Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 41. SIDANG PERCERAIAN _ PDHP


__ADS_3

Bram menghantarkan Khairul ke tempat sekolahnya, usai mereka sarapan bersama, jujur ini kali pertama Bram mengantarnya ke sekolah. Biasanya ini menjadi rutinitas Luna.


Tapi kali ini karena Khairul yang meminta, Bram bersedia mengantarnya ke sekolah. Sepanjang perjalanan pikiran Bram kacau, beberapa meter lagi sampai ke sekolah Khairul, tapi getar ponsel di saku celana Bram sangat mengganggu. Beberapa kali Bram abaikan. Akhirnya Bram menepikan sebentar dan melihat Siapa yang menghubunginya.


Nama Vanessa tertera di layar ponselnya. yang masih bergetar Entah kenapa ada sedikit malas untuk mengangkat teleponnya. Mungkin karena pikirannya sedang kacau. Bram hanya ingin sedikit tenang.


Tiga kali sudah Bram abaikan panggilan masuk dari Vanessa. Namun, sepertinya ia tak menyerah. Ponsel Bram kembali bergetar hingga akhirnya Bram dasar tombol hijau agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Vanessa.


"Halo Vanessa, Ada apa sih? Aku lagi di jalan nih." ucap Bram Ketus pada wanita yang sudah menjadi istri keduanya di seberang.


"Kamu kenapa sih Mas? Aku cuman mau bilang aku mau keluar sama mbak Rima." ucap Vanessa.


"Oh ya, mau pergi sama Mbak Rima, boleh pergi lah." Bram mengizinkannya untuk pergi dengan Rima kakak perempuan Bram.


Entah kenapa sikap Mbak rima pada Vanessa sangat ramah. Mereka tampak akrab meski belum lama kenal. Jauh berbeda dengan sikap Rima pada luna Rima begitu ketulis dan sinis.


"Ah, Tapi biarlah bukankah itu justru bagus kalau Rima akrab dengan Vanessa. Bram jadi senang melihatnya


***


Hari ini adalah jadwal sidang pertama perceraian Luna dengan Bram. Ternyata Luna benar-benar serius dengan kata-katanya. Dua hari lalu sepucuk surat Dari pengadilan agama datang ke rumah.


Sejak pertemuan Bram dengan Pak Karyo Ayah mertuanya. Bram belum menginjakkan kaki lagi ke rumah itu lagi. Rasanya Bram tak punya nyali untuk menampakkan wajahnya di hadapan beliau.


"Mas kamu dapat panggilan buat sidang pertama perceraian kamu sama Mbak Luna besok pagi." ucap Vanessa setelah membuka surat itu. Kemarin Bram yang terduduk lesu di sofa mendapati sebuah surat bertuliskan pengadilan agama tercetak di amplopnya yang putih.


Sedangkan Vanessa tanpa cerah senyum mengulas di bibirnya. Setelah membaca surat itu, entah apa yang dipikirkannya. Mungkin dia sedikit lega karena jika akan bercerai dengan Luna, Bram seutuhnya menjadi miliknya.


Pikiran Bram sangat kacau. Terlebih di kantor, Bram hanya sebagai karyawan. Bram sudah tidak lagi menempati ruang kerjanya yang dulu. Luna telah merubah semuanya Bram hanya pegawai biasa dengan ruangan yang kecil sepertinya. Luna benar-benar ingin menghukum Bram.


Setelah putusan perceraian Bram, tak yakin Apakah Bram masih bisa bekerja di kantor atau justru akan ditendang dari kantor?"


"Kalut! begitu kalut, yang dirasakan oleh Bram. Semua ini hanya bisa Bram pendam sendiri. Bram belum menceritakan apapun pada Vanessa, ataupun Mbak Rima kakaknya satu-satunya.

__ADS_1


"Mas kok bengong sih, ayo berangkat ini kan sudah jam jam delapan di surat undangannya sidang jam sembilan loh." ucapnya mengagetkan Bram.


"Oh iya, sayang. Mas siap-siap sebentar ya." sahut Bram


"Iya, jangan lama-lama."


" Kenapa kamu jadi sering melamun sih Mas, Apa jangan-jangan kamu nggak mau bercerai dari Mbak Luna Mas? rajutnya melihat tingkah Bram yang memang sering melamun akhir-akhir ini.


"Enggak kok Sayang, Mas nggak apa-apa." kilah Bram


"Mas, kan ada aku. Aku janji akan jadi yang baik, bahkan jauh lebih baik dari Mbak Luna buat kamu." Vanessa menggenggam tangan Bram yang hendak beranjak seakan ia mengetahui perasaannya.


"Ia sayang, terima kasih Bram mengangguk dan mengecup kepalanya, sepertinya Bram tak salah memilihnya menjadi istri. Selain liar di atas ranjang, Vanessa juga pandai menenangkan Bram seperti sekarang ini.


Terlihat bibirnya melengkung mengukur senyum di wajah ayunya. Sungguh kau wanita sempurna Vanessa. Seharusnya Bram tak perlu risau dengan perceraiannya dengan luna memiliki Vanessa yang jauh lebih baik.


Bram menetapkan hati untuk melepas luna meskipun Bram akan kehilangan semua harta. Tapi Bram akan memulai hidup baru dengan Vanessa.


****


"Kenapa kamu nggak bilang kalau semua harta akan jatuh ke tangan Mbak Luna Mas!" teriak Vanessa ketika mereka sampai di rumah. Ya hari ini sidang kedua baru saja digelar. Sebuah putusan sidang telah bacakan oleh majelis hakim.


Luna dan Bram resmi bercerai dan semua harta jatuh ke tangan Luna. Sesuai surat perjanjian pranikah yang sudah Bram tanda tangani dulu.


Bahkan Vanessa sempat berteriak tak terima di ruang sidang mendengar putusan itu. Begitu pun dengan mbak Rima. Dia tampak syok dan sorot matanya menatap tajam ke arah luna.


"Kamu sabar dulu, sayang. Harta kan, bisa kita cari lagi nanti sama-sama. Yang penting kan, keinginan kamu memiliki Aku sepenuhnya sudah tercapai sayang. Kamu tenang Kita bisa mulai dari nol, Okey.


Bram mencoba memberi pengertian pada istri mudanya itu.


"Apa!


" Mulai semua dari nol? Ngak Mas! Aku kira dengan Kamu cerai sama Mbak Luna, aku bisa jadi Nyonya di rumah kamu. Itu ini justru kamu jadi gembel dan nggak dapat apa-apa." ucapnya lagi dengan lantang.

__ADS_1


"Vanessa, Sudahlah! sejak di pengadilan tadi kamu marah-marah terus, Aku jadi pusing ." ketus Bram.


"Mas pikir aku tidak pusing? aku juga pusing Mas!" Vanessa terlihat frustasi beberapa kali. Vanessa memang memegang kepalanya, dengan kedua tangannya. Membuat rambut hitam lurus Sepinggan itu menjadi berantakan.


BRAKKK


Vanessa menutup pintu dengan kasar. Ia pergi keluar rumah entah mau kemana.


"Vanessa! Kamu mau ke mana?" tanya Bram saat dia mulai menyalakan mesin motornya.


Bukannya menjawab pertanyaan, Bram dia justru melajukan motornya keluar halaman hingga suara motornya menjauh dan tak terdengar lagi.


"BUGH!!!


Bram meninju kasur dengan kasar. Bram tak ingin sampai Vanessa meninggalkannya. Bram bahkan rela meninggalkan Luna dan Khairul demi dirinya Brama harus mencarinya.


Bram mengendarai motornya menelusuri jalanan dan singgah di tempat yang biasa Vanessa kunjungi. Dari Cafe, salon, bahkan teman sejawatnya sama-sama perias. Bram datangi, tapi hasilnya nihil Vanessa sama sekali tidak ada.


Akhirnya Bram kembali pulang dengan perasaan hampa. Dari kejauhan tampak Mbak Rima sudah menunggu di teras rumah. Pintu rumah memang Bram kunci sebelum Bram pergi.


"Mbak Rima, sapa Bram Setelah turun dari motor.


"Bodoh kamu Bram! bagaimana bisa kamu menandatangani surat perjanjian itu dulu?" ucap Mbak Rima menatap Bram ke arahnya dengan tatapan tajam.


"Mbak sebaiknya kita bicara di dalam. Nggak enak kalau sampai didengar tetangga." sanggah Bram


Mereka masuk ke dalam rumah dan mendaratkan bobot tubuh mereka di sofa.


"Mbak benar-benar Tak habis pikir sama kamu Kenapa kamu begitu bodoh. Kenapa kamu mau menandatangani surat itu, dulu. hah! Mbak Rima kembali mencecar Bram.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2