PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Pengkhianatan Cinta


__ADS_3

Setelah menjemput anak-anaknya Soraya, lalu mereka semua menuju kantornya Jimmy.


"Aduh maaf, kami jadi membuat sesak mobil ini," ujar Aletha sambil tertawa.


"Tenang saja tante, jarang- jarang seperti ini. Secara ini mobilnya papa, kita jarang sekali naik mobil ini ramai-ramai begini," tukas Maya yang merasa kesempitan tapi senang karena bisa merasakan kejadian begini.


"Kami nanti turun di tempat dekat bus way saja, kami mau ke mall Ambassador," pinta Fuad kepada Aliong.


"Tenang saja, kami lewat situ. Nanti kami antar sampai dekat mall tersebut," sahut Aliong sambil melanjutkan perjalanan.


"Oom Aliong tidak menjemput Ahan?" tanya Mega.


"Ehem...ehem...menantu Oom Aliong nih," goda Maya.


"Hahahaha, Ahan sudah pulang sejak tadi. Di sekolah dia pulangnya pukul satu siang, dan hari sabtu masih masuk setengah hari," jawab Aliong.


"Mega kangen sama Ahan?" tanya Jimmy.


"Tuh, gara-gara kak Maya norak, jadi saja Oom Jimmy ikutan norak," Mega kesal jadinya.


"Sudah jangan marah, sini mama peluk Mega," ujar Soraya memberi dukungan kepada anak bungsunya.


"Mama kenapa matanya kayak bengkak begitu?" tanya Mega saat memandang wajah ibunya.


"Biasa, tak enak badan jadi matanya seperti bengkak," sahut Soraya berbohong.


"Mama jangan sakit dong".


"Iya, mama jangan sakit".


"Kak Maya, apa sih desak-desak aku!!".


"Biarin dong, mama kan mama aku juga...wew...!!!"


"Aduh, kebiasaan kalian ini. Sudah Mega dipangku mama".


"Mega sama Oom Jimmy saja di depan sini. Biasanya kamu dipangku sama Oom," ujar Jimmy mencoba menengahi.


"Enggak ah, biar aku sama mama saja," sahut Mega.


"Nah, begini mbak Aletha. Kedua anak saya sudah perawan juga masih saja ribut. Apa juga ribut, bikin pusing kepala," ujar Soraya kepada Aletha.


"Hahaha, anak saya satu lelaki tapi manja karena terlalu di manja oleh kakek dan neneknya," Aletha juga menceritakan anaknya.


"Saya malah belum punya anak, dulu nikah tujuh tahun tapi belum juga dikaruniai anak," Fuad ikutan bercerita.


"Oom Jimmy apalagi, sudah tua belum menikah juga. Tidak laku sama cewek, jomblo tua. Kasihan deh loooo!!!!" Maya langsung mengejek pamannya.


"Hmmm, baiklah. Uang jajan stop," timpal Jimmy.


"Jangan dong Oom, sorry dong. I love you, Oom Jimmy," Maya merayu pamannya.


"Syukurin, biar jangan dikasih lagi uang jajan sama Oom. Wew...!!!" Mega membalas kakaknya.


Aletha dan Fuad malah jadi terhibur melihat ulah Maya dan Mega.


Aletha ingat kalau dia dan Magenta adiknya juga dulu suka seperti itu.


Sementara Fuad, merasa senang melihatnya karena dia tak pernah merasakan keributan seperti itu sejak kecil sebab dirinya anak tunggal.


Aliong berhenti di sebuah ruas jalan yang dekat dengan Mall Ambassador.


"Tetap kontak yah, kami masih cukup lama di Jakarta," ujar Fuad saat pamit kepada Soraya.


"Tentu, nanti saya kirim kabar juga kepada kalian," sahut Soraya sambil melambaikan tangan dari dalam mobil.


"Mereka siapa? aku baru kali ini melihat Oom dan tante itu," Maya bertanya kepada ibunya.


"Mereka itu adalah keluarga...," Jimmy mencoba menjawab tapi berhenti karena tangan Soraya memegang bahu Jimmy pertanda untuk jangan dulu menjelaskan apapun kepada kedua anaknya.


"Keluarga siapa, Oom?"tanya Mega penasaran.


"Keluarganya teman lama mama, mereka orang luar kota," sahut Soraya memotong ucapan Jimmy.


Maya dan Mega saling melirik, keduanya paham kalau ibunya menyembunyikan sesuatu kepada mereka.


Tapi keduanya yakin pasti Oom Jimmy kalau didesak pasti akan buka suara, tinggal tunggu saat yang tepat.


Kalau urusan begini biasanya mereka kompak, keduanya pasti akan terus menyelidiki apa yang disembunyikan oleh ibunya.


"Kak Aya, bawa mobil sedan ini saja. Ini jarang dipakai juga, biasanya bang Rio memakai ini kalau harus bertemu pejabat atau seperti itulah," ujar Jimmy sambil menunjukkan mobil yang tersimpan rapih di garasi kantornya.


"Sama juga besar mobil ini, tapi lebih mending daripada yang double cabin itu," sahut Soraya.


"Yang double cabin itu justru lebih berguna buat kami, karena bisa digunakan ke proyek. Baiklah yang sedan ini aku minta Agus membersihkannya dulu. Kak Aya tunggu saja di dalam, di ruangan bang Rio," ujar Jimmy mempersilahkan Soraya masuk ke kantornya.


Lalu Soraya masuk ke dalam kantor dan terlihat kedua anak gadisnya sudah duduk di meja Bakti salah satu staf yang punya koleksi game yang banyak di komputernya.


Marsela terlihat sedang sibuk menelepon lalu setelah itu sibuk urusan nota dan pengembalian uang dari Aliong.


Soraya berjalan perlahan memasuki ruangan bekas suaminya dulu, dan hawa dingin terasa menerpa dirinya.


"Bu, mumpung ada ibu Soraya, bagaimana kalau sekalian kita beresin ruangan ini. Agus belum sempat saja dari waktu itu. Maafkan saya, bu," tiba-tiba saja Agus datang menghampiri Soraya dan berkata demikian.


"Kenapa belum dibereskan? Kamu takut yah? Takut ada pak Mario tiba-tiba duduk di situ," goda Soraya.


"Astagfirullah, jangan begitu dong. Kasihan pak Mario, jangan begitu ibu,sih," Agus terlihat lucu kalau ketakutan.


"Kalau bukan takut, lalu disebut apa? Berani? orang masih berantakan begini dan berdebu banyak. Berarti kamu tak pernah membersihkan ruangan ini," tegur Soraya sambil menahan tawa.


"Ibu itu suka gitu sama Agus. Lebih baik ibu temani Agus kerja masukin barang pak Rio ke dalam dus. Karena kata boss Jimmy ruangan ini mau diubah menjadi ruangan meeting," Agus mengajak Soraya membereskan ruangan kerja Mario.


"Ayo!" ajak Soraya sambil tertawa.


Lalu Soraya mulai duduk di kursi kerja Mario sambil merasakan dan membayangkan andai suaminya masih ada sekarang.


Laci meja dibukanya, satu persatu berkas dia ambil dan diletakkan di atas meja.


Tak ada yang aneh dan mencurigakan, sampai pada laci paling bawah di buka dan di angkat seluruh berkasnya.


Ada satu kwitansi yang terlihat agak aneh, sampai beberapa kali Soraya membacanya.


Tanda terima bahwa telah diterima uang sejumlah delapan puluh juta rupiah untuk pembelian mobil merek Suzaka Mini dari Asmila Maryana kepada Mario Maliangkay.


Mobil Suzaka Mini keluaran tahun 2015 berwarna abu-abu metalik atas nama Asmila Maryana.


Dan mobil itu telah dibeli Mario satu setengah tahun yang lalu, mobil itu selama ini dipakai oleh dirinya untuk pergi pulang ke kampus dan juga untuk menjemput anak-anak.


Hati Soraya terbakar, wajahnya memerah dan dia sampai gemetar kesal. Selama ini Soraya memang menggunakan mobil minibus kecil, karena dia yang meminta suaminya membelikan mobil seperti itu untuk dipakai bekerja.


"Pap, mobil besar itu susah parkirnya. Kalau mobilnya kecil itu mudah parkirnya, bisa nyelip-nyelip gitu".


"Oke, nanti aku belikan tapi kalau mobil bekas, bagaimana?".


"Tak apa-apa, yang penting bisa jalan dan mesinnya tidak rewel".


"Ada mobil temanku mau dijual, mobil kecil seperti itu. Yang pakai perempuan juga, dia malah mau ganti mobil yang besar karena banyak membawa berkas".


"Tak apa-apa, asal kondisinya masih bagus. Aku senang saja walau mobil bekas juga".

__ADS_1


Soraya jadi ingat pembicaraan dengan suaminya sekitar setahun yang lalu sebelum dia berangkat ke luar negeri.


"Bu, berkas ini boleh saya ambil untuk dimasukan ke dalam dus?"tanya Agus.


Soraya saat itu tengah menatap lembar kwitansi tadi sampai tak sadar Agus memanggil dirinya.


"Ambil saja, maaf saya barusan ingat sama bapak".


"Pasti bu, saya juga suka ingat sama beliau. Pak Mario itu orangnya sangat baik sekali, setiap Sholat juga saya pasti mendoakan beliau".


"Terima kasih Agus, kita doakan semoga pak Mario diampuni segala dosanya".


"Aamiin".


Agus tak paham kalau sebenarnya Soraya tengah dilanda kemarahan yang luar biasa di dalam hatinya.


Marsela tampak tengah berjalan memasuki ruangan kerja Mario untuk menemui Soraya.


"Sudah beres, Gus?" tanya Marsela.


"Sudah bu, nanti tinggal saya simpan di gudang saja. Soalnya ini katanya mau disortir sama ko Aliong," jawab Agus dan Marsela menganggukan kepala membenarkan apa yang dikatakan Agus.


Lalu Agus meninggalkan ruangan itu sambil membawa satu dus besar berkas dari laci Mario yang akan disimpan di dalam gudang.


"Bu Soraya? Kenapa bu?" Marsela terkejut ketika melihat Soraya mulai menangis.


"Bu Sela, huhuhuhu," langsung saja Soraya tak kuasa lagi menahan tangisnya.


Marsela segera berlari ke mejanya mengambil box tissue, lalu berlari lagi masuk ke ruangan kerja Mario dan mengunci dari dalam.


"Ada apa?" tanya Marsela.


"Asmila...huhuhuhu," Soraya tersedu-sedu dan Marsela segera mendekap dirinya.


"Aku sudah menduga, pasti akan seperti ini," Marsela tiba-tiba berkata demikian.


"Bu Sela sudah tahu mereka selingkuh? Mengapa aku tak diberitahu?" Soraya menangis sambil menatap Marsela.


"Aku juga tidak tahu. Hanya wanita itu adalah orang Asuransi jiwa, dia datang ke kantor ini bersama Mario. Dan waktu itu Mario sudah ada kesepakatan dengan Asmila untuk asuransi kecelakaan kerja bagi karyawan lapangan yang hanya kontrak kerja saat ada proyek saja".


"Setiap bulannya ada sekitar lima puluh orang pekerja bangunan lepas, jadi selama proyek berjalan mereka diasuransikan apabila ada yang kecelakaan atau meninggal maka diberi ganti rugi oleh pihak Asuransi".


"Perempuan itu beberapa kali ke kantor ini, dia terlihat akrab dengan Mario. Tapi aku tak menduga kalau dibalik itu mereka punya hubungan lain," Marsela menjelaskan kepada Soraya.


"Bu Sela tahu ini apa?"tanya Soraya sambil memperlihatkan kwitansi tadi.


"Hmmm, iya aku ingat. Mobil ini dibeli Mario dari temannya untuk ibu Soraya".


"Belinya dari siapa dong. Sumpah aku kecewa dan jengkel sekali," Soraya memperlihatkan dan menyerahkan kwitansi itu kepada Marsela.


"Astaga, aku tak tahu Mario beli dari siapa dulu. Hanya mobil itu pernah dibawanya ke kantor sini, diperlihatkan kepadaku kalau mobil itu mau dijadikan hadiah untuk ibu Soraya," Marsela mengatakan apa adanya.


"Bu Sela, tadi pagi aku habis dari tempat kost Asmila bersama suaminya Asmila. Dan ada banyak barang Mario di sana juga ada foto mereka berdua berpose mesra," Soraya bercerita sambil bercucuran air mata.


Marsela terperanjat mendengar penuturan Soraya, sungguh dia tak percaya mendengar berita itu.


"Ingin rasanya aku marah, ingin rasanya aku menjerit, memaki- maki. Atau kalau bisa aku cakar wajah Mario, aku sedih dan kecewa sekali. Bu Sela, aku harus bagaimana sekarang?" Soraya menangis tersedu-sedu sambil memeluk Marsela.


Mega ingin buang air kecil, jadi dia beranjak berdiri meninggalkan kakaknya yang sedang menikmati permainan game di komputernya Bakti.


Menuju kamar kecil tentunya harus melewati meja Marsela, dan otomatis dari meja Marsela akan langsung tertuju ke ruangan kaca tempat ayahnya dulu di sana.


Terlihat ibunya sedang menangis sambil memeluk Marsela, jadi dia kembali lagi dan berbisik kepada Maya.


Langsung Maya berdiri dan melihat ke ruangan ayahnya itu.


Mega sudah sangat kebelet, jadi dia berlari ke kamar kecil.


Ternyata pintu dikunci, lalu Maya minta kepada Marsela untuk membuka kuncinya, tapi Marsela memberi tanda kalau Soraya belum mau diganggu dulu.


Maya jadi kesal, lalu dia segera keluar kantor dan dilihatnya Jimmy sedang bicara dengan Aliong dan Ferry.


"Oom Jimmy!!! Oom Jimmy!!!" Maya berlari ke arah Jimmy sambil terlihat matanya berkaca-kaca.


"Ada apa, Maya?" tanya Jimmy keheranan.


"Mama sedang menangis di ruangan kerja papa dulu, tapi dikunci. Mama sama Ibu Sela," Maya mengadu kepada pamannya.


Wajah Aliong seketika berubah, dan Jimmy menyadarinya.


"Ko Aliong, gue rasa bukan cuma urusan melihat mobil doang. Ada apa lagi? Tolong nanti kasih tahu gue," bisik Jimmy kepada Aliong sambil beranjak membawa keponakannya untuk menemui ibunya.


Aliong hanya menarik nafas, sungguh dia merasa bingung entah harus bagaimana menyampaikan perihal aib seperti itu kepada Jimmy.


"Bu Soraya, ada Jimmy dan anak-anak menuju kemari. Saya harus bilang apa?" Marsela merasa buntu pikirannya saat Jimmy bersama kedua anak Soraya mendekati ruangan itu.


"Bilang saja saya menangis karena melihat mobil yang terjungkal di sungai".


Marsela mengangguk, lalu membuka pintu kaca ruangan kerja Mario itu.


"Mama!!! kenapa mama?" tanya kedua anaknya serentak sambil berlari memeluk ibunya.


Jimmy menatap Marsela, minta jawaban apa yang sebenarnya terjadi.


"Ibu Soraya bercerita soal mobil yang terjungkal ke sungai. Dan boss Jimmy punya fotonya dari pak Fuad yang tadi siang bersama," Marsela mencoba menjawab sambil menenangkan perasaannya sendiri.


"Mana Oom fotonya?" tanya Mega sambil menangis.


Jimmy terlihat tidak puas dengan jawaban itu, dia yakin ada yang disembunyikan oleh Soraya, Aliong dan sekarang Marsela.


"Ini fotonya," ujar Jimmy sambil membuka ponselnya dan memperlihatkan foto mobil yang tenggelam saat kakaknya menumpang di dalamnya.


Lalu Jimmy menjelaskan apa saja kejadian di foto itu, persis seperti tadi yang dia dengar dari Fuad saat berasa di rumah makan.


Maya dan Mega berpelukan sambil menangis saat melihat foto itu, lalu keduanya kembali memeluk ibunya dan mereka bertiga menangis bersama.


Marsela pamit kembali ke mejanya dan dia mencari file dokumen dua tahun lalu, untung masih ada dan dia mencari berkas nota hotel yang dulu pernah Mario menginap di sana.


Setelah ketemu, lalu dia mencetak nota hotel itu dan melipat kertas tersebut.


"Ayo kita pulang, sudah hampir malam juga, biar aku antarkan kalian," ujar Jimmy kepada Soraya dan anak-anaknya.


"Ko Aliong, mbak Sela, kalian nanti ijin ke rumah pulang malam. Naik mobil saya, jemput di rumah Mario. Nanti kita harus bicara," kata Jimmy sambil memberikan kunci


mobilnya kepada Aliong.


Marsela menyelipkan kertas yang tadi dilipatnya ke tangan Soraya, lalu kertas itu segera dimasukan Soraya ke dalam tasnya.


Dalam perjalanan Soraya dan anak-anaknya lebih banyak diam, masing-masing berkutat dan berkecamuk dengan kesedihan dan kepedihan.


Setibanya di rumah Mario, lalu Jimmy segera pamit karena Aliong dan Marsela sudah tiba di belakang mobil mereka.


Soraya tak bisa berkata apa-apa lagi, selain pasrah karena pasti Jimmy akan mencari tahu kepada kedua temannya atas apa yang telah terjadi sesungguhnya.


Sementara itu Kristy sedang mempersiapkan ruangan di lantai atas rumah makannya.


Malam nanti kedua orang tuanya dan juga kakak dan kakak iparnya akan hadir makan malam bersama di atas sini.


"Aku mau mandi dulu, karena sebentar lagi mereka akan datang," ujar Kristy kepada pegawainya.

__ADS_1


Lalu dia segera memasuki ruangan pribadinya untuk mandi dan berdandan menyambut kedatangan keluarganya.


Selesai mandi dan berdandan, kemudian Kristy kembali menata meja makan, menyiapkan semua hidangan yang akan dimakan bersama keluarganya.


Tak lama ada dua buah mobil mewah parkir di halaman rumah makan, lalu turun dari dalamnya Sumargo Handoyo bersama istrinya Ivanna Romanov Handoyo dan juga anak sulungnya Louis Orlando Handoyo.


Dari mobil lain turun juga Andreas Cheung bersama istrinya Stevie Cheung dan juga anak gadisnya Monica Cheung.


Monica ini adalah keponakan yang paling dekat dengan Kristy, dan dia juga pengidap penyakit asma.


Kebetulan beberapa waktu lalu obat asmanya tertinggal di kantor rumah makan Kristy, sehingga sempat dipakai untuk menolong Mega.


"Itu keluarga konglomerat," bisik beberapa pengunjung yang mengetahui mereka.


"Konglomerat seperti mereka mau juga makan di rumah makan sederhana begini, yah," ada juga yang berkomentar seperti itu.


Mereka semua ketika masuk ke dalam rumah makan, langsung menuju ke lantai atas.


"Oh, konglomerat sih beda ruangannya," orang lain ada juga yang berkasak-kusuk demikian.


"My lovely daugther, how are you darling?" tanya bapak Sumargo Handoyo ketika tiba di lantai atas dan melihat anak gadisnya sedang menata meja makan.


"Papa!!! Mama!!!" teriak Kristy sambil menyambut kedatangan kedua orang tuanya.


Kristy memeluk dan mencium ayah dan ibunya, karena mereka sudah hampir satu bulan lamanya tidak bertemu.


"Mengapa kamu jarang pulang ke rumah? Begitu kerasan tinggal di sini sendirian ?" tanya Ibu Ivanna kepada anaknya.


"Maafkan Kristy, beberapa minggu ini memang cukup sibuk dan selalu banyak urusan," jawab Kristy kepada ibunya.


"Sesekali harus pulang dong, menginap di rumah sendiri. Papa dan mama sering sekali merindukan kamu," ujar pak Sumargo sambil mengelus kepala anaknya.


Kristy hanya mengangguk kepalanya sambil tersenyum manja kepada ayahnya.


"Kamu masak apa lagi sekarang, bontot?"tanya Louis.


"Chinese food, atas permintaan bapak Andreas Cheung," jawab Kristy sambil menyambut kedatangan Andreas Cheung dan Stevie kakaknya.


"Tumben kak Epi, biasanya selalu bersama rombongan ibu-ibu gambreng," ujar Kristy sambil memeluk kakak perempuannya.


"Hmmm, tak selalu juga bersama mereka. Kadang aku bosan, aku hadir paling kalau arisan atau ada acara apa. Kalau sekedar kumpul biasa, aku malas," sahut Stevie yang merupakan salah satu anggota grupnya Rosalinda.


"Wow, gelang baru," bisik Kristy ketika melihat untaian batu rubi di pergelangan tangan Stevie.


"Sssttt...biasa, arisan dari Rosalinda," sahut Stevie sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Tantan!!!!" tiba-tiba terdengar teriakan itu dan Kristy sangat terkejut. (Tantan itu tante, panggilan kesayangannya Monica kepada adik ibunya atau bibinya)


"Moni!!!" teriak Kristy menyambut keponakannya dengan gembira.


"Apa kabar sayang? kapan datang dari Singapura?" tanya Kristy.


"Baru dua hari yang lalu, kuliahku libur seminggu jadi pulang dulu kemari. Tantan tuh yang enggak pulang ke rumah Opa," sahut Monica keponakannya sambil memeluk Kristy dengan manja.


"Nanti pasti ke rumah Opa, kemarin tantan sibuk sekali. Duh, kangen sama kamu. Tambah gemuk saja kamu," ujar Kristy sambil mencubit kedua pipi keponakannya.


"Sakit tahu...," ujar Monica sambil mengelus pipinya.


"Ayo, cepat duduk. Aku sudah lapar," Andreas Cheung memanggil anaknya dan Kristy untuk segera duduk di kursi meja makan tersebut.


"Ayo, Monica kamu pimpin doa sebelum makan," pinta ibu Ivanna.


Lalu Monica segera memimpin doa makan bersama di malam hari itu.


Setelah itu semua menikmati masakan yang terhidang di atas meja makan, semuanya buatan tangan Kristy dan memang sangat enak masakan adik bungsunya Louis dan Stevie itu.


"Kristy, bagaimana hubungan kamu dengan Jimmy?" tanya Ibu Ivanna tiba-tiba.


"Uhuk...uhuk...uhuk!!!" sontak Kristy tersedak mendengar pertanyaan itu.


"Maksud mama apa?" tanya Kristy setelah minum dan mengeringkan mulutnya dengan tissue.


"Hmmm, kata Stevie kalian pacaran, apakah benar begitu?" pak Sumargo juga ikut bertanya.


"Astaga, kak Epi dengar darimana?" tanya Kristy terlihat kesal.


"Hmmm, aku malah diberitahu langsung oleh Rosalinda. Dia kan kakak iparnya Jimmy," sahut Stevie apa adanya.


"Ya ampun, kami tidak ada apa-apa. Aku dan Jimmy tidak ada hubungan apa-apa, kami tidak pacaran bahkan aku dan dia sama sekali tidak dekat," Kristy berusaha menjelaskan kepada seluruh keluarganya.


Tring....tring...ada pesan chat masuk ke ponsel Kristy, dan tak sengaja terbaca oleh Monica.


"Masa tak ada hubungan apa-apa, ini buktinya ada chat masuk dari Jimmy. Isinya, besok ke rumah orang tuaku jam dua siang. Ditunggu sama menantunya ibu Liz," kata Monica sambil meraih ponsel tantenya dan membacanya keras-keras.


"Wow, sudah pernah tahu ke rumah Jimmy. Lalu mengapa Jimmy tidak pernah dibawa ke rumah kita?" Ibu Ivanna tampak mengernyitkan keningnya.


"Monica, please. Kembalikan ponsel tantan!!!".


"Mama, aku besok cuma mau belajar membuat kue panada. Karena mulai bulan depan ada rencana mengeluarkan masakan Manado di rumah makan ini," Kristy tampak panik.


"Sudahlah, biarkan saja Kristy yang menentukan siapa pacarnya. Papa cuma bisa mengingatkan saja, jangan sampai salah pilih lagi," Pak Sumargo mengatakan hal itu dan membuat semua yang di dalam ruangan terdiam saling berpandangan satu sama lain.


Memang tadi Jimmy di jalan menelepon ibunya, dia menceritakan ada teman yang mau belajar membuat kue panada.


Jimmy menanyakan apakah ibu Regina ibunya bersedia atau tidak mengajarkan kepada temannya.


Ternyata ibu Regina senang sekali mendengarnya dan akan meluangkan waktu esok hari pukul dua siang, temannya Jimmy bisa ke rumah mereka.


Sekarang Jimmy bersama Marsela dan Aliong sedang berada di sebuah kedai kopi.


Tentunya Jimmy meminta Aliong dan Marsela menceritakan apa yang sebenarnya terjadi sehingga seharian tadi Soraya menangis berkali-kali.


"Gue melihatnya lain, kalau cuma sekedar melihat kondisi mobil pasti sedih. Tapi yang seperti itu tidak akan sampai membuat orang menangis sampai seperti itu. Coba katakan ada apa?" tanya Jimmy sambil menatap Aliong dan Marsela.


Sambil menghela nafas, lalu Aliong mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Begitu juga Marsela, menyampaikan pembicaraannya dengan Soraya sore tadi.


"Kenapa Soraya tak mau aku tahu masalah ini?" tanya Jimmy keheranan.


"Soraya takut orang tua kamu sampai tahu, nanti bagaimana kalau mereka shock," ujar Aliong.


"Iya benar, Soraya tak mau kalau keluargamu jadi tersinggung atau malah berpikir buruk," Marsela juga menyampaikan pendapatnya.


"Oke, aku akan simpan rapat masalah ini. Tapi nanti aku juga harus bicara dengan Soraya," ujar Jimmy sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba merasa pusing.


Malam itu Soraya menelepon Aletha, menceritakan apa yang tadi sore dia temukan.


"Aku ingin berbagi cerita ini sama pak Fuad juga. Nanti aku akan meneleponnya juga," kata Soraya kepada Aletha.


"Bu, sudah aku sebentar lagi membuat grup chat. Isinya kita bertiga, jadi kita bisa saling mencurahkan seluruh isi hati," Aletha menemukan ide agar mereka bisa langsung komunikasi bertiga.


"Oke, aku tunggu yah. Terima kasih".


Sekitar sepuluh menit kemudian, ada undangan grup dari Aletha dan Soraya terkejut membaca nama grup itu.


Begitu juga Fuad, ketika menerima undangan chat grup, sedikit terperanjat tapi akhirnya tersenyum geli.


Aletha membuat grup chat yang pesertanya hanya dirinya, lalu Fuad dan Soraya.


Nama grup chat itu justru yang membuat kaget, bercampur sedih tapi malah jadi lucu juga.

__ADS_1


"Pengkhianatan Cinta", itu nama grup chat mereka.


__ADS_2