
Luna tersenyum dan mengangguk. Vanessa mencoba menggerakkan roda dan mendekati lunak. Luna menyambut dan memeluknya. tangisnya pun pecah.
"Terima kasih, Mbak, Maafkan Aku,"ucapnya belo sambel sesungguhkan. kemudian melepaskan pelukannya.
"Mas Bram. Aku juga minta maaf padamu mas. Tolong maafkan aku. Aku berharap sebelum aku meninggalkan kota ini, aku sudah mendapatkan kata maaf dari orang-orang yang pernah Aku sakiti.
Sejenak Luna tercengang mendengarkan kalimat terakhir yang diucapkannya begitu juga dengan Pak Karyo dan Bram. Bram kembali menunduk menangkupkan kedua tangan di wajahnya.
Bram masih terdiam entah apa yang ada di pikirannya, Mungkin ia kaget bertemu dengan Pak Karyo, Vanessa dan bahkan Kia dalam satu waktu di sini.
"Mas...."Vanessa mendekati lelaki yang masih terdiam.
"Mas Maafkan Aku...."ucapnya dengan suara parau. Mas Bram hanya mengangguk dengan mata terkejam.
"Aku juga minta maaf terutama pada Luna dan Pak Karyo. Saya mohon maaf saya memang lelaki brengsek, yang tidak pandai bersyukur atas apa yang saya miliki dulu, setelah aku sudah kehilangan semuanya, Aku benar-benar menyesal, Aku merasa bodoh. Maafkan aku Luna...."Bram tergugu. dia menangis. Air matanya mengalir dari sudut matanya, sepanjang Luna bersamanya, ini kali pertama Luna melihat air matanya. Terlihat gurat penyesalan terdalam tergambar jelas di sorot matanya.
Tanpa terasa netra Luna pun berembun.
"Bram tahu memang tak mungkin lagi baginya kembali pada Luna, tapi setidaknya Bram ingin menjadi orang yang lebih baik dengan menjalin hubungan baik dengan keluarganya ini. Bagaimanapun juga Bram ingin melihat tumbuh kembang putranya Khairul."Bram terisak air matanya tak lagi menetes.
Luna lihat Pak Karyo hanya terdiam sesekali mengangguk.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkanmu Mas. Meskipun luka ini masih ada, itu wajar. Tapi aku sudah berusaha ikhlas atas apa yang sudah ditakdirkan atas diriku. Khairul juga darah daging mas kok, tak mungkin bagiku memisahkan seorang anak dengan ayahnya."pungkas luna sambil menyekap bulir bening yang membasahi pipinya.
"Maafkan aku Mbak, ini semua memang salahku, aku yang menyebabkan keluarga ini menjadi hancur seperti ini."Vanessa yang sudah dari tadi terisak kembali bersuara. Terlihat sekali penyesalan yang begitu dalam tergambar jelas di pelupuk matanya.
"Sudahlah, semuanya sudah terjadi, Semoga dengan kita saling memaafkan akan memudahkan jalan hidup kita kedepannya, saya sebagai ayah Luna, jujur saya kecewa sangat kecewa. Terutama sama kamu!" Tapi kembali lagi mau sampai kapan kita akan dibayang-bayangi oleh rasa benci yang hanya akan membuat diri kita merugi."
Pak Karyo yang sudah dari tadi, dia menyimak kini angkat bicara. Sambil sesekali menatap tajam ke arah Bram dan juga Vanessa.
"Ini sebuah pelajaran berharga buat kita semua, janganlah kita silau pada apapun bukan milik kita, sepatunya kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki. Jangan menginginkan milik orang lain menjadi milik kita, dan menghalalkan segala cara untuk menggapainya.
Ibu Sumijan tersenyum dengan mengganggu perkataan Pak Karyo. Memang benar apa yang dikatakan Pak Karyo semua terjadi karena memang begitu adanya.
"Saya berharap setelah ini Vanessa bisa menjadi orang yang lebih baik lagi, begitupun dengan Bram. Saya harap ini pelajaran berharga untuknya agar tak mudah tergoda oleh bayangan semu fatamorgana.
Ingat sekali lagi keluarga adalah harta yang paling berharga, Jaga dan rangkullah keluarga kecil kita dengan penuh cinta. Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki, karena bisa jadi apa kita miliki ini adalah sesuatu yang sangat diidamkan oleh orang lain, maka jangan sampai menyesal setelah kita kehilangan semuanya.
Satu ketulusan dan kesetiaan dari seorang pendamping hidup, sudah sepatutnya kita hargai, dengan memberinya kebahagiaan dan kesetiaan serta cinta kasih yang suci. Seburuk apapun orang itu di masa lalu, ia berhak untuk memperbaiki diri, maka maafkanlah Ketiga orang itu, meminta maaf dengan segenap ketulusan serta penyesalan yang menyertainya."ucap pak karya yang dibalas senyuman dari ibu sumijan.
Pemikiran orang tua yang luas wawasan, dan juga taat agama, Pak Karyo patut menjadi contoh untuk anak-anaknya. Pantas saja Luna dan Maya memang taat agama dan selalu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang umat muslim.
Beberapa bulan kemudian, setelah hari dimana Bram, Vanessa, Luna dan Pak Karyo saling meminta maaf dan saling memaafkan. kini hidup Luna sudah semakin tenang.
__ADS_1
Ia menjalani hari-harinya lebih semangat rasa sakit yang dulu menyayat hatinya,sebisa mungkin ditepisnya. Melihat perkembangan Khairul yang tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas membuatnya lebih cepat bisa berdamai dengan masa lalu.
Hubungan Malakiano dengan dia masih terjalin dengan baik, beberapa kali dia mengungkapkan keseriusan ingin membina rumah tangga bersamanya. Tapi Luna masih saja mengatakan belum siap untuk membina rumah tangga baru. Tidak bisa dipungkiri dalam membina rumah tangga dengan Bram menggores luka yang sangat dalam membuatnya trauma untuk membina rumah tangga lagi.
Jadi mereka hanya dekat sebatas teman, Kia pun mengerti dirinya tak ingin memaksakan kehendaknya, ia memilih sabar menunggu waktu itu tiba. Entah mengapa hatinya yakin jika suatu saat nanti Luna akan Luluh dan membuka ruang hatinya untuk Kia melabuhkan cintanya.
Bram setiap minggu atau dua minggu sekali masih tetap rutin mengunjungi Khairul, tak ada obrolan serius di antara mereka. Bram cukup tau diri atas kesalahannya di masa lalu yang begitu menyakiti wanita istimewanya itu, sehingga ia tak lagi mengungkapkan keinginannya untuk rujuk, cukup ya melihat perkembangan Khairul, setiap minggunya dan bisa bersua dengan luna. Baginya sudah lebih dari cukup.
Sementara di tempat lain usai permintaan maafnya diterima dengan tangan terbuka, Vanessa memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya bersama ibu sumijan. Dan meninggalkan semua kenangan kehidupannya di kota Jakarta ini. Meskipun kabar berita miring tentang dirinya terdengar dari mulut tetangganya.
Vanessa lebih memilih menghadapi semua itu karena itu bagian dari perjuangannya membayar semua perbuatannya dulu.
Ibu sumijan sering berkata jika seseorang yang akan berubah diri menjadi lebih baik, tentu badai akan selalu menerpa, sebagai bentuk ujian seberapa matang niatnya untuk berubah dan berhijrah ke arah lebih baik, Semakin ia kuat semakin ia akan mudah melewati semua terpaan itu.
Vanessa termenung di teras rumah tempat tinggal masa kecil dulu, wanita itu mengingat obrolannya dengan salah seorang wanita. Maya adik kandung Luna yang membantu dirinya kala kecelakaan itu terjadi. Maya tidak menyimpan dendam terhadap Vanessa Walaupun dia sudah mengetahui apa yang dilakukan Vanessa kepada Luna. Cukup Maya sudah melihat hukuman yang diberikan Allah kepada Vanessa atas apa yang sudah ia lakukan terhadap kakaknya. jadi Maya tidak ingin memperkeruh suasana.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN