
"Mama kapan pulang?" tanya Mega melalui video call kepada Soraya ibunya.
"Sayang, sabar yah. Mama bulan depan pasti pulang. Nanti Mega jemput mama yah," jawab Soraya dengan penuh kerinduan saat menatap wajah anaknya bungsunya.
"Mama, jangan lupa yah titipan Maya?" si sulung beda lagi yang ditanya malah barang pesanannya.
Soraya mengangguk sambil menjawab," Tentu saja mama ingat, sudah ada kok, sudah mama belikan".
"Mana? lihat dong, Ma...," pinta Maya dengan manja.
"Nantilah, kalau lihat sekarang nanti bukan kejutan lagi dong," jawab Soraya sambil senyum.
"Yah mama....," Maya pura-pura cemberut.
"Kakak reseh amat sih, nanti juga mama bawakan," Mega menyela dengan ketus.
Maya mencibirkan bibirnya kepada adiknya, dan Mega adiknya menjulurkan lidahnya.
"Ayo kalian itu, kalau ngomong apa saja pasti jadinya ribut berantem," Soraya menegur kedua anaknya.
"Dasar kakak reseh!".
"Kamu juga sok tahu!".
"Sudah....mana papa kalian? kok dari tadi tidak kelihatan? apakah papa belum pulang?" tanya Soraya kepada kedua anaknya.
"Papa ada kok, dari tadi di kamar mandi. Papa batuk terus belakangan ini, Ma," Mega menceritakan tentang papanya.
"Oh, papa masuk angin lagi tuh, biasa papa kalian kan memang susah diatur selalu tak mau pakai jaket," ujar Soraya terlihat kesal ketika tahu suaminya tak enak badan lagi.
"Apa sih...papa tak apa-apa kok, papa baik-baik saja," ujar Mario yang tiba-tiba saja berdiri di belakang kedua anaknya.
"Papa katanya batuk-batuk lagi?" tanya Soraya dengan cemas.
"Ah, tak apa-apa kok. Masuk angin biasa saja, nanti aku gosok dadaku pakai minyak angin juga sembuh. Cuma yang gosokin dada papanya jauh ada di New Zealand," Mario sok manja kepada istrinya.
"Yaaahhh...papa sok manja deh," kedua anaknya langsung protes.
Soraya hanya terkekeh mendengar suaminya diprotes kedua anak gadisnya.
Mereka berempat lanjut berbincang jarak jauh sambil tertawa gembira tak henti- hentinya.
Ketika sambungan video call sudah berakhir, lalu Soraya membuka galery foto di ponselnya.
Ada foto kedua anaknya dan juga suaminya, foto yang diambil beberapa bulan lalu ketika suami dan kedua anaknya menyusulnya berlibur ke New Zealand.
Soraya sudah lulus menjadi sarjana sampai jenjang S3, dan sekarang dia sedang menjalani pendidikan lagi satu tahun di New Zealand.
Pendidikan ini seperti semacam sertifikasi yang akan mengukuhkan dia menjadi seorang professor ahli tata bahasa Inggris.
Sambil memandangi foto kedua anaknya, Soraya mengelus ponselnya yang memperlihatkan kedua anaknya.
Kenangan masa lalu jadi teringat kembali, terutama kenangan saat melahirkan anak keduanya.
Lima belas tahun lalu ketika Mega lahir, bayi kecil itu divonis tidak akan bisa bertahan hidup lama.
Paru-parunya basah karena efek asap rokok yang dihirup Soraya secara tak sengaja, karena suaminya saat itu adalah seorang perokok berat.
Selama di dalam kandungan, janin Mega harus bersaing dengan mioma yang juga tumbuh bersama di dalam rahim Soraya.
Awal bulan ketujuh Soraya merasakan pendarahan hebat, masih ingat bagaimana dia kesakitan tapi Mario tak bisa dihubungi.
Untung saja adik iparnya datang sambil membawa suaminya yang kala itu mabuk berat hingga tak sadarkan diri.
Mioma melengket di dalam rahimnya, dokter saat itu menyatakan harus ada tindakan pengangkatan rahim.
Karena kalau tidak diangkat maka Soraya terancam meninggal, sebab penyakit dalam rahimnya akan terus membuat dirinya pendarahan hebat.
Bukan suaminya yang menandatangani surat persetujuan keluarga untuk tindakan tersebut, tetapi Jimmy adik iparnya yang kala itu tidak paham dengan kejadian yang seharusnya.
Robert kakak iparnya yang juga seorang dokter, saat itu meminta penjelasan kepada dokter Yasmin sebagai ahli kandungan yang menangani Soraya.
Jimmy lalu diminta Robert untuk segera menandatangi surat persetujuan tersebut agar Soraya dan bayinya bisa segera diselamatkan.
Dan gilanya Mario baru tahu keesokan harinya kalau istrinya melahirkan ketika dia baru tersadar dari mabuk.
Waktu itu Soraya benar-benar sedih, terluka, ketakutan dan juga marah.
Bukan sedih atas keadaannya tapi sedih melihat bayi kecilnya yang tergolek lemah di dalam tabung inkubator.
Soraya marah kepada diri sendiri dan juga kepada suaminya, bahkan dia berbisik dan mengancam Mario saat itu.
"Kalau bayiku sampai mati, maka kamu juga akan mati di tanganku".
Mario meminta maaf dan dia saat itu ikhlas kalau sampai terjadi sesuatu kepada bayi mereka, lalu Soraya melakukan sesuatu kepadanya.
Rasa bersalah yang amat besar mendera nuraninya, dia sedih sekali melihat anak bayinya harus menderita di usia yang begitu kecil.
Soraya mengundurkan diri dari mengajar di sekolah SMP, karena harus menjaga bayinya.
Tetapi waktu itu Soraya hampir dua tahun tinggal di rumah ibunya, dia berencana ingin cerai dari Mario.
Namun Mario gigih, dia tak mau menceraikan Soraya dan terus berusaha mengubah diri menjadi pribadi lebih baik.
Akhirnya Soraya mengalah juga karena kedua anaknya selalu mencari Mario, bahkan tak dipisahkan dari Mario.
Mario mengajak dirinya untuk bersama lagi, kejadian itu bersamaan dengan Ibu Wongso meninggal dunia lalu rumahnya dijual.
Soraya menggunakan uang hasil penjualan itu sebagai biaya melanjutkan studi Strata 2 di bidang bahasa Inggris.
Setelah lulus, dia mencoba melamar pekerjaan sebagai dosen di sebuah Sekolah Tinggi di kawasan kota Depok.
Dan setelah melakukan serangkaian wawancara dan test, dia akhirnya di terima mengajar di Sekolah Tinggi tersebut.
Bertahun-tahun berlalu, hingga di saat anak-anak remaja, Soraya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi Strata 3 di negara Selandia Baru.
Kebetulan ada program cepat dan padat untuk meraih gelar doktor di negara itu, satu tahun setengah saja.
Kemarin disertasinya sudah diterima dan sudah dinyatakan lulus, selama satu bulan ini harus menyelesaikan beberapa revisi sambil menunggu wisuda.
Bulan depan Soraya sudah bisa kembali ke Indonesia dan berkumpul kembali dengan keluarganya tercinta.
Sementara di rumah keluarga besar Maliangkay, seperti biasa setiap hari minggu setelah pulang beribadah pasti berkumpul bersama.
Robert dan keluarga, Mario beserta kedua gadis dan Jimmy si tampan yang masih setia menjadi jomblo.
"Papih dan Mamih sudah semakin tua, kapan kamu akan menikah, Jimmy?" tanya Papih Hansen ketika makan bersama di ruang makan di rumahnya.
"Iya benar, padahal Oom Jimmy itu banyak yang naksir loh. Teman-teman kuliahku banyak yang titip salam buat Oom Jimmy ," ujar Annabella anak keduanya Robert dan Rosalinda.
"Kok temannya Anna bisa tahu dengan Oom Jimmy?" tanya Mamih Regina.
"Oom Jimmy kan sesekali suka menjemput Anna ke kampus, pasti Maya dan Mega juga pernah dijemput sama Oom Jimmy kan?".
"Iya, Oma...Oom Jimmy sering jemput Maya dan Mega, lalu kami di traktir makan," sahut Maya sambil bermanja kepada pamannya karena kebetulan dia duduk di sebelah sang paman.
"Aku tak pernah ditraktir sama Oom Jimmy," sela William sambil mengedipkan mata kepada pamannya.
"Bang Willy kan naik motor sendiri, jadi tak mungkin dijemput dan ditraktir sama Oom," tukas Annabella kepada kakaknya.
"Oke, nanti sore kita nonton lalu makan bareng sama Oom, biar kalian kebagian semua," ujar Jimmy yang sedari tadi diam saja mendengarkan keponakannya saling berebutan perhatian darinya.
"Nah gitu dong, baru adil. Tentu aku ikutlah, hahaha!" seru William merasa senang.
__ADS_1
Annabella dan Maya juga sama merasa gembira dengan ajakan paman kesayangannya itu.
Hanya Mega yang diam saja, memang anak itu sangat pendiam dan jarang bicara kalau tidak perlu.
"Mega tidak ikut sama Oom Jimmy?" tanya Mario kepada anak bungsunya.
Mega melirik Mario, lalu berkata," Ikut dong tentunya".
Mario merangkul anaknya dan mengendus rambut anaknya.
Lalu sambil makan, semua topik pasti adalah Jimmy yang sudah usianya tiga puluh tahun lebih tapi belum juga punya niatan menikah.
"Temanku punya adik bungsu baru lulus kuliah dari Amerika, mungkin kalau dikenalkan kepada Jimmy bisa cocok deh. Soalnya setahu aku adik temanku itu perempuan cantik dan modern," ujar Rosalinda berusaha memberikan calon untuk adik iparnya.
"Oh no, makasih kak Rosa, aku tak mau dijodohkan. Nanti juga akan ada sendiri, santai saja," sahut Jimmy yang jadi merasa jengah.
"Padahal teman-temannya istriku keluarganya orang ternama semua loh. Pasti cocok kalau kamu mau mencoba berkenalan," Robert menambahkan pendapatnya.
"Sudah tenang saja, nanti juga aku bawa cewek cantik kemari deh," tukas Jimmy mulai sebal karena sedari tadi dicecar soal pernikahan.
"Mamih sudah ingin punya cucu dari kamu, susah banget rasanya, mumpung Papih dan Mamih masih sehat, masih hidup. Kepingin melihat anak bungsunya menikah dan memberi kami cucu," Mamih Regina mengeluh sambil makan siang itu.
"Duh....sudah deh, pokoknya tenang saja, Jimmy pasti akan segera menikah," ujar Jimmy lagi sambil menggelengkan kepala karena pusing dengan celotehan keluarganya.
Sore harinya Jimmy membawa semua keponakannya berjalan- jalan, tentu saja semua keponakannya sangat senang diajak paman kerennya itu.
Jimmy kurang apa sih, tinggi, kulitnya putih, ganteng, berpakaian selalu rapih dan modis, tapi susah sekali mendapatkan pasangan hidup.
"Oom," bisik Mega yang duduk di samping Jimmy ketika mereka menonton film di bioskop.
"Apa?"tanya Jimmy.
"Oom jangan mau yah dikenalkan sama adiknya teman Mamih Rosa," ujar Mega berbisik pelan di telinga pamannya.
"Kenapa?" tanya Jimmy sambil merasa geli hatinya.
"Nanti ruwet kayak Mamih Rosa," ujar Mega lagi.
Jimmy ingin tertawa terbahak, tapi dia berusaha menahannya sambil berkata," Oke".
Lalu Jimmy meraih bahu keponakannya dan mengacak rambutnya sambil merasa geli dengan pernyataan keponakannya itu.
Mario batuk-batuk di dalam kamar mandi, dan suara batiknya terdengar menyesakkan dada kalau ada orang mendengarnya.
"Rio, kamu minum obat batuk tidak selama ini? sudah dari minggu-minggu lalu aku perhatikan kamu batuk terus," Robert bertanya kepada Mario saat adiknya keluar dari kamar mandi.
"Sudah bang, sudah berbagai jenis merek obat batuk aku minum. Tapi masih saja begini, mungkin obat batuk sekarang kurang cocok sama aku," sahut Mario sambil mengeringkan mulutnya dengan tissue.
"Batuk lama seperti itu tidak benar, besok kamu rontgent ke laboratorium. Sebentar aku buatkan pengantarnya, nanti kalau sudah ada hasilnya kamu ke klinik aku," kata Robert sambil menuliskan surat pengantar untuk Mario besok melakukan foto isi dadanya.
Dengan malas Mario menerima surat pengantar itu, untung Mario menurut dan esok harinya dia datang ke laboratorium untuk melakukan rontgent dadanya.
Siang harinya Mario kembali ke laboratorium untuk mengambil hasil foto rontgent tersebut.
Sambil menenteng hasil rontgent yang ukurannya besar, Mario melangkah memasuki pintu utama rumah sakit.
Baru saja dia mau bertanya ke bagian informasi dimana klinik dokter Robert, tapi ada yang memanggil namanya dari belakang.
"Bang Rio!" teriak seseorang dari belakang dan orang itu berlari kecil menuju ke arahnya berdiri.
"Bang Rio, ada apa kemari?" orang itu mendekati Mario sambil mengatur nafasnya.
"Hai, ternyata kamu Samuel," ujar Mario ketika sudah tahu siapa yang mendekatinya.
"Apa kabar Bang Rio?" tanya Samuel sahabatnya Jimmy sejak kecil.
"Baik, kamu praktek di sini juga?"tanya Mario lagi.
"Kebetulan bang," sahut Samuel sambil tertawa.
"Aku mau ke Bang Robert, mau memperlihatkan hasil rontgent yang di suruh aku lakukan".
"Oh, ayo aku antar".
Lalu keduanya berjalan sambil berbincang menanyakan kabar dan juga keluarga masing-masing.
Kemudian membahas Jimmy yang masih saja jomblo, sementara Samuel sudah punya dua anak.
Mario masih saja ingat bagaimana dulu Samuel dan Jimmy adiknya sering membuat kekonyolan, seperti mencuri laptop Mario untuk menonton film terlarang.
Atau diam-diam membawa kabur sepeda motor Mario ketika motor mereka kehabisan bensin.
Dan banyak lagi tingkah konyol mereka yang sering membuat Mario naik darah.
"Itu dulu bang, sekarang aku sudah tobat. Sudah bukan anak bodoh lagi, hahahah," ujar Samuel tertawa geli kalau ingat kelakuan dirinya dengan Jimmy jaman dahulu.
"Cuma aku aneh, kalian berani sama aku saja. Tapi kepada Bang Robert sama sekali kalian tak berani mengganggu. Kenapa bisa begitu?" tanya Mario.
"Beda aura bang, kalau Bang Robert auranya gimanaaa gitu, kalau Bang Rio kan auranya kacau jadi kami berani, hahahah," sahut Samuel lagi sambil mengakak.
"Ngomong-ngomong, ini kita jalan jauh amat yah?"tanya Mario mulai merasa lelah.
"Hahaha, klinik spesialis kan di gedung belakang. Kita tadi kan di gedung depan," jawab Samuel.
Lalu tak lama mereka tiba di depan ruang praktek Robert.
"Maaf, dokter Robert ada tiga tindakan operasi hari ini. Pasien juga ada yang saya ubah jadwalnya sore hari dan sebagian dijadwalkan ulang besok," kata perawat yang merupakan staf dokter Robert.
"Jadi bagaimana bang? mau kembali lagi sore nanti atau besok lagi?"tanya Samuel.
"Bang Robert sibuk terus, entahlah paling nanti aku telepon dia saja kapan bisa bertemu," sahut Mario.
"Memangnya Bang Rio sakit apa? sini coba aku lihat hasil rontgent nya," pinta Samuel.
"Wah, memang kamu bisa?" Mario meragukan Samuel.
"Ya ampun Bang, aku sekarang spesialis penyakit dalam. Internis biar kayak gini juga," sahut Samuel sambil menunjuk dadanya.
"Hahaha, sorry. Aku masih hafal kalau kamu anak ingusan sok pinter kayak Jimmy," jawab Mario sambil memberikan hasil rontgent kepada Samuel.
"Hahaha, ayo kita ke ruang praktekku," ajak Samuel sambil membawa Mario menuju ruang prakteknya yang tak jauh dari ruangan Robert.
"Benar ternyata kamu dokter spesialis," kata Mario sambil mengamati ruang praktek Samuel.
Sementara Samuel hanya tersenyum sambil geleng kepala karena masih saja dianggap anak konyol oleh Mario.
Samuel mengeluarkan hasil rontgent dan meletakannya di lampu untuk membaca hasil rontgent.
Seketika Samuel terkejut, lalu dia segera meraih kertas kecil hasil analisa dokter spesialis radiologi, wajahnya tegang saat membacanya.
Sementara Mario tenang saja dan terlihat sedang membalas beberapa chat dari ponselnya.
"Dok, bisa ke ruanganku sebentar saja," pinta Samuel kepada rekannya melalui intercom.
"Aku mau pulang bro, praktek sudah beres. Ada apa sih?" terdengar suara wanita dari seberang sana.
"Sebentar saja, please," pinta Samuel lagi.
Tak lama masuk seorang dokter wanita, dan langsung menemui Samuel. Keduanya tampak membahas hasil rontgent Mario.
Kemudian dokter wanita yang ahli paru-paru menjelaskan kepada Samuel atas apa yang tampak pada hasil rontgent tersebut, dan Mario tentunya tak paham istilah kedokteran yang sedang mereka bicarakan.
Kemudian dokter wanita itu pamit keluar ruangan karena harus segera ke tempat lain.
__ADS_1
Samuel menatap Mario, dan dia terlihat bingung untuk menyampaikan hasil rontgent tersebut.
"Bang, maaf bisa kita bicara?" tanya Samuel dengan nada perlahan.
"Apaan?"tanya Mario biasa saja.
Samuel menatap Mario beberapa saat, lalu dengan perlahan berkata," Bang, kalau aku menyampaikan berita buruk, tak masalah kan?".
"Aduh, sampaikan saja. Kamu kan dokter, memangnya aku kenapa?".
"Bang Rio kanker paru-paru stadium tiga menjelang empat," jawab Samuel merasa berat menyampaikannya.
Mario sontak terkejut, lalu dia berkata," Kamu lagi bercanda kan, Sam".
Samuel menggeleng, lalu sambil menghela nafas dia menjelaskan kondisi paru-paru Mario dan menunjukkan letak kankernya.
"Kalau Bang Rio ada waktu sekarang juga, aku antar ke ruangan radiologi di sini, aku mau periksa lagi takutnya ada penyebaran".
Mario merasa lemas, sambil mengatur nafas lalu dia menuruti Samuel menuju ruang radiologi dan USG abdomen.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, lalu Samuel memeriksa lagi hasil rontgent bagian belakang tubuh dan juga hasil pemeriksaan perut Mario.
"Bang, seperempat paru-paru kiri abang rusak karena kanker dan sekarang kanker menyebar ke tulang belakang. Apakah abang sering merasa pegal juga selama ini?" Samuel menjelaskan hasil pemeriksaan tersebut.
"Ya, aku batuk terus, terkadang keluar dahak ada darahnya dan punggungnya memang sering sakit kalau malam hari," Mario menerangkan apa yang dia rasakan.
"Ini obat sementara untuk menghambat kankernya, nanti kita lihat hasilnya bulan depan. Apakah harus segera di operasi atau tindakan lain," ujar Samuel dengan merasa tak enak hati.
"Nanti aku sampaikan kepada dokter Robert," ujar Samuel lagi.
"Tak usah Sam, biar aku saja yang menyampaikan kepada seluruh keluargaku," sahut Mario berusaha tegar.
"Baiklah, tetap semangat Bang Rio," kata Samuel sambil menepuk bahu orang yang sudah dia anggap kakak kandung sendiri.
Mario tersenyum, lalu sambil berlalu dia berkata," Aku percaya sekarang kalau kamu sudah menjadi dokter".
Samuel tersenyum getir saat mendengar perkataan itu, dia sendiri tak menyangka harus mengetahui kalau Mario mengidap penyakit mematikan.
Sedih hati Samuel, sudah lama tak bertemu Mario, namun ketika bertemu harus dihadapkan pada kenyataan seperti itu.
"Bang Rio masih bisa bercanda padahal nyawanya di ujung tanduk," guman Samuel sambil menatap punggung Mario yang berjalan meninggalkan rumah sakit.
Asmila memarkirkan mobilnya di halaman rumah kost mewah di bilangan kota Jakarta.
Sebuah bangunan mewah yang disewakan setiap kamarnya untuk tempat kost karyawan.
Mirip apartement, tapi di tempat ini ada kelebihannya yaitu fasilitas mencuci dan setrika pakaian gratis, lalu ada nasi hangat gratis.
Sehingga para penyewa bisa membeli lauk atau memasak sendiri, nasi hangat sudah disediakan pemilik kost.
"Bu Asmila, ada suami ibu di kamar," kata petugas penjaga kost memberitahukan kepadanya.
Asmila melirik sebuah mobil yang terparkir di tempat parkiran khusus tamu.
"Terima kasih mas, iya tadi sudah bilang juga kepada saya," sahut Asmila kepada petugas itu.
Dalam hatinya selalu merasa berdosa saat petugas selalu memberitahu kalau suami Asmila datang, atau ketika Asmila datang bersama pria itu.
Siapa lagi kalau bukan Mario, sejak dipindahkan ke kantor pusat, Asmila menempati rumah kost mewah ini.
Dan setiap hari sabtu dan minggu, dia pasti kembali ke kota Cirebon untuk bersama suaminya.
Sudah hampir satu tahun ini artinya dia membohongi semua petugas rumah kost tersebut.
Karena semua petugas di sana dan juga beberapa orang sesama penghuni kost yang dekat dengannya mengetahui kalau Mario adalah suaminya.
Ketika membuka pintu kamar, Asmila mendapati Mario sedang berbaring di lantai dengan posisi miring, kedua tangannya diselipkan di antara kedua pahanya.
Sepatunya masih dipakai, dan wajahnya terlihat sangat sedih sekali.
Matanya nanar menatap ke arah lemari tapi tatapannya kosong, di sampingnya ada sebungkus plastik berisi obat-obatan.
Asmila segera menutup pintu kamar dan segera mendekati Mario.
"Rio, ada apa sayang? kamu kenapa sayang?"tanya Asmila sambil mengelus wajah Mario.
Sambil melirik ke arah Asmila, terlihat ada butiran air mengalir dari pipi Mario.
Asmila sangat terkejut, karena dia tak pernah melihat Mario dalam kondisi seperti itu.
Lalu Mario duduk dengan kedua lututnya ditekuk, kepalanya bersandar pada tempat tidur.
"Ada apa Rio?".
"Mila, aku segera mati".
"Apa maksudmu?".
"Aku tadi dokter, periksa paru-paru dan ternyata ini bukan sekedar batuk. Tapi...".
"Tapi apa?".
"Ini....kanker stadium tiga. Aku mengidap kanker stadium tiga bahkan menjelang empat," jawab Mario lalu dia tersedu, Asmila segera memeluknya sambil tak percaya dengan ucapan kekasihnya itu.
Sambil memeluk Mario, dilihatnya ada bungkusan plastik berisi beberapa macam obat.
Lantas Asmila memegang wajah Mario yang masih berurai air mata.
"Coba kamu jelaskan kepadaku, aku ingin dengar," ujar Asmila sambil menatap Mario.
Sambil menangis Mario bercerita tentang dia batuk selama ini, dan Asmila juga tahu bahkan sering memintanya ke dokter.
Baru kemarin akhirnya Mario ke dokter, dan itu juga kebetulan kakaknya yang meminta.
Ternyata hasil pemeriksaan di luar dugaan, penyakit mematikan sedang menggerogoti tubuhnya.
"Aku bukan takut mati, tapi aku sedih karena aku tidak akan bisa melihat kedua anakku menjadi sarjana atau aku yang nanti mengantarkan mereka ke altar pernikahan. Entah berapa lama lagi sisa umurku," ujar Mario penuh kepiluan.
"Jangan berpikir begitu Rio, aku yakin jaman sekarang semua ada obatnya. Jangan patah semangat," Asmila berusaha membesarkan hati Mario.
"Disaat aku sedang giat mencari uang untuk biaya kuliah anakku tahun depan, tenyata aku harus mati. Aku sedih kalau mereka tak bisa melanjutkan studi dan meraih cita-cita mereka," Mario menerawang mengingat kedua wajah anak tercintanya.
"Rio, dengarkan aku! kamu harus yakin akan sembuh, kamu harus terus tetap penuh semangat demi kedua anakmu," Asmila kembali membangun semangat Mario.
Tiba- tiba ponsel Mario berbunyi dan terlihat nama Mega di sana.
"Ya sayang, ada apa nak?" tanya Mario setelah berusaha mengatur nafas dan mengatur suaranya.
"Papa kapan pulang?"tanya Mega.
"Papa masih ada urusan nak, ada apa sayang?" tanya Mario lagi.
"Mega lapar, mbak Mince masak yang pedas. Aku tak bisa makan," ujar Mega terdengar memilukan.
"Oke, papa pulang sekarang. Nanti papa bawakan nasi goreng kepiting kesukaanmu yah," sahut Mario yang tidak pernah bisa menolak kalau Mega minta sesuatu.
Mario segera menutup ponselnya dan beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Asmila memberikan handuk ketika Mario keluar dari kamar mandi.
"Coba yang telepon Maya, pasti kamu cuek saja," goda Asmila kepadanya.
Mario tak menjawab, memang Mega punya arti sendiri dalam hatinya, kalau Maya sih tentu Mario masih bisa menolak, Mega tak akan pernah bisa dia tolak.
__ADS_1
Lalu Mario mencium kening Asmila, dan dia pamit pulang karena anak tercintanya meminta makanan kepadanya.