
"Wah keren banget mobilmu, keluaran tahun berapa ini?"tanya Husein kepada Asrul di halaman kampus Universitas Negeri Semarang.
"Tahun 1980, sadis yah," sahut Asrul sambil senyum bangga.
"Gila...sadis...tua banget tapi setelah kau dandani jadi keren begini...aku beli deh sepuluh juta,"ujar Husein sambil memegang dan mengelus mobil tua milik Asrul.
"Asem sepuluh juta, aku beli juga berapa...belum lagi modifikasinya sudah hampir tiga puluh lima juta ini total semuanya".
"Aku beli unit dua puluh tiga juta, perbaikan mesin dan ac habis lima juta, ganti velg dan ban, cover jok, ditambah seperangkat audio plus speaker. Yah hampir sebanyak itulah uang tabunganku habis semuanya," kata Asrul menerangkan kepada Husein.
"Ah paling juga kucuran dana bokap, bohong kalau tak ada campur tangan ayahmu," ejek Husein sambil mencibir.
(bokap \= ayah)
"Harus aku pakai demi Allah, mobil tua saja sampai harus bawa nama Allah," sahut Asrul terlihat kesal.
"Hahahahha...gitu aja sewot, jadi kapan kita jalan nih?".
"Nanti malam yuk, biasa Bandungan," ajak Asrul.
(Bandungan \= Nama dataran tinggi di kota Semarang, tempat nongkrong kaum muda)
"Asrul...cewek tuh on the way kemari," bisik Husein melihat ada dua gadis berjalan menuju ke arah mereka.
"Wow...ebony and Ivory...lucu juga yah," komentar Asrul ketika melihat kedua gadis yang sedang berjalan itu.
(Ebony and Ivory \= Hitam dan putih, menjadi salah satu judul lagu grup band The Beatles)
Memang pemandangan yang bagaikan langit dan bumi, yang satu berkulit putih mulus tanpa noda, sementara yang disebelahnya berkulit coklat gelap.
Yang putih cantik jelita, yang satunya hitam manis seperti gula-gula.
"Pilih yang mana ?"tanya Husein.
"Yang putih dong, yang satu lagi untukmu saja...hahaha," sahut Asrul sambil tertawa.
"Sembarangan, aku doakan yang coklat akan menjadi jodohmu nanti," Husein tak mau kalah juga.
"Semoga doamu berbalik kepadamu lagi," Asrul membalasnya lagi.
Kedua gadis berbeda kulit itu melintas dihadapan Asrul dan Husein, yang kulit putih tampak sombong tak menoleh sedikitpun sementara yang kulit coklat tersenyum dan berkata permisi.
"Etha, ngapain sih pakai permisi segala?"tanya Yunita kepada Aletha sahabatnya.
"Ya ampun Yun, masa kamu tak melihat mereka berdua mirip genderuwo. Kalau kita tidak permisi nanti kesurupan loh...hihihi," sahut Aletha sambil cekikikan.
"Eh iya betul...hihihi...bahaya nih, ayo cepat kita kelas...hihihi," Yunita juga jadi tertawa mendengar apa kata sahabatnya itu.
"Mereka pasti bilang cowok yang tinggi ganteng, tapi sebelahnya bantet kayak kue bolu gagal bikin," kata Husein sok percaya diri.
"Ya aku memang kalah tinggi, aku bantet, tapi urusan bercinta aku lebih perkasa," tukas Asrul sambil membusungkan dada.
"Belum terbukti ada yang nangis hamil minta kamu tanggung jawab, berarti belum tentu perkasa dong".
"Sialan Husein, memangnya harus sampai ada yang menangis minta tanggung jawab kepadaku, iiihhh.. amit- amit".
"Eh, cewek tadi belok ke kanan, kayaknya mereka anak kedokteran deh".
"Ya sudah untukmu saja Husein, malas aku sama anak kedokteran sih".
"Lah bukannya enak sama dokter, pusing sedikit suntik, tambah pusing lagi suntik lagi, "kata Husein membuat lelucon plesetan.
"Nah kalau dokter gigi tak enak, baru juga goyang sedikit langsung cabut...hahahah".
"Hahahahaha...," keduanya tertawa dengan guyonan mereka.
Lalu mereka berdua menuju ke gedung Fakultas Teknik Arsitektur, Asrul dan Husein adalah mahasiswa Strata 2 Arsitektur.
Keduanya sebenarnya sudah punya usaha yang merupakan kerjasama mereka berdua, Husein ahli menggambar rancangan bangunan sedangkan Asrul pandai membuat maket atau miniatur bangunan.
Usia muda sudah punya usaha mandiri, bahkan sekarang masih mengejar magister karena keduanya ingin menjadi tenaga pengajar di bidang Arsitektur.
Sementara di gedung lain di lingkungan Universitas tersebut tepatnya di Fakultas Kedokteran Gigi, dua sahabat Aletha dan Yunita sebentar lagi akan lulus dan siap menjadi dokter gigi.
Keduanya baru selesai magang di salah satu Puskemas di daerah pedesaan Kota Semarang, dan nanti setelah lulus keduanya akan langsung bertugas di sana.
"Nanti kalau kita sudah bertugas di sana, apakah kamu akan melanjutkan kuliah lagi, Tha?" tanya Yunita sambil duduk menatap wajah sahabatnya.
"Papihku mau membiayai dan aku juga ingin mengambil spesialis dokter gigi anak," jawab Aletha.
"Ya enak kamu punya Papih pejabat, pasti bisa membiayai sampai tuntas. Kalau aku lulus dengan beasiswa saja sudah bahagia".
"Paling aku akan tetap bertugas di Puskemas desa saja deh. Lumayan gaji kecil juga tapi setidaknya bisa membantu masyarakat," kata Yunita sambil malu-malu.
"Dokter Yunita, dimana saja kita bertugas harus untuk masyarakat. Aku mau jadi spesialis gigi anak karena ingin membantu masyarakat juga," ujar Aletha sambil menggenggam tangan sahabatnya.
Mereka berdua saling senyum dan dalam hati keduanya akan saling berjanji akan mengabdi untuk masyarakat.
Sore harinya Asrul memasuki mobil tua kerennya, dan memanaskan mesinnya sebelum melaju.
Ketika mesin sudah cukup panas mulailah dia melajukan mobilnya, ketika mendekati pintu gerbang tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sambil mengemudi perlahan tangan kirinya meraba kursi sebelah pengemudi mencari ponselnya.
Karena tak kunjung ketemu, lalu Asrul menoleh sebentar ke arah kursi itu untuk melihat dimana keberadaan ponselnya.
BRUUUKKK....GUBRAAAKKK
Asrul terkejut dan langsung menginjak rem menghentikan laju mobilnya.
Beberapa mahasiswa tampak berlari ke depan mobil Asrul, lalu berkerumun juga ada beberapa pria berteriak sambil menggebrak kap mesin mobil meminta Asrul segera keluar dari kendaraannya.
Asrul segera turun dan dia terkejut ketika melihat di depan mobilnya ada sepeda motor terjungkal dan si gadis kulit coklat sedang selonjor di tanah dengan kaki berlumuran darah.
"Kamu tak punya mata yah, masa motor di depan mata bisa tak kelihatan".
"Iya nih, kasihan tuh kakinya sampai berdarah, ayo tanggung jawab".
Berbagai suara menunjuk Asrul yang ternyata tadi ketika dia mencari ponselnya telah menabrak sepeda motor yang tengah dikendarai oleh Aletha.
"Etha!!!!...Etha!!!!....kamu kenapa...ya Tuhan...kamu berdarah...dasar yah kamu tak punya mata, masa motor sebesar itu tak kelihatan. Sok aksi saja, mobil butut juga!!!" Yunita yang baru datang melihat sahabatnya terluka langsung membombardir Asrul.
"Maaf...maaf...saya tadi mencari ponsel yang bunyi jadi tak melihat sepeda motor yang melintas," kata Asrul meminta maaf atas kejadian tersebut.
Yunita dan beberapa orang pria memapah Aletha ke pos keamanan, sementara Asrul diminta oleh petugas keamanan kampus untuk memarkirkan mobil dan harus mempertanggungjawabkan atas kejadian tabrakan barusan.
Sebagian orang meminggirkan sepeda motor Aletha yang terjungkal agar tidak sampai menghalangi jalan.
"Aku tak apa-apa Yun, cuma kaget karena tiba-tiba jatuh terjungkal, kakiku tidak apa- apa hanya kulitnya mengelupas. Tolong saja ambilkan ethanol atau rivanol di ruangan laboratorium. Aku harus membersihkan dan mengeringkan lukanya," ujar Aletha sambil meringis.
"Sudah saya saja yang ambil, biar Yunita menemani Etha di sini," ujar salah seorang mahasiswa yang bersedia menolong.
Lalu pemuda tadi berlari ke gedung Fakultas Kedokteran untuk mengambil obat pembersih luka yang ada di laboratorium.
Asrul berjalan mendekati Aletha dan Yunita yang sedang duduk di pos keamanan kampus.
"Mbak, maaf yah saya tadi benar tidak sadar dan tidak melihat ada mbak di depan mobil saya," kata Asrul meminta maaf dengan tulus.
"Ya makanya ganjen, nyetir sambil telepon segala. Untung teman saya cuma jatuh terjungkal dan luka kakinya. Kalau sampai patah bagaimana?" Yunita dengan ketus mengungkapkan kekesalannya kepada Asrul.
"Sekali lagi saya minta maaf, Mbak, mohon maafkan saya dan kalau ada kerusakan sepeda motornya atau lukanya perlu saya bawa ke Rumah Sakit silahkan saja sampaikan," kata Asrul merasa tak enak hati.
"Sudah, saya tidak apa-apa kok hanya lecet saja. Kulit betis mengelupas sedikit. Kalau sepeda motornya saya malah belum lihat sama sekali ada yang rusak atau tidaknya," sahut Aletha dengan tenang.
"Saya lihat sebentar yah, kalau ada kerusakan biar saya ganti," ujar Asrul sambil mendekati sepeda motor Aletha.
Lalu dia memeriksa seluruh body kendaraan, dan menyalakan sepeda motor tersebut. Ternyata semua baik- baik saja, lalu dia membawa sepeda motor itu
ke dekat tempat Aletha duduk.
"Motornya baik-baik saja kok, mbak nanti pulang bagaimana apakah bisa mengendarai sepeda motornya?"tanya Asrul lagi.
"Insyaallah bisa, cuma luka kecil saja kok".
"Etha, ini minum dulu teh manisnya. Kamu habis kaget harus minum yang hangat," ujar Yunita yang baru kembali sambil membawa teh manis hangat dan Aletha meminumnya perlahan.
Tak lama kawannya yang membawa ethanol dan kapas datang, lalu Yunita membersihkan luka sahabatnya dengan perlahan.
Rasanya sangat perih sekali ketika kapas bercampur cairan ethanol itu mendarat di kakinya yang terluka.
__ADS_1
Asrul melihat bagaimana Aletha menahan sakit dan perih, tapi tidak menangis malah tertawa. Sambil mengerang mengaduh karena perih tapi bisa sambil tertawa terbahak.
"Adaaawwww....perih...hahahahah....Yun....hahaha..perih tahu...hahahaha...sakit...wadaaawwww....hahahah..!!!"teriak Aletha sambil meringis dan tertawa.
Melihat mimik wajah dan tingkah Aletha membuat hati Asrul jadi tergelitik untuk mengenalnya lebih banyak.
Gadis yang terlihat ceria walau sedang didera rasa sakit, dan tidak menunjukkan kalau dia sedang kesakitan.
"Hahahahha....sudah Yun, perih...hahahah...," tetap tertawa walau ada setitik air di ujung matanya karena menahan sakit.
"Etha hebat yah kuat menahan sakit dan perih sambil tertawa," ujar Asrul mencoba sok akrab.
"Hei...tahu dari mana nama temanku? pasti nguping yah. Jangan sok akrab sama kami yah, awas kamu," Yunita yang temperamen langsung saja menyambar.
"Ya maaf, cuma tadi saya mendengar kalau mbak dipanggil Etha oleh yang lain," sahut Asrul sambil senyum dan menatap Aletha.
"Oke mas, tidak apa-apa, sudah lupakan saja peristiwa ini, saya juga baik-baik saja kok".
Lalu setelah yakin semuanya baik-baik saja, maka Asrul segera pamit kepada Aletha dan Yunita, tentu saja diiringi sorotan tajam dari mata Yunita.
Setelah Kejadian itu mereka tak pernah saling bertemu, sampai sekitar satu tahun kemudian Aletha mengantar adik perempuannya untuk mendaftar ke sebuah Sekolah Tinggi Swasta.
Adiknya gagal masuk Perguruan Tinggi Negeri, jadi terpaksa mencari Sekolah Tinggi Swasta yang ada jurusan yang diinginkannya.
"Kampus ini ada jurusan yang kamu mau, tapi tempat ini belum terlalu terkenal, bagaimana ? apakah masih mau mendaftar di sini?"tanya Aletha kepada Magenta adiknya.
"Ya tak apalah, katanya dosennya lulusan Universitas Negeri dulunya, tak apalah aku ambil di sini saja," sahut Magenta mencoba mengambil keputusan.
"Ya sudah, ayo kita masuk ke dalam kantornya, kita cari dulu informasinya," ajak Aletha dan keduanya masuk ke dalam ruangan kantor di sana.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?"tanya petugas di kantor Sekolah Tinggi tersebut.
"Selamat siang, kami mau minta informasi mengenai kuliah di kampus ini?"sahut Aletha.
"Kampus kami memang masih baru, tapi kami sudah memenuhi standar Perguruan Tinggi Swasta dengan nilai Akreditasi Sangat Baik. Jurusan yang menjadi unggulan di kampus kami adalah Arsitektur, silahkan isi formulir ini. Nanti serahkan kepada kami lagi, ujian saringan masuk akan dilaksanakan Senin pekan depan," petugas tadi menjelaskan panjang lebar.
"Bagaimana?"tanya Aletha kepada adiknya.
"Oke, aku mau di sini," jawabnya.
Lalu si bungsu adiknya Aletha yang manja itu mengisi formulir, saat tengah mengisi di bangku yang sudah dipersiapkan di sana, tiba-tiba di sampingnya duduk seorang gadis yang kelihatannya sama akan mendaftar di tempat itu.
"Hai...sedang isi formulir yah, saya ikut duduk di sini yah. Kenalkan saya Jena," ujar gadis itu.
"Hai, saya Magenta," lalu keduanya saling berjabatan tangan dan berbarengan mengisi formulir.
"Ternyata kita memilih jurusan yang sama yah," kata Jena sambil senyum manis.
"Pekan depan kita ujian saringan masuk, semoga kita bisa lulus yah," ujar Magenta dan Jena juga berharap yang sama.
Asrul baru tiba di halaman Sekolah Tinggi Pemuda Semarang, kampus ini baru berdiri dua tahun lalu tapi sudah menelurkan prestasi dalam berbagai lomba kreatifitas se Jawa Tengah.
Saat ini Asrul menjadi dosen di Sekolah Tinggi tersebut dengan mata kuliah "Perancangan Arsitektur" dan
"Studio Arsitektur".
Dia berjalan menuju kantor administrasi untuk absen, ketika akan membuka pintu keluarlah seorang wanita manis dan Asrul sangat ingat wajah itu.
"Etha...???... Etha kan???" tanya Asrul sambil menunjuk ke arah wanita manis itu.
Merasa namanya dipanggil, Aletha terkejut dan memandang sosok pria di depannya. Serasa pernah tahu tapi entah dimana, cuma orang ini tahu namanya, membuat dia jadi tertegun.
"Aku Asrul".
"Asrul???"Aletha kebingungan.
Seketika Asrul sadar kalau dulu saat kejadian tabrakan, mereka memang belum sempat kenalan.
"Ya, saya yang dulu bikin kamu jatuh dari motor di depan kampus".
Aletha segera ingat, terdengar suara tawa renyah," Oh, iya, hahahaha...apa kabarnya? Maaf saya lupa?".
"Ada apa kemari?"tanya Asrul.
"Hahaha...mengantar adik saya, mau kuliah di sini," sahut Aletha sambil tetap tertawa renyah.
"Ini adik saya, Magenta," Aletha merangkul Magenta.
"Ini kawan barunya, Jena".
"Oh, sip, Senin depan ujian saringan masuk. Semoga saja bisa lolos," ujar Asrul sambil senyum manis.
"Dosen?"tanya Aletha.
Asrul mengangguk, dan Aletha juga senyum lebar lagi.
"Oke sip, makasih yah...hmmm
..siapa yah aku lupa...hahaha".
"Memang belum kenalan kok, aku Asrul dan kamu Etha, bukan".
"Salah...aku Aletha".
Mereka berjabat tangan, dan Asrul merasa sulit harus melepas tangan halus yang sedang digenggamnya.
Aletha pun segera berlalu bersama adiknya, dan Magenta berjanjian dengan Jena kawan barunya untuk bertemu lagi Senin depan.
"Itu nona kulit coklat kan...
yang dulu kau tabrak," goda Husein saat Asrul masuk ke ruang pengajar.
"Teman tak bermoral, aku menabrak orang dan kau hilang entah kemana," sindir Asrul ketika diingatkan kejadian dulu.
"Hahahah...waktu itu aku ada urusan mendadak bro, dan aku baru tahu esok harinya kejadian itu. Sorry my bro," ujar Husein sambil mencoba merangkul sahabatnya.
"Woi...aku masih suka cewek, jangan sentuh-sentuh...jijik aku," Asrul menangkis tangan Husein.
"Hmmm...kayaknya benar nih dugaan aku, Bang Asrul itu mulai suka sama Nona coklat".
"Diam kau!!! bentar lagi ngajar woi...".
Seminggu kemudian Aletha kembali mengantar adiknya yang akan mengikuti ujian saringan di Sekolah Tinggi Pemuda Semarang.
Kebetulan bulan ini dia mendapat jadwal praktek siang hari, jadi pagi hari bisa mengantar adiknya.
"Kamu kerjakan yang teliti yah, biar bisa lolos. Kakak tunggu kamu di cafe seberang sana yah".
"Oke deh, doakan aku yah Kak".
Aletha merangkul adik bungsunya, bersamaan dengan itu muncul Jena yang baru datang lalu mereka bersama masuk ke kampus tersebut.
"Enak yah kamu diantar kakak, kalau aku kemana saja sendiri," ujar Jena merasa iri kepada Magenta.
"Enak tak enak, kakak Etha cerewet, kadang melebihi mama cerewetnya," keluh Magenta.
"Seharusnya kamu bersyukur masih diperhatikan oleh kakak walau cerewet juga. Dibanding aku seperti anak dibuang, orang tua di Palembang dan aku di sini hanya berdua nenek saja".
"Oh, maaf yah Jena, aku tak tahu. Tapi kamu bisa jadi temanku dan jadi adiknya kakak".
Jena tersenyum menerima ajakan teman barunya itu.
Aletha sedang menikmati roti bakar dengan susu coklat, dia sedang duduk di cafe seberang kampus tadi sambil makan sambil membaca berita dari tweeter.
"Sendirian?".
Aletha terkejut dan mencari arah suara, matanya membulat ketika melihat Asrul berdiri dihadapannya.
"Oh iya".
"Boleh saya duduk di sini?".
"Silahkan,"sahut Aletha dengan senyum manisnya.
Asrul duduk dihadapan Aletha sambil membawa kopi hitamnya.
"Mas tahu tidak? kopi hitam itu julukan saya sewaktu di Sekolah dulu...hahahah," ujar Aletha ketika melihat cangkir yang dibawa oleh Asrul.
__ADS_1
"O...ya...memangnya dulu kamu sehitam ini kah?"tanya Asrul merasa lucu mendengar penuturan Aletha.
"Ya beginilah, aku sejak lahir kan tidak pernah merasakan putih kinclong...hahahah...tapi aku bahagia saja, karena kulit hitam kan ada lagunya kalau kulit putih kan tak ada lagunya," selorohnya sambil tertawa lepas.
Asrul merasa wanita di depan dia ini sangat menyenangkan sekali.
Dan benar saja mereka saling bercerita sambil selalu diselingi tawa renyah yang keluar dari bibir Aletha.
Mereka asyik berbincang sampai tak sadar kalau Husein sedang memfoto mereka berdua dari kejauhan.
Akhirnya ujian selesai, dan calon mahasiswa mulai keluar dari satu per satu dari halaman kampus.
"Makasih yah sudah menemani aku, dan jangan lupa adikku harus lolos yah," ujar Aletha sambil menyeberang jalan bersama Asrul.
"Pantas sekarang tidak terlalu coklat, bawaannya sudah beda nih," goda Asrul ketika Aletha menekan tombol kunci mobilnya.
Aletha hanya tersenyum lebar dan melambaikan tangannya.
"Kak...Jena mau ikut main ke rumah kita, boleh kan?"tanya Magenta dan tentu saja Aletha mengangguk setuju.
Sebelum pulang ke rumah, Aletha membawa adiknya dan Jena makan di rumah makan ayam goreng cepat saji.
Jena merasa bahagia mendapat sahabat baru yang keluarganya juga sangat baik kepadanya.
"Bro, aku mau kasih lihat sesuatu kepadamu. Ini benar- benar berita heboh tahun ini," kata Husein kepada Asrul.
"Berita apa? Coba lihat," sahut Asrul penasaran.
Lalu Husein memperlihatkan foto seorang pria dan wanita tengah berbincang riang di cafe depan kampus.
Asrul menepuk keningnya dan Husein tertawa mengakak merasa menang, karena sudah bisa memprediksi dari lama kalau suatu saat Asrul akan jatuh cinta kepada di gadis coklat.
Dua minggu kemudian Magenta mendapat informasi bahwa dia diterima di Sekolah Tinggi Swasta tersebut dengan jurusan Arsitektur. Begitu juga dengan Jena, mereka berdua sangat gembira sekali.
Yang lebih gembira mungkin Asrul dan Aletha, karena sejak pertemuan kemarin ini mereka menjadi semakin dekat satu sama lain.
Sering saling menelepon menanyakan kabar juga sering mengirimkan pesan singkat.
Suatu hari Asrul berjanji untuk bertamu ke rumah Aletha, dan tentu saja gadis itu sangat senang mendengarnya.
"Gen, jadi siapa sih cowok yang lain dekat dengan Kakak Etha itu? benarkah dia salah satu dosenmu?"tanya Ibu Edmun Nayoan ibu kandung Aletha dan Magenta.
"Kelihatannya sih gitu Mamih, tapi Gen tak paham juga, yang pasti pak Asrul itu suka titip salam buat Kak Etha kalau setiap bertemu denganku," jawab Magenta.
"Orangnya tampan tidak?Ayo sih Mamih ingin tahu, soalnya tahu sendiri kakakmu itu sangat tertutup kalau ditanya soal pacar," Ibu Edmun setengah memaksa Magenta.
"Lumayan ganteng kok tante, percaya deh, orangnya juga baik. Kalau tak salah duga sih mungkin ada keturunan arab deh," ujar Jena yang sedang menginap di rumahnya Magenta.
"Oh, berarti ada jambang di pipi dan dagunya dong?".
"Enggak kok Mamih, wajahnya klimis saja kok, agak coklat kuning gitu yah kulitnya," Magenta menjelaskan dan didukung oleh Jena.
"Hmmm, semoga saja yah jadi jodohnya Kak Etha. Mamih itu ingin sekali kakakmu segera menikah," kata Ibu Edmun penuh harapan.
"Memangnya Kak Etha selama ini tak pernah pacaran?"tanya Jena penasaran.
"Nah itu, semua lelaki yang datang pasti disebut hanya teman saja. Tak pernah satu juga yang spesial di mata Kak Etha, makanya Tante sangat berharap sekali yang akan datang sekarang ini jodohnya kakak".
Magenta dan Jena hanya cekikikan saja melihat Ibu Edmun, yang akan datang tamunya Aletha tapi yang sibuk ibunya.
"Ini benarkah alamatnya? Kok rumah mewah itu yah...waduh salah jalankah?" Asrul mendadak ragu ketika menghentikan mobilnya tepat di depan rumah nomor enam belas.
Dia celingukan merasa ragu dan bermaksud ingin menelpon Aletha untuk meyakinkan.
Tok...Tok...Tok...
Kaca mobil Asrul diketuk oleh seseorang, sontak Asrul kaget setengah mati.
"Selamat malam, ada yang bisa kami bantu? Bapak sedang mencari alamat kah?" tanya seorang pria berseragam penjaga keamanan ketika Asrul menurunkan kaca mobilnya.
"Iya pak, maaf apakah benar ini jalan Sejahtera?".
"Benar ini jalan Sejahtera, mau mencari nomor berapa dan rumahnya siapa yah?".
"Saya mencari nomor enam belas, rumahnya Aletha".
"Oh Non Aletha, apakah anda Bapak Asrul?".
Lalu Asrul mengiyakan kalau itu benar namanya.
"Baik, silahkan masuk ke halaman rumah saja pak. Tadi Non Aletha sudah bilang kalau akan ada tamu".
Asrul memasuki halaman sebuah rumah mewah, dan yang mengetuk kaca mobilnya tadi adalah penjaga keamanan rumah ini.
"Hai, ayo masuk," sapa Aletha dengan ramah dari depan pintu rumahnya.
Jantung Asrul berdebar kencang ketika memasuki rumah mewah tersebut, kakinya gemetaran karena tak sangka ternyata Aletha adalah orang sekaya ini.
Asrul duduk di ruang tamu, sementara Aletha pamit sebentar untuk mengambil air minum dan kudapan.
Ketika menatap foto di dinding rumah, barulah dia sadar kalau Aletha adalah anak seorang pengusaha eksportir udang ke luar negeri, dan sekarang menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Tengah dan sekitarnya.
Foto keluarga Edmun Nayoan terpampang jelas dan besar sekali di dinding ruang tamu rumah itu.
"Astaga, aku salah orang," rintih Asrul dalam hatinya.
Tak lama Aletha masuk lagi ke ruang tamu sambil membawa minuman dan kudapan ringan.
Gadis itu anak orang kaya raya tapi sama sekali tidak sombong dan selalu penuh tawa dalam setiap ceritanya.
Bahkan ketika Asrul menciut hatinya, saat kedua orang tua Aletha menyapanya, dia juga terkejut ternyata suami istri Edmun Nayoan begitu ramah dan santai menerima dirinya.
Magenta dan Jena mengintip Aletha yang sedang berbincang dengan Asrul, entah mengapa di hati Jena ada sedikit rasa kecewa karena Asrul terlihat menyukai Aletha.
"Aku gemetar dong saat bertemu langsung dengan ayah dan ibunya, kaki lemas dan jantung mau copot rasanya. Tapi mereka ramah, asli bro ramah sekali," Asrul bercerita kepada Husein keesokan harinya.
"Ya sudah hajar bro, tancap terus. Wah keren nih, Asrul Mubarok jadi menantu pejabat teras...hahaha," Husein memberi semangat kepadanya.
"Aku menyerah bro, aku cuma semut kecil mana bisa jadi menantu gajah. Jauhnya juga bagai bumi dan langit. Jujur aku takut bro, mana bisa aku memberi makan anak pejabat".
"Ah kau ini pengecut, coba kau lihat Aletha dong, orangnya sederhana tak pernah sombong, diajak makan bakso di pinggir jalan juga mau. Kemarin ini saat kau jemput ajak dia jalan naik mobil tua mu juga bahagia saja".
"Entahlah bro, Aletha mungkin oke saja, tapi orangtuanya mana mungkin. Ah kacau, tadinya aku pikir dia sama dengan kita, nyatanya begini".
Tiba-tiba ponsel Asrul berbunyi dan tertera nama Aletha, dengan sedikit enggan Asrul menjawab panggilan itu.
Rupanya Aletha meminta nanti malam Asrul ke rumahnya karena di undang makan malam bersama oleh ibunya.
Mau tak mau Asrul mengiyakan undangan makan tersebut, dan memaksa Husein untuk menemaninya.
Malamnya Asrul ditemani Husein datang memenuhi undangan ibunya Aletha.
Mereka berdua diajak makan malam bersama, dan Asrul merasa tak enak hati ketika harus bertemu langsung dengan keluarga Aletha.
Membawa Husein menjadi berkah karena dia bisa mencairkan kekakuan Asrul dihadapan keluarga Aletha.
Ketika selesai makan malam, Ibu Edmun mendekati Asrul dan berkata langsung.
"Nak Asrul, kalau mau serius dengan Etha, tolong segera bawa keluargamu untuk melamar anak saya. Tapi kalau kamu memang cuma ingin main-main dengan anak saya, segera tinggalkan dia dan jangan sampai membuat dia terluka lebih dalam".
Mendengar kalimat itu, tentu membikin hati Asrul sangat terkejut dan tak bisa berkata apapun.
Kembali Husein yang mendengar langsung berkata,
"Tante, Asrul bukan tipe lelaki yang suka mempermainkan wanita dan Asrul sudah yakin akan meminang Aletha. Nanti saya yang akan mengatur pertemuan kedua keluarga. Tante harus yakin kepada kami," ujar Husein meyakinkan Ibu Edmun Nayoan.
"Oke Husein, saya percaya dan saya minta kalau benar mau menikahi anak saya jangan lama-lama, saya ingin segera punya cucu".
Pulang dari sana Asrul demam tiga hari tiga malam, karena bingung tak tahu harus berkata apa dan dia sendiri tak paham apakah dia cinta atau tidak kepada Aletha.
Tapi Husein yang bergerak cepat, dia yang menyampaikan berita ini kepada orang tua Asrul bahkan dia yang kemudian menjadi juru bicara dan mengatur pertemuan kedua keluarga.
Bulan kelima di tahun dua ribu enam adalah hari pernikahan Asrul dan Aletha.
Aletha begitu bahagia, sementara Asrul sampai ijab dan kabul terucap masih merasa ragu dengan pernikahan yang akan dia jalani.
Tapi sudah tak mungkin ditarik lagi karena Ijab dan kabul sudah terucap, cincin sudah melingkar di jari manis dan janji sudah terikat.
__ADS_1
Hanya harapan saja yang harus terus diyakini bahwa kehidupan rumah tangga mereka akan bahagia.