
Setengah hari lamanya Soraya berada di rumah Pendeta Yosep dan Nania.
Selain mencurahkan semua permasalahan, juga minta kekuatan hati dari keduanya untuk menghadapi kenyataan pahit yang terjadi.
Pendeta Yosep mendoakan Soraya agar kuat berjalan ke depan dalam mengarungi kehidupan selanjutnya.
Masih ada dua anak gadis yang sangat memerlukan perhatian dan kasih sayang Soraya.
Pendeta Yosep dan Nania meyakinkan kalau Soraya adalah wanita tangguh yang akan sanggup menjalani hidup sebagai orang tua tunggal.
"Ngomong-ngomong, pak Michael itu duda juga loh. Punya pekerjaan yang baik, dan seorang Penatua Gereja juga," ujar Nania seakan ingin menjodohkan sahabatnya dengan sosok pria itu.
"Aduh Nania, makam suamiku juga istilahnya belum kering, masalah belum beres. Aku tidak memikirkan apa-apa dulu," sahut Soraya sambil tertawa kecil.
"Hahahaha, aku cuma cerita. Siapa tahu saja kalian suatu hari nanti bisa berjodoh".
"Jodoh di tangan Tuhan, biarkan saja Soraya maupun pak Michael menjalani hidup masing-masing. Kelak berjodoh atau tidak, semua rencana Tuhan," Pendeta Yosep mengingatkan kepada istrinya.
"Astaga, sudah siang sekali. Aku menyita waktu keluarga ini rupanya," ujar Soraya yang tiba-tiba melihat jam dinding dan tersadar kalau dirinya sudah cukup lama berada di rumah tersebut.
"Makan siang di sini saja, ayo!! Aku masak sup kacang merah," ajak Nania.
"Terima kasih, aku ada rencana mau ke rumah mertua. Kemarin aku tidak menjenguk mereka, jadi rencananya siang ini mau mampir sebentar ke sana," sahut Soraya ijin pamit.
"Baiklah, sekali lagi saya dan istri mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada ibu Soraya. Dan mewakili jemaat gereja, saya juga mengucapkan terima kasih. Kendaraan tersebut akan digunakan sebagaimana mestinya," ujar Pendeta Yosep saat Soraya pamit.
Nania dan Soraya kembali berpelukan erat sambil kembali berkaca-kaca.
"Kalau ada apa-apa, kamu jangan sungkan kemari, Aya".
"Nia, doakan aku yah. Biar aku kuat menghadapi semuanya".
Kedua sahabat saling berpandangan dan saling mengangguk sambil saling menggenggam tangan.
"Aku pamit, terima kasih atas dukungan kalian".
Saat mengemudi mobil, Soraya hampir tiba di sebuah perempatan jalan.
Belok ke kiri menuju ke kantor Wildan teman suaminya, gatal hatinya ingin menanyakan soal hubungan Asmila dan Mario.
Sementara kalau belok ke kanan sudah jelas menuju ke rumah mertuanya.
Soraya menghentikan mobilnya di pinggir jalan, sekitar lima ratus meter sebelum tiba di perempatan jalan di depannya.
Setelah terdiam beberapa lama, lalu bulat hatinya memilih jalan yang akan dipilihnya.
"Oke, aku lurus saja ke sana".
Siang itu menjelang pukul dua siang, Kristy turun dari mobilnya dan melangkah untuk membunyikan bel yang terletak di dinding samping pagar sebuah rumah.
TING ...TONG...
Kristy menekan bel, dan dia tetap berdiri di depan pagar menanti seseorang akan membuka pintu dari dalam.
"Non Kristy, yah!?" seru bik Atik yang muncul dari pinggir pintu halaman dalam rumah.
"Iya, saya Kristy".
"Tunggu!!!".
Tak lama bik Atik keluar lagi sambil membawa kunci untuk membuka gembok pagar rumah tersebut.
"Non, mobilnya bawa masuk saja ke dalam halaman," ujar Bik Atik sambil membuka pagar.
Segera Kristy masuk lagi ke mobilnya, menyalakan mesin lalu membawa masuk mobil ke dalam halaman rumah tersebut.
Bik Atik kembali mengunci pagar, lalu menghampiri Kristy.
"Apa kabar non? tambah cantik saja non Kristy," ujar bik Atik yang terpesona melihat Kristy memakai atasan renda dan celana blue jeans ketat.
"Kabar baik, bibik bisa saja. Apa kabar juga bik Atik?" sapa Kristy dengan ramah.
"Sehat non, ayo masuk. Nyonya Regina sudah menunggu. Den Jimmy tadi pagi kasih uang sama Atik minta dibelanjakan ikan tuna sama tepung, dia bilang non Kristy akan kemari mau belajar buat panada," ujar bik Atik dengan gembira.
"Oh, sudah belanja juga rupanya. Padahal saya juga bawa tepung dan ikan tuna kaleng," sahut Kristy.
"Panada jangan pakai tuna kaleng, rasanya lain jadi tidak enak. Harus tuna segar, tadi pagi bibik sudah beli di pasar".
Kristy hanya bisa tersenyum canggung, dia tak menyangka kalau Jimmy sudah membelikan seluruh keperluan membuat kue tersebut.
"Mungkin tinggal tunggu keluarga Ibu Liz, apakah orangnya sudah ada di dalam?" Kristy bertanya-tanya dalam hati saat berjalan menuju ruangan tamu rumah itu.
Bik Atik memanggil Ibu Regina, dan tak lama muncul ibunya Jimmy yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah enam puluh delapan tahun.
"Kristy, apa kabarnya?" sapa hangat ibu Regina.
Kristy memang pernah bertemu dengan ibunya Jimmy saat menjemput ke rumah ini bersama Rosalinda, dan juga selama sekitar dua hari berada di rumah Soraya.
Tapi selama itu mereka tidak saling ngobrol, karena saat itu kondisi ibu Regina sangat lemah karena terpukul atas kematian Mario anaknya.
"Kabar baik, tante. Semoga tante dan oom juga sehat selalu".
"Terima kasih, tante dan oom sehat, juga sekarang sudah bisa move on....hahahaha. Anak muda sekarang bilangnya move on, kalau jaman dulu orang bilangnya bangkit atau semangat lagi," sahut Ibu Regina dengan sangat ramah.
Kristy kembali tersenyum canggung, karena bingung juga mau bicara apa kepada beliau.
"Kata Jimmy, kamu mau belajar membuat kue panada. Kemarin Jimmy bilang sama saya, ada yang mau belajar membuat panada kepada keluarga almarhumah ibu Liz... hahahahah. Ternyata Kristy orangnya, tentu saya senang sekali mendengarnya".
"Eeemmm, tante, maaf bertanya apakah keluarga ibu Liz sudah datang juga kemari?" tanya Kristy dengan polos.
"Oh, hahahaha, Kristy tidak diberitahu Jimmy? Ibu Liz itu neneknya Jimmy, mertuanya saya. Mamahnya oom Hansen. Saya bukan orang Manado, tapi dulu tinggal sama mertua jadi saya belajar masak dan lain-lain kepada mertua," Ibu Regina menjelaskan kepada Kristy.
"Memang Jimmy kurang ajar," bisik Kristy dalam hati.
"Oma Elisabeth namanya, tapi beliau dikenal juga dengan sebutan ibu Liz. Dulu memang sering membuat panada, tapi khusus orang tertentu yang memesan, tidak sengaja jualan kue tersebut".
"Kamu bisa tahu, berarti kamu anaknya siapa? sebab yang memesan kue panada kepada mertua saya hanya segelintir orang saja?" Ibu Regina merasa aneh karena Kristy paham tentang kue panada buatan mertuanya.
"Mama saya Ivanna Handoyo, apakah tante tahu?".
"Ivanna Handoyo? Ivanna Romanov Handoyo?" tanya ibu Regina sambil mengernyitkan kening.
"Iya, benar itu mama saya".
"Ya ampun, tenyata dunia sempit. Ivanna itu teman saya, dulu sempat latihan senam yoga sewaktu kalian masih kecil. Hahahaha, apa kabar mama kamu. Sudah lama sekali tidak jumpa, salam untuk mama kamu".
"Pasti kamu tidak ingat, dulu mungkin kamu masih sekitar dua atau tiga tahun usianya. Kalau anak-anak ikut ke tempat senam yoga, yang jaga kamu itu Jimmy. Dia sudah sekolah dasar kelas satu atau kelas dua, saya lupa. Jimmy sayang sekali sama kamu, dedek putih kulitnya, matanya bulat, pipinya tembem dan rambutnya ikal".
"Astaga, ternyata dia pernah tahu aku waktu kecil. Amit-amit Ya Tuhan," bisik Kristy lagi dalam hatinya.
"Tapi tante yakin, Jimmy juga pasti lupa. Karena anak laki-laki, lama kelamaan malas juga kalau dibawa ke tempat senam. Sudah bisa ditinggal sendiri, dia sudah tak mau ikut lagi sama tante," Ibu Regina bercerita panjang lebar.
Kristy cuma bisa senyum-senyum saja sambil dalam hati merasa sebal mendengar nama Jimmy.
"Ayo, kita ke dapur. Nanti tante praktekkan cara membuat panada".
__ADS_1
"Saya saja yang membuat, tante hanya memberikan petunjuknya".
"Oke, ayo kita langsung saja".
Lalu ibu Regina mengajak Kristy masuk ke dapur rumahnya.
"Atik!!!".
"Ya nyonya".
"Tik, kamu ingat tidak sama ibu Ivanna?".
"Oh, nyonya Rusia bukan?".
"Nah, iya benar. Kristy ini anaknya dong, yang dulu suka diajak main sama Jimmy".
"Oh, ya ampun. Dedek putih, mata bulat, astaga....iya yah. Kok Atik sampai tidak mengenali. Pantesan cantik sekali non Kristy ini. Memang jodoh sama den Jimmy, ayo non kapan dong nikah sama den Jimmy," Bik Atik gembira sekali ketika mengetahui siapa Kristy sebenarnya.
"Iya, sayangku. Kapan tante dan oom bisa melamar kamu. Tante sudah ingin punya cucu dari Jimmy. Ternyata aku dan Ivanna akan berbesanan," Ibu Regina saking senangnya sampai berkata demikian.
Dan yang pasti saat itu Kristy hanya bisa terbengong-bengong saja sendirian, dia sama sekali tak paham harus berkata apa.
Siang itu Jimmy sedang berada di lahan yang akan dijadikan bangunan perguruan tinggi.
Aliong dan Ferry sedang mengukur tanah bersama dengan beberapa orang tukang dan juga mandor bangunan.
Louis sedang mengatur keinginannya di lokasi tersebut, disesuaikan dengan gambar rancangan dari Jimmy dan juga kondisi tanah yang ada.
"Jadi aku ingin bangunan menghadap ke timur, jadi kamu harus ubah sedikit rancangan kemarin. Ubah sudutnya jadi menghadap ke timur empat puluh lima derajat," ujar Louis sambil melihat kondisi tanah dan sekitarnya.
"Nah, Aliong nanti aku ingin kamu sama tim, pikirkan dan cari sumber air. Masalahnya harus ada sumber air dulu, maksimal besok harus sudah selesai".
"Peletakan batu pertama nanti di sini. Nanti tim dari kantor aku yang atur untuk acara tersebut, senin depan harus sudah bisa berjalan semuanya".
"Besok kalau bisa kontrak kerja harus sudah di tanda tangani, karena aku sebenarnya yakin sepuluh bulan saja sudah bisa selesai gedung kampus ini".
Louis Orlando tampak sangat bersemangat sekali, dia adalah pekerja keras jadi apapun sudah direncanakan harus segera dilakukan dengan berusaha meminimalisasi kesalahan.
"Oke, silahkan Jimmy atur saja semuanya. Besok pagi kita bicarakan kontrak lagi di gedung Margo's Tower. Jangan terlambat, saya tidak suka keterlambatan".
"Jangan kalah sama tim aku yang di Semarang. Sayang orangnya baru saja meninggal, dia kepercayaan aku kalau bikin bangunan hotel dan lain-lainnya. Namanya Asrul, kemarin meninggal kecelakaan. Tadinya proyek mama aku ini mau aku berikan kepada dia".
"Mungkin ini rejeki kamu Jimmy, makanya tolong jangan buat aku sampai kecewa. Karena aku masih punya banyak proyek lagi. Sekarang sedang atur pembebasan tanah, aku ada rencana pembangunan perguruan tinggi lagi di beberapa kota lain," ujar Louis sambil menepuk bahu Jimmy.
"Saya akan berusaha memberikan yang terbaik kepada bapak," sahut Jimmy dengan mantap.
Lalu Louis segera berlalu dari tanah lapang itu, dia masih ada urusan lain yang diminta oleh orang tuanya.
Selepas Louis pergi, lalu Jimmy meminta Aliong untuk segera mengukur tanah sesuai yang tadi disampaikan Louis dan juga minta sumber air segera dicari dan di bor hari itu juga.
Aliong segera paham, lalu dia mulai mengontak beberapa orang kenalan lama yang pernah bekerja sama dengannya waktu dulu bersama Mario.
Untung Aliong dulu walau sempat diajak korupsi oleh Mr. A, tapi dia tak pernah licik kepada orang bawah.
Tukang bangunan, tukang gali sumur dan sebagainya mempunyai riwayat yang baik dengan dirinya.
Sehingga saat ini mereka dipanggil untuk kerjasama lagi, tentu saja langsung menyambut dengan senang hati.
Hari itu Aliong sibuk di lapangan karena minggu depan harus sudah berjalan proses pembangunan selepas upacara peletakan batu pertama.
"Ko Aliong, tugas lapangan aku serahkan kepada ko Aliong yah. Sekarang aku dan Ferry kembali lagi ke kantor, nanti aku suruh orang antarkan sepeda motor sama ongkos buat makan dan pembayaran lain-lain," kata Jimmy sambil bergegas menuju mobil bersama Ferry.
"Siap, aku yang pegang urusan di lapangan," sahut Aliong dengan mantap.
Sebagian orang menebang rumput liar dan pohon kering di sana, juga ada yang sedang melakukan pengeboran tanah menggali air sumur.
"Koko, maaf tanya mau bikin bangunan di sini yah?" tanya beberapa ibu-ibu yang tampaknya penduduk setempat.
"Iya, ada apa bu?" tanya Aliong sambil menyeka keringat yang bercucuran di keningnya.
"Maaf sih, kami ijin jualan minuman dan makanan. Boleh tidak?" tanya ibu-ibu itu lagi.
"Iya, koko berbagi rejeki dong. Saya jualan nasi, teman saya jualan minuman," kata ibu-ibu lainnya.
"Boleh, silahkan. Tapi jangan dulu membuat tenda yah. Nanti setelah hari senin depan, saya bantu buatkan tenda untuk jualan. Sekarang jualannya di bawah pohon rindang sana saja dulu. Punya nasi apa? saya lapar," Aliong langsung saja pada intinya.
"Ada ini, nasi bungkus. Ada banyak, murah cuma lima ribuan saja. Kami paham orang bangunan makannya seperti apa," jawab ibu-ibu tadi.
"Ayo!!! duduk di bawah pohon. Aku lapar dan haus banget," ajak Aliong sambil melangkah ke pohon rindang.
"Bayarnya nanti sore yah".
"Siap koko, sudah paham kok".
Aliong makan nasi bungkus, isi telur dadar dan goreng tempe. Jaman dulu masih jadi boss, mana mau makan di bawah pohon rindang begini.
Semua tukang diajaknya makan bersama dia di bawah pohon itu.
Sekarang dia bisa makan juga sudah merasa bersyukur kepada Tuhan.
Kadang orang mendapat pelajaran hidup harus menjalani kepahitan dulu.
Siang itu Yu Chen mendapat pesan singkat dari suaminya, kalau Aliong mulai hari ini akan sering pulang malam lagi, karena proyek pembangunan akan segera dimulai minggu depan.
Sehingga Aliong harus mempersiapkan banyak hal, terutama dia saat ini telah ditunjuk sebagai pengawas lapangan.
Ada rasa bangga tersendiri dalam diri Yu Chen, setidaknya suaminya benar-benar telah berusaha menunjukkan kalau dirinya mau berubah menjadi lebih baik.
Sementara itu menghabiskan hari setelah kemarin mendapat pukulan telak atas telah terjadi pengkhianatan cinta dalam rumah tangga.
Aletha terlihat mendatangi sebuah tempat perawatan kecantikan. Di sana dia mengambil paket memanjakan diri menikmati fasilitas pijat lulur, facial, sauna dan medicure pedicure.
Sambil dalam hatinya masih berkecamuk, apalagi adiknya tadi pagi berkata seperti itu.
Terasa menghujam dada, tapi memang kenyataan selama menikah paling hidup bersama Asrul berdua bisa dihitung jari.
Selebihnya tinggal di rumah orang tuanya, menikmati semua pelayanan yang disiapkan orang tua.
Apalagi setelah punya anak, tidak punya beban urusan anak semua hal sudah ada yang mengaturnya.
Baru dirinya sedikit menyadari kalau orang tuanya terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangganya bahkan sampai anak mereka juga diatur oleh orang tua Aletha.
Di lain tempat terlihat Fuad berjalan di sepanjang lorong pertokoan, sambil tidak tahu mau mencari apa.
Sudah beberapa mall dia masuki, lalu keluar lagi dan mencari mall atau pertokoan lainnya.
Sepanjang jalan di dalam hatinya menangis karena masih merasakan kesal dan kecewa atas apa yang telah terjadi pada hidupnya.
Akhirnya merasa lelah juga sudah hampir beberapa jam berjalan kaki tanpa tentu arah, dan memilih melangkah menuju penjual kuliner di kaki lima.
"Pak, es campur satu," pinta Fuad kepada penjual es yang mangkal di pinggiran sebuah taman kota.
Tukang es terlihat sedang tertawa-tawa dengan beberapa penjual makanan lainnya, entah apa yang sedang diramaikan.
Sambil membuat es untuk Fuad, masih juga dia menahan tawa dan sesekali memandang ke arah temannya yang sedang duduk dan tampak seperti diceramahi oleh yang lainnya.
__ADS_1
"Silahkan, pak," ujar penjual es sambil memberikan semangkuk es campur kepada Fuad.
"Senang amat, ramai amat, ada apa, pak?" tanya Fuad kepada penjual es yang sekarang duduk tak jauh dari kursinya.
"Hahahaha, kami sedang menertawakan penjual ketoprak. Dia baru saja selesai bercerai dengan istrinya," jawab penjual es sambil tertawa dan geleng-geleng kepala.
"Kok, orang cerai malah ditertawakan?" Fuad merasa heran.
"Bukan ditertawakan bagaimana, pak. Kami para pedagang di sini sudah seperti saudara, nah...penjual ketoprak itu sudah sering kami ingatkan. Dia itu berjualan tak kenal waktu, istrinya dia abaikan. Akhirnya istrinya mungkin kesepian dan tak sengaja bertemu dengan mantan pacarnya".
"Singkat cerita istrinya selingkuh dengan mantan pacarnya. Sudah banyak orang mengingatkan agar punya waktu untuk istri, jangan cuma melulu jualan. Buktinya sekarang kaya raya juga tidak, tapi rumah tangga malah hancur berantakan," Penjual es menceritakan apa yang saat ini sedang terjadi.
Seketika Fuad terhenyak mendengar cerita yang dituturkan penjual es itu.
Terguncang batinnya dan terpukul telak hatinya, benar sekali apa yang dikatakan penjual es itu.
Dirinya hampir tak punya waktu walau diberikan kesempatan berdua dengan istrinya, hanya masalah pekerjaan yang selalu dia pikirkan.
Bertahun-tahun menikah, sama sekali istri bukan prioritas utama, tapi pekerjaan yang selalu menjadi kebanggaannya.
"Pak, jadi berapa es nya?" tanya Fuad.
"Belum habis ini, kok sudah mau bayar?" tanya penjual es.
"Iya, saya ingat ada janji," sahut Fuad asal saja sambil memberikan selembar uang berwarna biru.
"Terima kasih, ini uang kembaliannya," ujar penjual es tadi.
"Tak usah, sudah buat bapak saja. Terima kasih," sahut Fuad sambil menepuk bahu penjual es dan berlalu.
Penjual es tentu saja bengong, karena uang kembalian yang ada di tangannya bukanlah uang recehan.
Fuad berjalan tergesa-gesa mencari sebuah masjid, dan kebetulan saat itu berkumandang adzan Ashar.
Segera Fuad mengambil wudhu dan melaksanakan sholat berjamaah di masjid tersebut.
Usai sholat, Fuad menaikkan doa dan memohon ampunan. Ada rasa salah dan sesal menggelayuti hatinya. Apalagi usai mendengar kisah penjual ketoprak tadi yang ditinggal kabur istrinya.
Fuad ingat segalanya, seakan cerita tadi menghantam dirinya. Setidaknya apa yang telah dilakukan oleh Asmila, ternyata ada andil juga dari dirinya.
Bertahun-tahun menikah, hanya pekerjaan dan karier di atas segalanya. Asmila sering dia abaikan, apalagi setelah ibunya meninggal dunia.
Terpikir olehnya, bahwa mungkin saja Asmila punya perasaan yang sama dengan istri tukang ketoprak tadi.
Bahkan Fuad tersadar, dua tahun istrinya berkarier dan juga tinggal di rumah kost di Jakarta. Selama itu pula dia tak pernah sekalipun ingin tahu pekerjaan istrinya, tempat kost istrinya, bahkan hari-hari istrinya di Jakarta seperti apa dan bagaimana, tak pernah sekalipun dia tanyakan.
Lalai, Fuad telah lalai, melalaikan istri bahkan lalai kepada diri sendiri.
Fuad menangis di masjid itu, air matanya bercucuran deras. Walau tidak bersuara kencang tapi tetesan air mata terus berderai di pipinya.
Soraya tadi jadinya pulang ke rumahnya, lalu dia membawa pakaian seragam dan juga baju tidur anak-anaknya serta dirinya.
Rencananya akan membawa kedua anak gadisnya menginap di rumah Oma Regina.
Setelah itu, dia kembali membawa mobil menuju ke sekolah menjemput kedua gadisnya.
Di depan sekolah Soraya turun dari mobil, segera menuju penjual es rujak buah potong yang ada di sana.
"Bang, es rujak buah nanas campur jambu airnya dong satu porsi, segar banget kelihatannya," Soraya begitu tak kuasa menahan selera melihat tampilan es buah tersebut.
Penjual es rujak buah potong segera membuatkan pesanan Soraya.
Di dekat sana ada bangku yang sengaja disiapkan oleh penjual es rujak agar pengunjung nyaman menikmati es rujak sambil duduk di bawah pohon rindang.
Sambil menunggu kedua gadisnya keluar dari gerbang sekolah, Soraya duduk di bangku tersebut menikmati es rujaknya.
Di samping tempat Soraya duduk, ada tiga ibu-ibu yang usianya jauh lebih muda dari dirinya.
Ketiganya sedang menikmati siomay yang kebetulan penjualnya berdampingan dengan pedagang es rujak.
"Eh, sudah dengar belum, itu loh cewek yang suka pakai mobil merah, yang dandanannya menor, yang jemput anaknya yang masih SD," ujar salah satu wanita itu.
"Oh, yang genit itu. Memangnya kenapa sih?" tanya wanita satunya lagi.
"Eh, iya, masa belum tahu. Dia kan perempuan simpanan," bisik wanita lainnya tapi tetap terdengar oleh Soraya.
"Wah, simpanan siapa?"tanya wanita yang belum tahu tadi.
"Sssttt...katanya sih pejabat. Mereka sudah menikah di bawah tangan. Yah, biar dianggap sah".
"Oh, begitu. Masa cantik begitu mau dijadikan istri simpanan?".
"Eh, iya, katanya sih, istri pejabat itu tidak pernah peduli sama suami. Jadi kalau suami keluar kota, yang telepon mencari itu bukan istrinya tapi anaknya".
Deg...sejenak jantung Soraya terhenti mendengar bisikan gosip ketiga wanita yang duduk tak jauh dari bangku tempat duduknya tersebut.
"Ah, masa sih. Cuma kayak gitu doang jadi alasan untuk suaminya selingkuh?".
"Entahlah, cuma kata orang-orang yang tahu sih, katanya begitu".
"Dasar lelaki, kalau istri terlalu cemburuan juga jadi alasan selingkuh, apalagi istri yang kesannya tidak peduli seperti itu".
"Mungkin pada dasarnya istri pejabat itu terlalu percaya kepada suaminya. Jadi dia biarkan saja anaknya yang mencari tahu dan menelepon dimana keberadaan bapaknya".
"Sudahlah itu urusan orang, kita sih tak usah pedulikan".
"Memang benar, tapi jadi pelajaran buat kita nih. Suami memang harus kita percaya, tapi jangan begitu juga seakan melepas bebas. Sesekali kita juga harus menanyakan keberadaan suami kita. Karena tenyata suami juga butuh ditanya oleh istrinya, bukan cuma oleh anaknya saja".
Sontak Soraya jadi kehilangan selera makannya, walau mungkin ketiga wanita yang tidak dia kenal itu tukang gosip.
Tapi ada benarnya juga apa yang mereka katakan, selama Mario hidup dulu, Soraya tak pernah mencarinya walau Mario pulang malam sekalipun.
Seakan dibuka pikirannya pikirannya dan ingatannya, sejak awal menikah sampai kemarin suaminya meninggal, tak pernah dia sengaja menelpon dan menanyakan keberadaan suaminya.
Awal menikah didasari rasa takut kalau suaminya akan marah kalau sengaja di telepon menanyakan keberadaannya.
Lalu ketika anak-anak mulai bisa bicara, maka anak-anaknya yang sejak kecil selalu disodorkan ponsel oleh Soraya untuk menanyakan keberadaan ayahnya.
Bahkan terakhir sebelum meninggal, Mega yang menanyakan keberadaan ayahnya, walau sebenarnya dirinya yang ingin tahu dimana suaminya berada.
"Mama, makan rujak sambil melamun," tegur Maya yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya tanpa Soraya sadari.
"Astaga, kalian sudah keluar dari gerbang sekolah. Mama tak sadar saking enaknya makan rujak," tukas Soraya sambil terlihat terkejut.
"Apa yang dimakan? orang masih utuh begini," ujar Mega sambil merebut garpu kecil dari tangan ibunya dan menusuk buah lalu melahapnya.
"Kita menginap di rumah Oma, apa kalian mau?" tanya Soraya.
"Mau dong!!! asyik!!!!" keduanya menyambut rencana ibunya dengan gembira.
"Habiskan rujaknya, lalu kita ke rumah oma".
Otomatis keduanya rebutan menghabiskan rujak dari piring yang ada di tangan ibunya.
Setelah membayar rujak, lalu semuanya masuk mobil. Soraya mengemudikan mobilnya dengan pikiran dan hati yang kembali berkecamuk.
__ADS_1