PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Saat Ramadhan 2


__ADS_3

Soraya sangat sibuk sekali pagi ini, karena si bungsu Mega wisuda kelulusan SMP.


Sejak pagi buta dia sudah menyiapkan pakaian kebaya untuk anaknya.


Mega sudah siap untuk dirias dan sedang duduk manis di hadapan meja rias di dalam kamar tidur ibunya.


Mega tidak mau dandan ke salon, jadi Soraya sendiri yang mendandani anaknya.


Walaupun Soraya tidak terlalu pandai menggunakan kosmetik, tp anaknya tampak bahagia dengan hasil tata rias ibunya.


"Mama tidak bisa bikin sanggul," keluh Soraya sambil memegang ujung rambut anak bungsu itu.


"Di ikat biasa saja, tidak usah disanggul segala rupa. Aku senang biasa saja. Rambutnya kan pendek, gerai saja, nanti pakai jepit saja," pinta Mega.


"Ini aku punya jepit rambut bling-bling, biar agak cantik sedikit adikku," sela Maya yang tiba-tiba masuk ke kamar ibunya.


Lalu Soraya menyematkan jepit rambut yang berkilau ke rambut anaknya.


"Tuh kan, gini saja. Aku lebih nyaman begini saja," ujar Mega terlihat senang.


Soraya menghela nafas, lalu tersenyum sambil memandang wajah anaknya.


Riasan wajah yang amat sederhana, dan tataan rambut yang juga sederhana.


Tapi itu memang keinginan anaknya, walau dalam hati ingin membawa anaknya dandan ke salon agar terlihat berbeda.


Tapi apa mau dikata, anak bungsunya sulit dibujuk. Kalau inginnya begitu, ya harus diikuti keinginannya.


Selesai Mega didandani, lalu Soraya juga segera merias diri dan tukar pakaiannya.


Acara wisuda kelulusan anaknya itu harus dihadiri oleh orangtua.


Ada rasa sedih dihatinya saat turun tangga dan melihat anaknya yang sedang duduk menunggunya.


Setidaknya beberapa tahun lalu ketika Maya lulus SMP, masih ada Mario dan dirinya menghadiri acara yang sama.


Tahun ini Mega harus menjalani acara kelulusannya tanpa ada ayahnya lagi.


Hanya Soraya dan Mega yang berangkat ke sekolah, Maya tidak ikut karena sudah libur kenaikan kelas. Jadi memilih di rumah saja menonton drama korea.


Sekolah anak-anaknya Soraya memang berada dalam satu kawasan besar.


Ada gereja dan juga ada ruangan serbaguna yang digunakan untuk berbagai acara.


Setibanya di halaman parkir sekolah, ternyata sudah sangat padat mobil-mobil dan sepeda motor berjejer berbaris terparkir.


Mereka mendapat tempat parkir hampir di ujung jalan, sehingga harus berjalan cukup jauh menuju gedung serbaguna yang terletak di sayap utara sekolah tersebut.


Saat berjalan menuju gedung serbaguna terlihat hampir rata-rata teman-temannya Mega terlihat cantik karena sepertinya dandanan dari salon.


Tapi Mega terlihat santai saja, dia tidak peduli dengan teman-temannya yang berdandan luar biasa.


Mega santai saja dengan penampilannya, dan tampak percaya diri saja.


Memasuki gedung serbaguna, dia langsung mencari tempat duduk yang sebelumnya sudah ditentukan oleh gurunya.


Sementara Soraya naik ke lantai dua ke balkon, karena orang tua siswa semua duduk di sana.


Sambil senyum, dia melewati beberapa orang untuk mendapatkan kursi kosong yang letaknya di ujung belakang kiri di samping jendela.


Tampak belum ada orang yang duduk di sekitar deretan kursi itu, kebanyakan para orang tua siswa duduk di jejeran depan.


Ketika sedang membaca kertas daftar acara, tiba-tiba ada seorang pria menegurnya.


"Maaf, apakah anda Soraya?" tanya pria itu.


Soraya menoleh, menatap wajah pria yang tampaknya tidak asing baginya.


"Deni?"Soraya bertanya balik.


"Nah, kan, benar Soraya," Pria yang disapa Deni itu mengacungkan jari telunjuknya ke arah Soraya.


"Ya ampun, Deni. Waduh.... tak sangka, bisa ketemu di sini," ujar Soraya sambil terlihat sangat terkejut bercampur senang.


"Kemana saja Soraya, aku mencari kamu bertahun-tahun. Baru ketemu sekarang. Sungguh aku juga tidak sangka bisa ketemu kamu lagi," tutur Deni penuh semangat.


"Iya, sejak lulus SMA, aku hilang kontak dengan semua teman," sahut Soraya.


"Benar, kamu hilang. Padahal si Dame, si Sondang, si Nita, si Tedi termasuk aku, semua mencari kamu".


"Ramai-ramai kami semua mencari ke rumahmu. Eh... kata orang sudah pindah entah kemana".


"Dasar Soraya si minder, hilang begitu saja ditelan bumi. Kemana saja kamu selama ini?" tanya Deni sambil terlihat sedikit kesal.


"Hahahaha...si minder, masih ingat saja julukan aku seperti itu," Soraya tertawa geli.


"Aku pindah rumah, ayahku meninggal dunia ketika kita baru lulus SMA dulu. Lalu aku dan ibuku pindah mencari kontrakan rumah yang lebih murah".


"Aku malu ketemu teman-teman, kalian semua kuliah. Sementara aku harus kerja jadi pelayan toko, pulang kerja jadi buruh cuci setrika. Tak ada waktu untuk mencari kalian," lanjut Soraya sambil senyum kecut.


"Tapi sekarang bisa menyekolahkan anak di sekolah ini. Lalu tampilan kamu juga keren begini. Lu dapat undian?" tanya Deni menggoda.


Soraya tidak menjawab, dia hanya tertawa saja mendengar pertanyaan Deni.


"Kamu kerja atau ibu rumah tangga saja?" tanya Deni lagi.


"Aku ngajar, Deni," jawab Soraya.


"Dimana?".


"Kampus".


"Hah!!! minder!!! elu jadi dosen?!!!" Deni terbelalak mendengar jawaban Soraya.


Melihat Deni begitu terkejut, Soraya terkekeh saja.


Tiba-tiba terdengar dari podium, pembawa acara menyampaikan bahwa acara wisuda akan segera dimulai.


"Aku minta no kontakmu,"kata Deni sambil mengeluarkan ponselnya.


Soraya menyebutkan angka, Deni mengetik dan menyimpan nomor tersebut.


"Aku duduk di sana, soalnya aku sama mama. Biasa nenek ingin lihat cucunya. Kamu mau gabung?" ajak Deni.


"Tidak, silahkan kamu di sana temani mamamu. Aku di sini saja, anakku lebih kelihatan dari sisi sini," sahut Soraya sambil tangannya menunjuk ke bawah ke arah Mega.


"Aku undang kamu di grup chat, teman kita semua di situ".


Soraya mengangguk, lalu


Deni meninggalkan Soraya, sambil memberi kode tangan kepadanya.


Tak lama dari ponsel Soraya terdengar bunyi, lalu Soraya lihat dan nomornya sudah masuk disebuah grup chat.


Suara denting diubahnya menjadi getar agar tidak berisik, karena Soraya langsung sibuk dengan grup chat tersebut.

__ADS_1


Soraya Wongso, Deni Gusman, Tedi Joyo Purnomo, Anita Latuheru, lalu dua sepupu yaitu Dameria Pakpahan dan Sondang Sirait. Nama-nama itu adalah sahabat ketika SMA dulu, selalu berenam sejak kelas satu sampai lulus.


Hanya Soraya saja yang tiba-tiba menghilang bagai ditelan bumi.


Kelima sahabatnya ternyata selama ini mencarinya, dan baru sekarang Soraya ditemukan oleh Deni.


Sekarang mereka kumpul lagi dan langsung seru, grup chat langsung heboh meluncurkan ratusan kalimat kebahagiaan karena Soraya bisa ditemukan lagi.


Sampai akhirnya tercetus janji untuk bertemu esok harinya.


"Besok jam lima sore, ketemu di Big Beauty Resto. Reuni kita semua sambil sekalian Tedi buka puasa. Buka bersama sekalian kita semuanya".


Itu kalimat ajakan dari Deni yang langsung disambut gembira oleh semuanya.


Acara wisuda masih berlangsung, setelah para siswa menerima tanda kelulusan, lalu mereka satu persatu mencari orang tua mereka dan memberikan sekuntum bunga yang sudah disediakan oleh panitia sekolah.


Sekuntum bunga mawar tanda terima kasih untuk orang tua yang sudah membesarkan, memberikan kasih sayang dan mendidik di rumah.


Mega memeluk erat Soraya ketika memberikan bunga mawar kepadanya ibunya itu.


Keduanya berpukan dan tak terasa air mata berlinang, bahkan Mega sampai sesegukan.


Walau tak ada kata terucap, tapi sudah pasti di dalam hati keduanya tersimpan duka karena Mario ayahnya tidak bersama lagi.


Padahal hari wisuda ini adalah momen yang dulu sangat ditunggu oleh Mega.


Karena dia pernah bilang kepada Mario dulu, kalau nanti di hari kelulusan sekolahnya, dia ingin foto sekeluarga di salah satu studio foto.


Waktu itu Mario mengiyakan, dan mereka juga sudah memilih studio foto yang akan mereka jadikan tempat foto sekeluarga.


Namun semua itu tidak bisa terjadi, dan rupanya Mega memang sengaja tidak mau dandan ke salon.


Mega sedih kalau ingat itu, oleh karenanya Mega berdandan biasa saja, sebab yakin dia akan menangis di acara wisudanya.


Terdengar panggilan dari podium agar para siswa kembali ke tempat duduk masing-masing.


Mega mengatur nafasnya, Soraya juga mulai agak resah takut sesak nafas anaknya kambuh.


Tapi Mega cepat menguasai dirinya, dan dia baik-baik saja. Soraya mencium pipi dan kening anaknya.


"Papa juga melihat dari sana sayangku".


Mega tersenyum sambil menganggukan kepalanya, lalu dia kembali lagi ke tempat duduknya.


Tak lama acara selesai sudah, para siswa di lantai bawah terlihat sedang bersalaman dengan guru-gurunya yang berjejer di sepanjang pintu keluar.


Orang tua siswa juga mulai beranjak turun ke lantai bawah, terlihat Deni sedang sibuk memapah seorang ibu tua.


Rupanya itu ibunya Deni seperti yang tadi dia sampaikan ke Soraya.


Deni dan ibunya turun dari tangga sebelah kanan dan Soraya turun dari tangga sebelah kiri.


Deni hanya melambai dan memberi kode tangan kepada Soraya karena dia tak mungkin menemui Soraya, dia harus memegangi ibunya.


Soraya ternyata sudah berada di luar gedung lebih dahulu dibandingkan Mega yang masih bersalaman dan berfoto dengan teman-temannya juga guru-gurunya.


Saat sedang menanti Mega, tiba-tiba seorang guru laki-laki menghampirinya.


"Ibu Soraya?" sapa guru itu.


"Oh, pak Tobias," sahut Soraya yang terkejut dihampiri kepala sekolah.


"Apa kabar, pak?" lanjut Soraya.


"Baik, bu. Aduh, saya mau minta maaf sama ibu. Kemarin ini saya tidak bisa hadir ke pemakaman bapak," ujar pak Tobias seraya meminta maaf.


"Ya...itulah, waktu itu saya sedang ada pelatihan untuk sertifikasi kepala sekolah di kota Bandung. Jadi saya tidak bisa hadir".


"Setelah pelatihan mau sempatkan diri ke rumah ibu, ada saja halangan dan kesibukan. Saya jadi tidak enak hati," pak Tobias melanjutkan alasannya tidak bisa hadir pada waktu pemakaman Mario.


"Tidak apa-apa, pak. Saya malah berterima kasih atas perhatian pihak sekolah. Ibu wali kelas sudah menyampaikan kepada saya waktu itu," Soraya berusaha menenangkan hati pak Tobias.


"Baik bu, sama-sama, semoga Tuhan selalu memberkati ibu dan anak-anak".


"Sama-sama, Tuhan juga memberkati bapak dan keluarga".


Lalu Pak Tobias pamit menuju ke dalam gedung serbaguna lagi.


Hari itu sebenarnya adalah hari jum'at, sebagian besar pekerja lapangan di tempat konstruksi yang sedang digarap oleh perusahaan Jimmy sedang melaksanakan ibadah Jumatan di salah satu Masjid terdekat.


Jimmy dan Aliong sejak pagi keliling lokasi pembangunan, memeriksa dengan teliti setiap tahap pekerjaan di sana.


"Ko Aliong, sudah tengah hari. Kita makan dulu, dimana warung nasi yang tertutup di dekat sini. Tidak enak sama yang sedang puasa kalau kita makan di lokasi," ajak Jimmy.


"Ada di seberang jalan, warung nasi padang. Kalau hari biasa sih si mbak warung tenda sini jualan. Cuma karena puasa, jadi mereka sore jualannya," kata Aliong menjelaskan.


Jimmy menganggukan kepalanya setuju, lalu mengajak Aliong ke warung nasi padang di seberang jalan.


Warung nasi padang semua jendelanya tertutup tirai, bahkan pintu masuknya juga dihalangi kain penutup.


Namun betapa terkejutnya Jimmy dan Aliong ketika masuk ke dalamnya.


"Fer, lu kaga puasa?" tanya Aliong dengan wajah terkejut.


Ferry yang sedang menikmati makan siangnya juga terperanjat.


"Eh, boss...hehehehe, ko Aliong...hehehehe, kemari juga yah," sahut Ferry sambil cengar cengir.


"Parah lu sih, kaga puasa, kaga Jumatan. Dari tadi di sini dong, yah...?" tanya Jimmy.


"Hehehehe, iya boss, kaga kuat, lapar boss, takut pingsan," jawab Ferry seenaknya.


Lalu Jimmy dan Aliong memesan nasi rendang, dan makan bersama Ferry.


"Kalau di rumah elu puasa?" tanya Aliong sambil makan.


"Puasa dong, nanti bini ngomel kalau kaga puasa. Gue sih sahur ikutan, nanti maghrib buka puasa ikutan juga. Cuma siang kaga kuat lapar, jadi terpaksa makan," sahut Ferry sambil senyum-senyum.


Jimmy hanya geleng-geleng kepala saja, diam-diam Jimmy mengetik sesuatu di ponselnya dan mengirimkan chat kepada Marsela.


Di kantor Marsela terkekeh sendiri saat membaca pesan dari Jimmy. Lalu dia mempersiapkan sesuatu, dan tak lama masuk ke ruangan Jimmy dan menguncinya dari dalam.


Karyawan lain yang melihat langsung saling bisik-bisik, semua menduga kalau Marsela sedang menjalankan proses transaksi transfer THR (Tunjangan Hari Raya) ke rekening masing-masing.


"Biasanya setiap tanggal gajian juga ibu Sela pasti mengunci diri di ruangan boss. Berarti hari ini THR cair," ujar salah satu karyawan.


"Iya semoga saja benar, aku mau beli baju baru untuk anak," sahut yang lainnya.


Semua saling berbisik-bisik berharap bahwa yang sedang dilakukan oleh Marsela adalah benar sesuai harapan mereka.


Dan benar saja sekitar satu jam kemudian, Marsela menyampaikan pesan di grup chat perusahaan.


"Kepada semua karyawan, THR tahun ini sudah dibayarkan kepada setiap karyawan yang berhak menerimanya. Mohon dapat digunakan dengan sebijak mungkin. Semoga berkah untuk semua karyawan dan keluarga. Terima kasih".


Tentu saja pesan yang muncul di grup chat ini menjadi angin segar bagi seluruh karyawan.

__ADS_1


Langsung saja Ferry tampak sibuk, dia bergegas meminjam sepeda motor Aliong dengan alasan mau ke supplier bahan bangunan.


Padahal Jimmy dan Aliong tahu kalau dia mau ke ATM untuk cek saldo rekeningnya.


Jimmy hanya tersenyum saja, dalam hatinya merasa geli melihat tingkah Ferry.


Sementara di kota Semarang, Fuad dan Aletha sedang buka puasa bersama.


"Sudah seminggu aku di Semarang, buka puasa diberi makan enak terus sama ibu dokter. Terima kasih, ibu dokter baik sekali," godaan Fuad kepada Aletha di suatu rumah makan di sudut kota Semarang.


"Sama-sama, saya juga terima kasih kepada bapak insinyur. Saya yang mengajak makan, tapi saya yang dibayarin," balas Aletha.


Lalu keduanya tertawa, memang keduanya semakin hari semakin akrab saja.


"Besok aku pulang dulu ke Cirebon, nanti subuh aku mulai jalan bersama teman kantor yang lain," ujar Fuad sambil menikmati ayam garang asem.


"Tapi nanti setelah Idul Fitri harus datang ya ke pernikahan adikku," Aletha terlihat meminta kehadiran Fuad lagi.


"Insyaallah, tapi di hari Idul Fitri nanti aku tidak akan ke Semarang. Aku sudah janji dengan keluarga mertuaku akan kumpul bersama," sahut Fuad.


"Tidak apa-apa, asal nanti harus datang ke pernikahan Magenta. Kalau tidak datang, aku marah berat," ujar Aletha sok merajuk.


"Hehehehe, insyaallah, aku ingin datang. Semoga saja tidak ada halangan," sahut Fuad lagi.


"Aamiin, semoga tidak ada aral melintang," sahut Aletha juga.


Sudah seminggu selama Fuad di Semarang, setiap hari mereka menghabiskan waktu berdua setelah jam kerja.


Berawal dari Fuad yang menyambangi klinik gigi milik Aletha, namun keesokan harinya Aletha yang menjemput Fuad setiap hari.


Buka puasa bersama, bahkan teraweh bersama. Baru usai teraweh, mereka mengobrol lagi sebentar entah di Cafe atau di angkringan.


Setelah itu Aletha mengantar Fuad ke hotel, dan setelahnya Aletha segera pulang ke rumah orang tuanya.


"Maaf, aku belum sempat bertandang ke rumahmu. Nanti suatu saat kalau ke Semarang lagi, aku pasti menyempatkan diri ke rumahmu," ujar Fuad sambil menatap Aletha.


Ditatap begitu, membuat Aletha jadi salah tingkah dan otomatis wajahnya menyemburat memerah.


"Tidak apa-apa, memang aku juga tidak mengundang mas ke rumahku, kok," kilah Aletha.


"Kok gitu?" Fuad mengernyitkan dahi.


"Iyalah, janda mengundang lelaki ke rumah, apa tidak jadi bahan omongan orang," sahut Aletha sambil menyipitkan matanya.


"Hahahaha, kan yang mau bertamu juga duda," balas Fuad sambil tertawa geli.


"Hmmm, nanti saja lain kali. Aku belum siap menerima tamu laki-laki. Janda seperti aku lain dengan waktu gadis dulu".


"Waktu gadis dulu, teman laki-laki ke rumah, ngobrol, kumpul rame-rame. Wajar saja anak kuliah".


"Janda bawa teman laki-laki, pasti jadi sorotan. Banyak pertanyaan dari sana sini, omongan itu ini...bikin pusing kepala".


"Jadi aku tidak akan membawa atau mengundang teman laki-laki siapapun juga ke rumahku. Kecuali suatu saat nanti dengan orang yang sudah pasti jadi suami, baru aku bawa," ucap Aletha berapi-api.


"Jadi syaratnya apa agar bisa menjadi laki-laki yang diundang ke rumahmu?" Fuad jadi penasaran.


"Ah...tidak ada syarat tertentu, aku tidak punya kriteria kalau misal akan menikah lagi, cari suami yang bagaimana atau bagaimana. Yang pasti yang bisa menerima aku, anakku dan keluargaku," jawab Aletha lagi.


Mendengar jawaban itu, Fuad hanya tersenyum saja tidak berkomentar lagi.


Kembali lagi ke rumah Soraya, yang saat ini tengah duduk santai bersama Mega.


"Mega, apakah ada temanmu yang nama belakangnya pakai Gusman?" tanya Soraya.


"Oh, ada, dia kelas tiga D kalau tidak salah. Belum pernah sekelas tapi kenal lumayan baik. Suka ngobrol kalau ketemu di perpustakaan. Namanya Yacob Gusman," jawab Mega menjelaskan.


"Tapi kasihan loh, dia itu cacat kakinya".


"Cacat bagaimana?" Soraya terheran-heran.


"Iya, dia itu kaki kirinya kalau tidak salah kecil sebelah. Katanya sejak masih kecil karena sakit polio," kata Mega melanjutkan ceritanya.


"Oh, kasihan juga yah," Soraya merasa terenyuh.


"Memang kasihan, dia cerita sama aku, begini mama. Katanya ibunya pergi meninggalkan dia waktu kecil. Jadi Yacob itu dari kecil yang mengurusnya adalah neneknya".


"Kata dia, ayahnya itu tukang bikin bakso. Tapi bukan yang jualan keliling, itu tuh kayak pabrik bakso gitu".


Mega bercerita tentang temannya penuh semangat.


Mendengar kata bakso, tiba-tiba Soraya jadi senyum-senyum sendiri.


Dia ingat memang dulu waktu sekolah, Deni ayahnya Yacob temannya Mega selalu dipanggil si Bakso.


Dulu ayahnya Deni adalah pembuat bakso, mungkin usaha keluarganya dilanjutkan oleh Deni.


"Kok mama nanyain Yacob Gusman, ada apa sih mama?" Mega merasa aneh.


"Enggak, tadi siang mama di acara wisuda bertemu sama teman waktu SMA dulu. Mungkin itu ayahnya Yacob teman kamu," sahut Soraya.


"Oom Deni, bukan?".


Soraya menganggukan kepala.


"Oh, oom Deni itu teman mama?".


"Iya, hehehehe, dulu waktu sekolah oom Deni itu dijuluki Bakso sama teman-teman. Karena memang orang oom Deni itu pengusaha bakso," Soraya menerangkan kepada Mega.


"Mama pacaran sama oom Deni?" Mega menyelidiki.


"Astaga, baru juga tadi siang ketemu lagi sama oom Deni itu. Sudah puluhan tahun mama tidak bertemu sama teman sekolah," Soraya sewot.


"Kirain".


"Awas saja, mama jangan pacaran sama oom Deni. Aku tidak mau kalau harus jadi saudaranya Yacob. Biar dia baik juga tapi aku tidak mau," Mega cemberut kesal.


"Ya ampun, itu cuma teman sekolah dulu. Tidak ada pacaran segala. Kamu suka melantur kalau diajak ngobrol tuh," Soraya geleng-geleng kepala.


"Enak padahal punya saudara tukang bakso, tiap hari kita kenyang makan bakso," seloroh Maya yang tiba-tiba muncul.


"Kakak saja sana".


Soraya menoleh ke arah Maya, lalu keduanya tertawa terkekeh. Lucu melihat Mega terlihat begitu posesif kepada ibunya.


Malam itu Ferry duduk di depan teras rumahnya. Dia sampai menginstal ulang aplikasi bank agar bisa mengecek rekeningnya.


Aplikasi bank yang sempat error dan dihapus olehnya waktu itu.


Entah sudah berapa puluh kali dia memeriksa rekeningnya, dan yang tampil selalu saldo dengan angka lima puluh lima ribu rupiah alias saldo minimal yang harus mengendap di rekening.


Sempat dia mengirimkan chat kepada Jimmy mempertanyakan THR nya, tapi hanya tanda dibaca saja, tak ada jawaban apapun dari Jimmy.


Sampai tengah malam, akhirnya Ferry putus asa. Dia menyerah dan mencoba untuk tidur.


Lewat tengah malam, Jimmy lalu melakukan transfer ke rekening Ferry. Dan menjawab chat dari Ferry.

__ADS_1


"Sorry Fer, THR nya lupa di transfer. Gak apa-apa yah, kan elu juga suka lupa puasa".


__ADS_2