
"Berdoa saja Pak, semoga kondisi Ibu Rima terus membaik."pungkas sang dokter, mungkin melihat ekspresi Bram yang terlihat kalut, dokter memahaminya
"Iya, dok terima kasih banyak dokter."
"Sama-sama, jika kondisi Bu prima mulai stabil nanti akan kami pindahkan ke ruang rawat."drum mengangguk dan pamit undur diri untuk melihat kondisi Mbak rima yang berbaring lama di atas branker.
Terlihat Mbak Rina masih terbaring dengan selang infus dan selang oksigen.
Kak Berapa lama terdengar adzan maghrib berkumandang, Bram beranjak untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.
"Silakan urus administrasi di bagian administrasi di depan sana ya pak."ucap Seorang perawat ketika Bram hendak meninggalkan Mbak Rima.
"Baik sus, saya ke sana sekarang."sahut Bram. drama lenggang keluar ruang UGD, Luna dan Mala serta Khairul masih duduk di tempatnya semula.
"Bagaimana keadaan Mbak Rima Mas? tanya Luna ketika melihat Bram keluar dari ruangan UGD.
"Kondisinya lemah, karena penyakit komplikasi yang dideritanya,"Bram tertunduk.
"Sabar ya Mas, kita doakan yang terbaik untuk Mbak Rima." Mala menepuk pelan pundaknya. Bram mengangguk.
"Bram kebakaran kebagian administrasi sebentar ya,"pamit Bram.
"Mas, Jika perlu sesuatu katakanlah, jangan sungkan."Mala tiba-tiba berucap, apakah mungkin dia juga memahami kondisi Bram sekarang ini.
Bram mengangguk tersenyum.
"Iya,Mala. Terima kasih banyak."
"Ayah, Khairul selalu doain Bude, semoga Bu terima bisa segera sembuh. Khairul menggenggam lengan rambut, Dengan mengatakan itu. seketika hati Bram terasa damai melihat putranya ini begitu cerdas membaca suasana, Iya sekolah tahu kondisi budenya sekarang ini.
"Terima kasih sayang, anak pintar. doa anak saleh insya Allah ijabah sama Allah. doain terus Bude biar cepat sembuh ya."Khairul mengangguk.
"Ayah mau ke bagian administrasi dan salat magrib sebentar ya. lun, Mala, Kalau tidak keberatan aku titip Mbak Rima sebentar ya."Bram menoleh ke arah mereka berdua.
"Iya, Mas,"Sahut Bram dan Luna bersamaan.
Bram lenggang ke bagian administrasi, di rekening Bram masih ada uang, semoga cukup, jika uang ini digunakan untuk biaya rumah sakit, kemungkinan Nanti belum akan ke dunia untuk makan dan bayar sewa rumah.
Bram lebih dulu ke bagian administrasi untuk mengurus semuanya, Setelah semua selesai Bram melenggang ke mushola rumah sakit.
__ADS_1
Setelah selesai drum kembali ke depan ruang UGD. Tapi mereka semua sudah tidak ada di sana. Bram ampun langsung masuk ke tempat di mana Mbak Rima terbaring.
Tapi tempatnya kosong.
"Maaf Pak, cari pasien atas nama Bu Rima ya?"tanya Seorang perawat yang sedang jaga.
"Iya sus."
"tadi dokter memutuskan untuk memindahkan ke ruang ICU pak, karena kondisi Bu Rima terus menurun, ruang ICU ada di sebelah sana Pak." pucat perawat itu sambil menunjukkan ke arah di mana ruang ICU itu berada.
DEGH.
Jantung berdetak tak karuan. Takut terjadi sesuatu kepada Mbak Rima.
kondisi Mbak Rima semakin menurun. Luna dan Mala pasti sudah ikut ke ruang ICU tadi.
"Terima kasih, sus,"ucap Bram kemudian setengah berlari Iya menelusuri lorong Rumah Sakit menuju ruang ICU.
Terlihat Luna dan Mala berdiri di depan sebuah ruangan berdinding kaca tebal. Juga ada Khairul di antara mereka.
"Luna, Mala!" sapa Bram sembari mengatur nafas yang sudah tersenggal-senggal akibat ia panik dan berlari menuju ruang ICU.
"Mbak Rima di dalam, dokter masih menanganinya." sahut Luna.
"Yang sabar Mas. Kami pamit untuk salat magrib sebentar ya, nanti kami ke sini lagi." ucap Luna. yang dibalas anggukan dari Bram.
"Ya, terima kasih ya."
Mereka melanggar meninggalkan Bram , yang berdiri di sini menyaksikan Kakak perempuannya sedang berjuang melawan sakitnya.
Waktu terus bergulir, selama Mbak Rima di dalam ruang ICU, mereka hanya bisa menengoknya secara bergantian satu persatu, dan setelah isya Luna pamit pulang karena sudah malam, dan Khairul juga besok harus sekolah.
"Besok insya Allah mereka akan datang lagi. "Kalau apa-apa jangan sungkan hubungi kamu ya Mas."ucap Mala.
"Terima kasih banyak Mala,"Tak ada kata lain yang keluar dari mulut Bram selain terima kasih dan terima kasih kepada mereka.
Mereka pun berlalu, sesekali Bram masuk ke dalam untuk membersihkan kata-kata lembut penuh semangat, agar Mbak Rima mendengarnya dan ia semakin semangat untuk sembuh.
Malam berlalu, penuh keheningan hanya aroma obat yang menyengat di hidung, dan hawa yang terasa begitu dingin.
__ADS_1
Usai salat subuh, Bram kembali melihat kondisi Mbak Rima, sekedar untuk mengucapkan selamat pagi, dan kata-kata penuh semangat untuk membangkitkan semangat menerima agar Ia memiliki semangat sembuh.
"Mbak harus kuat, Bram di sini selalu menemani Mbak, sampai Mbak sembuh, Mbah harus semangat kita hidup sama-sama Mbak."ucap Bram tepat di telinga Mbak Rima. tak terasa matanya berat panas menahan air mata yang menyesak ingin keluar.
Hingga tiba-tiba jemari Mbak Rima bergerak, diiringi nafas yang tersenggal-senggal, Bram tersentak dan bergegas memanggil perawat yang selalu berjaga selama 24 jam secara bergantian.
Dengan sigap mereka datang dan menghubungi dokter yang menangani Mbak Rima sebelumnya.
"Silakan Bapak tunggu di luar, biar kami cek kondisinya ya pak"ucap salah seorang perawat bersamaan dengan masuknya seorang dokter.
berampun melangkah keluar ruang ICU, menuruti ditanya sang dokter dan suster. bra menunggu di luar dengan penuh kecemasan, tatapan matanya tak terlepas dari melihat Mbak Rima telah dipacu jantung oleh tim medis.
kakinya terasa tak bertulang lurus di lantai duduk tersandar, meremas kuat pangkalan rambutnya. Satu hal yang saat ini Bram takutkan, Bram takut Mbak Rima memilih menyerah dan akhirnya pergi meninggalkan Bram.
"Assalamualaikum Mas! siapa malah yang tiba-tiba sudah berdiri di depan Bram, ada Luna juga di sampingnya.
"Waalaikumsalam, kalian sudah di sini Khairul mana? tanya karena tidak melihat sosok Putra tunggalnya itu bersama mereka.
"Tadi kami antar dia ke sekolah, kemudian langsung kemari,Mas. gimana kondisi Mbak Rina?"Luna memastikan, sembari matanya terus menatap ke dalam ruang berkaca itu.
Bram hanya menggeleng, Luna menarik nafas dalam salah paham maksud Bram. bawa kondisi Mbak Rima kritis.
ceklek
terdengar pintu ruangan terbuka seorang dokter keluar dengan raut wajah yang begitu sulit dijelaskan.
Bergegas brambangkit dan mendekatinya.
"Bagaimana keadaan Mbak Rima dokter?"
"Mohon maaf Pak, Bu Rima sudah tiada. dia sudah menghadap sang khalik, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi sepertinya Bu Rima tidak dapat bertahan."sahut dokter itu lirih
DEGH.
Bram tersentak, langit salah runtuh, mendadak bra merasa seakan kakinya tak menapak ke bumi. Kaget, sungguh kaget, sesuatu yang sejak tadi Bram takutkan, Kini benar-benar terjadi. Mbak Rima memilih menyerah dan meninggalkan Bram sendiri di sana.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN