PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Rumah Tangga dan Amarah


__ADS_3

Setelah melewati malam pertama dengan Mario, maka pagi ini adalah hari baru bagi Soraya menjadi istri seorang pria.


Dia membuka matanya dan melihat di sampingnya ada seorang lelaki tidur dengan nyenyaknya.


Semalam Soraya sudah menyerahkan seluruh kesucian yang dijaganya selama ini kepada lelaki itu.


Rasanya hampir tak percaya kalau kini dia sudah menyandang gelar Nyonya Mario Maliangkay.


Soraya bangkit dari tempat tidur, lalu menuju kamar mandi dan membasuh dirinya di bawah kucuran air yang memancar dari shower di kamar mandi itu.


Bagian intim tubuhnya masih terasa sakit dan perih, tapi dia berusaha menahan rasa itu karena bagaimanapun sekarang dia sudah punya kewajiban untuk melakukan keintiman bersama suaminya.


Selesai mandi dan berpakaian, lalu dia meraih seprei putih yang semalam sudah dia sisihkan.


Ada noda merah di seprei itu, darah perawan yang sudah dia serahkan kepada suaminya.


Soraya keluar kamar dan mencuci seprei tersebut.


Mereka tinggal di sebuah komplek perumahan sederhana, dan status rumah yang mereka tempati ini adalah sewa.


Entah apa alasan Mario menyewa rumah ini selama dua tahun dan sudah lunas dibayar dimuka.


Sebenarnya bisa saja dia mendirikan rumah sendiri karena pekerjaannya berhubungan dengan membangun bangunan dan lain-lain.


Tapi Soraya tidak bertanya atau protes apapun, dia hanya menerima saja apa yang sudah disediakan oleh Mario.


Setelah mencuci seprei dan menjemurnya, lalu dia menuju dapur rumahnya. Hanya ada kompor gas lengkap, panci dan wajan.


Jam dinding menunjukkan pukul enam pagi, kebiasaan di rumahnya jam segini bangun pagi dan membuat sarapan.


Lemari es dibuka, dan kosong melompong hanya ada 1 botol air mineral saja.


Soraya dengan perlahan membuka pintu kamar tidurnya, dan Mario masih terlihat tidur nyenyak.


Lalu Soraya membuka tas tangan miliknya dan membuka dompet, tenyata ada selembar uang lima puluh ribu dan dia segera membawanya.


Di halaman depan rumah dia kebingungan sendiri, jalanan sepi tak ada orang satupun, dan tak terlihat ada penjual sayur mayur keliling seperti yang selalu lewat di gang depan rumahnya dulu.


"Eh, pengantin baru sudah bangun pagi begini, mau kemana?"tiba-tiba terdengar suara dari samping rumahnya.


"Oh, selamat pagi bu, saya mau mencari pedagang sayur keliling, apakah ada yang lewat di perumahan ini?"tanya Soraya.


"Owalah...pengantin baru pandai memasak rupanya, kenalkan saya Tina, tapi di perumahan nama bekennya adalah Ibu Soni. Karena suami saya namanya Soni Samudera," ujar tetangga samping rumah sambil mengulurkan tangan.


Soraya menjabat tangan itu dan berkata sambil malu- malu," Saya Soraya, tapi mungkin akan dipanggil Ibu Mario yah".


"Hahaha...yaitu kalau kita perempuan sudah menikah pasti nama kita hilang dan dimanapun dipanggil dengan nama suami kita...hahahah," sahut Tina atau Ibu Soni sambil tertawa.


"Mau mencari lauk dan sayur, ayo kita jalan bersama. Di perumahan sini jarang lewat karena jarang yang membeli. Kebanyakan suami istri bekerja jadi rumah sering kosong kalau pagi hari," Tina menjelaskan kepada Soraya.


"Jadi bagaimana kalau mau membeli sayur mayur, Bu Tina?" tanya Soraya bingung.


"Ayo ikut saya, sekalian saya juga mau membeli sayuran. Eh....tapi sudah kuat jalan nih?".


Soraya senyum sambil menunduk malu, dan Tina terus menggoda sang pengantin baru sambil berjalan kaki menuju warung sayuran tak jauh dari rumah mereka.


Di warung itu banyak sekali macam sayur dan ikan juga daging, lalu Soraya membeli sekilo beras, telur dan beberapa bumbu dapur.


Dia ingat pesan ibu mertuanya kalau Mario setiap pagi harus minum kopi, tapi dia tak paham kopi macam apa yang diminumnya. Lalu dia mengambil satu merek kopi rencengan, dan kalau tak salah merek yang tertera cukup terkenal.


Lalu Soraya dan Tina yang sama-sama sudah selesai berbelanja kembali berjalan pulang ke rumah.


"Bu Tina...".


"Panggil saja Tina, kita seumuran kok, cuma aku lebih dulu menikah dan punya anak. Jadi aku lebih paham gaya...hihihi".


Soraya senyum lagi dengan wajahnya memerah.


"Tina, maaf apakah boleh kalau aku meminjam beberapa peralatan rumah tangga karena di rumah kami belum ada apapun?"tanya Soraya sambil tak enak hati.


"Tentu boleh dong, aku paham sekali namanya pengantin baru tinggal di rumah baru, pasti belum punya apapun. Ayo nanti ke rumahku saja yah kalau butuh sesuatu".


Soraya mengucapkan terima kasih, dan berjanji nanti akan mampir kalau butuh sesuatu untuk sementara.


Lalu Soraya masuk ke dalam rumah, dan ketika menutup pintu rumah.


"Darimana saja kamu? sejak tadi aku cari tak ada," ujar Mario terdengar seperti kesal.


Soraya segera menoleh dan menjawab perlahan, " Maaf Bang, saya dari warung membeli beras dan telur untuk membuat sarapan".


"Mengapa tak bilang padaku dulu? seharusnya kamu ijin padaku kan sekarang kamu ini istriku".


Soraya terkesiap dan badannya menggigil ketakutan mendengar apa kata Mario.


"Maaf, tapi tadi Bang Rio masih tidur nyenyak jadi saya pikir saya mencari penjual sayur atau warung untuk sekedar membeli bahan makanan".


"Ya sudah, aku mau mandi. Lain kali kalau aku di rumah harus ijin dulu kalau mau pergi kemanapun, kamu istriku dan aku tak mau harus mencari dan memanggilmu kemana- mana. Paham kan?".


Soraya mengangguk sambil tertunduk, lalu dia segera menuju dapur menjerang air, menyeduh kopi untuk suaminya.


Mario selesai mandi, lalu masuk kamarnya dan segera berpakaian, handuk basah dia lempar saja di atas tempat tidur yang masih berantakan.


Keluar kamar tidur dilihatnya ada segelas kopi, lalu dia duduk di kursi dan mengangkat gelas berisi kopi itu.


Mario mulai menyeruput kopi hitamnya dan..


"Cuih...pfftt...cuh...cuh...kopi apa ini!!!".


Soraya terkejut dan segera menghampiri Mario yang sekarang tengah berdiri sambil meludah karena menghirup kopi yang tak disukainya.


"Iiiittuuu kopi rencengan yang tadi aku beli dari warung," ujar Soraya gemetar.


"APA!!!!!".


"Aku tak suka kopi begitu, mengapa kamu kemarin tidak membawa kopi dari rumah Mamihku?"tanya Mario dengan kesal.


"Iya maaf, saya lupa kemarin ini menanyakan dan meminta kopi untuk Bang Rio dari rumah Mamih. Nanti saya tanya sama Mamih, maafkan saya Bang Rio".


"Ini hari pertama kita menikah, aku sudah dibuat kesal dua kali olehmu, tadi kamu hilang entah kemana, sekarang kamu beri aku kopi murahan. Kopi begini membuat aku sakit perut saja tahu!!!".


Soraya memejamkan matanya, dia merasa sedih karena ternyata pernikahan ini diawali dengan sesuatu yang tidak indah.


"Ambilkan ponselku di kamar".


Soraya segera melangkah ke kamar, mendekati meja kecil dekat tempat tidur mereka untuk mengambil ponsel milik suaminya.


Saat hendak diambil, ponsel bergetar dan keluar nama perempuan bernama Marsela.


Soraya terpana, tapi dia segera mengambil ponsel suaminya tanpa mau peduli siapa yang menelepon itu.

__ADS_1


Mario menerima ponsel dari istrinya, dan melihat ada sekitar dua puluh satu panggilan tak terjawab. Ada sepuluh panggilan dari Anita, lima panggilan dari Susi, tiga panggilan dari Lilian, dua panggilan dari adiknya Jimmy dan satu panggilan terakhir dari Marsela.


Soraya tengah mengangkat nasi yang baru matang setelah tadi dia menanaknya di panci.


Dia mendengar ponsel Mario bergetar lagi dan sekilas terlihat nama Marsela tadi muncul lagi.


Mario berdiri dan segera keluar rumah, lalu menjawab panggilan telepon tadi.


Sayup- sayup terdengar Mario menjawab telepon tadi dan beberapa kali ada kata sayang terucap dari bibirnya.


Soraya hanya diam saja, dan meneruskan menggoreng telur yang tadi dibelinya.


Setelah semua matang, lalu Soraya menyajikan nasi dan telur goreng tadi di atas meja makan.


Beres berbincang di telepon, lalu Mario masuk lagi ke dalam rumah dan mendapati sarapan yang hanya nasi dan telur goreng saja.


Mario duduk di kursi dan diam tak bergerak, lalu dia berkata kepada Soraya.


"Aku mau makan, mana nasi untukku?".


"Itu Bang Rio, ada di meja semuanya," sahut Soraya yang tengah mencuci alat masak


Mario menggebrak meja dan berkata keras.


"Harus aku ambil sendiri makananku, lalu apa fungsimu jadi istri. Harus aku makan sendiri sekarang, buat apa aku menikah denganmu".


Soraya lagi-lagi terkejut, lalu dia segera mematikan keran air dan segera menuju meja makan


Lalu Soraya segera menyiduk nasi dari dalam panci dan menuangkan ke piring, lalu di pinggirnya dia simpan telur goreng.


Dengan sedikit gemetar dia simpan ke hadapan Mario, lalu dia segera menyimpan sendok dan garpu di pinggir piring tadi.


Dan dengan gesit mengambil gelas berisi air putih dan disimpan di samping kiri piring makan Mario.


Lalu dia duduk di salah satu kursi yang ada di sana sambil menunduk.


"Mengapa kamu tidak ikut makan?"tanya Mario sambil mengunyah nasinya.


"Piringnya tidak ada lagi, jadi saya makannya nanti saja menunggu Bang Rio selesai makan," jawab Soraya sambil takut diomeli lagi oleh suaminya.


"Hmmm, sini kamu, duduk di sebelahku sekarang".


Soraya mendekat dan duduk di samping kursi Mario.


"Suapi aku, lalu kamu juga makan. Ayo cepat...".


Soraya dengan gemetar menyendok nasi dan sepotong telur goreng ke mulut Mario, sesudahnya dia melakukan hal yang sama untuk dirinya.


Mario menatap tajam ke arah Soraya yang tengah menyuapi makan, tentu saja Soraya menjadi salah tingkah tapi dia berusaha tetap tenang walau dalam hatinya perasaannya campur aduk.


Selesai makan Mario menelepon Jimmy adiknya untuk mengantarkan mobilnya ke rumah yang mereka tinggali sekarang.


"Jimmy mau mengantar mobil kemari, lalu kamu mau kemana hari ini?"tanya Mario kepada Soraya.


"Bang, saya minta ijin mau membeli keperluan rumah yah, karena tidak ada apa-apa sama sekali. Kebutuhan dapur dan lainnya, bahkan sapu juga kain pel kita tak punya," Mario menatap istrinya yang tampak semangat ingin membeli keperluan rumah tangga.


Mario setuju dan meminta istrinya untuk segera berdandan. Soraya pun segera berganti pakaian, semua pakaiannya sekarang adalah pilihan Mario begitu juga dengan perlengkapan make up seperti bedak dan lipstik dibelikan Mario sebelum kemarin menikah.


Soraya hanya menurut dan sekarang dia sedikit berdandan sesuai dengan keinginan suaminya.


Tak lama Jimmy datang, anak itu bangga sekali karena baru memiliki Surat Ijin Mengemudi.


"Kak Aya...ayo jalan sama aku, sekarang aku sudah punya ijin mengemudi," ujar Jimmy ketika tiba di rumah Mario.


"Kau antar kami yah, kau yang mengemudi tapi awas kalau mobilku sampai lecet," ujar Mario kepada adiknya dan Jimmy penuh semangat mengiyakan permintaan abangnya.


"Bang, kenapa sih harus sewa rumah, kan Papih sudah membelikan tanah untuk kita bertiga masing- masing. Tinggal Abang bangun rumah saja kan?"tanya Jimmy ingin tahu.


"Bodoh, sudah kau menyetir yang benar saja, tak usah kau urusi aku. Masih SMA saja banyak tanya," kata Mario sambil mendelik.


"Nanya doang Bang, galak amat. Yang sabar yah Kak Aya, Bang Mario memang nyebelin banget...suwer".


Soraya hanya tertawa kecil di kursi belakang mobil, entah dia merasa takut komentar khawatir Mario akan marah kalau sampai salah bicara.


Mereka tiba di sebuah Supermarket besar di kawasan kota, Soraya belum pernah ke tempat itu dan dia merasa takjub kalau akhirnya bisa menginjakkan kaki di tempat itu.


"Aya, kamu belanja semua kebutuhan rumah yang diperlukan yah dan sekalian kebutuhan makan juga," kata Mario dengan nada datar kepada istrinya.


"Ayo Kak Aya, biar Jimmy yang temani kakak belanja".


Mario terlihat mendahului istri dan adiknya, keduanya bingung tapi tak berani bertanya.


Soraya ditemani Jimmy mulai memilih berbagai keperluan untuk di rumahnya, dan tiba- tiba Mario datang mendekati sambil membawa sesuatu.


"Aya, lihat!, ini kopi yang biasa aku minum dan ini gelasnya. Setiap pagi dan sore, cukup 1 sendok teh kamu seduh dan jangan diberi gula. Paham!?".


Soraya mengangguk sambil seperti orang ketakutan, Jimmy melihat itu jadi merasa aneh. Setelah Mario berlalu, Jimmy bertanya kenapa abangnya seperti itu, lalu dengan tertawa kecil Soraya menceritakan kejadian tadi pagi.


Jimmy tertawa mendengar cerita Soraya, dan memberi ide lain kali tambahkan garam saja kalau tak mau gula.


Soraya bisa tertawa lepas ketika bersama Jimmy, entah kalau dekat Mario bawaannya takut saja tapi dengan adiknya malah penuh keceriaan.


Untuk ukuran anak SMA yang sebentar lagi akan lulus sekolah, Jimmy cukup dewasa dalam cara bicara dan pemikirannya. Sehingga bisa berimbang ketika bicara dengan Soraya yang usianya terpaut sekitar lima tahun di atasnya.


Tak lama Mario datang lagi menghampiri mereka berdua, masukan selai kacang dan serbuk coklat. Dia juga berkata kepada Soraya kalau sarapannya cukup hanya roti tawar diberi selai dan ditaburi serbuk coklat saja.


Setelah itu berlalu lagi entah kemana, Soraya dan Jimmy ngakak lagi menertawakan Mario yang aneh-aneh saja tiba-tiba muncul lalu menghilang.


Sekitar lima belas menit kemudian Mario datang lagi kepada mereka, mengatakan istrinya harus membeli sesuatu keinginannya atau dia sekedar membawa sesuatu, meletakkan di keranjang belanja dan menghilang lagi.


"Apa salahnya yah Bang Rio itu berjalan bersama Kak Aya , aku dari tadi melihat suami orang lain mendampingi istrinya. Ini malah bolak- balik tak jelas, untung ada adik ipar ganteng yang menemani," ujar Jimmy sambil menatap punggung abangnya yang akan segera menghilang.


"Saya sih sudah mulai biasa melihatnya, dulu sewaktu akan menikah, kami membeli keperluan pernikahanpun begitu. Untung waktu itu saya ditemani Mamih, dan kata Mamih memang begitu kebiasaan Bang Rio," cerita Soraya kepada adik iparnya.


"Memang Bang Rio agak aneh, tapi dia yang paling peduli kepada keluarga. Kalau Bang Robert pendiam, apalagi sesudah menikah dengan Rosalinda De Ayamour, jadilah ketua Suami Takut Istri...hahahah," kata Jimmy menceritakan tentang kedua abangnya.


"Apa? tadi kamu bilang nama Kak Rosa itu apa?"tanya Soraya karena aneh mendengar nama yang berbeda dengan yang dia ketahui.


"Hahaha...Kak Aya, tahu kan gaya Kak Rosa, sok aristokrat sok orang paling kaya, nah, gaya seperti itu mirip tokoh film telenovela yang judulnya De Ayamour, dan ada tokoh bernama sama juga tingkahnya. Makanya aku menyebut Kak Rosa seperti itu. Rosalinda De Ayamour...hahahaha".


Soraya yang tadinya akan menahan tawa, tak kuasa juga dan akhirnya ikut tertawa mendengar julukan itu.


"Wah nanti saya akan dijuluki apa sama kamu, Jim?"tanya Soraya dengan senyum.


"Tergantung, kalau Kak Aya tiba-tiba berubah jadi menyebalkan atau jadi sok kaya seperti Kak Rosa, mungkin akan ada julukan lain...hahahah," sahut Jimmy sambil tertawa.


"Saya sih orang tak punya Jim, mau sok kaya seperti apa sih. Mungkin kalau di telenovela sih saya ini tokoh yang miskin dan menderita yang kerap disiksa....hahahaha," timpal Soraya dan keduanya pun tertawa ngakak.


Mario memeriksa semua barang keperluan yang telah dipilih oleh istrinya, dan disitu Soraya melihat sebenarnya Mario benar sangat peduli dan teliti.

__ADS_1


Satu per satu diperiksa, dan Soraya ditanya untuk apa membeli barang atau bahan makanan tersebut. Kalau dipikir ada yang kurang, lalu Jimmy disuruhnya berlari untuk mengambil barang atau bahan makanan tersebut.


Setelah yakin dengan yang telah dibeli lalu mereka menuju meja kasir, Mario menunggu di depan kasir sambil meminum kopi hitam yang dia beli dari salah satu gerai di depan supermarket tersebut.


Soraya dan Jimmy sedang sibuk dengan belanjaan, tiba - tiba ada seorang wanita berpakaian seksi dan minim dengan dandanan yang cukup menor mendekati Mario yang tengah berdiri melihat istri dan adiknya yang berkutat dengan belanjaan.


"Mario...apa kabar???Aduh kamu sombong yah, aku telepon tak pernah diangkat saja. Sebal deh...besok makan siang yah sama aku, awas jangan menolak yah...," kata wanita tadi langsung nyerocos sambil merangkul Mario dan diakhiri dengan mendaratkan ciuman ke pipi Mario.


Soraya dan Jimmy melihatnya, sontak mata mereka berdua membulat melihat kejadian itu, sementara Mario hanya diam, mengangguk dan tak bicara apapun sampai wanita tadi berlalu.


Soraya diam saja tak bicara apapun, bahkan sampai di dalam mobil juga diam saja.


"Jim, kita ke toko elektronik yah, sekalian kita membeli mesin cuci dan keperluan lainnya juga," kata Mario meminta adiknya mengantar ke toko elektronik.


"Bang, tadi apa-apaan sih... sama cewek genit pakai acara ciuman segala, abang tuh sudah ada Kak Aya, apa yang tadi itu tidak membuat Kak Aya kecewa," Jimmy meluapkan kekesalannya kepada Mario.


"Aku memangnya berbuat apa tadi?"sahut Mario sambil melebarkan tangannya menunjukkan kalau dia tak ber buat salah.


"What...???!!!...BANG RIO...you kissed with that woman !!!" seru Jimmy sambil menyetir.


Sementara Soraya diam saja tanpa ekspresi, wajahnya datar saja. Kini dia menepuk bahu Jimmy meminta adik iparnya untuk bersabar.


Mario malah tertawa, lalu berkata dengan santai," Aku tadi tidak berbuat apapun, aku hanya diam berdiri sambil menunggu kalian selesai transaksi di kasir".


"Lalu ada teman lamaku datang, dan aku juga tak menggubris wanita itu. Soal cium...., kan wanita itu yang mencium pipiku dan aku tak membalas. So...aku korban pelecehan wanita itu dong seharusnya," kata Mario menjelaskan dengan santai tanpa dosa.


Jimmy melirik kesal ke arah Kakaknya dan dari kaca spion tengah terlihat Kakak iparnya duduk diam saja sambil mengerucutkan bibirnya.


Lalu mobil menuju ke rumah orang tua Mario untuk mengantarkan Jimmy, mereka bertiga turun dulu karena di sana ada Oma Elisabeth dan juga kedua orang tua mereka.


Soraya turun lebih dulu dan segera menemui Oma juga kedua mertuanya, sedangkan Mario dan Jimmy masih di halaman.


"Bang, sumpah deh, kalau Abang sampai menyakiti hati Kak Aya...lihat saja aku tak akan tinggal diam. Akan aku sampaikan ke Papih dan Mamih," ancam si adik bungsu.


"Sudahlah, itu urusan aku dengan Soraya, dia juga tak marah kok kamu yang emosi sejak tadi. Kamu naksir sama istriku...?"tanya Mario sambil setengah mengejek adiknya.


"Enak saja, aku kasihan sama Kak Aya, dia beda sama pacar abang lainnya. Abang itu harus bersyukur punya istri yang baik".


"Aku baru sehari punya istri, kamu tahu darimana dia baik?".


"Gila kau Bang, memangnya selama tiga bulan kemarin sewaktu mempersiapkan pernikahan kalian, sama sekali tidak abang pedulikan yah... mana ada Kak Aya menuntut meminta ini atau apapun, artinya dia baik".


Mario tertawa kecil, lalu mendekati adiknya dan berbisik ," Itu bukan baik, tapi B..O..D..O..H".


Lalu Mario membiarkan Jimmy yang masih kesal di halaman, sementara dia masuk ke dalam rumah.


Saat masuk dia melihat istrinya sedang berbincang dengan akrab dengan Oma dan ibunya, memang benar Soraya tidak pernah meminta dan menuntut apapun bahkan selalu menuruti apa kata keluarga mereka.


Dalam hatinya masih ada pertanyaan apakah Soraya hanya berpura-pura atau memang dia begitu apa adanya, karena mereka menikah karena dijodohkan oleh Oma Elisabeth dan memang Mario juga tak pernah bisa menolak apa keinginan neneknya itu.


Mario akan mencari tahu seperti apa sesungguhnya sifat Soraya, banyak wanita selama ini mengejar dia karena tahu kalau dirinya punya uang banyak.


Makanya dia sekarang sengaja tinggal di rumah sewaan yang kecil, dan tidak memfasilitasi rumah itu dengan peralatan rumah tangga yang lengkap.


Seharian di rumah orang tuanya, diam-diam Mario memperhatikan sikap istrinya.


Kemarin ini wanita itu sesekali datang sebagai tamu, dan sekarang sudah jadi menantu maka Mario ingin tahu apa yang akan dilakukan istrinya.


Soraya tampak membantu di dapur, lalu menyajikan masakan matang ke atas meja makan keluarga.


Saat itu juga Robert dan istrinya Rosalinda sudah datang, berbeda sekali dengan Soraya yang langsung membantu, menantu ini hanya duduk sambil berbincang menceritakan kehidupan sosialitanya kepada Oma Elisabeth.


Cuma memang kelebihannya Rosalinda membawa berbagai kue enak kesukaan Oma dan Mamih Regina.


Saat makan bersama, Rosalinda sengaja duduk di samping Soraya dan terlihat jelas perbedaan bumi dan langit.


Rosalinda menenteng tas mahal dan juga di jari manisnya selain ada cincin pernikahan juga terselip cincin lain yang bertahtakan berlian.


Jangan dikatakan lagi perhiasan leher dan telinga, semuanya lengkap dan berkilau kalau dirinya bergerak.


Sementara Soraya hanya membawa tas kecil entah berbahan apa, di jari manisnya cuma ada cincin pernikahan dan sisanya tak ada perhiasan apapun yang menempel baik di leher maupun di telinganya.


Tapi dia terlihat santai saja melihat penampilan Rosalinda yang tampak seperti sedang memanasi dirinya.


Setelah selesai makan, Soraya seperti biasa membantu membersihkan meja makan dan juga membantu mencuci piring. Walau ada pembantu di rumah keluarga Maliangkay, tapi Soraya tampak biasa saja melakukan itu semua.


"Mario...!!! ini nanti bawa pulang, tadi istrimu mau pinjam alat setrika ke Mamih, untung waktu itu Mamih sempat mendapat hadiah alat setrika ini jadi bawa sajalah untuk kalian," ujar Ibu Regina sambil memberikan sebuah kotak berisi alat setrika baru kepada Mario.


Mario menerimanya, tapi dia segera mencari istrinya. Ketika sudah menemukan Soraya yang tengah membantu pembantu rumah tangga mengupas buah-buahan, makan Mario segera menariknya dan berkata.


"Kamu ini kenapa sih, bukan bilang sama aku tapi malah meminta sama Mamih. Tadi di supermarket bukannya membeli alat ini, sekarang kamu minta sama Mamih dan tidak bilang dulu sama aku".


Soraya langsung terdiam tercekat karena Mario terlihat marah sampai mendekatkan wajahnya ke hadapan wajah Soraya.


Semua pembantu ketakutan dan segera berlari mencari Ibu Regina memberitahukan kalau Soraya tengah dimarahi oleh Mario.


Soraya berusaha tenang dan mengatur nafasnya, lalu perlahan dia mencoba menjawab Mario.


"Bang, saya tidak minta sama Mamih, tadi saya cuma mau pinjam alat setrika barangkali ada persediaan lain di rumah ini yang tidak terpakai," Soraya mencoba menjelaskan sambil tubuhnya gemetaran.


"Itu sama saja dengan minta, ingat ini yang pertama dan terakhir. Jangan sampai kamu pinjam apapun atau minta apapun kepada siapapun selain kepada aku. Sekarang aku ini suamimu, bicara sama aku kalau butuh sesuatu. Paham!!??".


Soraya mengangguk dan Mario menyerahkan alat setrika tadi kepada istrinya dengan kasar.


"Rio...!!!apa-apaan sih, kenapa harus kamu marah sama Soraya, ini Mamih yang memberi kok. Awas jangan ditolak dan harus kamu pakai yah. Sabar Aya, memang Mario itu anak Mamih yang paling keras orangnya," kata Ibu Regina sambil mengelus punggung menantunya yang terlihat begitu ketakutan dengan anaknya.


Akhirnya Ibu Regina dan semua pembantu memberikan semangat dan membesarkan hati Soraya, semua berkata kalau Mario memang suka kasar tapi dia juga yang paling peduli kepada siapapun.


Dalam perjalanan pulang, Mario tampak masih belum puas dan membahas masalah alat setrika tadi.


"Apa alasanmu tidak meminta untuk membeli alat itu ketika kita di supermarket tadi siang?"tanya Mario seakan menginterogasi istrinya.


"Maaf Bang, tadi siang sebenarnya saya sudah melihat-lihat alat setrika, tapi harganya cukup mahal dan saya melihat belanjaan kita sudah sangat banyak. Jadi saya tidak enak kalau meminta lagi dibelikan alat setrika lagi," jawab Soraya dengan hati-hati menjelaskan kepada Mario.


"Oke, tapi ingat lain kali mau apa dan butuh apa minta sama aku, bukan sama siapapun termasuk sama keluargaku".


"Ya Bang Rio, saya minta maaf".


Kemudian Mario ingat soal ciuman tadi dan dia jadi ingin tahu mengapa Soraya diam saja tak membahas soal itu.


"Lalu kenapa kamu tidak tanya aku soal wanita yang tadi siang mencium aku. Jimmy sampai kesal sama aku, tapi kamu diam saja dari tadi?".


Sebenarnya Soraya ingin tanya, tapi dia takut malah nanti akan jadi ribut besar dan dia tak mau hal itu terjadi.


"Maaf Bang, aku tidak melihat kejadian itu, jadi aku tak bisa bertanya atas apa yang tidak aku ketahui jelas," sahut Soraya berbohong padahal dalam hatinya terasa perih.


Dia tetap mencoba bertahan dengan wajah datar dihadapan suaminya, dan Mario sulit untuk mengetahui isi hati Soraya sesungguhnya.


Saat ini Soraya tidak tahu harus melakukan apa, hanya bisa diam saja. Mungkin akan beda apabila dulu mereka pacaran lama lalu menikah seperti Robert dan Rosalinda, dipikirnya pasti dia akan bisa lebih mengungkapkan kecemburuannya.

__ADS_1


Menikahpun dijodohkan oleh Oma Elisabeth, jadi mana mungkin dia berani mengeluarkan komentar atau meminta sesuatu yang lebih kepada Mario.


Hari pertama memasuki dunia pernikahan dengan Mario sudah di warnai oleh amarah suaminya. Sekarang hanya mencoba akan lebih berhati- hati saja kepada Mario agar jangan sampai menjadi sasaran amarah berikutnya.


__ADS_2