PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Jimmy


__ADS_3

"Kak Maya, bantalnya masih bau papa. Kata bik Atik, papa kadang suka pulang ke sini sekedar rebahan tidur siang kalau lelah dari lapangan," ujar Mega sambil mendekap dan menciumi bantal yang akan dia pakai untuk tidur.


"Pastinya, ruangan ini juga bau papa, kok. Aku merasakan dan ingat kalau papa keringatan, pasti baunya kayak gini," Maya juga berkata seperti itu sambil hidungnya mengendus-endus ruangan tidur ayahnya.


"Sedih yah, kita sudah tidak punya papa lagi," Mega mulai menangis.


"He eh, padahal akhir tahun nanti aku mau berulang tahun yang ke tujuh belas. Aku sering mengkhayal kalau ulang tahun tujuh belas tahun dirayakan besar-besaran. Pakai gaun cantik, lalu dansa sama papa," Maya juga mulai bercucuran air mata.


Mega mendekati kakaknya, lalu keduanya berpelukan dan kembali menangis tersedu-sedu.


"Kita sepakat yah, jangan sampai mama menikah lagi".


"Iya, aku juga tidak mau punya papa tiri. Nanti kita berdua disiksa kalau mama sedang pergi".


Kakak adik saling bertatapan, lalu saling mengaitkan kelingking tanda sepakat tidak akan pernah mengijinkan ibunya menikah lagi.


"Kalian belum tidur?" tanya oma Regina ketika memeriksa kedua cucunya.


"Jangan menangis lagi, papa kalian sudah tenang di sana. Berdoa, yuk, kalau kalian menangis terus nanti papa kalian juga ikut sedih," ujar oma Regina sambil menahan air matanya.


Lalu oma Regina mengajak kedua cucunya berdoa bersama, menaikan pujian kepada Tuhan, memohon ampunan dan juga mendoakan Mario agar tenang di sisi Tuhan.


"Ac nya jangan terlalu dingin, nanti kalian malah masuk angin. Sedang saja suhunya, sebab di rumah oma tidak sepanas di rumah kalian".


"Iya, oma, nanti juga pasti mama akan matikan ac dan membuka jendela kalau kami sudah terlelap".


Oma Regina mengecup kening kedua cucunya, setelah kedua cucunya memejamkan mata, beliau keluar kamar Mario.


Sambil berjalan menuju kamar tidurnya, air matanya mengalir di pipinya. Sedih masih terasa di hatinya, kehilangan Mario, dan pilu melihat kedua cucunya.


Tapi oma Regina tetap harus terus tegar, jangan sampai menantu dan cucu-cucunya malah hilang semangat nantinya.


Begitu juga opa Hansen, beliau masih di halaman belakang. Tadi Maya dan Mega memperlihatkan foto mobil yang masih terendam di sungai di Palembang.


Pikiran tuanya menerawang membayangkan bagaimana anaknya terjebak di dalam mobil dan tidak bisa keluar sampai harus menghembuskan nafas terakhirnya.


Sambil menatap foto yang dikirimkan cucunya, kembali air matanya menetes di pipinya.


Bapak tua ini juga tak mau kelihatan bersedih di hadapan keluarganya, beliau ingin semua anak lainnya, menantu dan cucunya tetap semangat walau sudah ditinggal oleh orang tercinta secara mengenaskan.


"Papih, kok masih di halaman belakang? Masuklah, sudah malam begini. Papih harus segera istirahat," ujar Jimmy yang kebetulan menengok halaman belakang dan melihat ayahnya masih duduk sambil menangis.


"Sudah, jangan menangis terus. Papih yang bilang harus tegar, masa papih sekarang yang menangis terus," lanjut Jimmy sambil mendekati ayahnya.


"Tidak menangis karena Mario, papih sedih kalau melihat Maya dan Mega. Bagaimana nanti sekolahnya, kuliahnya. Papih tidak bisa banyak membantu seperti dulu, kamu tahu sendiri usaha kayu jati papih sudah tidak seperti dulu. Tergerus jaman, semua orang lebih memilih furniture dari kayu praktis sekarang ini," ujar opa Hansen sambil menarik nafas berat.


"Sudah, Maya dan Mega jadi tanggung jawab Jimmy. Kebutuhan sekolah, uang saku dan lain-lain menjadi tanggung jawab Jimmy. Papih tidak usah khawatir," sahut Jimmy.


Opa Hansen terdiam, pikirannya masih terbebani oleh kedua cucu gadisnya. Bagaimana juga suatu saat Jimmy akan punya rumah tangga, tak mungkin akan terus bisa membiayai Maya dan Mega. Setidaknya Jimmy juga punya tanggung jawab kepada keluarganya sendiri.


"Sudah hampir jam sepuluh malam, papih juga harus istirahat. Sudah usia lanjut begini, tak usah banyak beban pikiran. Biarkan Jimmy yang akan menangani semuanya".


Opa Hansen akhirnya menuruti perkataan anak bungsunya, perlahan beliau bangkit dan masuk ke dalam rumah.


"Soraya belum tidur?" tanya Opa Hansen ketika mendapati menantunya masih menghadapi laptopnya.


"Sebentar lagi, papih. Ini masih banyak tugas mahasiswa yang harus saya periksa," sahut Soraya.


"Kamu juga jangan tidur terlalu malam, nanti sakit, kasihan anak-anakmu," Opa Hansen mengingatkan Soraya.


"Baik, papih. Sebentar lagi Soraya juga akan istirahat".


Opa Hansen mengangguk, lalu beliau segera masuk ke kamar tidurnya menyusul oma Regina.


Setelah yakin kedua orang tuanya segera beristirahat, lalu Jimmy mendekati kakak iparnya yang masih sibuk berkutat dengan laptopnya.


"Kak Aya, masih sibuk?"tanya Jimmy.


"Oh, enggak juga. Tadi mau bicara apa, Jim?" Soraya bertanya balik.


"Aku mau mengkonfirmasi sesuatu hal, pastinya akan membuat kak Aya terluka. Tapi aku juga yakin kak Aya pasti ingin tahu yang sebenarnya terjadi".


Soraya menatap Jimmy, lalu perlahan dia menutup laptopnya dan duduk menghadapi adik iparnya.


"Katakan saja, Jim. Aku memang harus tahu, apa sebabnya Mario sampai menduakan aku," ujar Soraya tegas.


Jimmy menatap Soraya yang terlihat tegar, lalu dia menyampaikan apa yang dia dengar dari Wildan dan Danu yang merupakan sahabatnya Mario.


Kilas balik sebentar ketika sore tadi Jimmy menemui Wildan dan Danu setelah selesai meeting dengan seluruh staf kerjanya di kantor.


"Wah, yang baru dapat proyek besar datang juga akhirnya. Ayo, masuk ke ruanganku," sambut Wildan saat Jimmy datang ke kantornya.


"Apa kabar boss Wildan, boss Danu, semoga kedatanganku tidak menggangu," sahut Jimmy sambil menyalami Wildan dan Danu.


"Tidaklah, ayo kita ngobrol santai di ruanganku. Sebentar aku suruh petugas membuatkan kopi dan membeli makanan ringan untuk kita," ujar Wildan sambil keluar ruangan dan tampak memerintahkan salah satu karyawan kantornya sambil mengeluarkan beberapa lembar uang.


"Bagaimana, bro, ada berita apa?" tanya Wildan ketika masuk lagi ke ruangannya.


"Begini bang Wildan, bang Danu, saya baru saja mendapat proyek pembangunan perguruan tinggi dari Louis Orlando," Jimmy memulai pembicaraannya.


"Lalu?" tanya Danu.


Jimmy menghela nafas sebelum melanjutkan perkataannya.


"Tapi ternyata di dalam kontrak kerja dengan beliau, sama sekali tidak boleh ada sub kontrak. Jadi mohon maaf saya tidak bisa menggandeng tim kerja bang Wildan dan bang Danu untuk pekerjaan ini," Jimmy merasa berat hati menyampaikan hal tersebut.


"Tenang bro, kami sudah lebih dahulu paham cara kerja Louis Orlando Handoyo. Makanya kami tidak ikut maju, karena kalau kerjasama dengan beliau pasti beliau yang mengatur kita," Danu menjabarkan kepada Jimmy.


"Tapi jangan takut, Jim. Ini langkah awal kamu kerja sendiri, tidak dibawah bayang-bayang Mario. Maju saja, tapi ingat kontrak kerja sama kita juga masih jalan, yah," ujar Wildan mengingatkan kalau mereka masih terikat pekerjaan lain.


"Siap, bang, untuk pekerjaan dengan bang Wildan dan bang Danu, aku sudah siapkan Bakti dan Amran. Sedangkan untuk pekerjaan membangun gedung perguruan tinggi, aku sudah pasangkan Ferry dan ko Aliong," Jimmy menjelaskan kepada kedua sahabat almarhum kakaknya.


"Oke, sip, kamu memberi kesempatan dan kepercayaan kepada Aliong. Aku yakin dia bisa, dulu dia cuma terbawa saja oleh Mr. A, sesungguhnya dia jujur cuma terbawa gaya hidup mudah oleh orang seperti Mr. A," ujar Wildan.


"Maaf, bang Wildan dan bang Danu, ada hal lain yang mau aku tanyakan. Apakah bersedia memberikan penjelasan kepadaku?" tanya Jimmy.


"Tentang apa?" tanya Danu penasaran.


"Soal Mario dan Asmila," sahut Jimmy sambil membelalak matanya.


Wildan dan Danu saling berpandangan, otomatis keduanya terkejut atas pertanyaan Jimmy.


"Apa yang mau kamu ketahui tentang mereka?" tanya Wildan.

__ADS_1


Lalu Jimmy menjelaskan kepada keduanya tentang pembicaraan antara Soraya dan Aliong di rumah makan milik Kristy beberapa hari sebelumnya.


Soraya saat itu bersama kedua teman barunya yang juga merupakan keluarga korban kecelakaan di Palembang. Dan salah satunya adalah suaminya Asmila.


Wildan dan Danu juga terkejut. mendengar Soraya bersama suaminya Asmila telah membongkar kamar kost Asmila dan menemukan banyak barang milik Mario di sana.


"Jujur, Jim, aku dan Wildan memang tahu kalau Asmila sering sekali menemui Mario. Kalau kami kumpul di suatu cafe membahas pekerjaan, pasti Asmila tak lama datang menyusul. Dia ikut mengobrol bersama kami sampai malam," Danu mulai membuka cerita.


"Tapi masalah mereka sampai berhubungan lebih dari itu, kami hanya bisa menduga saja. Itu juga karena waktu itu kami sengaja undang dia kemari. Lalu aku cekoki dia minuman beralkohol, dan sambil mabuk dia buka omongan," Wildan menambahkan cerita juga.


Lalu Wildan dan Danu menceritakan bagaimana kata Mario mabuk dan berkata. mengeluarkan semua uneg-uneg di hatinya.


"Lu berdua bayangkan, gue kawin sama Soraya sudah belasan tahun. Tapi istri gue sampai sekarang kagak pernah sekalipun nunjukin kalau dia cinta sama gue," itu ucapan Mario saat mabuk beberapa tahun lalu di ruangan yang sekarang Jimmy berada bersama Wildan dan Danu.


"Gue dengar dari orang lain, kalau istrinya yang duluan minta hubungan intim. Tapi gue belum pernah merasakan itu, malah yang suka minta sama gue adalah Asmila".


"Istri gue sama sekali kagak mau diajak bercinta dengan berganti posisi. Cuma sama Asmila gue bisa melakukannya, bahkan bisa berkali-kali. Mungkin karena dia juga kesepian, suaminya cuma ngejar jabatan tanpa peduli sama dia".


"Memang gue nikah sama istri gue karena perjodohan, tapi kalau gue kagak cinta kagak mungkin juga gue nikahin. Makanya gue nikah sama dia, karena gue jatuh cinta sama dia. Belasan tahun gue nikah, susah banget mendapat balasan cinta dari dia. Urusan nyiapin keperluan gue itu memang tugas istri, tapi gue juga butuh ungkapan cinta dari dia. Minimal nanya gue dimana, kapan gue pulang. Yang selalu nanya anak-anak gue, dari mereka kecil sampai remaja, selalu anak-anak yang nanya keberadaan gue".


"Bini gue kagak pernah sama sekali, mungkin dia yang memang kagak cinta sama gue. Dan gue bisa merasakan disayangi, dicintai dan diinginkan itu sama Asmila".


"Seperti itu, bro, yang pernah kami dengar dari ucapan Mario langsung ketika dia mabuk di sini. Soal jelasnya hubungan terlarang mereka seperti apa, dan bagaimana, kami tidak tahu pasti," Danu menegaskan kepada Jimmy.


Mendengarkan penuturan kedua sahabat kakaknya, membuat Jimmy jadi merinding mendengarnya.


"Astaga, berarti benar abang gue selingkuh. Parah bang Rio, gue musti bagaimana menjelaskan sama istrinya dan keluarga gue," keluh Jimmy sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kalau menurutku, istrinya harus tahu. Soraya juga harus belajar dari pengalaman ini, siapa tahu dia ada jodoh lagi. Setidaknya Soraya harus belajar bagaimana menjadi istri. Bukan cuma memenuhi keperluan suami saja, tapi ada hal lain yang lebih penting yang harus dilakukan. Keintiman dengan pasangan yang paling penting dilakukan oleh seorang istri," Wildan memberitahu Jimmy soal arti penting dengan pasangan hidup.


"Aku makin takut nikah, aku takut kalau sampai ada pengkhianatan cinta seperti ini. Dulu masih pacaran juga pernah dikhianati, aku tak sanggup kalau misal sudah menikah seperti bang Rio, lalu ada perselingkuhan," tutur Jimmy saat itu.


"Salah kamu kalau berpikiran begitu, tidak semua orang yang sudah rumah tangga seperti itu. Aku dan istri sudah hampir dua puluh tahun menikah, banyak riak banyak godaan. Tapi kalau kita jalani bersama, saling terbuka, insyaallah semua berjalan dengan baik," ujar Wildan menasehati Jimmy.


"Benar, jangan samakan kamu dengan Mario. Mungkin memang suratan dia begitu, Soraya tidak bisa diajak terbuka selama ini. Tapi jangan takut menikah, salah kalau kamu selalu berpikiran begitu," Danu juga menasehati Jimmy.


Setelah berbincang cukup lama, akhirnya sore tadi Jimmy pamit kepada Wildan dan Danu. Apalagi dia ditelepon oleh ibunya yang mengatakan kalau dirinya ditunggu oleh Kristy di rumahnya.


Kembali ke ruangan tengah di rumah keluarga Maliangkay, Jimmy menuturkan apa yang dia dengar kepada Soraya kakak iparnya.


Sambil bercucuran air mata, Soraya mendengarkan apa yang Jimmy sampaikan. Terluka jelas hatinya, tapi benar juga apa yang dia dengar. Selama belasan tahun hidup bersama Mario, dia tak ubahnya hanya penyandang gelar istri Mario. Tapi berperan total sebagai istri, terutama dalam hal mengisi batin suami, tidak dia jalankan sepenuhnya.


Benar Soraya tak pernah punya inisiatif untuk melampiaskan rasa cinta kepada suaminya, hanya berupa kewajiban saja yang dia lakukan tanpa membalas luapan perasaan cinta kepada pasangan hidupnya.


"Terima kasih, Jim. Aku juga mulai sadar, tidak mungkin seratus persen Mario selingkuh. Pasti ada andil aku di dalamnya yang membuat dia berkeputusan mempunyai cinta lain dalam hidupnya. Ada bagian kesalahanku, dan ada bagian kesalahannya," ujar Soraya sambil menangis.


"Saat ini aku tak mungkin lagi bisa marah melampiaskan kekesalan kepadanya. Orangnya sudah tidak ada lagi, hanya penyesalan yang sekarang aku tanggung".


"Dalam setiap doa aku selalu minta ampunan dari Tuhan untuk suamiku, dan aku juga memohon agar aku juga bisa mengubah pola pikirku. Aku tak mau kelak anak-anak ketika dewasa dan menikah, harus mendapatkan kejadian yang sama dengan aku".


Jimmy tak bisa berkata apa-apa lagi, dia menepuk bahu kakak iparnya yang masih menangis lalu pamit memeriksa kunci pintu dan jendela di seluruh rumah.


Soraya mematikan laptopnya, lalu segera masuk ke dalam kamar tidur, terlihat kedua anak gadisnya sudah tidur terlelap.


Memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamar, Soraya segera mencuci mukanya.


Setelah itu, dia bertelut berdoa kepada Tuhan. Memohon ampun kepada Tuhan, karena setidaknya kesalahan yang suaminya lakukan ada andil dari dirinya yang mengantarkan suaminya berbuat perselingkuhan.


"Mama, sini tidur di sebelah Mega," bisik anak bungsunya yang terjaga saat Soraya selesai berdoa.


Mereka harus senantiasa menunjukkan rasa cinta kepada pasangannya masing- masing kelak.


Jimmy tengah berbaring di tempat tidurnya, jam dinding sudah menunjukkan hampir tengah malam.


Dia juga harus beristirahat, dilihatnya pesan chat di ponselnya. Terakhir yang dia terima dari Aliong sekitar jam sembilan malam tadi, rupanya Aliong dan tim di lapangan baru selesai melakukan pengeboran air. Dan Aliong mengirimkan informasi sebagai laporan kepada Jimmy sebagai atasannya.


Pesan singkat yang dia tunggu dari Kristy tak juga datang menghampiri ponselnya.


Jimmy melipat kedua tangannya di belakang kepalanya sambil berbaring dan merenung.


Ingat masa ketika dulu punya kekasih bernama Yanti, tiga tahun pacaran tapi Yanti malah punya kekasih lain bahkan sampai hamil dengan lelaki itu.


Kalau dihitung sebenarnya itu kejadian dua belas tahun lalu sebelum dia bekerja di kantornya Mario.


"Nikah.....sungguh gue juga ingin nikah, punya anak, punya istri yang bisa gue peluk. Tapi gue takut, sungguh rasa takut masih belum bisa hilang. Ditambah bang Rio juga sampai kejadian begini," batin Jimmy sambil berbaring.


"Entahlah, gue kagak bisa mikir. Terserah Kristy mau maafkan gue atau kagak. Belum tentu juga dia jodoh gue, anak orang kaya, apalah artinya gue. Sudah tidur saja, ngantuk gue".


Dalam hitungan detik, Jimmy sudah terlelap dan sedang bermimpi terbang ke awang-awang.


Tanpa Jimmy ketahui, setelah pulang dari rumah keluarga Jimmy, lantas Kristy segera ke rumah makan miliknya.


Untung malam itu tidak terlalu banyak pelanggan datang, biasanya memang di pertengahan minggu jarang didatangi banyak pelanggan.


Lain halnya di akhir minggu, pasti pengunjung tak bisa berhenti berdatangan.


Kristy segera memberikan kue panada hasil buatannya kepada seluruh karyawannya, terutama dengan sang koki masak dia berdiskusi panjang.


"Kalau pakai ikan tuna, memang enak tapi harganya mahal. Nanti siapa yang mau pesan," ujar sang koki masak.


"Pakai ikan tongkol, nanti besok aku coba beli ikan tongkol dan kita coba buat panada ikan tongkol," sahut Kristy.


"Cuma kalau ikan tongkol harus lebih pedas, sebab kalau tidak pedas akan ada rasa getir yang timbul dari ikan," koki masak memberi masukan lagi.


"Oke, besok pagi Oci sebelum kemari, mampir ke pasar membeli ikan tongkol. Ini uangnya sekalian kamu bawa," Kristy memberi tugas kepada Oci.


"Siap, sama apalagi boss cantik. Ini uangnya lebih pastinya," sahut Oci.


"Ini sedang aku catat, yang pasti cabai dan tomat juga harus banyak".


Setelah mencatat semua kebutuhan belanja, Kristy menyerahkan catatan belanja kepada Oci.


Terlihat oleh Oci, pada wajah Kristy seperti menyimpan cerita, maka segera dia bertanya kepada Kristy ada apa gerangan yang sedang dia rasakan.


"Roman-romannya ada cerita apa, nih.... dibalik belajar membuat kue panada?" goda Oci.


"Sok tahu, mau tahu saja," sahut Kristy sambil mencebik.


"Hmmm, bohong deh, masa cuma belajar doang tanpa ada kisah sesuatu".


"Hmmm, biasa Jimmy, tadi dia minta maaf. Tapi aku diam saja tidak menjawab apapun, lantas dia nanya mengapa aku diam saja. Kata aku nanti aku pikir dulu," Kristy nyerocos cerita soal Jimmy.


"Sudah, maafkan saja. Aku yakin dia selama ini menyesal pernah berkata seperti itu sama boss cantik," goda Oci lagi.

__ADS_1


Kristy diam saja, dia hanya angkat bahu lalu naik ke lantai atas menuju ruang pribadinya.


Oci cekikikan sendirian melihat tingkah bossnya, dia yakin kalau Kristy juga sebenarnya suka kepada Jimmy.


Pukul sembilan malam, akhirnya rumah makan tutup juga. Semua karyawan pulang, Kristy memastikan semua jendela dan pintu sudah terkunci rapat.


Setelah itu dia naik ke ruang pribadinya, menyalakan musik lalu berbaring di atas tempat tidurnya.


Ingin mencurahkan perasaannya kepada sahabat-sahabatnya, tapi dia segera ingat kalau semua sahabatnya sudah menikah.


Tak enak rasanya kalau mengganggu sahabatnya untuk sekedar mendengarkan curahan hatinya.


Semua sahabat dekatnya sudah lama menikah dan punya anak, tentu mereka semua sedang sibuk dengan keluarganya masing-masing.


Tiba-tiba perutnya merasa lapar, efek makan tidak jelas seharian makanya malam hari menjadi lapar.


Terpaksa harus turun ke bawah, untuk memeriksa lemari es, apakah ada buah apel di sana.


Saat turun tangga, dia kembali melihat ada bunga setangkai di meja kasir dengan tulisan "Maafkan aku".


"Hmmm, sudah kelima kali aku dapat bunga begini. Entah siapa yang meletakkan di sini. Terserah saja deh, aku malas memikirkannya," ujar Kristy sambil lanjut melangkah ke dapur.


"Untung masih ada apel," ujar Kristy senang.


Lalu dia mengambil sebuah apel dan segera naik ke atas lagi. Tanpa dia sadari ada bayangan hitam naik ke lubang udara di langit-langit dapur.


Di dalam kamar Kristy duduk di ujung tempat tidur sambil menikmati apel yang dia ambil dari lantai bawah tadi.


Kristy iseng gawai musiknya dia ubah dari disc diganti ke radio, dan mulai mencari channel radio kesayangannya.


"Hai, masih ditemani oleh Bela dan Elan, kita masih membahas soal memaafkan orang yang pernah kasar kepada kita. Oke, Elan, sudah ada berapa pesan masuk dari pendengar yang memberikan tanggapan soal bahasan kita," terdengar pembawa acara radio yang bernama Bela berkata seperti itu.


"Wow, banyak sekali Bela, sudah ada puluhan yang masuk. Aku bacakan beberapa yah, ini ada dari Gugum tato katanya maafkan sajalah, siapa tahu waktu itu orang yang ngomong lagi khilaf," sahut Elan salah satu pembawa acara lainnya yang sama-sama sedang membawakan acara malam itu.


"Kalau ini dari Nita centil, maafkan saja siapa tahu jodoh. Hahahaha, berarti dia pernah diomongin kasar sama cowok".


"Tapi jangan salah Bela, ada juga cowok yang memang sok angkuh tapi sebenarnya suka banget sama cewek itu".


"Pura-pura tak mau, padahal mau banget, yah".


"Kalau ada cowok kayak gitu ke kamu, bakalan gimana kamu Bela?".


"Kalau ganteng sih gue maafin, kalau jelek kayak elu, gue bakal pertimbangkan. Hahahaha".


"Nah, kalau jelek kayak gue tapi tajir, gimana?" tanya Elan.


"Gue maafin dong, kan tajir. Hahahaha".


"Dasar Bela matre".


"Enak saja, dasar Elan. Gue cubit nih sampai biru".


"Hahahaha, penyiksaan. Daripada mendengar aku disiksa Bela, lebih baik kita dengarkan tembang terbaru urutan kelima di minggu ini. I'm sorry my love, dari the blue hearts".


Terdengar lantunan lagu merdu yang dibawakan salah satu grup band terkenal mancanegara.


Kristy setidaknya merasa sedikit tersentil dengan pembicaraan kedua pembawa acara, ditambah lagi lirik lagu merdu yang isinya tentang seorang pria yang minta maaf atas ucapan kasar yang tidak disadarinya.


Setelah sekian jam mendengar ocehan pembawa acara radio soal permintaan maaf, lalu disambung banyak lagu-lagu cinta bernada sendu merayu baik yang dibawakan artis mancanegara maupun dari dalam negeri sendiri.


Akhirnya tepat tengah malam ketika acara berakhir, sebelum tidur, Kristy menekan tombol chatnya dan mengetik sebuah kalimat yang dia tujukan kepada Jimmy.


"Forgiveness for new beginning".


(Memaafkan sebagai awal lembaran baru)


Tapi setelah pesan terkirim, sampai esok paginya Kristy tidak mendapat jawaban apapun dari Jimmy.


Esok paginya jam enam pagi, Kristy sudah bangun dan bersiap untuk lari pagi.


Melirik ponselnya dan terlihat tanda kalau Jimmy sudah membaca chatnya sejak setengah jam yang lalu.


"Rupanya semalam Jimmy monyong sudah tidur, baru baca chat pagi ini setengah jam yang lalu. Sampai sekarang tidak membalas chat aku. Menyesal aku kirim pesan begitu kepadanya," ujar Kristy dengan kesal, lalu dia segera turun ke bawah dan lari pagi di sekitar komplek tersebut.


Tanpa Kristy tahu, sebenarnya Jimmy sedang memelototi ponselnya sambil membaca pesan Kristy berulang kali.


Setengah jam lamanya dia berpikir keras makna dari kalimat yang Kristy kirim kepadanya.


Bahkan setelah mandi dan sarapan juga, Jimmy masih memikirkan kalimat itu.


"Kak Aya, maksud kalimat dari forgiveness for new beginning, itu apa sih?" tanya Jimmy kepada kakak iparnya yang seorang dosen bahasa Inggris.


"Memaafkan untuk membuka lembaran baru, memangnya kenapa? Hmmm....curiga deh, pasti dapat pesan dari cewek," sahut Soraya sambil menggoda adik iparnya.


"Oh, bukan, itu dari status teman di media sosial," jawab Jimmy asal saja.


"Tapi pasti cewek, kalau cowok yang buat, mana mungkin kamu memikirkannya," ujar Soraya sambil membuat roti selai untuk anak-anaknya.


Jimmy tidak menjawab, cuma diam saja pura-pura tidak mendengar yang dikatakan Soraya.


"Jim, waktu kamu masih SD dan suka ikut mamih ke tempat senam yoga. Ingat tidak sama dedek putih, mata bulat?" tanya Oma Regina sambil duduk di meja makan.


"Hmmm, ingat-ingat lupa, kalau tidak salah mamanya anak itu bule kulitnya pucat banget. Anak itu juga masih kecil, dua atau tiga tahunan gitu umurnya, gemuk lucu, kulitnya putih, matanya bulat kayak kelinci," sahut Jimmy sambil mengingat-ingat kejadian dulu ketika dia masih sekolah dasar.


"Iya, mamanya anak itu adalah ibu Ivanna Romanov Handoyo, dan anaknya itu Kristy," ujar Oma Regina santai.


"Uhuk...uhuk...uhuk...!!!"Jimmy tiba-tiba tersedak.


"Kenapa kamu, Jim?" tanya Soraya.


"Astaga, mamih....jadi Kristy itu adalah anak itu?" Jimmy terkaget-kaget.


"Iya, mamih tahunya kemarin saat Kristy kemari. Waktu mamih tanya dia anak siapa, ternyata anaknya ibu Ivanna. Tentu saja mamih kenal baik dulu dengan beliau," Oma Regina dengan santai menjelaskan.


"Cie....cie....tenyata berjodoh sejak kecil....ehem...ehem...


sebentar lagi ada menantu baru di rumah ini," goda Soraya.


"Dasar kak Aya, mana aku tahu kalau dia itu anak kecil yang dulu suka aku goda. Sekarang kan sudah besar begini, nyaris tua pula," sahut Jimmy sok mengelak.


"Den Jimmy, ayo cepat nikah. Biar Atik ada kerjaan lagi, masih kuat nih kalau ngurusin bayi sih," ujar bik Atik yang tiba-tiba ikut nimbrung.


Jimmy tidak menjawab, wajahnya terlihat bingung. Mau balas chat saja masih tidak tahu harus mengetik apa, ditambah mendengar cerita baru kalau Kristy tenyata anak kecil yang dulu suka dia goda sekaligus dia jaga.

__ADS_1


Ingatan puluhan tahun yang lalu kembali hadir, dia ingat kalau ikut ibunya ke tempat senam yoga pasti akan merasa senang karena akan bertemu dedek putih mata bulat.


__ADS_2