
"Iya Pak, maaf ya Pak. Sudah merepotkan bapak. Saya memang sudah lama mengganti nomor ponsel saya," ucap Rini sambil nyengir.
"Tuh kan bener, kamu ketinggalan. Tadi kelimpungan tuh nyari dompetnya, Terima kasih ya Nak Bram sudah rela mengantarkan kemari."ucap Mamanya Rini dan mendaratkan bobotnya di samping putrinya.
Wanita paruh baya itu yang di kepalanya sudah terlihat uban, begitu mirip dengan Rini. Hanya perbedaan umur saja yang membedakan dan uban di kepala ibu paruh baya itu.
Cantik, meski sudah ada kerutan di wajahnya tapi kecantikan alaminya masih terpancar di sana. Sekarang Bram bisa melihat kecantikan Rini mewarisi dari ibunya sendiri.
"Ehm, Rin. Saya pamit ya, Saya cuman mau nganterin dompet kamu, dan saya harus kembali bekerja,"pamit Bram. Tak enak juga meninggalkan sugi sendirian disana. Bagaimanapun Bram butuh pekerjaan itu jadi tak ingin berlama-lama. Takut berpengaruh pada gajinya nanti, gaji tak seberapa makin sedikit nanti jika ada potongan.
"Oh iya pak. Sekali lagi terima kasih ya, Pak. kalau bukan bapak yang menemukannya entahlah mungkin tidak dikembalikan ke saya."ucap Rini kepada Bram.
Bram bangkit dan mengulurkan tangannya memberi salam kepada ibunya Rini, dan juga Rini.
"Iya sama-sama Rin, kita juga kan sudah lama kenal. Dan kebetulan saya baca di KTP kamu alamatnya tak jauh dari tempatku bekerja, jadi tak ada salahnya saya langsung antar kemari ucap Bram sambil berjalan keluar rumah itu diikuti oleh Rini dan ibunya.
"saya pamit ya Rin, mari tante saya pamit mereka mengangguk disertai senyum tersungging di bibirnya.
Bram nyalakan motor menuju kembali tempat kerjanya. Ia tidak ingin membuat Sugi terlalu lama menunggu dirinya. Apalagi Ia khawatir kalau gajinya akan dipotong jika jam istirahatnya lewat nantinya.
"Alhamdulillah sudah kembali Mas, Aku kira bakalan sore di sana. He....he...he." ledek sugi ketika ia sampai di tempat kerjanya.
"Ya enggaklah, emangnya aku siapa bakalan lama di sana cuman balikin dompet doang." sahut Bram.
"Ya kirain, kapan lagi bisa main ke rumah wanita cantik iya kan."ucap Sugi sambil memainkan alisnya berniat menggoda Bram yang sudah menduda.
Sugi.... sugi....dasar bocah. Bram emang statusnya single. Tapi Bram ini itu sudah duda dan tidak muda lagi, bukan seperti dia yang masih ABG.
"Ah kamu ini Sugi masih kecil juga pikirannya sudah kemana-mana udah kerja aja dulu yang benar baru cari pacar. Ketus Bram. Sugi hanya mencibir Bram.
Jam kerja Bram dan Sugi memang hanya sampai pukul empat sore. Karena pergantian shift juga ada di sana, dan dari jam jam empat sore sampai jam jam sebelas malam nanti shift sudah berganti.
__ADS_1
Selesai sudah pekerjaan Bram hari ini memang pekerjaannya hanyalah seorang pelayan di sebuah restoran tidaklah terlalu memberatkan. Walaupun kayak gitu terkadang perang merasa jenuh Bram juga kerap kali melamar pekerjaan di tempat lain, Namun, belum juga Bram mendapatkan panggilan.
Jika Bram membayangkan pekerjaannya dulu sewaktu masih memegang kantor milik Paman firman, yang saat ini sudah menjadi milik Luna. Rasanya Bram begitu beruntung bisa di posisi itu, Bram bisa menjadi bos.
Ah lagi-lagi Bram merasa begitu bodoh. Hingga kini Bram kehilangan semuanya.
Bram melajukan kuda besinya membelah jalanan ibukota menuju ke rumah kontrakan yang selama ini mereka tempati. Suasana sore ini begitu cerah. Sinar mentari membentang di ufuk barat,tidak terlalu panas lagi.
Jika dulu Bram begitu semangat saat pulang kerja, karena ada istri dan anak menyambut di rumah. Kini terasa begitu sepi tak ada seseorang istimewa yang menunggunya pulang. Itu akibat keserakahan Bram yang ingin memiliki istri dua, akhirnya satu pun tak ada.
"Mas Bram!" Bram yang baru saja memarkirkan motor di depan rumah kontrakan, seketika membalikkan tubuhnya mencari sumber suara yang memanggil namanya.
Ternyata Dari rumah sebelah. "Mbak Dewi!"
"Mas Bram Boleh saya minta tolong nggak?" tanyanya sembari mendekat ke arah Bram.
"Minta tolong apa ya, mbak?
"Itu TV di rumah saya, kabelnya ngeluarin asap begitu. Saya jadi takut kebakaran dan ada bau gosong itu mas bisa. Tolong lihatin Mas. "Oh mas, baru saja pulang kerja ya pasti capek, ayo ke rumah saya aja. Nanti, saya bikinin kopi dan ada kue juga Mas. Untuk mas mbak Dewi terus saja nyerocos.
Bram terdiam sejenak menatap pintu rumahnya. Terlihat sepi tidak ada suara terdengar. Itu artinya Mbak Rima mungkin belum pulang.
"Ehm, Mbak Rima belum pulang mas. Dari tadi Saya belum lihat Mbak Rina masuk ke rumah."lagi mbak Dewi tahu isi hatinya yang menanyakan Mbak Rima.
"Sudah ayo Mas. Bantu saya betulin kabel TV saya Mas, keburu sinetron kesayangan saya main ini."Dewi menarik tangan Bram.
"Oke baik mbak. Tapi tak perlu pegang tangan saya juga Mbak." Bram menatap pergelangan tangannya yang erat menggenggam lengan Bram.
Refleks Mbak Dewi langsung melepaskan tangannya, sejenak Bram teringat kata-kata Mbak Rima kemarin malam. Bram jadi agak horor juga masuk ke rumah Mbak Dewi sendirian. Apalagi Mbak Dewi tinggal sendirian di rumahnya.
"Aduh gimana ya, kalau aku menolak menolongnya nanti dia malah bicara aku tak mau bantu tetangga." gumam Bram. Bram endarkan pandangan di sekitar sepi. Mbak Rima juga biasanya udah di rumah jam segini malah tumben sekali Dia belum pulang.
__ADS_1
"Ayo ma, Tunggu apa lagi Mbak Dewi yang sudah jalan lebih dulu di depannya menoleh, dan sedikit heran melihat Bram masih terpaku.
"Iya mbak."Bram hanya tersenyum mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya menyusulnya.
Tiba-tiba dari kejauhan terlihat ada Revan anak tetangga sebelah kiri rumah kontrakannya. Revan anak berusia sekitar 10 tahun sedang asyik main layang-layang.
"Revan!!! Panggil Bram dengan suara sedikit keras agar anak itu mendengarnya.
"Dewi langsung menoleh ke arah Bram, Mungkin dia bingung kenapa bra mau manggil Revan.
Revan menoleh dan berlari ke arahnya. tangannya masih memegang layang-layang Yang sepertinya sejak tadi susah terbang.
"Iya Om Bram, ada apa?"tanyanya saat jaraknya sudah dekat dengan Bram.
"Revan temanin Om sebentar yuk, beneran kabel TV di rumah Tante Dewi. Nanti ada dikasih kue juga loh sama Tante Dewi."ajak Bram.
Jujur Bram juga tak ingin ambil resiko dengan hanya berdua di rumahnya. Bagaimanapun juga Mbak Dewi adalah seorang janda dan berantak Ini menimbulkan fitnah gara-gara membantunya.
"Oke Om siap."
Mbak Dewi hanya melebarkan matanya melihat Revan akan ikut juga ke rumahnya.
"Loh ngapain sama Revan juga ikut toh mas?" Ketus Mbak Dewi.
"Iya, biar nemenin saya. Saya nggak enak jika hanya berdua di dalam rumah Mbak. Lebih baik ada Revan juga agar tidak jadi fitnah sahut Bram sambil berjalan beriringan bersama Revan.
"Ya terserah Mas Bram aja deh. Saya juga nggak mau ngapa-ngapain kok." sahut Mbak Dewi kemudian berjalan masuk ke rumahnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN