Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 67. MEMINTA MAAF_ PDHP


__ADS_3

Akhirnya Luna memutuskan untuk mengangkat sambungan telepon selulernya yang berasal dari Malakiano.


"Hello Assalamualaikum."ucap Luna apa adanya di seberang sana.


"Waalaikumsalam lun! Kamu belum tidur kan?"


"Belum, Ada apa memangnya Mala?


"Bagaimana kabar kamu? Hey, aku hanya ingin mengobrol, apa tidak boleh?"


"Bukan seperti itu, hanya saja aku sedang sedikit sibuk. Alhamdulillah aku baik dan sehat."


"Oh baiklah, kalau kamu sedang sibuk, lain kali saja. Semoga saja besok-besok aku bisa kembali mendengar suaramu, Maaf ya jika aku mengganggu. Oh iya gimana kabar Khairul?"


"Alhamdulillah Khairul juga baik dan sehat."


"Oke sekali lagi maaf ya, jika aku mengganggu, jangan terlalu diforsir. Ini juga sudah malam, istirahatlah dan jaga kesehatanmu."


"Iya, Terima kasih assalamualaikum."


Tuuut.....


Luna putuskan sambungan telepon selulernya. Luna hanya tersenyum tipis mendengar bentuk perhatiannya.


Hari semakin larut, Setelah semua pekerjaannya selesai, Luna menutup laptopnya dan beranjak menuju pembaringan. Tak lupa, Luna ambil wudhu sebelum tidur. Kebiasaan yang sudah Luna lakukan sejak Luna masih gadis.


Luna rebahkan tubuhnya di peraduan dan mulai memejamkan matanya. Setelah beberapa kalimat zikir tidur Luna lafalkan. Baru saja matanya terpejam, ponselnya di atas nakas kembali, kali ini terlihat sebuah notifikasi pesan masuk dari notifikasi itu bisa terlihat nama Mala, dan untaian kalimat pesan


"Selamat malam."pesan itu yang masuk di WhatsApp yang dikirimkan oleh Mala kepada Luna.


Luna hanya menghela nafas dan membiarkan pesan itu di sana tanpa membukanya, Beberapa saat Luna mengarungi alam mimpinya.


****


Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki saat ini, karena bisa jadi setelah kita kehilangannya, hal itu akan menjadi penyesalan terdalam dalam hidup ini.


Apa yang kita tabur, itu pula yang pasti akan kita tuai. Jika jejak awal niat kita sudah tidak baik, maka Jangan berharap akan berakhir dengan baik.


Sinar mentari pagi telah muncul dengan gagahnya di ufuk timur. Hembusan angin pagi yang begitu menyejukkan, kicauan burung yang mulai keluar dari sarangnya menambah syahdu suasana sejuk pagi ini.


Luna mulai membersihkan halaman rumah yang sudah nampak tertutup oleh dedaunan. Apalagi pekarangan rumah Luna dipenuhi dengan pepohonan mangga dan juga rambutan, Selain itu banyak juga tanaman bunga yang memperindah dan membuat rumah itu semakin asri.


Sebelum mulai masak Luna sempatkan untuk menyapu halaman yang memang tidak setiap hari luna bersihkan.

__ADS_1


Setelah Luna mengantarkan Khairul ke tempat belajarnya, Luna langsung menuju ke kantor sambil menunggu Khairul selesai. Kemudian setelah ia selesai belajar, Luna akan menjemputnya dan kembali pulang ke rumah. Begitu seterusnya setiap hari yang Luna lakukan


Jika ada hal penting yang harus Luna selesaikan di kantor, Khairul pun ikut dengannya hingga waktu terus, Luna menyukai aktivitasnya dan mulai terbiasa tanpa Bram. Luna bisa berdiri dan bangkit dari semua masa lalu yang begitu menyakitkan.


Semua kesibukan itu juga membuatnya tak pernah berpikir untuk menikah, atau dekat dengan lelaki yang ada di pikirannya. Hanya bekerja dan mendidik Khairul agar ia tumbuh sehat menjadi anak yang sholeh seperti harapan Luna.


Waktu sepekan berjalan begitu cepat, tanpa terasa besok sudah weekend. Biasanya hari Sabtu atau Minggu Bram datang untuk menemui Khairul sekedar bercengkraman atau mengajaknya untuk membeli es krim. Luna tidak pernah keberatan ia menghabiskan waktu bersama anaknya.


Drrrrrt


sebuah pesan masuk di ponselnya dari.


"Lun, besok aku ingin bertemu Khairul."


"Okey."


"Besok aku datang bersama Mbak Rima. Dia ingin bicara."


Luna terdiam sejenak membaca pesan Bram. Memang sejak peristiwa gaduh di rumah itu, saat Luna mengambil motor Bram, Luna belum pernah bertemu lagi dengan mbak Rima. Selama ini Bram hanya datang sendiri dan Luna tak pernah bertanya apapun tentang mantan kakak iparnya itu.


Bram hanya bercerita bahwa dia sekarang bekerja di sebuah restoran itu pun Luna tak menanyakan tempatnya di mana. Karena baginya itu tak penting lagi.


"Okey, tapi aku harap kakakmu bisa menjaga sikap di sini. Karena kita sudah bukan siapa-siapa lagi." balas Luna.


Sepertinya Bram belum mampu membeli motor sebagai alat transportasinya. Terbukti setiap Ia datang ke rumah Luna ia selalu naik ojek


"Ayah!


Luna yang sebelumnya sudah memberitahu Khairul, jika ayahnya akan datang Khairul langsung menghambur menemui ayahnya.


"Khairul sehat?


"Alhamdulillah sehat Ayah. Ayah bagaimana?


"Alhamdulillah Ayah juga sehat Nak."


Mbak Rima menghampirinya dengan wajah menunduk. Mungkin ada sedikit rasa malu untuk menemuinya, karena semua yang sudah terjadi tak luput dari campur tangannya.


"Mari silakan duduk Mbak." ucap Luna mempersilahkan ia duduk di teras rumah, Ia hanya terdiam.


"Sebentar Luna ambilkan...


"Duduklah Mbak, ingin bicara cegahnya meraih tangan.

__ADS_1


Luna yang hendak beranjak pun kembali duduk sana.


"Lun, Aku ingin mengajak Khairul jalan sebentar ke taman komplek, ya. Mumpung masih pagi."Bram minta izin. Luna hanya mengangguk pertanda Ia setuju


"Hati-hati ya, nak!"ucap Luna pada Khairul yang sudah siap pergi bergandengan dengan ayahnya. Luna usap rambut hitamnya yang tebal.


"Siap Ma." tapi sebentar ya, Khairul mau ambil bola dulu.


Khairul melirik sebentar ke arah Bram, kemudian melepaskan genggaman tangannya dan berlari masuk ke dalam rumah mengambil bola miliknya.


"Ayo, Ayah! kita jalan. Khairul kembali menggamit tangan ayahnya dan berjalan keluar gerbang


Mereka pun berjalan ke arah taman komplek yang tak jauh dari rumah ini.


Mbak Rima gimana kabarnya? tanya Luna mulai membuka percakapan


"Alhamdulillah Mbak sehat Lun."


"Alhamdulillah kalau begitu mbak."


"Lun Mbak minta maaf atas semua yang sudah mbak lakukan selama ini sama kamu hingga membuat rumah tangga kamu hancur ucapnya lirih terlihat semburat penyesalan dari sorot matanya.


Luna hanya menghela nafas panjang mendengar semua itu.


"Sudahlah Mbak, semua sudah terjadi tak perlu lagi diungkit lagi."


Mbak mohon Lun, kembalilah rujuk dengan Bram. Kasihan dia semua ini kesalahan Mbak. Bram tidak bersalah.


"Apa? kembali rujuk dengan Mas Bram? enak sekali Dia berkata seperti itu. Kasihan dengan Bram, apa dia tak kasihan denganku saat diam-diam Bram menghianatiku dan berselingkuh dengan wanita lain yang ia sodorkan bukankah dia juga seorang wanita di mana hatinya saat itu."gumam Luna dalam hati


Bermain serong sehingga bertukar peluh dan wanita lain dia bilang Bram tak bersalah sungguh keterlaluan.


Luna terdiam cukup lama , menatap lurus ke depan masih tertangkap oleh ekor matanya Mbak Rima menatap iba ke arah luna.


Sekali lagi Luna menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Maaf Mbak, Luna tidak akan pernah rujuk lagi dengan mas Bram. Nggak bisa, sudah terlanjur sakit hati ini Mbak. Bukankah ini yang Mbak ma?" tanya Luna dengan senyum tersungging di bibirnya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2