
Vanessa yang sudah duduk normal kembali di kursi roda itu, menatap nanar ke arah Luna, kemudian menggelengkan kepalanya pelan, sedetik kemudian air matanya kembali luruh begitu saja.
Namun, tiba-tiba saja Luna dikejutkan dengan pemandangan di hadapannya, Luna tercengang, melihat Vanessa berusaha bangkit dengan kedua tangan menopang kuat tubuhnya, bertumpu pada pegangan kursi dengan tertatih ia berusaha turun dari kursi roda tanpa bisa dicegah, dan mendekati Luna yang berada tepat di hadapannya. Kemudian ia menggapai lutut luna dan bersimpuh di hadapannya.
Vanessa membenamkan wajahnya diantara kedua lutut Luna, kemudian ia terisak menangis meratapi segala apa yang telah ia lakukan kepada Luna.
"Maafkan aku, Mbak"hanya kata itu yang terdengar lirih disertai isakan yang memilukan.
Dada Luna terasa sesak, Namun, rasa sakit di hatinya masih begitu terasa, biarlah Luna dianggap egois, karena memang begitulah suasana hatinya sekarang.
"Maaf, jika aku belum mampu memaafkan untuk sekarang, aku masih butuh waktu untuk meyakinkan diri dan berdamai dengan semua keadaan ini.
"Vanessa aku mohon, bangunlah! Bu tolong"Luna berusaha membangunkan Vanessa tapi ia tak bergeming.
Ibu sumijan bangkit kemudian dengan tertatih ia berusaha menopang tubuh Vanessa dan mendudukkan kembali ke kursi rodanya.
Kedua matanya sembab, ibu Sumijan membenarkan anak rambut Vanessa yang menutupi mata dan bagian wajahnya. Kemudian ibu sumejan menatapnya dengan mengulas senyum di bibirnya.
"Kamu harus tenang, Mbak Luna bukannya tidak mau memaafkan kamu, tapi Mbak Luna hanya membutuhkan waktu untuk menata hatinya. Kamu harus sabar."ucap Ibu sumijan pelan kemudian memeluknya. Luna masih terdiam menatap kedua wanita berbeda generasi itu menangis pilu.
"Sebaiknya kita pulang sekarang, hari sudah mulai gelap. Ini kurang baik untuk kesehatanmu, nanti lain waktu kita akan datang lagi ke sini,Semoga di saat kita kembali nanti Allah telah meluluhkan hati Mbak Luna dan memaafkan kamu. percayalah!"ucap Ibu sumijan lirih di sela pelukannya, dengan lembut ya mengusap punggung Vanessa putrinya.
Luna menjadi merasa tersindir mendengarkan ucapan ibu sumijan. Dalam hati Luna pun mengamini ucapannya.
Memang benar, Luna masih butuh waktu untuk menata hati, untuk memaafkan wanita itu. Ibu sumijan bangkit dan menoleh ke arah luna.
"Nak, Luna. kami pamit dulu ya. lain waktu kami akan datang lagi ke sini. Ibu berharap Nak Luna dapat merasakan ketulusan dan penyesalan seorang wanita yang ingin berusaha bertobat dan menjadi manusia yang lebih baik lagi. Dan menerima permintaan maaf darinya dengan tangan terbuka."ucap ibu sumijan kepada Luna.
Kemudian Ibu sumijan mengulurkan tangannya dan mengulas senyum manis di bibirnya. Mereka berjabat tangan.
Ibu Sumijan mendorong kursi roda itu dan berjalan keluar rumah, Luna hanya berdiri mematung menatap punggungnya yang semakin menjauh. Tanpa terasa benar-benar kembali luruh begitu saja.
__ADS_1
Luna menarik nafas panjang, dan memejamkan matanya sejenak, kemudian menghembuskan nafas dengan . Hari terasa begitu melelahkan dan menyesakkan.
Ibu sumijan dan Vanessa berlalu dengan menggunakan taksi online yang sudah mereka pesan. Luna hanya menatap kepergian taksi online itu setelah Vanessa masuk dan juga Ibu sumijan. Setelah taksi online itu berlalu dari sana dan menghilang dari pandangan Luna, Luna pun masuk ke dalam rumah kembali.
"Ada apa ini, mengapa rasanya begitu sesak? Luna tidak memiliki kesempatan bertanya kepada Vanessa, mengapa dia sampai mengalami cacat fisik seperti itu. Kata-kata permintaan maaf dari Vanessa yang terus terngiang-ngiang di kepalanya. Tapi luka yang diciptakan oleh Vanessa juga begitu mendalam membuat Luna sulit untuk memaafkan Vanessa.
****
Malam hari untuk menu makanan malam Luna dengan Khairul, Luna memutuskan untuk bikin nasi goreng karena hari ini Luna sangat sibuk. Setelah bepergian jalan-jalan ke mall bersama dengan Malakiano, Clara dan juga Khairul. Baru saja Malakiano pergi setelah selesai jalan-jalan bersama mereka, Luna kembali kedatangan tamu yaitu, Vanessa dan juga ibu kandungnya membuat waktu istirahat Luna menjadi tersita.
"Khairul, makan dulu nak!"seru Luna dari dapur saat nasi goreng telah siap. Luna langsung memasukkan nasi goreng ke dalam dua piring, untuk Luna dan juga Khairul.
Aroma nasi goreng yang sedap membuat di meja makan, seiring dengan kepulan asap dari dua piring nasi goreng.
"Makan dulu, nak!"Luna meletakkan sendok di piringnya.
"Terima kasih Ma." ucap Khairul bersemangat.
Baru saja Luna hendak memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya, terdengar jaringan suara ponsel yang sedang lunak letak di atas meja.
"Iya Sayang, sebentar Mama akan ambil ponselnya, ya! Khairul mengangguk. Luna melenggang berjalan menuju meja tepatnya berada di ruang tamu.
Tertera nama Malakiano di layar ponsel miliknya. Luna menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Mala. sambil berjalan menuju meja makan.
"Halo assalamualaikum Mala!"ucap Luna pada seseorang di ujung telepon.
"Oh itu om Mala ya, Ma? Khairul mau ngomong juga dong Ma, sama Om Mala!" seru Khairul saat Luna baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi. Luna hanya mengatupkan bibir sambil menempelkan jari telunjuknya.
"Waalaikumsalam Luna!" Alhamdulillah aku sudah sampai di rumah bersama Clara
"Alhamdulillah." sahut Luna
__ADS_1
"Eh itu suara Khairul ya, apa katanya tadi dia mau bicara padaku? boleh tolong berikan ponselmu padanya Luna? Aku pun ingin mendengar suaranya." Luna hanya tersenyum kecut.
"Oke sebentar, ya."
Luna menyodorkan ponsel pada Khairul, meletakkan sendoknya di pegangannya dan meraih air minum yang tadi sudah disediakan. Setelah meneguk air minum, ia menerima ponsel yang luna sodorkan.
"Halo Om, Mala! Om sudah sampai di rumah?
Luna melanjutkan Makanya sambil terus memperhatikan bocah kecilnya berbincang pada.
Luna sama sekali tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Mala dari ujung telepon. yang ia dengar hanya sahutan dari putranya.
"Khairul lagi makan nasi goreng Om. kapan-kapan Om main lagi ke sini ya Om,"gagahnya pada malam di seberang sana.
"Ya udah kalau lanjutkan makan lagi ya Om. Assalamualaikum." ucap Khairul kemudian Khairul menyerahkan kembali ponsel itu kepada Luna.
"Anak kamu itu memang benar-benar menggemaskan Ya, Lun. pinter banget Boleh dong kapan-kapan Aku juga nyobain nasi goreng buatan kamu,"kelakarnya seketika membuat bola mata Luna berputar mendengarnya.
"Sudahlah Mala, nggak lucu tahu kalau mau makan nasi goreng tinggal beli di dekat rumah juga pasti ada kan." gerutu Luna
"Tapi beda lah, rasanya."kembali terdengar ia terkekeh.
"Sudah ah, aku mau lanjut makan ya." Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam nona."
Luna langsung memutuskan sambungan telepon selulernya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN