
Ibu Vanessa mematikan sambungan telepon selulernya usai mengatakan itu.
Usai bicara dengan ibu Vanessa, hatinya semakin sedih, Vanessa memang anak yang tak bisa dibanggakan, Vanessa menangis sejadi-jadinya malam ini hingga matanya terpejam.
****
Pagi ini kepalanya sedikit pusing, mungkin akibat menangis semalam.
Vanessa mencoba bangkit untuk membersihkan diri, setelah itu Vanessa memesan menu makanan untuk sarapan, sejak semalam perutnya belum diisi makanan.
Setelah menunggu, pesanan makanannya Akhirnya datang, Vanessa segera melahapnya, pusing di kepalanya perlahan menghilang. Syukurlah.
Vanessa akan keluar untuk jogging di taman, mungkin dengan begitu Vanessa sedikit bisa menghilangkan kesedihannya.
Usai sarapan Vanessa bersiap, untuk pergi berolahraga, dengan menghirup udara pagi, Vanessa berharap bisa lebih tenang.
Suasana pagi masih sunyi, burung berkicau indah sekali, Vanessa kemudikan sepeda motornya menuju taman kota yang memang dibuat untuk berolahraga masyarakat umum.
Vanessa edarkan pandangan melihat sekeliling, usai memarkirkan motor. Taman tidak terlalu ramai, karena memang hari ini bukan weekend. Vanessa mulai berlari-lari kecil atau sekedar berjalan-jalan santai menikmati hari yang cerah.
Tanpa terasa setengah jam sudah Vanessa berada di taman, sudah lumayan berkeringat tubuhnya, Vanessa berjalan untuk membeli air mineral, karena Vanessa lupa membawanya dari rumah.
Pandangannya mengarah pada kedai di seberang sana, tanpa pikir panjang, Vanessa berjalan cepat menyeberang jalan yang cukup ramai, karena hari ini hari kerja dan pas di jam sibuk, jadi jalanan cukup ramai.
Setelah memastikan ke kanan dan ke kiri sepi, Vanessa melangkah menyeberang jalan, pandangannya fokus ke depan, Baru beberapa langkah tiba-tiba terdengar suara teriakan yang begitu keras.
"Awasssss!
Ternyata suara teriakan itu mengarah untuk Vanessa, saat Vanessa menoleh ke kiri, sebuah mobil pick up sudah berada di dekat sekali dengan tempatnya berdiri.
"Aaaaas!!! Bruughkk!.
sebuah hantaman keras mengenai tubuhnya, seketika semuanya menjadi gelap, sayup-sayup masih terdengar di telinganya suara seorang perempuan.
"Vanessa! Ya Allah ini Vanessa! Pak tolong Pak, ini teman saya Pak! bawa masuk ke mobil saya, Pak!"
Setelah itu gelap Sudah dan Vanessa tak ingat apapun lagi.
__ADS_1
Entah berapa Jam, Vanessa tak sadarkan diri, saat terbangun Vanessa sudah ada di sebuah ruangan yang serba putih, dengan selang infus sudah tertancap di punggung tangannya. Sepi dan sunyi, beberapa saat kemudian Vanessa terus sadar jika ini adalah di rumah sakit.
Ceklek.
Pintu ruangan terbuka, memperlihatkan dua orang perawat masuk bersama dengan seorang dokter.
"Selamat sore, Ibu sudah sadar, Alhamdulillah." ucap laki-laki yang mengenakan jas berwarna putih dan berkacamata itu.
"Sore, saya Kenapa dok?"
"Ibu mengalami kecelakaan yang cukup parah, Bu."
Vanessa mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi, seperti ada yang aneh, Kenapa kakinya tak dapat digerakkan. Ya Tuhan, sungguh kaki ini seakan mati rasa.
"Dok, Kenapa kaki saya tidak bisa digerakkan dokter?"Kenapa kaki saya seperti mati rasa, dokter!" teriaknya panik.
"Dokter, jawab saya, Dok! kaki saya kenapa?" teriak Vanessa lagi. Tangisnya mulai pecah.
"Tenang, tenang Bu! ibu mengalami benturan hebat yang menyebabkan Ibu menderita kelainan saraf yang menyebabkan kehilangan fungsi sensorik dan motorik pada tungkai, atau disebut juga kelumpuhan."
Duarrr
Vanessa sangat-sangat terkejut mendengar penuturan dokter, langit terasa runtuh menimpa dirinya. Vanessa orang berteriak sejadi-jadinya, dunianya terasa hancur lebur sudah.
Vanessa goyang-goyangkan kakinya yang tak berdaya itu, sambil terus menangis sesenggukan, teriakan yang begitu pilu. Tangannya pun tak mau tinggal diam, mencoba berontak, berharap kakinya bisa kembali bergerak.
Sontak, para suster dengan sigap memegangi kedua tangannya yang terus berontak.
"Lepaskan tangan saya sus, lepaskan!"
Sungguh Vanessa tak bisa menerima kondisi kakinya yang lumpuh, rasanya ini seperti mimpi buruk dan berharap saat ia bangun nanti, Vanessa bisa berdiri dan berjalan seperti semula.
"Ya Tuhan, bangunkan aku dari mimpi buruk ini,"jerit Vanessa. Hingga akhirnya dokter menyuntikkan sesuatu pada selang infus yang di dekat punggung tangannya, perlahan namun pasti matanya terpejam dan Vanessa tertidur begitu saja.
****
"Alhamdulillah Kamu sudah sadar Vanessa,"ucap seorang wanita saat Vanessa masih berusaha membuka kelopak matanya.
__ADS_1
"Maya. Kenapa kamu ada di sini Maya?" tanya Vanessa saat melihat yang duduk di sampingnya adalah maya.
"Iya, aku kebetulan lewat pagi tadi Saat kecelakaan terjadi, saat aku lihat itu kamu, aku langsung membawamu ke sini."
"Untuk apa kamu menolongku, tak perlu sok peduli denganku, karena mungkin Sebenarnya di hatimu mentertawakan ku, iya, kan?" sekarang kamu pasti senang, kan?"
Sebentar lagi kau akan menikah dengan Aldo."
Entah mengapa emosinya tiba-tiba naik setelah tahu, Maya yang menolongnya. Namun, sedikit kemudian Vanessa kembali terisak mengingat kondisinya sekarang.
Mendengar ucapannya, Maya hanya tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya yang tertutupi hijab.
"Vanessa, kamu tenangkan dirimu dulu, kamu baru saja siuman. Dengar aku baik-baik ya, kamu jangan salah paham. Kehadiranku kemarin ke rumah dia, hanya ingin menjalin hubungan baik dengan keluarganya. Karena aku terus dimintai tolong oleh ayahnya Aldo, untuk hadir kembali di kehidupan Aldo, aku sudah menolaknya Tapi beliau terus memohon."
Vanessa menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, sebelum melanjutkan kata-katanya. Kemudian ia duduk di bangku yang ada di sisi panjang itu.
"Kami dulu memang dekat, tapi kami tak pernah berpacaran, karena aku selalu menolak pacaran, kemudian Aldo berinisiatif untuk mengenalkan aku pada orang tuanya, dan mengutarakan niatnya untuk meminangkan menjadi istrinya. Tapi sayang orang tua Aldo tidak merestui, hingga akhirnya aku mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan kuliah S2 ke luar negeri, Tanpa pikir panjang aku terima, mungkin dengan begitu Aldo bisa melupakan aku, karena tak mungkin aku menikah tanpa restu."
Maya menjelaskan panjang lebar, Vanessa hanya menatap kosong ke langit-langit ruangan itu, air bening bener-bener luruh begitu saja tanpa bisa ia cegah membasahi pipinya.
"Aku sudah hancur sekarang, Maya!"
Tangisnya kembali pecah, Maya bangkit memeluk tubuh Vanessa yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit itu.
"Kamu harus tabah, Vanessa."
"Sekarang ibu Alena sudah merestui Kalian kan,"tukas Vanessa.
"Kamu sebaiknya istirahat, agar segera pulih, Jangan memikirkan terlalu berat, Aku tidak seperti yang kau pikirkan,"ucap Maya kemudian ia kembali duduk di samping ranjang.
"Hancur sudah duniaku sekarang,"Vanessa terguguk meratapi nasib malangnya, Vanessa Tak ubahnya seorang wanita lumpuh yang tak berdaya, Vanessa tak sanggup membayangkan hari-harinya hanya bisa duduk di kursi roda, tak mampu melakukan apapun.
"Akan ada hikmah di setiap kejadian, kamu jangan berkata seperti itu, Vanessa!" Alhamdulillah Kamu masih hidup, Setelah mengalami kecelakaan itu." Maya menggenggam tangan Vanessa, mencoba menghibur Vanessa.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN