
Rasa kesalnya terhadapnya hilang seketika setelah mendengarkan semua penjelasannya. ternyata kehidupan Mbak Rima begitu miris.
"Bagaimana dengan orang tuanya suami Mbak?"Mbak Rima kembali membuang nafas kasar
Mertua Mbak sama sekali tak peduli dengan kami. Apalagi mbak, mereka dianggap mandul karena bertahun-tahun menikah dengan anaknya Mbak belum juga hamil. Mbak sudah nggak punya apa-apa lagi, dan nggak punya siapa-siapa lagi sekarang Bram." tangisnya kembali pecah usai mengatakan itu.
"Kurang ajar sekali mereka." batin Bram
"Masih ada aku Mbak, sudah sekarang Mbak tenang. Semuanya sudah terjadi, tak ada gunanya menyesal." Bram mencoba menenangkan hatinya.
"Satu lagi mbak, sebelum Vanessa mengenal aku, apa Mbak lebih dulu mengenal dia?" tanyanya dengan tatapan menyelidik
"Iya Bram, Maafkan Mbak. Memang mbak mengenal Vanessa sebelum kamu mengenalnya. Dia cantik, kelihatannya baik, dan aku lihat dia sebagai perias Mbak pikir dia akan sangat cocok bersanding sama kamu. Kemudian..... ia kembali terdiam.
"Lalu?
Mbak berniat menjodohkan kamu dengan dia. Tapi ternyata dia sudah lama tahu tentang kamu. Y,a mungkin dia tahu dari teman-temannya dan, tentang kamu yang seorang pengusaha. Jadi Vanessa mencoba menjalin kerjasama dengan perusahaan milikmu itu, ternyata kamu juga keenakan, bukan? terbukti kamu menyambut apa yang disuguhkan Vanessa padamu." mbak Rima mencebik.
"Si Vanessa udah duluan kepincut sama kamu, dan kamu menyebutnya. Jadi Mbak Biarkan saja. Mbak pikir dengan kamu bersamanya, Mbak Jadi bisa ikut tinggal dengan kamu di rumah itu. Eh, tahunya semua jatuh ke tangan Luna." tukasnya lagi. Bram menghembuskan nafas dengan kasar.
"Kamu juga sih bodoh, jadi laki Kenapa kamu dulu mau aja tanda tangan surat perjanjian apalah itu? sebelum menikahi Luna.
"Sudahlah Mbak, kalau mbak pikir aku ini bodoh, lalu Mbak apa? Mbak bahkan lebih jauh lebih bodoh dimanfaatkan sama suami Mbak!" sungut Bram tak mau kalah. Enak saja menyalahkan aku seorang, aku juga sebelum menikahi luna, Aku belum punya apa-apa. Jadi tak jadi masalah aku tanda tangan surat itu dulu." ucap Bram
"Sekarang kenapa kamu malah bercerai dengan Vanessa ?Kenapa Bram?
"Ya ampun Mbak, asal mbak tahu aku merasa laki-laki paling bodoh menikahi wanita murahan itu." Bram meyugar rambutnya. Mbak Rima terlihat bingung dengan kedua alis saling bertaut.
"Maksudnya?"
__ADS_1
Setelah kejadian Vanessa marah-marah di rumah Luna, besoknya Bram melihat dia jalan bersama laki-laki dan yang bermobil. Bahkan dia pulang malam dalam keadaan mabuk. Dia bilang menikah denganku karena harta. Sekarang saat dia tahu semua tak jatuh ke tanganku, dia memilih pergi dengan laki-laki lain. Bahkan melakukan hubungan intim dengan laki laki itu, coba Mbak bayangkan!" Bram merasa benar-benar menjadi laki-laki yang tak punya harga diri.
Bram meluapkan semua kekesalannya terhadap Vanessa pada Kakak perempuannya itu, bagaimanapun juga dia ada andil di sini meski tak langsung.
Mbak Rima terperangah mendengar semua itu. Wajahnya memerah Mungkin ia sama dengannya tak menyangka jika Vanessa Ternyata bukan wanita baik-baik.
"Vanessa benar-benar keterlaluan." desisnya lirih. tapi masih terdengar oleh telinga Bram
"Mbak tak menyangka dia berani berbuat seperti itu! kurang ajar!" Mbak Rima kembali terdengar mengumpat Vanessa.
Sekarang kita nggak punya apa-apa lagi Mbak. Aku benar-benar menyesal telah menyakiti wanita sebaik luna.
Bram menyesali semua yang telah Bram perbuat. Tiba-tiba ingatan tentang masa-masa sulit yang telah berhasil melewati bersama Luna, hadir berputar-putar di kepalanya.
Betapa susahnya dulu saat aku kena PHK. Luna dengan sepenuh kelembutan menemaniku memberi semangat untuk bangkit dan berjuang bersama. Ia terus meyakinkan aku jika suatu hari kami bisa hidup layak dan berkecukupan. Tapi saat semua itu tercapai, aku justru menyakitinya. aku bahkan jarang meluangkan waktuku untuknya dan Khairul. Aku memang laki-laki bodoh Maafkan aku lun." batin bram pilu.
"Kita harus minta maaf pada Luna mbak, siapa tahu dengan kita minta maaf pada Luna, ia akan mau rujak kembali padaku. Dan aku bisa kembali memegang kantor." ucapnya pelan masih tertunduk.
Mendengar ucapan Bram Mbak Rima terkejut dan mendongak kepalanya.
"Apa? Jadi sekarang kau sudah tidak bekerja di kantor itu Bram?" Bram jawab dengan anggukan.
"Kamu yakin jika kita minta maaf pada Luna, dia akan memaafkan kita?kalau dia justru menertawakan kita bagaimana? yang ada makin malu kita Bram. Mbak Rima berbicara dengan raut keraguan.
"Tak ada jalan lain Mbak. Luna dulu cinta mati sama aku. Aku yakin dengan sedikit merayunya dia akan luluh dan kembali menerima aku menjadi suaminya. Apalagi ada Khairul dia pasti tak akan bisa menolak, karena bagaimanapun juga Khairul tetap butuh aku ayahnya." jawab Bram penuh dengan keyakinan.
"Okey, kayaknya Mbak juga harus baik-baikin dia, supaya dia juga maafin Mbak." sahutnya.
"Tapi kalau nanti kamu rujuk sama dia, Tolong mbak ikut tinggal di rumah kamu ya, Bram. Jadi Mbak nggak usah kontrak lagi. Uang Mbak udah semakin tipis. Mbak juga nggak ada pemasukan.
__ADS_1
"Lagian aku heran sama Mbak. Kenapa sih dari dulu nggak akur sama Luna? Kalau aku lihat dia berusaha baik sama Mbak, tapi Mbak Rima aja yang selalu ketus sama Luna, kenapa Mbak?
"Sudah lama Bram ingin menanyakan hal itu pada Mbak Rima? tapi urung Bram tanyakan karena Luna juga jarang mengeluhkan sikap Kakak perempuannya ini. Luna Tetap santai tak diambil hati.
"Mbak kurang suka aja sama dia Bram. Sok baik, sok suci, kemana-mana pakai jilbab, orang kampung aja, sok cantik."
Ucapan Mbak Rima seketika membuat Bram mendelik meskipun sekarang posisinya Bram sudah bercerai. Tapi tanpa sadar Mbak Rima merendahkan pilihannya. Alasannya memilih Luna dulu, karena dia baik, lembut, dan mandiri.
Mbak, Mbak Rima aja ya nggak mau coba Terima Luna dengan hati terbuka. Jadi mbak Rima terus membiarkan rasa tak suka itu terus tumbuh, tanpa berusaha untuk mengikis dan berdamai dengan luna. Jadi Mbak nggak bisa melihat kebaikan-kebaikan luna. tukas Bram.
Mbak Rima mencibir mendengar perkataan Bram.
"Halah.... gayamu Bram, sok-sokan, belain dia. Nyatanya aja kamu selingkuh sama Vanessa. Dengan mudahnya kamu tergoda sama Vanessa. Laki-laki mah, di mana-mana sama aja. Nggak akan tahan dengan yang bening-bening." ucap Rima dengan gaya mengejek Bram.
"Bram, Mbak lapar nih. Ada makanan nggak?" tanyanya sambil celingukan.
"Ada tuh, tadi aku beli nasi sebungkus. Tapi cuman beli satu, kan nggak tahu kalau mbak Rima mau datang ke sini."
"Mbak makan ya, nanti kamu beli lagi yang baru. Mbak Rima meraih bungkusan plastik putih yang berisi nasi bungkus kemudian membukanya.
"Enak aja, aku juga lapar sini, makan sama-sama. Aku dari pagi baru makan sekali tahu Mbak!" Bram mendekatkan tubuhnya dan ikut makan nasi hanya sebungkus itu, untuk berdua. Mereka makan pakai tangan, karena mereka belum membeli sendok, piring, atau peralatan makan lainnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1