Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 87. MERASA MALU_ PDHP


__ADS_3

"Selamat ya Lun."Luna menerima uluran tangan Bram kemudian Bram pun menjabat tangan laki-laki yang kini menjadi Ayah sambung untuk Khairul.


Malakiano laki-laki yang baik, terbukti ia bisa dekat dengan Khairul dan Khairul tampak begitu senang saat bersama dengannya.


Tak mungkin Bram perlihatkan sebuah rasa kecemburuan di depannya, bagaimanapun laki-laki pantang baginya terlihat lemah di depan laki-laki yang kini menjadi pendamping mantan istrinya.


"Selamat atas pernikahan kalian, aku mohon jaga dan rawat Khairul dengan baik walau dia bukan anak kandungmu."bisik pelan-pelan saat menjabat tangan malak laki-laki tampan dengan tubuh tegap dan murah senyum itu.


"Tanpa kau katakan itu pun, aku sudah melakukannya, aku sudah menganggap Khairul seperti anakku sendiri jadi kau tak perlu khawatir." Malakiano menyahutinya dengan penuh keyakinan.


Di satu sisi hati Bram terasa sakit dengan kenyataan ini. Namun, sisi lain ada rasa tenang. Bram merasa Malakiano memang begitu tulus menyayangi Khairul seperti anaknya sendiri. Itu artinya Bram tak perlu khawatir tentang bagaimana Khairul ke depannya, ia pasti akan tumbuh menjadi anak yang baik di tangan Malakiano dan luna.


Mereka pun masuk ke dalam untuk mengikuti sebuah acara pengajian tasyakuran atas pernikahan mereka, Bram memilih duduk di karpet yang digelar di teras. Sedangkan Mbak Rima memilih untuk duduk di dalam berbaur bersama ibu-ibu komplek.


Sesekali Bram sempat mendengar kasak kusuk yang terdengar, beberapa ibu-ibu mengqibah terdengar nama Bram disebut. Bram hanya menunduk dalam hingga sebuah tepukan mengagetkannya.


"Mas Bram?"


Seketika Bram mengangkat wajahnya dan menoleh ke samping.


"Bimo!"sahut Bram


"Apa kabar Mas? Bram melihat beberapa orang pegawai kantor yang juga hadir bersama dengan Bimo, Rini, dan yang lainnya tersenyum ke arah Bram.


"Alhamdulillah, kabar Aku baik Bim."mereka saling berjabat tangan.


Entah kenapa ada rasa malu terselip saat Bram kembali berjumpa dengan mereka semua. Mereka mantan anak buah Bram, kini bahkan kehidupan mereka jauh lebih baik daripada Ia yang hanya seorang pegawai di salah satu restoran, sungguh malu.


Bram senyum getir ke arah mereka. Mereka pun mengangguk. Bimo duduk di samping Bram.

__ADS_1


"Cukup lama kita tak bertemu ya, Mas."ucap Bimo memulai obrolan. Bram hanya mengangguk.


"Sabar Mas. Aku tahu semua ini terasa berat. tapi Mas Bram pasti bisa melewati ini semua, Mas harus yakin Mas harus semangat dan bangkit Mas. Jadikan semua ini menjadi pembelajaran berharga, juga untuk saya yang masih belum menikah." Bimo menepuk punggungnya seakan tahu isi hati Bram saat ini.


Bimo laki-laki yang dulu menjadi orang kepercayaannya, namun saat hubungannya dengan Vanessa mulai tercium Sepertinya dia memilih untuk berpihak pada luna


"Aku sudah kehilangan segalanya Bim."ucap Bram dengan tatapan nanar. Bimo menggeleng


"Enggak mas, setiap orang pasti pernah melakukan sebuah kesalahan, Tapi semua itu bukanlah akhir dari segalanya. Mas harus bangkit demi Khairul. Mas pasti bisa memulai semua dari awal untuk kehidupan yang baru yang lebih baik lagi mas.


Bimo anak yang ikut dengan Bram sejak lulus SMK itu, kini menjelma menjadi laki-laki muda yang begitu bijak. Bahkan mampu menenangkan dan menasehati Bram yang notabennya usia lebih tua.


Bimo bahkan bisa menilai di pihak mana ia harus berdiri, saat hubungannya dengan Luna mulai retak.


Jujur Bram malu pada Bimo, Yang masih muda saja bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Tapi Bram justru terperosok jauh ke dalam lubang kehinaan yang bernama perselingkuhan.


"Jujur Mas malu sama kamu. Sungguh Mas ini contoh laki-laki yang tak tahu diri, laki-laki yang tak tahu bersyukur."ucap Bram dengan menahan sesak di dada.


Maaf jika aku lancang. Aku memang belum pernah menikah dan berumah tangga, Tapi jujur aku tak suka dengan laki-laki yang menyakiti hati wanita, karena aku tumbuh dan besar hanya bersama ibu tanpa aku tahu di mana bapakku."kali ini Bimo tertunduk usai mengatakan itu.


Bram mengerti Bimo memang tumbuh dan besar hanya dengan ibunya. Sedangkan ayahnya pergi entah ke mana sejak Bimo masuk dalam kandungan, Bram ingat ibunya pernah cerita soal itu saat mereka masih bertetangga dulu.


"Tak apa Bim, kamu benar."


Acara pengajian pun dimulai sang ustad pun mengisi tausiyah seputar pernikahan, Bram merasa tertampar dengan isi ceramah yang beliau sampaikan. Para tetangga yang memang cukup kenal baik dengan Bram, sesekali melirik ke arah Bram, entah tatapan prihatin dengan nasib Bram sekarang, atau justru menertawakan atas kebodohan Bram yang berselingkuh dan kehilangan semuanya.


Sepanjang acara Bram lebih banyak meratapi nasib dan menyesali semua perbuatannya dulu. "Ya Allah maafkan aku, ampuni aku yang telah berbuat dosa besar."


Hingga acara selesai Bram pun pamit pulang. Sekarang Bram tinggal di rumah kontrakan bersama Mbak Rima, mereka tinggal berdua.

__ADS_1


Mbak Rima masih bekerja sebagai buruh cuci di tetangga sekitar, dan saat ini Bram hanya bisa bekerja di sebuah restoran meski Bram sambil cari-cari pekerjaan lain yang lebih baik. Namun, belum juga didapatkan.


Penghasilan mereka yang pas-pasan hanya cukup untuk membayar sewa rumah dan makan sehari-hari, membuat Bram tak bisa rutin setiap bulan memberikan uang untuk Khairul. Namun, Luna tidak pernah mempermasalahkan itu. Ia seakan tahu bagaimana keadaan Bram sekarang.


"Kamu sungguh baik, aku yang terlalu bodoh menyia-nyiakan kamu. Sebuah kesalahan terbesar dalam hidupku. Maaf maafkan aku." ratap Bram.


Bram memesan ojek online untuk bisa pulang. Para tetangga dan rekan kerja luna pun sudah pulang. Begitu miris nasib Bram kini. Bahkan untuk membeli kendaraan roda dua saja Bram tak mampu hingga ke mana-mana harus memakai ojek.


Untuk bisa membeli motor Bram harus menabung hingga beberapa bulan, itu pun hanya bisa untuk dp-nya saja. Membeli secara Kontan Bram belum mampu.


"Mas." Bram menoleh saat suara Luna memanggilnya. ia berdiri dan Malakiano di sampingnya.


"Pakai ini saja mas."Luna memberikan sebuah kunci motor . kunci motor Bram dulu, motor yang nyaris setiap hari menemaninya ke mana-mana, jika dibilang rindu tentu Bram sangat rindu. Motor ini sudah seperti sahabatnya Kemana-mana tetap sama. Tapi mengapa Luna memberikannya pada Bram?" apa Dia kasihan melihat Bram ke mana-mana naik ojek.


"Pakailah motor ini, Mas." melihat Bram terdiam. Luna kembali berucap.


"Tapi itu bukan lagi milikku Lun. Aku bisa naik ojek sebentar lagi juga driver ojek online nya akan tiba."ucap Bram menolak. Bram memang sudah tak memiliki apapun saat ini. Tapi Bram juga gengsi Luna memberikan motor itu semata-mata karena kasihan.


"Motor ini juga dulu kamu yang beli mas. Lagian di rumah Ini, nggak ada yang pakai Mas Kia sudah ada mobil, motor Luna juga masih ada." sahut Luna.


"Bawa aja, nggak apa-apa Mas. Anggap aja ini yang ngasih Khairul bukan kami. Karena Khairul masih anak-anak belum bisa bawa motor," Kia ikut bicara Seraya mengembangkan senyum di bibirnya. Bram memang butuh motor itu, tapi ada rasa malu dan gengsi untuk mengambilnya.


"Sudah bawa aja. Dulu Luna meminta motor itu karena Luna juga terbawa emosi, dan memang motor Itu haknya Khairul. Tapi untuk sekarang dia belum butuh, jadi bawa aja nggak apa-apa Mas. Kamu pasti lebih membutuhkan."


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2