
Setelah makan siang Khairul bermain di arena bermain seperti janji Luna pagi tadi. Dengan sabar Luna mendampinginya. Setelah dirasa puas, Mereka akhirnya pulang ke rumah waktu juga sudah menunjukkan pukul tiga sore.
Mobil yang dikemudikan Malakiano melaju membelah jalanan kota ini, saat pulang tak banyak berceloteh. Sepertinya ia lelah, baru beberapa menit berjalan terlihat dia sudah tertidur pulas.
****
Sinar mentari senja mulai menyinari jalanan sore ini, terlihat begitu menawan dengan hembusan angin sore yang menggoyangkan bahan dan ranting pohon, menambah syahdu suasana sore ini. Luna memandang keluar jendela mobil, menikmati perjalanan sore ini bersama Khairul, Clara dan juga Malakiano.
Luna melirik gadis manis yang duduk di sebelahnya. Tak Berapa lama mobil melaju dengan pelan memasuki gerbang perumahan tempat tinggal Luna. Luna turun dari mobil dan menuju ke pintu mobil bagian depan. Baru saja Luna membuka pintu depan mobil, Malakiano menutup mulutnya dengan jari telunjuknya dan memberi kode pada Luna agar stop mengangkat Khairul.
"Biarkan Aku saja Luna, yang gendong Khairul,"ucap Malakiano kemudian mengembangkan senyumnya.
Karena memang tubuh Khairul yang lumayan berat.
Luna mundur berapa langkah dan dengan sigap masuk ke dalam rumah dengan cepat Luna memutar kunci dan membuka pintu rumah. Luna mengikutinya dari belakang dan menunjukkan Di mana kamar Khairul.
Perlahan Mala meletakkan tubuh Khairul di pembaringan, kemudian kembali ke teras rumah, Clara sudah duduk di bangku teras rupanya.
"Mbak aku numpang ke kamar kecil, boleh? kayaknya aku sakit perut nih." ucap Clara saat baru saja Luna dan Mala sampai di teras.
"Oh boleh dong, masuk aja ya. Clara! lurus saja setelah ruang tengah di sebelah kiri sebelum meja makan." Clara mengangguk paham, kemudian bangkit dan melenggang masuk.
Malakiano mendudukkan bokongnya di kursi teras.
"Mau aku bikinin teh dulu, Mala? tanya Luna mulai membuka percakapan.
"Nggak usah Lun, jangan repot-repot duduklah temani aku ngobrol
"Baiklah. sebelumnya terima kasih banyak ya, Mala, hari ini jadi temani aku belanja dan mengajak jalan-jalan Khairul, maaf merepotkan mu."
__ADS_1
"Siapa yang repot Lun, aku malah senang bisa dekat sama kamu dan Khairul."
"Ada apa sebenarnya datang kemari Mala? Ada hal penting kah, atau ada apa?" Luna bertanya karena jujur Luna masih penasaran.
Mendengar pertanyaan Luna, Malakiano tersenyum.
"Memang kalau aku datang kemari harus ada sesuatu hal penting dulu, baru boleh kemari lun?" kembali Mala terkekeh.
Bukan begitu maksudku, Tapi.... kamu tahu sendiri kan statusku seorang janda, Jujur aku sangat berhati-hati takut ada fitnah." Luna tertunduk dalam.
"Justru itulah Lun, aku datang kemari bersama Clara agar tak menimbulkan fitnah takutnya." ucap Malakiano tenang dan senyum menyungging di bibirnya.
"Sebenarnya kamu tahu dari mana alamatku Mala?
"Bukankah sudah kubilang aku tahu dari mana itu tidak penting, kan?"
"Lun, bolehkah aku mengenalmu lebih dekat? kali ini ia terlihat serius dengan perkataannya kedua Netranya yang menatap melekat ke arah Luna.
"Mala, tentu kamu tahu aku pernah gagal dalam berumah tangga. Jujur itu semua membuatku trauma. Tapi aku harap kamu juga begitu berharap lebih, selain hanya teman. Bukankah kau sudah cukup mengenalku sejak kecil.Ucap Luna tegas dengan pandangan lurus ke depan.
"Aku mengerti Lun, kita juga bukan lagi anak muda. Jadi aku berkata demikian karena kita sama-sama sudah dewasa." sahut Mala.
"Itulah Mala, yang membuatku tak berpikir untuk menikah lagi. Aku sudah memikirkan hal itu lagi. Jadi aku apa fokus hanya untuk Khairul sekarang."
Memang benar Luna Belum sama sekali berpikir untuk menikah lagi, mengingat usia sekarang menginjak tiga puluh sembilan tahun,dan sudah bukan anak muda lagi.
"Aku paham Lun, sebuah kegagalan memang seringkali membuat kita trauma. Aku akan menunggu hingga pintu hatimu tertutup, kemudian kau berkenan membukanya walau sedikit saja untukku masuk ke rulang hatimu."
Luna hanya tersenyum memicing mendengar ucapan Malakiano yang seolah-olah seperti sang pujangga.
__ADS_1
"Kau ini, Sudahlah." Luna mengabaikan kata-katanya.
"Hari sudah semakin sore, aku pamit ya. tak Berapa lama Clara muncul dari dalam sambil memegangi perutnya Yang sepertinya merasa lega.
"Woi, udah yuk pulang." seru Malakiano pada adik perempuannya.
"He he ,iya ayo pulang. Mbak Luna Clara pamit ya kapan-kapan boleh kan, Clara main lagi kemari."ucap Clara sambil langsung memeluk luna.
"Boleh dong main sini, kalau libur kuliah ya."
"Aku pamit ya lun, jaga kesehatan." ucap Malakiano. Luna mengangguk.
Luna mengantar mereka hingga ke depan gerbang, Mala melempar senyum sekali lagi, sesaat sebelum masuk ke dalam mobil, Luna balas dengan senyum tipis.
Luna menatap mobil mewah milik Malakiano yang melaju telah dihadapannya. Kemudian kaca mobilnya pernah turun di barengan dengan suara klakson Clara dan Malakiano melambaikan tangannya ke arahnya Luna pun demikian.
"Hati hati ya!" seru Luna pada mereka kedua kakak beradik itu mengangguk bersamaan.
Luna masih memandangi mobil itu yang melaju ke ujung jalan dan berbelok hingga menghilang di kejauhan.
Kembali luna menutup gerbang rumah dan berbalik hendak masuk ke dalam rumah. Baru saja Luna membalikan badan, dan melangkah. Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1