
Beberapa kali juga Bram bersimpuh dan memohon untuk kembali, meski Luna melihat ada ketulusan dari sorot matanya, Tapi entah mengapa hati Luna masih terasa sakit, Bagaimana mungkin hati yang sudah hancur berkeping-keping, akan kembali utuh hanya dengan kata maaf.
Luna tahu dirinya egois, hanya memikirkan perasaannya saja tanpa memikirkan perasaan Khairul anaknya, tapi Luna pun hanya seorang wanita, rasanya masih sakit bila mengingat bagaimana ia memperlakukan luna di depan wanita murahan itu, dengan sadar ia membela wanitanya.
Bagaimana mungkin pernikahan yang sudah dibangun atas nama cinta, dan sekian lama bersama, dengan mudahnya ia berpaling hanya karena kemolekan wanita murahan itu. di mana perasaannya saat itu.
Bagaimana mungkin Luna memaafkan begitu saja saat Luna melihat dengan mata kepalanya sendiri, suaminya bergumul dengan begitu, bertukar Silva, bertukar peluh dengan wanita, yang jelas-jelas belum menjadi istrinya.
Bahkan mereka melakukannya tidak hanya sekali, istri mana yang tak sakit hatinya melihat suaminya bermain gila di luar.
Malam ini, seperti biasa, Luna hanya berdua dengan Khairul, Putra semata wayangnya. beberapa kali Luna menjelaskan Jika ia rindu ayahnya, iya boleh bertemu kapanpun, Luna tak pernah melarangnya.
Beberapa kali juga Luna menjelaskan bahwa Mama dan Ayahnya tidak bisa lagi tinggal satu rumah, karena mereka sudah tidak bisa lagi bersama.
Syukur alhamdulillah pelan-pelan Khairul mengerti, Mungkin ia juga mulai paham saat dulu mereka bersama yang ia lihat hanya air mata dan kesedihan di wajah Luna.
Khairul memang anak yang cerdas, ia mulai mengerti dan paham, jika mereka sangat menyayanginya walau tidak tinggal satu rumah, tapi cinta dan kasih sayang mereka tetap utuh untuknya.
"Ma! kok mama sedih?
"Kenapa?
"Ayah bikin mama sedih lagi, ya?"
Luna terkejut saat Khairul mengusap lembut punggung tangannya.
"Ah, enggak kok Sayang! Mama nggak apa-apa, Khairul jadi anak yang baik ya, Mama sayang sama Khairul."ucap luna menangkup wajah polosnya yang tampan.
"Iya Ma! kalau ayah datang cuman buat mama sedih, Khairul mending nggak usah ketemu ayah, nggak apa-apa Ma! Khairul nggak mau lihat Mama sedih."Luna terenyuh mendengar ucapan yang terlontar dari bibir mungil putranya, betapa ia sangat menyayangi Luna.
__ADS_1
Luna hanya tersenyum menggeleng.
"Nggak sayang, Mama justru sedih kalau Khairul nggak mau ketemu ayah, ingat pesan mama ya, biar bagaimanapun Ayah tetap ayahnya Khairul, dan ayah sangat sayang sama Khairul. Jadi Khairul harus selalu bersikap baik sama ayah, Khairul harus selalu doain Ayah supaya Ayah di sana sehat. Khairul mau jadi anak yang sholeh kan? dua anak sholeh diijabah loh, sama Allah."
Luna tak henti-hentinya menasehati Khairul, agar Ia tetap menjadi anak yang baik, walaupun Luna sudah tak bersama Bram lagi, tapi Luna tak Khairul ingin membenci ayahnya.
"Iya Ma, Khairul juga selalu doain mama. Khairul berdoa agar Mama selalu sehat dan bisa selalu tersenyum, Khairul sedih kalau lihat mama sedih."
Mendengar itu, Luna merengkuhnya dalam pelukannya, betapa Luna sangat bersyukur memiliki Khairul, yang selalu menjadi kekuatannya dalam kondisi terpuruk sekalipun, Luna mampu bertahan demi Khairul.
Hingga tanpa sadar bulir bening menyeruak hendak keluar dari sarangnya, dan luruh begitu saja membasahi wajah cantik Luna.
"Kok mama malah menangis?"
"Nggak sayang, Mama bahagia melihat Khairul, Mama bahagia Khairul begitu sayang sama Mama, Terima kasih ya, nak." pungkas Luna dengan terisak.
"Khairul juga sayang sama Mama, Khairul janji akan selalu jagain mama."Khairul menatap lekat ke arah Luna. Luna mengangguk.
"Sekarang kita lanjut lagi bikin tugas mewarnai yang baru ibu guru berikan, ya sayang."ucap luna sambil mendekatkan lagi buku mewarnai miliknya, tugasnya mewarnai berbagai macam bentuk buah-buahan. Khairul mengangguk antusias.
Setelah selesai semua tugas yang dikerjakan, Luna menemaninya ke kamar, sudah waktunya Ia tidur, tak lupa sebelumnya ia membereskan semua mainan yang berserakan.
Tak butuh waktu lama Khairul Sudah terlelap menjemput alam mimpinya. Luna mengecup lembut dahinya. Betapa Luna sangat bersyukur memiliki Khairul.
Luna beranjak meninggalkannya dan melenggang ke kamarnya, kini sebelum Luna tidur Luna punya rutinitas baru, Ia itu mengecek data laporan yang sudah di mau kirimkan melalui email Luna.
Kamarnya yang dulu sedikit ia rubah, di sudut kamarnya Luna letakkan meja kerja lengkap dengan kursi dan laptopnya di sana, Karena sekarang Luna memegang kendali kantor, jadi Luna harus mulai bekerja keras, agar bisnis itu tetap bisa berjalan sebagai sumber penghasilan Luna.
Sejak Luna menjadi single parent, Luna dengan Khairul menjadi merasa terabaikan, justru Luna ingin meluangkan waktu untuknya. Semua pekerjaan terkait kantor semua Luna pantau dari rumah, hanya sesekali jika harus bertemu keluarga bisnis baru, Luna akan datang ke kantor.
__ADS_1
Bersyukur ada Bimo dan asisten lain yang bisa dipercaya mengurus semuanya, jadi Luna hanya tinggal menerima laporan dan memantaunya dari rumah.
Luna mulai membuka laptopnya dan mulai fokus menetap layar yang menampilkan deretan tabel dan, dengan teliti Luna cek satu persatu hasil laporan hari ini. "Alhamdulillah selama ini semua baik-baik saja dan bisnis yang dikelola Luna saat ini berjalan dengan lancar.
Tiba-tiba Luna dikejutkan dengan suara getaran ponsel yang ada di sampingnya tertera nama Malakiano di layar pipih nya.
Sejak pertemuan pertama di kampung, Entah dari mana-mana mengetahui nomor ponsel Luna, Ia sering mengirim pesan untuk Luna walau hanya sekedar bertanya kabar. beberapa kali luna abaikan, hanya menjawab pesan itu seperlunya.
Entah Mengapa kegagalan dalam rumah tangga yang ia alami membuatnya seakan trauma untuk dekat dengan lelaki. Bagi Luna semua laki-laki itu sama saja, tak akan bisa menahan godaan Jika disuguhkan dengan keindahan tubuh wanita.
Mengingat usia Luna yang tak lagi muda Luna lebih memilih untuk fokus merawat dan mendidik Khairul agar ia tumbuh sehat, cerdas dan memiliki masa depan.
Luna biarkan benda pipih itu berkedip beberapa menit, hingga kemudian layar itu gelap dengan sendirinya. Luna hanya menurut sebentar kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.
Selang beberapa menit kemudian benda pipih kesayangannya itu kembali bergetar, masih dengan nama yang sama tertera di sana.
Luna akui begitu giginya usah malah untuk menarik simpati lunak, meskipun beberapa kali Luna terlihat cuek dia tetap berusaha menghubungi agar bisa menjalani komunikasi.
Cukup lama benda pipih itu berkedip. Tak biasanya Mala meneleponnya selama ini, ia hanya mengirimkan pesan ataukah Ada hal penting.
Akhirnya Luna memutuskan untuk mengangkat panggilan teleponnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1