
Wanita itu pun hanya tersenyum Seraya menggeleng-gelengkan kepala melihat Rini berlalu.
"Maaf dengan Mas siapa?" tanyanya.
Bram pun mengulurkan tangan dan menciumnya takzim.
"Bram, Bu!" ucap Bram.
"Panggil saya Bude, saya kakak dari ibunya Rini,"ujar wanita paruh baya itu memperkenalkan diri. Bram pun mengangguk paham, Mengapa Rini memanggilnya Bude.
"Kamu kenal baik dengan Rini?'
"Kenal Bude, dulu kami satu tempat kerja, tapi sekarang saya sudah tidak bekerja di sana lagi,"jawab Bram sedikit heran mengapa beliau bertanya begitu.
Terdengar hembusan nafas berat, dari wanita paruh baya itu, sebelum lanjut bicara.
"Rini itu ditinggal pergi suaminya, hanya karena suaminya lebih mendengarkan perkataan ibunya. Ibunya Bayu sejak awal memang tidak setuju dengan Rini, entah karena apa, meskipun Rini sosok wanita yang cantik, pekerja keras, dan baik tapi semua itu tak mampu membuka mata hati ibunya Bayu. meski akhirnya mereka menikah tanpa restu sepenuhnya dari ibunya Bayu.
Setelah sekitar satu tahun pernikahan mereka perlahan ibunya Bayu menunjukkan sikap baik dan mulai mau menerima Rini. tentu itu semua menjadi kabar membahagiakan bagi kami sebagai orang tua Rini.
Namun, ternyata kebaikan ibunya Bayu hanya sandiwara semata, di depan kami semua beliau baik. Namun ternyata di belakang dia perlahan menghasut anaknya dengan fitnah fitnah keji agar Bayu membenci Rini."
Bram mendengarnya cukup terkejut, Mengapa mertuanya Rini jahat sekali, padahal Jika dilihat Rini sosok yang sempurna.
"Maaf saya jadi cerita tentang masa lalu Rini, jujur saya pun tak ingin keponakan saya kembali tersakiti,"tambahnya lagi. Bram mengganggu paham.
"Maaf Bude kalau boleh tahu Kenapa Ibunya Bayu segitu membenci Rini?"
"Utu karena sebelum mengenal Rini, ibunya lebih dulu menjodohkan Bayu dengan anak temannya, tapi Bayu malah jatuh cinta sama Rini dan nekat menikahi Rini. tentu Itu semua membuat ibunya semakin murka, beliau bilang keluarga kami tak sebanding dengan keluarganya yang terpandang. sedangkan kami di sini keluarga sederhana."
lagi-lagi bang cuman mangkut-manggut mendengarkan penuturannya bisa membuat siapa saja terlena. tak perlu jauh-jauh Bram sendiri pun terbuai dengan harta dan melakukan hal yang sangat hina.
Tapi sekarang Bram sudah benar-benar sadar dan telah bertobat. sekarang ini ram hanya ingin hidup tentram bersama orang yang kelak bisa menerima Bram apa adanya serta menerima masa lalu Bram.
"Ehm, maaf ini Masih lahang atau....?"
"Saya duda, Bude." sahut Bram cepat.
__ADS_1
Bude hanya mengangguk.
"Jika memang Nanti kalian berjodoh, satu pesan Bude Tolong jangan sakiti Rini. usia pernikahannya dengan suaminya dulu hanya berumur satu tahun, itu karena suaminya lebih mempercayai ibunya. dan akhirnya rumah tangga mereka kandas.
Hingga sampai hampir 3 tahun ini Rini hidup menjanda, ia seolah menutup diri dari lelaki. itu makanya pas ada laki-laki datang ke rumah membuat saya dan ibunya Rini berharap bisa berjudul dengan Rini. sudah terlalu lama dia terbelenggu dengan cinta masa lalu yang hanya menyakiti hatinya.
Bram tercengang, Bram merasa kasihan dengan Rini. Tak menyangka, di balik sikap cerianya ia menyimpan rapat rasa sakit hatinya terhadap mantan suaminya.
"Doakan yang terbaik ya Bude, saya sendiri pun masih tahap belajar. Belajar menjadi orang yang lebih baik." pungkas Bram.
"Kalau boleh tahu, apa yang menyebabkan anak Bram bercerai dengan istrinya?"
Degh!
Pertanyaan seperti ini yang membuat Bram tak bisa menjawabnya. tak mungkin orang berkata jujur dengan menjawab Bram selingkuh kemudian bercerai, dan menikahi selingkuhannya namun tragis uang dicampakkan karena kere. nggak mungkin kan Bram bilang gitu, bisa-bisa berantak boleh berkunjung ke sini lagi.
"Ehm, itu biarlah menjadi masa lalu saya Bude. dan Maaf Saya rasa itu merupakan aib dan tak sepantasnya saya menceritakannya. sekali lagi maaf Bude."
Bram berusaha mengelak. biarlah hanya Rini yang tahu masa lalu Bram. karena masa lalu itu begitu buruk, bahkan Bram malu menceritakannya. Bram tak ingin mereka menjadi memandangnya sebelah mata.
Bude hanya mengangguk. Bram bisa sedikit lega.
"Maaf menunggu, lama Mas. silakan diminum." ucap Rini tiba-tiba muncul membawa nampan berisi beberapa cangkir teh.
"Nggak apa-apa Rin, malah senang bisa ngobrol banyak sama bude." sahut Bram.
"Hayo, ngomongin apa nih Bude?"tanya Rini pada budenya. budenya hanya tersenyum sambil melirik Bram.
"Ngobrol biasa aja Nak. Rini hanya mengangguk.
"Ya sudah ayo Monggo Bude." Rini mempersilahkan agar Bram dan budenya meminum teh yang ia suguhkan tadi.
Keluarga Rini begitu hangat. sangat terasa kekeluargaan di sini, gram yang sudah beberapa tahun belakangan ini hanya tinggal berdua dengan mbak Rima, di sini belum merasa sedang berkumpul bersama keluarga Rini.
Hingga adzan magrib berkumandang. pakdenya Rini mengajak Bram untuk salat berjamaah di masjid tak jauh dari rumah mereka. Bram merasa sekolah memiliki keluarga baru di sini, walaupun Bram bukan siapa-siapa mereka.
Selepas magrib ibunya Rini mempersilahkan mereka untuk makan bersama di ruang tengah, ada pula budenya Rini dan suaminya, ibunya Rini dan Rini. mereka semua makan lesehan di ruang tengah, makanan yang tersaji bukanlah makanan mewah, tapi sangat enak dan dinikmati bersama. Beberapa kali Brahma lirik darah wanita cantik yang duduk di depannya, Entah kenapa senyuman itu membuat Bram ingin selalu meliriknya.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Bram ngobrol-ngobrol santai dengan pakdenya Rini, beliau seorang petani. melihat perawakannya Bram jadi teringat Pak Karyo ayahnya Luna. Jujur masih terselip di dalam hati rasa bersalah yang begitu besar terhadap beliau.
"Sudah mulai larut, Bram pamit dulu pakde."pamit Bram.
Melihat ngobrol dengan pakdenya, Rini lebih banyak di dalam. kemudian pakdenya memanggil Rini bahwa Bram mau pamit.
Bram pun pamit padanya karena sudah semakin malam.
"Saya pamit pulang dulu ya Rin, Terima kasih atas Jamuan makan malamnya, Saya senang keluarga mereka juga semuanya baik terhadap Bram. " ucap Bram kepada Rini.
"Sama-sama Mas. Mas Bram bisa saja. makannya juga biasa saja. Mohon maaf cuman bisa menyukuri makanan ala kadarnya."
"Tak apa, tapi saya senang loh. saya pamit dulu ya sudah malam juga."
Bram pun menyalami semua anggota keluarga itu satu persatu. Kemudian mulai menyalakan mesin motornya. Namun, sepertinya Bram merupakan sesuatu. Tapi apa ya, Bram mulai duduk di atas motor sambil mengingat apa yang lupa.
"Oh iya Bram lupa meminta nomor ponsel hari ini.
Bram pun kembali turun dari motor, dan menghampiri Rini yang masih berdiri di depan rumahnya.
"Ada yang ketinggalan mas?" tanya Rini dengan raut wajah terlihat heran.
"Ehm, bolehkah aku minta nomor ponsel kamu?"
"Oh, boleh." Rini membuka ponselnya data Berapa lama ada panggilan masuk ke ponselnya.
"Itu, nomorku Mas." ternyata Rini masih menyimpan nomor Bram juga.
"Okey, Terima kasih Rin." Rini menganggap tersenyum. Bram pamit untuk pulang.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1