Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 89. BERTEMU RINI_PDHP


__ADS_3

Ta..Tapi, makananku belum habis Mbak,"Dewi menunjuk nasi kotak yang masih tinggal separuh.


"Sudah bawa aja itu nasinya. Aku juga sudah kenyang. Sudah sana pulang,"usirnya bahkan Mbak Rima sedikit mendorong tubuh Dewi untuk segera keluar dari rumah kontrakan yang mereka tempati.


Bram jadi tak enak sendiri dengan mbak Rima. kasihan dia belum makan, salah Bram juga tadi main tawarin makan Dewi, Bram garuk rambut kepalanya yang tak gatal.


Kemudian bergegas menyambar kunci motor, Hendak keluar sebentar mencari makanan untuk Mbak Rima.


"Sebentar Bram belikan makanan ya mbak"pamit Bram sebelum keluar rumah.


Bram membelikan ayam penyet untuk Mbak Rima, berharap dengan makanan itu bisa melunturkan rasa kesalnya. Setelah mendapatkan nasi ayam penyet, Bram bergegas pulang ke rumah.


****


Pagi ini seperti biasa Bram akan berangkat ke tempat kerjanya, Mbak Rima juga sudah berangkat sejak lepas subuh. Memang Mbak Rima pagi sekalian memulai pekerjaannya, karena dia tak hanya memegang satu rumah melainkan ada empat rumah tempatnya mencari rezeki,dengan mencuci baju keluarga mereka.


Pagi ini Bram tak begitu terburu-buru. Karena sudah ada kendaraan, jadi tak perlu naik angkot atau pesan ojek online menjadikan Bram sedikit lebih santai dari biasanya.


Bram membuka pintu depan dan mengeluarkan motor. Baru saja Bram pasang stater motor terdengar seseorang Memanggil nama Bram.


"Mbak Dewi!"sahut kram


"Iya Mas Ini ada sedikit makanan untuk sarapan."sebuah kantong plastik yang berisikan Styrofoam.


"Buat saya?"tanya Bram sedikit heran karena sebelumnya belum pernah dia memberikan makanan pada mereka.


"Buat Mbak Rima Mas. Tadi kebetulan saya beli nasi kuning untuk sarapan. Tapi saya ingat tadi malam sempat tak enak hati dengan mbak Rima. jadi saya belikan juga untuk dia.'


"Oh, tapi Mbak Rima sudah berangkat Sejak pagi."jawab Bram


"Ya sudah buat sarapan Mas Bram aja." kalau begitu saya permisi.


"Okey terima kasih Mbak." suru Bram Dewi sudah berbalik badan.


Dia pun membalikkan badan dan tersenyum ke arah Bram dan Tatapan yang menurut Bram tak seperti biasanya.


Tak ingin berpikir macam-macam Bram langsung masuk ke dalam dan menyantap nasi kuning pemberian Dewi itu. enak juga ya.


"Alhamdulillah di saat aku sedang lapar belum sarapan ada tetangga memberi makan." gumam Bram. Biasanya Bram beli sarapan sekalian berangkat kerja.


Setelah selesai Bram pun berangkat ke tempat kerjanya. seperti biasa menjalani hari-harinya di sebuah restoran karena memang begitu sulit mencari kerja, jadilah Bram memilih bertahan di pekerjaan ini daripada nganggur, walaupun sebenarnya gajinya tak seberapa.


Bram bekerja dengan Sugi, yang merupakan keponakan dari sang pemilik restoran. Masih muda usianya masih sekitar dua puluh tiga tahun. Dia sama dengan Bram sambil menunggu panggilan kerja, Sugi bantu-bantu di sini di tempat Om nya.


Mereka berkutat melayani pelanggan hingga siang hari. banyak tamu yang datang dan beberapa pelayan lainnya sama seperti mereka sedang sibuk waktu di siang hari.


"Permisi mas, daftar menunya dong."ucap seorang wanita sembari tangannya melambaikan tangan. Dari suaranya Bram seperti kenal. Bram pun mendekat dan membawakan daftar menu kemeja yang ditempati oleh wanita itu.

__ADS_1


Saat Bram melihat wajahnya ternyata Rini mantan karyawannya dulu.


"Pak Bram !" siapa wanita itu dengan raut wajah terkejut melihat Bram. Mungkin dia tak menyangka Bram bekerja di sebuah restoran seperti ini restoran bukan terlalu besar tapi bisa dikatakan seperti rumah makan.


"Rini! sahut Bram tak kalah terkejut, karena selama Bram bekerja di sini, belum pernah berjumpa dengan orang yang ia kenal sebelumnya.


"Ehm, Pak Bram sekarang kerja di sini?"tanya wanita itu Rini memang sudah lama bekerja di kantor di bagian resepsionis.


"Iya Rin. cari kerja susah jadilah di sini yang penting halal."Bram menjawab canggung. jujur ada rasa malu terbesit di dalam hati. Bram yang dulu sebagai Bos, sekarang hanya pelayan di sebuah rumah makan yang jelas gajinya tak seberapa.


"iya Pak, yang penting halal."Rini menanggapi dengan tersenyum ramah menampakan deretan gigi putih yang bergingsul.


"Kamu jam segini kok keluar? nggak di kantor?" Bram yang merasa heran karena ini bukan hari libur.


"Iya Pak, Hari ini saya sedang cuti dan kebetulan lewat sini jadi sekalian mampir kebetulan perutku sudah lapar."Bram mengangguk paham.


Setelah memesan menu makanan pesanan Rini. Bram berlalu mengambil menu makanan itu dan langsung menghantarkan kembali kepada Rini.


Rini menyantap menu makanan itu dengan lahap. Lalu setelah selesai, ia membayarnya sejumlah uang. Kemudian ia mengenakan kembali helm di kepalanya dan permisi pamit.


Bram memperhatikannya hingga melajukan motornya dan melesat tak terlihat oleh pandangannya.


"Astagfirullah ini kan dompetnya Rini,"ucap Bram pelan saat menyadari dompet Rini tertinggal di atas etalase. Saat Bram tengok ke jalan Rini sudah jauh tak terlihat.


Bram menyimpannya di meja dan segera menghubungi nomor ponsel Rini. Tapi nomornya tidak aktif. Bram menghela nafas.


"Apa aku ke kantor ya mengembalikan ini."bisik Bram dalam hati ada keraguan di sana.


"Apa aku antar ke rumahnya ya? Bram membuka dompet itu ada KTP yang terselip di sana dan ia membaca alamatnya tak begitu jauh dari sini tempat itu.


"Apa itu mas? dompet wanita cantik tadi? tanya Sugi mengagetkan Bram


"iya rencananya aku anterin ke rumahnya." jawab Bram.


"Ehm, kayaknya mas sebelumnya kenal ya sama Mbak tadi?


"Iya dia mantan karyawanku dulu."


"Owh... gitu.sabar ya Mas dunia memang terasa kejam. Mantan Bos sekarang jadi kuli." jawab Sugi memang Bram merasa tersentil.


"Iya aku nggak apa-apa kok. Alhamdulillah dengan semua yang terjadi, pelan-pelan aku bisa menerimanya." sahut Bram tersenyum getir sugi hanya menganggukkan kepalanya.


"Ehm, Sugi. Nanti setelah agak sepi aku izin keluar ya, mau anterin dompet ini.


"Oke Mas, tapi nggak lama Ya."


"Iya cuman sebentar kok rumahnya juga dekat dari sini.

__ADS_1


Setelah makan siang Bram pamit pada Sugi untuk ke rumah Rini. Dengan sedikit ngebut Bram sampai Di pelataran rumah sederhana cat berwarna biru muda, dan terasa adem karena adanya pepohonan rindang di depan rumah itu.


Pintu rumahnya juga sedikit terbuka.


"Assalamualaikum." ucap Bram memberi salam. Tak Ada jawaban yang ada hanya suara desiran angin yang menggoyangkan dedaunan


"Aduh mah. di mana ya ma, apa ya jatuh di jalan? duh padahal Ada STNK, SIM, KTP, ATM dan lain-lainnya. Ribet kalau Rini harus mengurus lagi,"terdengar suara Rini dari dalam. Benar saja iya tengah panik mencari benda yang ada di dalam genggaman Bram itu.


"Assalamualaikum Rini!"seru Bram dari luar dengan sedikit menaikkan nada suaranya.


"Iya waalaikumsalam."suara Rini terdengar dari dalam dan diiringi gerak langkah kakinya. Rini sudah mau makan pakaian rumahan dan mengenakan jilbab di kepalanya.


"loh Pak Bram! Rini terkejut melihat Bram yang sudah diambang pintu


"Iya maaf mengganggu." sahut Bram


"Ehm, Nggak kok nggak ganggu mari masuk Pak, silakan duduk."Rini membuka lebar pintu rumahnya.


"Siapa Rin?" tanya seorang wanita dari dalam yang terpikirkan adalah ibunya.


"Ehm teman ma! sahut Rini menjawab pertanyaan mamanya.


Tak Berapa lama terdengar suara derap langkah mendekati mereka.


"Oh apa ini calon mantu mama Rin? tanya wanita paruh baya itu yang membuat Bram terkejut. Bagaimana bisa Bram baru main kemari dikira calon menantunya.


"Tapi tunggu. Bukankah Rini sudah bersuami? kenapa mamanya bilang begitu?


"Mama! Mama ngomong apa sih? ini beliau dulu bosnya Rini di tempat kerjaan Ma."Rini menjelaskan pada Mamanya dengan raut wajah seperti tak enak dengan Bram.


"Ehm, iya tante. Kenalkan saya Bram."Bram bangkit kemudian meraih punggung tangan wanita paruh baya itu.


"Oh saya kira teman dekat Rini. Maaf ya, maklum Rini sudah cukup lama sendiri jadi saya selalu berharap dia bisa segera bertemu dengan jodohnya."canda wanita paruh baya itu membuat ekspresi Rini merah dan melebarkan kedua matanya.


"Mama! ehem Maaf ya, Pak Bram jangan dengarkan omongan mama saya.


"Kalian ngobrol lah mama bikinin minum dulu sebentar ya." ucap mamanya Rini dan berbalik badan hendak masuk ke dalam.


"Ehem nggak perlu repot-repot tante, saya datang ke sini cuman sebentar kok. Ini saya mau ngasih ini dompet Rini tadi ketinggalan."Bram menyerahkan dompet berbentuk persegi panjang dengan berwarna coklat itu.


"Oh Alhamdulillah Terima kasih Pak. Saya kira ini jatuh di jalan. Saya sudah menyusuri jalan yang tadi yang sudah cari ke semua sudut rumah. Tapi nggak ada. Aduh kalau beneran hilang Saya pusing ngurusnya Pak. Trimakasih banyak ya Pak, Rini menerima dengan mata berbinar. Ia benar-benar mencari dompetnya.


"Iya, sama-sama. Tadi tertinggal di atas etalase, tapi saya mau panggil kamu udah jauh. Saya telepon nomor kamu tapi tidak aktif." keluh Bram.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2