Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 98. KEDATANGAN LUNA_ PDHP


__ADS_3

Waktu terus bergulir, hingga tak terasa sore hari tiba dan waktunya untuk pulang, jam Empat sore Luna janji akan datang bersama Khairul, Bram melajukan kuda besinya ke arah jalan raya menuju jalan pulang ke rumah sederhana yang mereka tempati.


Tak lupa Bram membeli makanan untuk makan malam, dan makanan ringan untuk cemilan.


Senja sore yang cerah semburat warna kuning keemasan di ufuk barat, membentang dengan gagahnya.


Bram seakan tak sabar ingin berjumpa dengan putranya. Bram lajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, agar bisa segera sampai di rumah.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih lima belas menit, akhirnya Bram sampai di rumah, saat Luna dan Khairul belum sampai.


"Mas Bram, baru pulang ya? tanya seorang dari rumah sebelah, Siapa lagi kalau bukan mbak Dewi, sejak kejadian membetulkan kabel TV di rumahnya tempo hari, Bram sengaja menjaga jarak darinya, apalagi sekarang ini Rini yang mengisi ruang hatinya.


Walaupun masih ia simpan sendiri, tapi setidaknya sudah ada orang lain di dalam hatinya. Menjadikan Bram harus menjaga jarak dengan wanita lain, apalagi orang seperti Dewi, yang bisa saja lebih berani dari yang waktu itu.


"Iya mbak,"jawab Bram singkat.


"Mas, gimana kabar mbak Rima, Saya dengar dengar makin menurun ya kondisinya, perlu perawat nggak, buat merawat Mbak Rima di rumah, kalau butuh perawat, saya siap loh Mas."ujarnya.


"Ini orang sengaja menghina atau menyindir Bram, yang merawat Mbak Rima di rumah bukan di rumah sakit? atau maunya apa sih! Bram berdesak kesal dalam hati, tak mungkin meladeni mulut nyinyir seorang wanita.


"Maaf Mbak, maksud Mbak Dewi apa ya, ngomong begitu?"Ketus Bram menatap tajam ke arahnya.


"loh ya, nggak ada apa-apa, lah ia memang benar kan, Mas Bram kerja dari pagi sampai sore, Mbak Rima sedang sakit di rumah sendirian, ya. Saya cuman kasihan aja kok."Dewi berkata dengan logat khasnya. Gaya bicaranya yang seperti itu justru membuat Bram jengah.


"Nggak perlu Mbak, Terima kasih atas tawarannya. Saya masuk ke dalam dulu,"Bram membalikkan badan hendak masuk ke dalam.


"Mas Bram tunggu! Jangan tersinggung loh, saya kan cuma nawarin, saya juga nggak perlu dibayar kok. Saya siap membantu merawat Mbak Rima di rumah, yang penting saya bisa lebih dekat dengan kamu Mas."mendengar ucapannya, membuat Bram sontak menoleh kembali ke arahnya.


"Ini orang sudah gila, apa? apa sih maksud orang ini? benar-benar perempuan gatal, Bram sama sekali tak melirik atau tertarik akan tawarannya.


"Maaf sebaiknya Mbak Dewi pulang, Saya mau masuk ke dalam."


"loh aku serius Mas, kita kan sama-sama single, memang apa salahnya kalau kita sama-sama bisa bersenang-senang iya kan. saya siap kok, Mas Bram ganteng."sungguh lama-lama ucapan Mbak Dewi ini membuat Bram mual.


Untung saja Bram masih punya iman, sekarang ini Bram masih cukup bermoral, dan tak ingin jatuh ke dalam kehinaan untuk kedua kalinya.


"Cukup Mbak! Maaf saya bukan lelaki seperti itu. Jika Mbak mau, silakan cari orang lain, tapi bukan saya! Permisi!"Bram melenggang masuk usai mengucapkan itu, kemudian membuka pintu dan menutup serta mengunci pintunya, Masih jelas ia melihat bibirnya mencebik seperti tak suka dengan penolakan yang tadi Bram katakan.


"Ada ya, wanita seperti itu, bahkan menawarkan dirinya. Memang awal Bram tinggal di sini, dan berkenalan dengan Dewi, mereka sempat ngobrol dan dia bertanya apa tidak ada niat untuk menikah lagi, dan waktu itu Bram jawab belum ingin menikah lagi, karena memang Bram belum menemukan sosok yang pas untuk mengisi ruang hatinya.

__ADS_1


Tapi bukan berarti Bram mau menikah dengan Mbak Dewi, dia bukan wanita yang Bram idamkan menjadi istri.


Bram menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, usai menutup rapat pintu rumah, Bram tak memperdulikan Dewi yang masih berdiri di halaman rumah.


Bergegas Bram masuk untuk menengok kondisi Mbak Rima. Ia masih berbaring di tempat tidur, kemudian melihat Bram datang, ia tersenyum ke arah Bram.


"Ada siapa tadi di depan? seperti Mbak Dewi?"tanya Mbak Rima. Bram mengangguk menghembuskan nafas berat.


"Bilang apa dia, kok Sepertinya kamu marah-marah tadi?"tanyanya lagi.


"Ya begitulah, Aku kurang suka aja Dia seolah menawarkan diri buat dekat denganku, aku sendiri yang mual mendengarnya."mendengar penuturan Bram Mbak Rima tertawa kecil.


"Sepertinya dia suka sama kamu, tapi caranya memang tidak baik, Mbak juga tidak suka caranya yang terlalu vulgar. Bagaimanapun dia itu perempuan harusnya bisa menahan diri,"ucap Mbak Rima.


"Itu dia Mbak. Bram sendiri jadi takut sendiri dengan wanita yang agresif seperti itu Mbak."Bram berkedip ngeri. lagi lagi mbak Rima hanya tersenyum.


"Ya sudah, sekarang kamu hati-hati aja jangan sampai kena jebakan sama dia."Bram mengangguk.


Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga keduanya.


Tok ...


Tok ...


Tok ...


ceklek


"Dewi kamu bisa nggak...."ucap menggantung karena ternyata yang berdiri di depan pintu bukanlah Dewi, melainkan Luna dan Khairul, juga dengan Kia.


"Assalamualaikum Mas!"sapa Luna.


"Waalaikumsalam, Luna, Mala dan Khairul. Maaf aku kira tadi Dewi tetangga sebelah."ucapnya sedikit salah tingkah, karena malu dan tak enak hati.


"Ayah!"sapa Khairul meminta tangan Bram dan menciumnya takzim.


"Khairul sayang, Ayo masuk yuk!"


Mereka pun berjabat tangan dan malah mengulas senyum di bibirnya. Bram mengira Hanya luna dan Khairul yang datang tapi ternyata dengan Mala juga, sepertinya malah memang begitu menyayangi Luna dan Khairul, mungkin Mala tak membiarkan Luna membawa motor sendiri bersama Khairul datang.

__ADS_1


"Apa kabar Mas?"tanya Mala saat mereka sudah duduk di ruang tamu.


"Alhamdulillah kabar Aku baik, Kamu apa kabar?"


"Alhamdulillah kami sekeluarga sehat Mas."


"Ehm Mas Bram, boleh aku lihat kondisi Mbak Rima?"tanya Luna.


"Boleh, Mbak Rima ada di kamarnya, mari saya antar.


"Ma Khairul juga ikut lihat Bude ya, Ma! tanya Khairul antusias dan diangguki oleh Luna.


Bram ngantarnya hingga ke depan kamar Mbak Rima. Kemudian Luna mengetuk pulang pintu kamar Mbak Rima.


Terdengar sahutan suara Mbak Rima dari dalam, kemudian dengan pelan Luna dan Khairul masuk ke dalam kamar, Kia pun ikut melihat kondisi Mbak Rima.


"Mbak ini ada Luna sama suaminya datang, ada juga Khairul." Bram membantu Mbak Rima duduk di sandaran ranjang itu.


Mbak Rima menoleh ke arah mereka semua Dan tersenyum. Luna duduk di dekatnya.


Mereka saling berjabat tangan, bahkan luna merangkul Mbak Rima tanpa canggung, mungkin Luna merasa iba melihat kondisi Mbak Rima yang seperti sekarang ini.


"Khairul."panggil Mbak Rima. Khairul pun mendekat, meraih punggung tangannya. terlihat benar bahagia terpancar disaat matanya saat Mbak Rima menata cairul.


"Bude cepat sembuh ya, biar kita bisa main lagi."ucapnya polos, dan diangguki oleh Mbak Rima sambil tersenyum.


Mala pun mendekat dengan mencium punggung tangan Mbak Rima dengan takzim. Mbak Rima tersenyum lembut pada keluarga itu.


"Gimana keadaanmu Mbak?"tanya Luna


"Iya beginilah Lun, kamu dan keluarga gimana, sehat?


"Alhamdulillah sehat Mbak. Mbak harus tetap semangat ya mbak, aku yakin Mbak bisa melewati ini semua,"Luna menggenggam erat tangan Mbak Rima saat mengucapkan itu.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2