Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 58. VANESSA SAKIT_ PDHP


__ADS_3

Vanessa hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ibu Alena. Kemudian mengisi piring beliau dengan nasi.


"Makan dulu, Bu!"ucap Vanessa Seraya menyerahkan sepiring nasi. Sedangkan piring Vanessa sudah tinggal sesuap lagi habis.


Ibu Alena hanya terdiam. Matanya terlihat sembab, ada raut kesedihan tergambar di wajahnya.


"Ibu kenapa?


"Apa ibu sakit?"Ibu Alena menggeleng.


"Kalau butuh apa-apa, Panggil Vanessa ya Bu!"pesan Vanessa, kemudian melenggang ke dapur membawa piring kosong miliknya, dan meninggalkan Ibu Alena yang terlihat tengah menikmati makanannya.


"Aauuuu! tiba-tiba perut Vanessa sakit, dengan tertatih Vanessa berjalan menuju kamar, melewati ibu Alena yang tengah mengunyah makanannya, tampaknya beliau sedang ada masalah, terlihat banyak melamun sambil mulutnya terus mengunyah.


Vanessa merebahkan tubuhnya di pembaringan, rasa nyeri di perutnya begitu menyiksa, kemudian memejamkan mata, berharap dengan terlelap sakitnya Bisa berkurang.


Tok...


Tok...


Tok...


"Vanessa! buka pintunya, Vanessa! teriakan suara Aldo dari luar kamar, mengagetkan Vanessa. Entah sudah berapa Jam Vanessa tidur, usai makan siang tadi.


"Iya, sebentar! sahut Vanessa."Vanessa menoleh ke arah jam yang menempel di dinding, Jam menunjukkan pukul 04.00 sore. tumben Aldo jam segini sudah pulang? biasanya dia akan pulang larut malam, Bahkan tak jarang menjelang pagi.


"lama banget sih buka pintunya!"ucap Aldo dengan Ketus, sesaat setelah Vanessa membuka pintu.


"Maaf aku tadi ketiduran, Sayang. Tumben, kamu jam segini sudah pulang."


"Bukannya senang suami pulang cepat, malah dibilang tumben, kalau aku pulang malam, kamu nggak suka, Jadi bagaimana maunya sahutnya dengan nada Ketus. Kemudian mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang dan tangannya membuka kancing kemejanya.


Aldo bekerja di perusahaan ayahnya, jika sedang tidak ada job di grup wedding organizer pekerjaan fotografer hanyalah untuk sampingan baginya, karena hobi


Vanessa menghela nafas, mendengar perkataan yang putus, tapi Vanessa berusaha memakluminya, mungkin karena dia lelah dengan pekerjaannya di kantor.

__ADS_1


"Mau aku buatkan kopi Mas?"Aldo hanya mengangguk, pandangan matanya fokus menatap ponselnya.


Meski nyeri pada perutnya belum sepenuhnya hilang, Vanessa berusaha menahannya, dan berjalan tertatih ke dapur membuatkan kopi kesukaan Aldo. Ia pun memanaskan makanan untuk Aldo. Vanessa berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada Aldo, sebelum misinya berhasil.


"Mas, kopinya sudah siap. Aku letakkan di meja makan, makan yuk, kamu pasti lapar kan."ajak Vanessa setelah kembali ke kamar, usai menyiarkan semuanya.


"Sebentar aku mandi dulu."Aldo meletakkan benda pipihnya, dan berlalu ke kamar mandi, yang terletak di sudut kamar yang selama ini ditempati Vanessa dengan Aldo semenjak mereka menikah.


Malam harinya Aldo pamit keluar bersama teman-temannya, tentu hal itu sangat membuat Vanessa tak suka dan muak. Karena sudah pasti saat pulang ia dalam keadaan mabuk.


"Mas, Tak bisakah kau malam ini di rumah saja, aku juga nggak enak badan, kamu bisa lihat sendiri nih aku demam." Vanessa menempelkan telapak tangannya pada dahinya, untuk meyakinkannya jika Vanessa benar-benar sedang tak enak badan


"Hanya demam kan, minum paracetamol, kemudian istirahatlah,"ucap laki-laki yang sudah menikahinya beberapa bulan. kemudian Ia tetap pergi dan memilih menghabiskan waktu bersama teman-temannya.


Malam semakin larut, di dalam kamar yang luas, Vanessa meringkuk sendiri dalam keheningan malam, batuk dan flu juga menyertainya. Biasanya Vanessa jarang sekali sakit, hanya pusing sedikit kemudian sembuh dengan sendirinya.


Tapi kali ini, tenggorokannya juga terasa kering dan sangat sakit untuk menelan, sekujur tubuhnya terasa lelah dan pegal-pegal. Ingin rasanya Vanessa ke dokter ditemani oleh Aldo suaminya, Tapi sepertinya Aldo sedang bersenang-senang dengan teman-temannya lebih dipilihnya.


Vanessa, Ayo semangat, kamu harus sehat. kamu wanita kuat."gumam Vanessa dalam hati sembari terus menahan rasa sakit yang ada di dalam tubuhnya.


Pagi hari yang indah Vanessa mencoba bangkit, Tapi kepalanya terasa pusing dan nyut-nyutan. Mencoba berdiri tapi sekeliling terasa berputar, hingga Vanessa kembali terduduk di tepi ranjang.


Bahkan Aldo tidak pulang hingga pagi, Vanessa mendengus kesal, Bagaimana aku ingin bermanja atau meminta ditemani ke dokter, Jika di rumah diacuhkan dan dicuekin, kemudian pergi kerja atau menghabiskan waktu dengan teman-temannya, benar-benar menyebalkan.


Vanessa menoleh ke samping, melihat bayangannya sendiri pada pantulan kaca dari meja, wajahnya terlihat pucat, dengan bibir terlihat membiru, mungkin Vanessa hanya kelelahan. Dan perlu istirahat yang cukup, semoga besok keadaannya.


"Vanessa! kamu masih tidur?"


Terdengar suara Ibu Alena dari luar pintu, disertai ketukan halus. Hari ini rasanya Vanessa tak bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah, karena kondisinya tak memungkinkan.


"Buka saja pintunya, Bu! nggak dikunci,"sahut Vanessa.


Pintu pun terbuka, kening Ibu Alena Mengernyit, saat melihat Vanessa meringkuk di balik selimut, dengan wajah yang pucat.


"Vanessa kamu sakit? tanya ibu Alena penuh selidik

__ADS_1


"Badanku meriang, Bu,"sahut Vanessa lemah.


Ibu Alena menarik nafas panjang kemudian dihembuskan perlahan.


"Ya sudah, hari ini kamu istirahat saja, urusan beres-beres dan masak biar Ibu minta tolong sama Bi Ijah untuk sementara."


Bi Ijah salah seorang tetangga yang sering dimintai tolong sama ibu Alena, untuk membantu di rumah, jika sedang tidak ada asisten rumah tangga.


Alena hanya mengangguk.


"Badan kamu juga panas, nanti Ibu carikan paracetamol,"pungkasnya kemudian melenggang keluar kamar.


Ibu Alena tidak menanyakan Aldo, sepertinya Ibu Alena sudah hafal tabiat anak lelakinya itu.


Vanessa mencoba menghubungi Aldo. Dalam keadaan sakit begini, Tak bisakah dia meluangkan waktu sedikit pun untuk Vanessa, Tak bisakah sikapnya kembali menghangat seperti dulu, hingga sakit Vanessa sembuh.


Aldo memang sudah berubah, setiap Vanessa bicara, tanggapannya selalu Ketus, seolah sudah tak ada lagi rasa cinta di hatinya untuk Vanessa. Tapi Vanessa mencoba sabar selama dia masih setia dan tak main perempuan. Vanessa berusaha mengerti, meskipun seringkali Vanessa menangis dibuatnya karena kebiasaan mabuknya.


Aldo juga sudah tak seperti dulu yang sering memberikan uang, memberi Vanessa hadiah, sekarang kita Vanessa minta pun tak langsung memberikan, harus berkali-kali baru ia memberikan uang untuk Vanessa. Itu pun harus Vanessa keluarkan semua jurus rayuan. Padahal Vanessa berhak mendapatkan nafkah dari.


Ah, sungguh hidup Vanessa sekarang sangat jauh dari ekspektasinya dulu.


Vanessa menghubungi Aldo tapi tak tersambung, dan ponselnya mati. "Benar benar sial menikah dengan orang kaya tapi batin tersiksa." gerutunya dalam hati.


Vanessa! ini Ibu belikan bubur ayam yang biasa lewat di depan rumah, nanti kamu makan terus minum obat, ya."tiba-tiba Ibu Alena masuk tanpa mengetuk pintu,membawa semangkok bubur ayam Dan selembar obat bertuliskan paracetamol.


Vanessa menatap melekat ke arahnya, beliau yang kemarin begitu ketus dengannya, hari ini terlihat baik dan perhatian terhadap Vanessa, Apa karena Vanessa sakit.


"Terima kasih Bu! sahut Vanessa tersenyum ke arah Ibu Alena dengan mata berkaca-kaca. melihat reaksi Vanessa, Ibu Alena justru menatapnya dengan kedua alis Bertaut.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2