
Aldo melepaskan genggaman tangannya dan mendorong tubuh Vanessa, hingga terpental ke atas ranjang.
"Apa yang kamu katakan pada Maya? Hah!" jangan kau coba-coba mengatakan yang tidak-tidak pada Maya, Aku tak ingin kehilangan Maya untuk kedua kalinya, kau mengerti!"
Aldo berkata dengan tatapan nyalang, belum pernah Vanessa melihatnya semarah ini, segitiga bucinnya kah dia dengan Maya.
"Mas, aku tidak mengatakan apapun pada Maya, aku cuma..."
"Cukup, Vanessa. Seperti perkataanku pagi tadi, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, Aku ingin kita berpisah. Toh selama kita bersama beberapa bulan ini, tak ada rasa cinta yang tumbuh di hatiku."
Aldo duduk di bibir ranjang, sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Jangan Kau kira aku tidak tahu, kau perempuan seperti apa, dan aku yakin, kau pun tak akan sanggup harus lebih lama lagi di rumah ini, bukankah selama kau tinggal di rumah ini, kau begitu tertekan? jadi mulai sekarang pergilah, aku melepaskanmu. Aku talak kamu Vanessa binti sumijan, mulai hari ini kau bukan istriku lagi."ucap Aldo kepada Vanessa yang mampu membuat Vanessa membulatkan matanya.
Sebuah kalimat talak telah dilontarkan dengan tegas dari bibir Aldo. Vanessa Memang Tak pernah mencintainya, Tapi entah mengapa hatinya merasa begitu perih mendengarnya.
Vanessa menyetabil organik yang membasahi pipi. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir ini, hati ini rasanya hancur.
"Maafkan aku Vanessa."
Tak lagi Vanessa hiraukan ucapannya, walau sampai seribu kali pun dia meminta maaf, tetap, takkan bisa menghapus rasa sakit yang ia berikan.
Vanessa mulai beringsut turun dari ranjang, dan membuka lemari pakaian, mengambil sebuah coper miliknya, kemudian memasukkan semua baju-bajunya ke dalamnya.
Aldo hanya menatapnya dalam diam. memang benar apa yang dikatakannya, Vanessa memang menikah dengannya bukan karena cinta, Vanessa menikah dengan Aldo hanya karena harta semata, tapi dengan semua perlakuan keluarganya, membuat Vanessa mengerti bahwa tak semua kebahagiaan diukur dengan uang.
Vanessa mencoba bertahan bukan karena ingin menikmati harta keluarganya lagi, tapi Vanessa juga ingin menjadi istri yang lebih berarti di hati suaminya. Tapi, terlihat Aldo dan ibu Alena tak pernah melihat itu dalam dirinya, yang mereka tahu Vanessa Hanya wanita mata duitan yang berharap hidup enak di tengah keluarga mereka.
Sungguh Vanessa merasa begitu terhina, betapa mereka menganggap dirinya tak punya harga diri.
Jika memang ini sudah menjadi keputusan Aldo, Tak Ada Yang Bisa Vanessa lakukan selain keluar dari rumah utama keluarga Aldo.
"Baik, Vanessa terima keputusanmu, Vanessa akan pergi dari sini, semoga kau bahagia dengan Maya." ucap Vanessa sendu, setelah selesai memasukkan bajunya ke dalam koper.
"Berkas-berkas untuk perceraian nanti aku yang urus." ucap Aldo kepada Vanessa. Vanessa hanya mengangguk dan menutup kopernya kemudian keluar kamar.
__ADS_1
Vanessa langsung keluar rumah tanpa pamit apapun pada ibu Alena, Vanessa yakin Ibu Alina sedang asyik mengobrol dengan Maya tentunya.
Ayah mertua Vanessa masih ada di luar negeri untuk urusan bisnisnya jadi Vanessa memang jarang bertemu dengannya Selamat tinggal di rumah keluarga Aldo.
Langkahnya terhenti sejenak saat sampai di halaman depan, Vanessa membalikkan tubuhnya melihat rumah besar dengan tiang besar yang menjulang tinggi, seakan mentertawakan Vanessa.
Vanessa tak menyangka, Kini Vanessa resmi menyandang status janda untuk kedua kalinya. Dua kali Vanessa gagal membina rumah tangga, tapi untuk yang kali ini Vanessa benar-benar merasa hancur.
Vanessa berjalan keluar pagar rumah itu, sebuah mobil sudah menunggu di depan, Yah, mobil taksi online yang sebelumnya sudah dipesan oleh Vanessa.
"Mbak, Vanessa! mau ke mana Mbak?" tanya petugas keamanan yang berjaga di rumah utama keluarga Aldo.
"Tolong buka gerbangnya, Pak!"titah Vanessa tanpa menjawab pertanyaannya.
petugas keamanan itu langsung membuka pintu gerbang tanpa menyahutinya lagi.
"Terima kasih, Pak. Permisi." Beliau hanya mengangguk, sopan dengan tatapan penuh kebingungan. Beruntung rumah miliknya tak jadi dijual, jadi Vanessa bisa kembali tinggal di sana. Aldo sempat memintanya untuk menjualnya, tapi bagaimana Vanessa akan menjual atau bertemu calon pembeli kalau setiap hari hanya di dapur, kamar mandi dan kasur. Itu semua ada hikmahnya juga rumah itu belum sempat terjual.
Hari sudah semakin sore, saat Vanessa tiba di rumah lamanya. Ada rasa rindu dengan rumah itu, Walaupun kecil rumah itu nyaman untuk ia tinggali.
Pak Berapa lama ada seseorang datang bertamu, saat ya buka pintu, ternyata petugas keamanan. Beliau membawa sepeda motor milik Vanessa.
"Mbak, saya disuruh mas Aldo untuk menghantarkan sepeda motor Mbak."ucapnya sambil memarkirkan motornya di dalam rumah.
"Oh, Iya terima kasih, Pak."
"Mbak, pamit ya."
Petugas keamanan pun pulang ke rumah Aldo dengan naik ojek online.
Vanessa kembali masuk ke dalam rumah, dan membersihkan kamarnya, mengganti sprei dan menyapu lantainya, kemudian ia rebahkan tubuhnya di sana.
Tanpa terasa bulir bening kembali menetes, betapa malangnya nasibnya.
Tiba-tiba suara dengan ponselnya berdering.
__ADS_1
Ia melihat di layar ponselnya kalau yang menghubungi dirinya ibunya.
"Helo, Bu!" ucap Vanessa pada sosok wanita yang melahirkannya di seberang sana.
"Vanessa Bagaimana kabar kamu, Nak?"
"Buruk, Bu! Vanessa baru saja diceraikan Aldo,"ucapnya tergugu.
"Apa! Kenapa Nak! Kenapa jadi begini, kamu berumah tangga dua kali, dua-duanya gagal, Kamu harus sabar ya, nak!"
"Iya, Bu!" sahutnya dengan isak tangis.
"Nak! Ibu sudah tahu semuanya. Jujur Ibu kecewa sama kamu, Nak!"
"Maksud ibu?"
"Status Bram itu, dulu masih beristrikan, saat menikahi kamu? makanya kalian hanya menikah secara siri. Kamu sadar nggak? adil hati yang kamu lukai saat kamu merebut dari istrinya, Apa kamu tahu bagaimana perasaan istrinya, Bagaimana nasib anaknya."
DEGHHH
Vanessa meremas kuat pangkal rambut kepalanya. Ibu benar Mungkin yang Vanessa alami saat ini adalah karma yang harus panasan dapatkan karena sudah merebut suami orang.
"Vanessa, para tetangga di sini juga sudah ada beberapa yang ngomongin kamu, Entah mereka dengar kabar itu dari siapa, terus terang ibu malu, Nak! kamu dikatain sebagai pelakor, rasanya sakit hati ibu, Nak!"
"Maafkan Vanessa, Bu! sudah bikin ibu malu." kembali Vanessa menyahut dengan isak tangis.
Meskipun kita ini miskin, tapi tak seharusnya kita merebut yang bukan milik kita, Nak! kamu dari dulu selalu bercita-cita ingin jadi orang kaya, tapi tak harus dengan cara seperti ini, Nak! kamu itu perempuan, harus punya harga diri. Sudah berkali-kali juga toh Ibu ingatin kamu, tapi memang kamu ini susah kalau dinasehati. Sudah sudah jangan menangis lagi, besok Ibu akan ke sana, ibu harus bicara sama kamu."
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1