Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 88. SEPERTI DAPAT BAJU LEBARAN _ PDHP


__ADS_3

Tiba-tiba suara notifikasi pesan masuk dari aplikasi ojek online terdengar jelas di telinga Bram


"Maaf Pak, minta tolong dicancel saja. Soalnya tiba-tiba saja motor saya mogok."


Bram hanya menghela nafas. "Kenapa kebetulan begini?


"Kenapa Bram? tanya Mbak Rina yang juga sama menunggu ojek online sibuk melirik ke arah ponsel yang masih dalam pandangannya.


"Hmm, driver ojek onlinenya mengatakan kalau motornya tiba-tiba mogok."


"Sudah cancel saja, ambil aja motor itu, luna udah juga ikhlas ya kan, lun?"Mbak Rima meyakinkan.


"Iya Mbak, saya ikhlas, bawa aja anggap aja ini dari Khairul bukan dari saya atau Mas Kia."


"Tuh, kan dengar itu Bram, kamu juga butuh itu buat ke mana-mana, makasih ya Lun, memang kami kerepotan Kalau mau ke mana-mana harus naik ojek atau angkut makin banyak pengeluaran."keluh Mbak Rima.


"Mbak Rima ih, Tak bisakah dia menjaga sedikit rasa gengsi Bram di depan suami barunya Luna. Huh, dasar wanita di manapun perhitungannya uang. Bram hanya tersenyum getir.


"Okey, terima kasih iya, lun. Aku bawa."Bram putuskan untuk mengambil motor itu dan pesanan ojek Bram cancel Begitu juga dengan mbak Rima.


Setelah itu mereka pamit, tak lupa Bram juga pamit dengan Khairul.


Bram melajukan motor yang sudah cukup lama tersimpan di dalam garasi, ada rasa bahagia membuncah saat Bram kembali mengendarai kuda besi kesayangannya.


"Bram! beruntung banget itu luna dapat lelaki kayak gitu ya. Kamu juga jangan kelamaan menduda dong, kamu cari pendamping, kalau bisa anak orang kaya biar kita nggak gini terus,"cerocos Mbak Rima. Tapi Bram tidak menghiraukannya. Mbak Rima memang labil, kadang baik, kadang kumat jiwa materialistis nya.


Bram nikmati perjalanannya, dengan hati riang, serasa ada sedikit beban terlepas. Padahal hanya mengendarai motor saja Bram sudah seperti seorang anak yang baru mendapatkan baju lebaran dari ibunya.


Hingga menjelang magrib Bram baru sampai di rumah kontrakan, rumah berukuran kecil dengan dua kamar yang Bram tempati bersama dengan mbak Rima.


"Eh mbak Rima, Mas Bram, Baru pulang dari mana? Kok tumben nggak naik ojek lagi?"sapa Dewi janda sebelah rumah, dia sering berbasa-basi walau hanya sekedar menyapa Bram ataupun Mbak Rima saat mereka berpapasan.


"Iya Mbak Dewi, dari acara syukuran tadi, motor dapat pinjam Mbak,"sahut Bram dengan sopan


"Oh, motor pinjam."Dewi mengangguk paham.


"Sudah mau magrib, kami masuk dulu ya mbak."Mbak Rima pamit, Mereka pun masuk ke dalam rumah.


"Bram, kamu harus hati-hati loh dengan Dewi. dia kayaknya ada rasa sama kamu."


Mendengar perkataan Mbak Rima seakan Bram ingin tertawa, Bagaimana mungkin ada seorang wanita yang menaruh rasa sama Bram, laki-laki kere. Apalagi usia Bram Sudah tak lagi muda."ucap Bram kepada Mbak Rima.

__ADS_1


"Eh dibilangin kok malah ketawa, Mbak serius Bram!"Mbak Rima tampak kesal melihat Bram.


"Lagian Mbak Rima ada-ada saja, Bram sudah tak muda lagi, udah kere pula, Siapa yang mau?"Kilah Bram.


"Eh siapa bilang kamu sudah tua, kamu ini masih belum terlalu tua lah, bisa dibilang kamu itu sugar daddy, dan Dewi itu janda. Kamu tahu kan kalau janda itu biasanya suka lihat yang segar-segar." Bram ingin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Mbak Rima. Mbak Rima mendaratkan bobotnya di kursi.


"Ha....ha....ha, Mbak Mbak. sugar Daddy itu berlaku untuk laki-laki yang banyak uang, Bram sudah tak punya apa-apa sekarang jadi tak berlaku itu istilah sugar Daddy pada Bram."


"Iya juga sih, Tapi tetap saja lah kamu itu masih gagah, tampan, tubuh kamu masih tetap atletis dan itu sepertinya menarik perhatian Dewi itu."


Bram hanya menghela nafas panjang. Dalam hatinya masih belum terbesit untuk berumah tangga lagi. Setelah Vanessa wanita murahan itu hati akan masih merasakan luka. Luka karena merasa ditipu, juga luka karena kini Bram telah hancur hanya Khairul satu-satunya alasan Bram tetap bekerja dan menjalani hari-harinya.


"Sudahlah Mbak, Bram lelah. Bram tidak membahas tentang pernikahan atau sebagainya."ucap Bram lirih.


"Bram kamu harus semangat, nggak mungkin kan kita sampai tua hidup seperti ini, butuh pendamping hidup menemani kita di masa tua nanti.


Bram bangkit tanpa menghiraukan ucapan Mbak Rima, jujur Bram memang lelah, Bram tak ingin membahas masalah itu dulu. hatinya masih belum baik-baik saja.


Bram melangkah ke kamar mandi mengguyur badan yang terasa lengket, berharap guyuran air bisa mendinginkan hati dan otaknya. Ya hari ini begitu terasa melelahkan cukup menguras pikiran dan energinya.


Semoga dengan mandi Bram bisa lebih segar.


***


Tok ...


Tok ...


suara ketukan pintu mengagetkan Bram saat Bram dan Mbak Rima tengah menikmati makan malam.


"Ada tamu tuh mbak,"ucap Bram kepada mbak Rima.


"Siapa malam-malam begini datang?"Bram hanya mengedipkan bahu menjawab pertanyaan Mbak Rima.


Mbak Rima bangkit dan membuka pintu.


"Mbak Rima, Boleh saya minta garam sedikit? Saya mau masak nasi goreng untuk makan malam tapi garamnya habis.


"Oh ada. Tunggu sebentar ya, saya ambilkan."suara Mbak Rima terdengar kemudian berat langkahnya kembali masuk ke dalam melewati drum yang sedang makan lesehan di ruang tamu sekaligus ruang tengah.


"Eh mas bro Lagi makan ya? wah enak nih kayaknya,"ucap Dewi yang entah kapan dia sudah berdiri tak jauh dari tempat Bram duduk.

__ADS_1


"Eh iya mbak. mari makan,"tawar Bram basa-basi.


"Ehm emang Boleh saya ikut makan di sini?"tanyanya


"Boleh, kalau mau silakan."


Sepulang dari rumah Luna Memang mereka dibawakan oleh nasi kotak oleh Luna.


Nasi kotak milik Mbak Rima masih utuh, sedangkan milik Bram sudah hampir habis.


Tanpa menunggu Mbak Rima datang, Dewi sudah duduk di samping Bram dan menyambar Nasi kotak itu. "waduh itu kan punya Mbak Rima, bisa ngamuk tuh dia. Lagian Bram kan cuman basa-basi, Kenapa ini orang nggak tahu malu banget main langsung embat aja."gumam Bram dalam hati.


Setelah selesai makan, Bram pamit untuk cuci tangan, dan berpapasan dengan mbak rima yang sepertinya membawa garam dalam plastik kecil.


"Eh Dewi apa-apaan kamu minta garam kenapa malah makan di sini?"terdengar suara Mbak Rima.


"Eh tadi Mas Bram yang tawarin aku, ya jadi daripada aku masak nasi goreng dulu lama mending makan di sini aja biar cepat,"sahutnya tanpa rasa bersalah.


"Brammmmm!!! teriak Mbak Rima Memanggil nama Bram.


"Apaan sih Mbak, teriak-teriak?"tanya Bram berpura-pura tidak tahu.


"Maksud kamu apa ijinkan dia makan nasi punya Mbak, kamu tahu Mbak Belum makan,"ucapnya terlihat gurat kesal dan kecewa dirawat wajahnya yang sudah tak muda lagi, tapi masih terlihat cantik untuk wanita seusianya.


Mbak Rima dulu tak pernah lepas dari perawatan wajah dan tubuhnya, jadi tak heran Di Saat usianya menginjak kepala emat dia masih terlihat segar.


"Iya tadi kan aku cuman basa-basi. Eh tahunya Dewi beneran makan, mau aku larang nggak enak lah."bisik Bram pelan.


"Kamu itu ya, kalau memang kita nggak ada makanan lagi nggak usah sok-sokan basa-basi nawarin makanan ngerti kamu!"sungutnya..


"Sudah nggak usah marah-marah Nanti Bram keluar belikan makanan buat Mbak, udah ya."


"Ehm, Mbak Rima Maaf saya nggak tahu kalau..."


"Hah, Sudahlah! ini Kamu tadi minta garam kan? ini garamnya mending sekarang kau pulang bawa ini."Mbak Rima memberikan garam yang ia minta.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2