
"Lun, sekali lagi Mbak minta maaf, Coba kamu lihat Khairul, betapa dia masih sangat kecil dan masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah."
Mendengar ucapannya, Luna tersenyum sinis, menatap tajam kedua manik matanya.
"Kasian Khairul? Sejak kapan Mbak Rima peduli sama Khairul, saat Mbak Rima menginginkan Vanessa untuk menjadi istri mas Bram, apa Mbak Rima punya perasaan kasihan terhadap Khairul keponakan Mbak sendiri?"Luna berkata dengan tatapan tajam ke arah mantan kakak iparnya itu. kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke depan.
Picik sekali orang ini, kenapa baru sekarang ia merasa kasihan dengan Khairul, sejak dulu ke mana saja. Bahkan sejak khairullah sekalipun ia menunjukkan rasa simpatinya sebagai budenya.
"Lun, mbak tahu mbak salah, Mbak minta maaf Lun."ucapnya dengan suara parau, kedua netranya tampak berkaca-kaca.
"Mbak, apa Mbak berpikir, Bagaimana sakitnya hatiku, saat mengetahui mas Bram berkhianat, Bahkan Mas Bram melakukan hubungan yang tidak seharusnya dilakukan dan mereka melakukan itu tak cukup sekali, Entah berapa kali yang Luna tidak tahu. Coba kalau keadaannya di balik Mbak di posisi luna, apa Mbak pikir aku akan memaafkan begitu saja dan menerimanya kembali?"
Luna berkata dengan menatap nyalang ke arahnya, dadanya terasa sesak hingga membuatnya naik turun, sepertinya emosi Luna mulai tersulut ketika mengingat semua itu.
Tatapan Luna pun mulai nanar, sakit rasanya membuka kembali luka yang sedang Luna coba sembuhkan sendiri.
Kedua netra nya mulai basah dan air mata itu tumpah membasahi pipinya.
"Luna Maafkan Mbak. Mbak mohon..
Tiba-tiba Mbak Rima tersungkur di hadapan luna memegang lututnya dengan tatapan Begitu iba, ia mengatakan itu.
"Cukup Mbak, bangunlah. Jangan seperti ini." ucap Luna datar.
"Nggak Lun, Mbak nggak akan bangun sebelum kamu Maafkan Mbak. Mbak Rima tergugu dengan sesekali menyeka air matanya.
"Sebaiknya Mbak bangun, kita bicara di dalam. Ngak enak kalau sampai dilihat orang, nanti dikira aku ngapa-ngapain Mbak Rima. Luna bangkit melepaskan genggaman tangannya dan meninggalkannya yang masih berlutut di sana.
Ia hanya terdiam dan kembali menyeka bulir bening yang masih terus terurai.
__ADS_1
"Duduklah Mbak, ini minum dulu. Maaf kalau hanya air putih."Luna letakkan segelas air putih air putih di meja.
Ia pun meminumnya hingga tanda separuhnya. mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Lun..."
"Mbak, jika kedatangan Mbak Rima kemari hanya ingin membujukku untuk kembali pada Mas Bram, Maaf mbak sebaiknya lupakan saja."sergah lunak.
"oke Baik Lun!"Mbak tidak lagi memintamu untuk kembali rujuk dengan Bram tapi Mbak benar-benar minta maaf sama kamu Luna."tersirat gurat ketulusan di sudut matanya.
"Kalau Luna boleh tahu kenapa Mbak lakukan ini pada Luna Mbak? tolong katakan dengan jujur."
Mbak Rima menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan.
"sekali lagi Mbak minta maaf ya Lun. maaf jika semua tindakan Mbak Di luar batas. Mbak mengira Vanessa itu wanita baik-baik, Mbak suka aja ngobrol sama dia serasa club jika sedang ngobrol sama dia, jadi Mbak berniat menjodohkan dia sama Bram tapi ternyata dia takut banyak seorang pelacur. nyesel Mbak dulu kenal sama dia."paparnya dengan pandangan lurus ke depan.
"Oh jadi karena selama ini Mbak merasa tidak klop sama aku,terus Mbak main jodohin aja wanita murahan itu dengan Mas Bram? Mbak anggap aku ini apa Mbak!"
"Luna dengerin dulu lun! sekarang Mbak benar-benar minta maaf Lun, Mbak sungguh-sungguh ingin bertobat Luna, Mbak sudah kehilangan semuanya sekarang. Hik hik hik hik...."Mbak Rima kembali tergugu, Luna hanya menatapnya dengan kedua Ali saling.
"Minta maaf sama Allah mbak, bertobatlah dengan segenap hati dan jiwamu Mbak. Maaf bukan maksud Luna menggurui, tapi luna prihatin dengan kehidupan Mbak Rima."Tak perlu sama Luna. walaupun Luna sendiri tak mengerti, Apa maksud Mbak Rima bilang sudah kehilangan semuanya.
"Iya Lun, hati Mbak kotor, Mbak malu lun."
Mbak Rima tertunduk, walaupun masih ada rasa sedikit kesal tapi jujur Luna iba melihat orang-orang yang di hidupnya hanya memandang harta bukankah semua ini hanya sebuah hal semu yang tak akan abadi dan hanya titipan dari Allah.
Selain Karena rasa sakit hati Luna, semua yang luna lakukan memang bertujuan untuk memberi pelajaran untuk mereka termasuk Mbak Rima dan wanita murahan itu.
"Sudah Sudah, Mbak Luna sudah maafin Mbak Rima. Luna harap ke depannya Mbak Rima bisa menjadi orang yang lebih baik lagi."
__ADS_1
Meski sebenarnya sulit bagi luna untuk memaafkan mereka. Tapi Luna juga harus belajar ikhlas. Allah saja akan memaafkan segala kesalahan dan dosa hambanya, walau kesalahan itu begitu besar, apalah Luna yang hanya manusia biasa sudah seharusnya Luna belajar memaafkan mereka yang sudah berbuat sedemikian menyakitkan itu.
"Lun! Mbak tahu, tak mudah bagimu memaafkan Mbak. Mbak janji setelah ini tak akan mengganggu hidupmu lagi." ucapnya pasti.
Luna menoleh ke arahnya dan mengulas senyum untuknya. Mbak Rima pun mendekat dan memeluk Luna erat. Sedetik kemudian tangisnya pecah dan dalam pelukan luna. Hati Luna ikut merasakan kesedihan ketulusan kata maaf yang ia sampaikan, Semoga apa yang Mbak Rima sampaikan benar adanya. Luna berharap ia bisa menjadi orang lebih baik lagi.
Sebenarnya Luna masih bertanya-tanya Kenapa ia mengatakan sudah kehilangan semuanya. Ingin Luna bertanya, tapi rasanya tak enak. Biarlah nanti Luna tanyakan pada Bram.
Setelah cukup lama ia terisak, mereka merenggangkan tubuh mereka. Luna lihat kedua matanya, sebab semoga benar air mata itu adalah air mata penyesalan batin Luna.
"Sudah Mbak, Luna udah maafin Mbak Rima." ucap Luna mengulum senyum.
"Terima kasih Lun." sahutnya kemudian meneguk air putih yang tinggal separuh. Tak berapa lama, Mas Bram dan Khairul datang, tanpa Khairul menenteng kantong plastik bergambar logo sebuah minimarket.
"Assalamualaikum Ma! ehmm ma, bude. Kenapa kok matanya merah? tanyanya saat baru saja masuk ke dalam rumah dan menjumpai mereka yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Nggak apa-apa sayang, bude cuman kelilipan saja tadi." Mbak Rima menyahut cepat.
"Khairul sini sayang, duduk sini dekat bude." ucapnya sambil menepuk sofa samping ia duduk.
Namun, bukannya mendekat justru Khairul mundur selangkah ke belakang dan bersembunyi di balik badan ayahnya.
Luna melirik Mbak Rima. Terlihat raut kekecewaan tergambar di wajahnya. Tapi beberapa detik kemudian ia tampak menguasai keadaan ia biasa saja dan mengulum senyum.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN