Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 86. PENYESALAN YANG BEGITU DALAM _PDHP


__ADS_3

Saat tiba di depan rumah, Bram sedikit heran mengapa banyak lalu lalang para tetangga yang datang ke rumah Luna. Hingga di teras rumah juga ada karpet yang digelar, ada acara apa ini sebenarnya? kemarin Luna mengirim pesan kepada aku, mengundangku untuk datang ke rumah juga memintaku mengajak Mbak Rima


Hubungan Bram dengan Luna sudah lebih baik, meskipun Luna tidak pernah lagi berbasa-basi dengan kata-kata manis seperti saat mereka masih bersama dulu. Tapi setidaknya ia tak lagi bersikap ketus saat berbicara dengan Bram. Sepertinya hati luna sudah mulai melunak dan benar-benar telah memaafkan Bram.


Sejujurnya dari dalam lubuk hati Bram yang paling dalam, sungguh Bram ingin Luna kembali dan membuka lembaran baru di kehidupan rumah tangga mereka. Walaupun beberapa kali Luna berkata sudah tidak ada lagi rasa, Tapi demi Khairul, Bram ia berharap cinta yang dulu pernah bersemi dan mengakar di dalam sana, akan bisa kembali tumbuh.


Bram beri pupuk untuk menyuburkannya kembali. Akan beraksi dengan segenap rasa sayang sebagai bentuk cinta untuk bisa menyembuhkan luka di hati luna. Bram benar-benar hidup dalam penyesalan yang terdalam,penyesalan yang tak berkesudahan entah sampai kapan Bram pun tak tahu.


Luna wanita lembut yang Bram kenal sejak mereka masih sama-sama kuliah. Bram mengenal Luna di kota Jakarta saat Luna masih kuliah.


Di kota itu menjadi saksi bisu pertemuan Bram dengan wanita luar biasa yang telah dengan sabar bersama Bram dari titik nol hingga mereka berhasil, mengembangkan perusahaan yang ditinggalkan pergi oleh om firman. Paman Luna sendiri, Luna pun menguras habis tabungannya untuk menanam saham di sana. Berharap kehidupan mereka semakin membaik dari sebelumnya.


Namun, dengan mudahnya Bram, Bram melepaskan semua itu, dengan kebodohan melepaskan sang permata hatinya.


Hanya karena Bram tak mampu menahan godaan, Bram terpikat dengan wanita lain, wanita yang tak ubahnya hanya seperti sampah, semuanya menjadi hancur. Bram kehilangan segalanya, hanya Khairul satu-satunya yang ia punya. Tentunya Bram tak ingin menyakitinya.


Walau dengan keterbatasan, Bram sekarang, Bram mencoba untuk selalu ada untuknya, walau hanya bisa bersua seminggu sekali. Masih untung Luna tak pernah melarang Bram bertemu anaknya. Dia bahkan selalu mengajarkan kebaikan pada Khairul agar selalu hormat pada orang tua, meski Bram adalah orang yang brengsek.


Walau di dalam hati dilanda keheranan, Bram menghentikan langkahnya memasuki gerbang rumah Luna, rumah yang dulu menjadi saksi hari-hari bahagia mereka, rumah yang dulu Bram beli untuk Luna, rumah yang selalu menjadi tempatnya berpulang setelah bekerja seharian. Namun, kini Bram merasa tak pantas menginjakkan kaki di sana.

__ADS_1


Kedua tiang Kokoh dan bunga-bunga serta tanaman yang tertata rapi oleh tangan mungil Luna, semua seolah mentertawakan Bram. Bram yang begitu bodoh telah memiliki semua kebahagiaan itu. Namun, ia kotori sendiri dengan ulahnya yang sangat hina.


"Ayah....! Panggil Khairul sedikit mengagetkan Bram, beberapa waktu lalu memang Luna bilang mereka akan pulang ke kampung halamannya tepatnya di Sumatera dan kini telah kembali dua hari yang lalu.


"Khairul Sayang minggu kemarin ke rumah kakek ya? ayah, kan jadi kangen lama baru ketemu,"tanya Bram Seraya mensejajarkan tubuhnya dengan anaknya yang kini semakin tinggi tumbuhnya, dan wajahnya makin mendominasi wajah Bram tampan.


"Iya Ayah, sekarang Om Mala udah jadi Papa Khairul, jadi Khairul punya dua ayah, Ayah Bram dan papa Mala.


Degh!!!


Bram benar-benar terkejut saat mendengar ucapan polos dari bibir mungil Khairul putranya.


"Ya Allah, kenapa rasanya sakit,bukankah Bram yang telah lebih dulu menyakiti hatinya, hingga ia memilih pergi dan kini dengan yang lain? begitu sulit bagi Bram menelan Salivanya, mendengar berita itu.


Ini adalah berita bahagia, bahkan Khairul berceloteh, terlihat dari binar matanya ia begitu bahagia memiliki Ayah sambung. Tapi mengapa di dalam hati sesak, Bram meraup udara sebanyak-banyaknya, berharap itu bisa sedikit melegakan suasana hatinya yang terasa sesak dan sakit.


Beberapa kali luna menolak untuk rujuk kembali dengan Bram. Bram paham itu, Bram menunggu Luna bisa menerima Bram kembali. Bram masih berharap masih ada celah di hatinya untuk dia bisa kembali mengisi ruang hatinya, tak pernah ambil hati saat mendengar penolakan itu.


Tapi hari ini, Bram seakan dibuat terkejut akan kenyataan yang ia lihat. Hatinya merasa sudah benar-benar kehilangan semuanya, hari ini Bram rasa Bram orang paling bodoh di dunia ini, sempat menyia-nyiakan wanita seperti Luna.

__ADS_1


Tak ada lagi harapan untuknya menunggu, tak ada lagi harapan untuk bersama dengan Luna kembali. Tak ada lagi harapan untuk menjalani hari tua bersama Luna. Semuanya kini telah sirna. Bram hanya bisa diam terbelenggu, terbelenggu atas dosa dan keikhlasannya, Bram terbelenggu oleh penyesalan.


Hingga suara luna menyadarkan Bram dari mimpi buruknya. Tapi saat Bram sadar itu bukan mimpi, tapi itu adalah sebuah kenyataan pahit, yang harus Bram telan sendiri.


Tanpa sadar mata memanas, tak ingin ada bulir bening yang tumpah, segera mengusap wajahnya dengan kasar. Sekuat tenaga Bram berusaha mengulurkan tangannya. Bibirnya terasa keluh dengan bergetar, Bram mengucapkan selamat pada Luna wanita yang ada di hati Bram dulu. Wanita yang kini tampak begitu cantik, seakan aura kecantikannya terpancar keluar, terlihat berbeda dari biasanya saat Bram rutin berkunjung seminggu sekali.


Luna tersenyum manis. Tapi apalah daya Bram, wanita yang pernah menjadi ratu di hatinya kini telah menjadi ratu di hati laki-laki lain. Sakit? itu pasti. Apa ini memang balasan yang Allah berikan untuk Bram? Bram sudah melukai hati luna dengan begitu dalam. Bram yang sudah menyakiti hatinya yang lembut, hingga ia memilih pergi dan kini telah menemukan sosok pengganti Bram. laki-laki yang berdiri di sampingnya, bahkan dengan mesra lengannya melingkar di pinggang luna.


Sekali lagi Bram menyesal. Ya Allah penyesalan di akhir memang tak ada gunanya tapi itulah yang berani merasakan sekarang.


Bram melihat ke arah Mbak rima yang berdiri di belakangnya, yang mematung, Mungkin dia juga tak kalah terkejut mendengar pernikahan Luna. apalagi selama ini ia juga kerap sekali meminta untuk terus berusaha agar bisa rujuk dengan luna. Tapi sekali lagi, Bram tahu betul Bagaimana Luna, ia paling tidak suka dipaksa. Bram hanya bisa sesekali mengungkapkan keinginannya untuk bisa kembali rujuk.


Walaupun terbisit rasa malu saat mengungkapkannya. Namun, demi Khairul Bram pikir dia akan bahagia saat memiliki orang tua lengkap seperti dulu, Bram ke samping kan rasa malu itu. Meski sebenarnya dalam hati Bram seperti laki-laki yang tak tahu malu, saat sudah menyakiti dengan begitu parah, kini Berharap Kembali. Dan itu pasti tidak akan mungkin lagi.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2