
Di saat Mbak Rima berpulang, sorenya Rini datang guna untuk mengucapkan belasungkawa atas kepergian Mbak Rima. Setelah ia pulang dari kantor, Bram kaget karena sebelumnya Bram memang tidak pernah memberitahunya alamat rumah yang ditempati oleh Bram dan Mbak Rima. Tapi setelah Bram bertanya kepada Rini, ia mengetahui tempat tinggal Bram saat ini dari Luna.
Ternyata Rini sudah banyak bercerita pada Luna mengenai hubungan mereka yang mulai dekat. Luna hanya berpesan kepada Bram
"Jika memang serius, tolong jaga Rini, jangan sampai menyakitinya! bagaimanapun dia wanita yang baik, dan dia sudah seperti keluarga Karena sudah cukup lama mengabdi di kantor yang saat ini dipimpin oleh Luna sendiri."ucap Luna kepada Bram waktu itu lebih tepatnya sudah seperti ancaman bagi Bram.
Jika memang Allah mengizinkan, Bram serius dengan Rini, Hanya satu hal yang Ingin menggapai saat ini. Bram ingin menjalani masa tuanya tidak sendirian, Bram ingin berada dekat dengan orang yang tulus dengan menata kembali hidup. Bram ingin disisa hidupnya masih bisa merasakan sebuah kebahagiaan bersama seseorang yang Bram sayangi.
Tak ada lagi Bram yang dulu, yang terlena akan kemolekan paras cantik wanita, sudah cukup baginya kenyataan pahit yang sudah seperti hukuman baginya, hidup dalam nestapa.
"Insya Allah aku serius, Lun. Sudah cukup penyesalan yang mendalam karena telah menyakitimu, Tak ingin lagi aku mengulangi kesalahan yang sama, tak akan lagi."sahut Bram lirih.
"Syukur kalau begitu, Aku hanya ingin melihatmu bahagia Mas dengan wanita yang tulus mencintai kamu apa adanya. Aku juga berharap Mas segera melepas masa duda Mas, agar tidak merasa kesepian setelah ditinggal oleh Mbak Rima."ucap Luna memberi semangat untuk Bram.
***
Beberapa bulan kemudian, waktu sudah bergulir seakan cepat berlalu. Hari-hari Bram hanya pulang untuk tidur, kemudian pagi berangkat lagi bekerja. Alhamdulillah job tambahan mendekor pun masih sering banyak, hingga Bram pun, bisa menabung sedikit demi sedikit.
Hari ini seperti biasa, Bram bekerja, dan siang ini rencananya Bram ingin mengajak Rini untuk makan siang bersama. Ini untuk kedua kalinya makan bersama, setelah makan bersama di rumahnya. Beberapa bulan yang lalu. Bram memberanikan diri, untuk mulai menunjukkan keseriusannya terhadap Rini.
Kedekatan mereka beberapa bulan terakhir ini, walau hanya sekedar lewat pesan atau panggilan telepon, cukup membuatnya yakin, jika Rini wanita yang baik. Terlebih Bram sudah cukup mengenalnya, saat Bram memimpin perusahaan. Dan saat itu Rini bekerja sebagai seorang resepsionis di sana.
Sekarang Bram hanya butuh waktu untuk meyakinkan Rini. Jika Bram serius, dan Bram bukanlah Bram yang dulu, sungguh Bram sudah berubah. Dan akan terus berusaha menjadi lebih baik lagi, dan lebih baik lagi.
Untuk saat ini, Bram sudah menikmati hidupnya dan lebih taat agama. Ia juga tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang umat muslim, sehingga untuk salat lima waktu, ia tidak lupa lagi. Seperti waktu dirinya memimpin perusahaan yang dipimpin luna saat ini.
Jam makan siang sudah waktunya.
"Sugi Aku istirahat dulu, ya."ucap Bram kepada Sugi, orang kepercayaan pemilik restoran sama seperti Bram juga.
"Oke Mas."
__ADS_1
"Tapi kalau nanti aku terlambat nggak papa ya aku mau ketemu orang soalnya."ucap Bram
mendengar ucap Bram. Sugi mengerenyit
"Memang mau ketemu siapa Mas?"tanya Sugi si raja kepo.
"Ehm, ketemu Rini Yang tempo hari ketinggalan dompetnya di sini."jelas Bram sambil bersiap untuk keluar.
"Oh, cewek itu hahaha....oke oke, siap Mas bisa diatur lah semoga lancar ya Mas."kelakarnya membuat Bram melebarkan mata padanya.
"Terima kasih ya Gi, Bram menghampirinya dan berterima kasih karena ia memahami itu.
Bram mulai melajukan kuda besinya membelah jalanan ibukota menuju cafe kecil tak jauh dari tempat bekerja. Degup jantungnya seolah memompa lebih cepat, dari biasanya.
Hingga Bram Sampai Di pelataran Cafe, Bram tarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Mencoba menata hatinya agar tidak gugup. "Ayo Bram ini cuman makan siang, bukan apa-apa tenanglah kumu Bram." gumamnya dalam hati menyemangati dirinya sendiri.
Setelah dirasa siap, Bram mulai melangkah masuk ke dalam. Ia endarkan pandangan mencari sosok yang akhir-akhir ini mengganggu tidurnya, pasalnya bayangan akan Senyum manisnya selalu menari-nari di pelupuk matanya.
Hingga Seorang waiters datang menghampirinya.
"Permisi! mau pesan apa Mas silakan Ini buku menunya." ucapnya sopan.
"Terima kasih mbak, Mungkin sebentar lagi saya menunggu teman datang Bram menerima buku menu itu, dan ia mengangguk paham kemudian pamit dan kembali lagi nanti.
Tiba-tiba seorang wanita langsung datang meminta maaf kepada Bram.
"Maaf Mas, sudah lama nunggu ya, tadi lumayan macet di jalan."ucap seseorang suaranya yang sedang Bram nanti. Ya suara Rini.
Bram mengangkat kepalanya menatap wajah, sekilas sebuah senyuman terbit di sana satu kata untuknya manis.
Senyuman itu yang membuat hari-hari Bram dirundung gelisah, membuat denyut jantungnya bertalu-talu. Ia selalu ingin melihat wanita yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Iya, nggak apa-apa Rin, aku juga baru sekitar lima menit sampai. Duduklah! sahut Bram setelah terdiam beberapa saat menetapnya.
"Kamu mau pesan apa?"tanya Bram sambil menyerahkan buku menu padanya.
"Apa aja boleh Mas, aku ngikut aja."sahut Rini.
"Oke aku yang pesan, ya!"Rini mengangguk. melambaikan tangan pada waitress dan lulusan beberapa menu makanan dan minuman setelah mencatat semua pesan mereka waitress itupun berlalu.
"Eh ngomong-ngomong ada apa nih, kok tumben Mas ngajak aku makan siang di luar?"
"Ya, nggak apa-apa. memang nggak boleh ya, aku ajak kamu makan siang bareng?"Bram balik bertanya.
"Ya boleh saja, selagi aku ada waktu senggang nggak masalah,"jawab Rini sambil tersenyum menampakan gigi gingsulnya yang menambahkan kadar kecantikannya.
"Ehem....Rin, Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan sama kamu."Bram mulai membuka percakapan serius, pada wanita yang akan Bram ajak serius. Bram memantapkan hati, apapun nanti jawaban dari Rini Bram terima.
"Rini mengangguk, tenang.
"Ehm.... Rini, Aku sadar aku manusia biasa, yang sering melakukan kesalahan, terlebih mengenai masa laluku yang kelam. Tapi sungguh semua kesalahanku itu membuat mata hatiku terbuka, jika menyia-nyiakan seseorang yang tulus itu membuatku terjerembab ke dalam penyesalan yang luar biasa mendalam.
Tentu kamu juga mengetahui tentang masa laluku itu, Jujur aku malu mengatakan ini, tapi memang begini adanya sungguh sesungguhnya tanpa aku bicara begini pun kamu sudah mengetahuinya."
Bram tunduk dalam, lidahnya terasa kelu seolah tak mampu lagi untuk bicara, denyut jantungnya terasa semakin cepat, ada rasa malu ada rasa bahagia bersua dengannya, Ada rasa takut Bram ditolak oleh Rini. semuanya campur aduk jadi satu di dalam hati.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1