam-macam modelnya jaman sekarang," keluh Maya juga.


"Oke, kalian mendapat uang tiga ratus ribu. Setengahnya serahkan kepada mama untuk ditabung," Soraya mendelik kepada kedua gadisnya.


"Mama aneh, ini uang dari Oom Jimmy juga. Masa tidak boleh kami pakai," Maya dan Mega protes.


"Dengar, sekarang papa sudah tidak ada. Mama harus berhemat dengan pengeluaran, karena gaji mama tidak akan cukup untuk membiayai kita semua," Soraya mulai bicara.


"Kalian mendapat uang saku dari paman kalian. Coba kalian atur uang itu, tabung sebagian untuk masa depan kalian. Bukan untuk mama uang itu nantinya, untuk kalian juga".


Keduanya langsung terdiam, mereka ingat kalau sekarang kondisi dan situasi berubah.

__ADS_1


Ayah mereka sudah tidak ada, dulu mereka bisa minta jajan tambahan dari Mario. Sekarang sudah tidak akan bisa lagi, walau Oom Jimmy baik tapi mungkin paman mereka juga tidak akan bisa selamanya memberi.


"Suatu saat Oom Jimmy akan menikah dan punya anak. Tentu akan lain lagi, akan ada tanggung jawab lain yang harus dilakukan paman kalian".


"Oke, mama tidak akan ambil uang kalian dari Oom Jimmy. Tapi mama minta dengan sangat, kalian sudah besar. Tabung sendiri di sekolah, jangan semuanya digunakan dengan boros".


"Terutama kamu, Maya. Cobalah jangan ikut-ikutan dengan gadis lain yang anak orang kaya raya. Bukan tidak boleh main dengan mereka, tapi sedikit berkaca kalau kita tidak setara dengan mereka. Jadi belajarlah bijak dalam bergaul," Soraya menasehati panjang lebar kedua anak gadisnya itu.


Sesampainya di rumah kedua gadis berbisik-bisik di kamar mereka.


"Kak Maya mau nabung berapa?"tanya Mega.


"Enggak tahu. Aku lagi galau, tadinya sudah cita-cita ingin beli tas kekinian yang lima ratus ribu. Tapi pasti mama marah," keluh Maya.


"Aku besok mau nabung seratus lima puluh ribu saja deh. Kan di koperasi sekolah bisa nabung. Kita kumpulin saja Kak Maya uangnya, benar juga sih kata mama, papa sudah enggak ada nanti kita jatuh miskin," ujar Mega mengingatkan kepada kakaknya.


"Iya juga yah, nanti kayak di film-film. Kita bertiga kelaparan, karena uang gaji mama tidak cukup," Maya juga jadi terbawa perasaan.


"Makanya mumpung Oom Jimmy belum menikah dan masih bisa memberi kita uang. Lebih baik kita simpan sebagian di koperasi sekolah. Siapa tahu nanti bisa menolong kalau mama benar-benar kesusahan," Mega memberi saran lagi bagi mereka berdua.


"Iya deh, besok kita tabung setengahnya. Biarin saja aku tak punya tas keren, yang penting masih bisa sekolah, masih bisa makan. Dan suatu saat bisa membantu mama," sahut Maya.


Lalu kedua gadis kakak beradik saling berpelukan, sambil menitikan air mata. Mereka tidak tahu kalau sejak tadi ibunya mengintip dan mendengarkan pembicaraan keduanya. Sekarang Soraya jadi ikut menitikan air mata sambil merasa bahagia karena kedua gadisnya bisa berpikir dewasa dan bijaksana.


Menjelang malam hari, Jimmy masih di kantor menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.


Marsela sudah pulang sejak tadi, dan beberapa stafnya juga sudah hampir semuanya pulang hanya tinggal dia dan dua orang lagi.


"Pak Jimmy, ini hasil gambar saya dan ini rancangan maketnya," ujar salah satu staf yang terlihat menyimpan pekerjaannya tapi sambil sudah membawa jaketnya.


"Kamu sudah mau pulang, kan? Sudah besok lagi presentasinya kepada saya," sahut Jimmy.


"Saya juga pamit, pak. Barusan istri saya telepon minta saya membeli obat untuk anak saya," kata yang seorang lainnya.


"Oke, sudah jam tujuh malam. Kalian pulang saja dulu. Terima kasih yah," ujar Jimmy sambil senyum kepada keduanya.


Segera saja kedua stafnya pamit pulang, menuju sepeda motornya masing-masing.


Agus pemilik warung sebelah, sudah mulai masuk ke ruangan kantor. Dia sudah mulai mengangkat gelas-gelas kotor dari meja karyawan sambil membersihkan meja satu per satu.


"Boss, belum pulang?" tanyanya kepada Jimmy.


Tapi Jimmy tak menyahut, karena dia tampak serius dengan pekerjaannya.


Tiba- tiba ponselnya berbunyi, ada pesan chat masuk dari Wildan.


"Bro, kami otw Big Beauty Resto, ketemu di sana yah. Aku sudah bersama Aliong dan Asiaw".


Itu pesan dari Wildan, dan tentunya Jimmy merasa lemas dan malas kalau harus kesana. Bukan karena masakannya tidak enak, tapi jujur dia sedang merasa malu dan merasa bersalah kepada Kristy.


Mau menolak tentunya tak enak, karena Wildan akan memberi pekerjaan kepadanya.


Mau tak mau Jimmy mengiyakan ajakan dari Wildan tersebut.


"Agus, aku duluan yah, ada janji sama Boss Wildan," ujar Jimmy.


"Oke boss, bay de wei, kok kusut amat itu muka?" Agus menatap Jimmy dengan aneh.


Jimmy hanya melirik Agus sambil berkata," Hmmm, titip kantor yah, kunci yang benar".


Agus hanya mengacungkan kedua jempolnya kepada Jimmy.


Mobil Jimmy dan mobil Wildan ternyata datang bersamaan, Aliong segera turun ketika melihat sosok Jimmy.


"Bro, aku mohon maaf yah. Aku baru bebas, jadi aku baru tahu tenang Mario," ujar Aliong sambil memeluk Jimmy.


"Iya, tak apa Ko Aliong. Selamat yah, sudah bebas. Maafkan Bang Mario kalau misal dulu pernah punya salah sama Koko," sahut Jimmy.


"Abang elu itu orang baik, gue sangat kehilangan dia," ujar Aliong sambil memukul dadanya dengan kepalan tangan tanda dia bersedih.


"Terima kasih, walau Bang Mario sudah tidak ada. Tapi kita masih tetap bersahabat, kan," kata Jimmy kepada Aliong.


"Jim, kamu sudah aku anggap adik juga. Adik Mario adalah adik aku juga," Aliong menepuk bahu Jimmy.


"Ayo, sudah masuk. Kita lanjut di dalam saja," ajak Wildan kepada keduanya.


Jimmy melangkah menuju pintu resto, dan terlihat dari balik kaca ada sosok Kristy yang selalu ramah menyapa dan melayani setiap pengunjung dibantu oleh para karyawannya.


"Selamat datang Pak Wildan, luar biasa, akhirnya datang juga. Terima kasih sudah berkenan berkunjung ke resto kami," sambut Kristy ketika melihat Wildan masuk ke dalam ruangan rumah makannya.


"Apa kabar Kristy, ini aku bawa teman. Ini Koko Jefri dan ini adiknya Koko Bobby, tapi biasanya dipanggil Koko Aliong dan Koko Asiaw," Wildan memperkenalkan kedua temannya.


"Senang berkenalan dengan Koko Aliong dan Koko Asiaw. Ayo, silahkan masuk. Kami sudah menyediakan meja khusus untuk Pak Wildan dan kawan-kawan," kata Kristy dengan senyum ramahnya.


Namun ketika dilihatnya ada juga sosok Jimmy di belakang Wildan dan kedua temannya, lantas Kristy buang muka dan segera mengantarkan Wildan menuju meja yang sudah disediakan.


Kristy mulai memperlihatkan menu, lalu menjelaskan menu andalan di hari tersebut.


Wildan mulai memesan, dan Kristy mencatatnya, lalu kepada Aliong dan Asiaw juga memperlakukan yang sama. Ketika tengah mencatat pesanan Aliong dan Asiaw, tiba-tiba Danu baru datang menyusul.


Lagi-lagi Kristy menyambutnya dan segera menanyakan hendak memesan apa, lalu mencatatnya.


Ketika tiba giliran Jimmy, lalu Kristy segera memanggil Oci.


"Oci, tolong ini tinggal satu lagi belum sempat aku catat. Aku ada perlu mendadak ke dapur," pinta Kristy kepada Oci.


"Maaf, Pak Wildan, Pak Danu dan Koko-koko. Saya baru ingat harus segera ke kitchen, jadi pesanan terakhir biar sama Oci saja. Mohon ditunggu yah," Kristy pamit dari meja itu tanpa menoleh sedikitpun kepada Jimmy.


Aliong diam-diam memperhatikan sikap Kristy kepada Jimmy, dan dia senyum-senyum tampak memahami sesuatu diantara keduanya.


Jimmy memesan makanan dan dicatat oleh Oci, lalu mereka semua diminta menunggu pesanannya akan segera datang.


"Gue curiga, kayaknya ada kisah antara abang jomblo kita sama pemilik resto ini?" Aliong mencoba menembak Jimmy.


Dan Jimmy terlihat terkejut, lalu pura-pura tersenyum walau kelihatan sangat canggung.


"Kisah apa sih?" timpal Jimmy.


"Iya, gue juga merasa aneh. Kita semua disalamin satu-satu, eh, dia kagak. Kita ditanya satu-satu, dia juga dilewat. Ayo, ada apa nih?" goda Wildan.


"Sudahlah, ayo, kita bahas pekerjaan saja deh. Sudah malam juga ini," Jimmy terus mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Kalau memang suka, segera lamar. Jangan bikin cewek galau, jadinya dicemberutin," goda Asiaw juga.


"Iya, cepat nikah. Kayaknya cocok, elu dulu yang bangun resto ini, kan. Kayaknya beres pembangunan, ini cowok kagak tidak juga melamar. Jadi saja ada yang marah, hahahaha," Danu juga menggoda Jimmy.


Tentu saja Jimmy tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya senyum saja karena tidak tahu mau menjawab apa.


Wildan memulai pembicaraan tentang pekerjaan yang akan dia bagikan sebagian kepada perusahaan Jimmy.


Dan dia juga meminta Jimmy bersedia menempatkan Aliong menjadi karyawan di perusahaannya.


Tapi tampaknya Jimmy tidak konsentrasi dengan pembicaraan Wildan, karena saat ini dengan tatapan mata menyipit tajam sedang memperhatikan Kristy yang sedang berbincang ramah dengan Laksamana Samsul.


Entah mengapa perasaannya tiba-tiba mendidih melihat keakraban keduanya.

__ADS_1


Wildan segera menghentikan pembicaraan, dan semua mulai melirik Jimmy yang sedari tadi terus menatap Kristy dengan seorang pria berseragam TNI.


Semua temannya menahan tawa melihat Jimmy sambil saling menaikan alis. Akhirnya ketahuan juga kalau Jimmy memang tengah terbakar api cemburu melihat Kristy dan pria itu.


__ADS_2