
Pagi ini Bram datang ke rumah Luna, kedatangan Vanessa yang menyusul Bram di rumah itu kemarin, membuat suasana semakin panas, Entah harus bagaimana lagi cara bra membujuk lunak untuk mengurungkan niatnya untuk tidak bercerai, memang tindakan Bram berselingkuh dengan Vanessa sudah menyakiti hatinya. Tapi apa dia tidak memikirkan perasaan Khairul, dia masih terlalu kecil, untuk memahami kondisi seperti ini.
Aaaarrrgh
Teriak Bram yang masih berada di dalam kamar, menghadap cermin yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri. Bram mencintai mereka berdua, Tak bisakah mereka berdamai, dan keduanya menjadi milik Bram?
Vanessa sangat mempesona, Bahkan dia sangat lihai di atas ranjang. Luna ibu dari anak Bram, dia istri yang lembut, dan penurut, meskipun sikapnya menjadi berubah 180 derajat sejak Bram ketahuan selingkuh.
"Ada apa, mas?"Kenapa kamu teriak-teriak begitu?"tanya Vanessa yang tiba-tiba sudah ada di ambang pintu, karena mendengar teriakan Bram.
"Ng...ngak apa-apa Vanessa! Maaf, sayang, aku harus ke rumah Luna sekarang juga. Aku kangen sama Khairul,"ucap Bram datar kemudian menyambar kunci mobil yang ada di atas meja, dan bergegas keluar rumah.
'"Ta...Tapi Mas! kamu nggak sarapan dulu, aku lagi masak loh !"ucap Vanessa kepada Bram yang sudah hendak pergi ke rumah Luna.
Bram tak menggubris perkataan Vanessa, yang tengah mengejar langkah brang, Bram berjalan menuju mobil miliknya yang terparkir di halaman rumah. Segera menyalakan mesin mobil dan melesat menuju rumah Luna.
Terdengar suara Vanessa yang masih Memanggil nama Bram, saat mulai menjauh.
"Maafkan aku, sayang! Bram ingin bertemu dengan Luna dan membujuknya agar mengurungkan niatnya untuk tidak bercerai.
Bram mengenal Luna yang berhati lembut, Bram yakin jika bra merayunya dan memanjakannya, dia pasti akan luluh kembali pada Bram, bukankah dia cinta mati pada Bram sejak dulu.
Bram melajukan mobil miliknya membelah jalanan ibukota yang lumayan macet, hari ini terlihat ramai karena sudah masuk hari kerja setelah weekend kemarin.
Meskipun sedikit macet akhirnya Bram sampai di rumah. Bram segera turun dari mobil miliknya dan melangkah ke depan pintu.
Pintunya masih tertutup, saat bra mencoba memutar daun pintu, ternyata masih terkunci dari dalam. Ah, kunci serat miligram tertinggal di kamar Vanessa. bra mengetuknya disertai salam, terdengar suara sahutan salam dari dalam. Bram menunggu Luna membukakan pintu.
Tak berapa lama, pintu terbuka, betapa kagetnya dirinya melihat seorang lelaki paruh baya yang membukakan pintu.
__ADS_1
"A.....ayah!" Bram terperangan menatap sorot matanya yang begitu tajam, Bram tak menemukan senyum ramah dan tatapan teduhnya.
"Ayah kapan datang?"tanya Bram basa-basi, bermaksud mencairkan suasana. Seraya mendekatinya hendak mencium punggung tangan pria paruh baya itu.
"PLAK!"
Namun bukannya mendapat uluran tangan, justru sebuah tamparan keras mendarat di salah satu pipih drum yang ia terima.
Malu serta bagaikan tak punya harga diri sebagai seorang lelaki. Itu yang dirasakan Bram saat ini. luna pasti sudah menceritakan semuanya pada ayahnya. Hingga ia benar-benar murka terhadap Bram.
blBeliau benar-benar marah hingga menarik kerah kemeja dan menariknya dengan kasar, hingga tubuh Bram terhempas di atas sofa.
"BRUGH!"
Bram terduduk lemas, rasanya berantak ada upaya untuk menatap wajah mertuanya itu. wajahnya merah padam serta sorot matanya seakan ingin menerkam Bram.
Hanya kata maaf yang mampu Bram ucapkan.
Mendengar kata maaf Bram yang terucap, justru membuat Pak Karyo Ayah mertuanya semakin marah. Bram hanya pasrah duduk tertunduk di hadapannya, hingga beliau mengatakan sebuah surat perjanjian yang pernah Bram tandatangani sebelum menikahi Luna.
Sontak membuat Bram mengangkat kepalanya, dan membuat mata Bram terbuka lebar.
DEGHHH!
"Su... surat perjanjian? tanya Bram.
Astagfirullah, surat perjanjian itu, Bram memang pernah menandatangani surat perjanjian pranikah itu. Bram menepuk jidatnya, dan berkali-kali mengusap kasar wajahnya, betapa bodohnya Bram. Itu artinya Bram akan kehilangan semuanya. Ada rasa nyeri yang menyayat hati yang Bram rasakan.
Surat perjanjian yang diajukan oleh Pak Karyo sebelum Bram menikahi putrinya. Memang awalnya beliau tak menyetujui pernikahan Bram dengan Luna. Akan tetapi niat Bram menikahi Luna begitu tulus. Begitu juga dengan Luna, yang harus mengiba pada ayahnya Agar memberi Restu dan bersedia menjadi wali nikah saat itu.
__ADS_1
Hingga akhirnya beliau mengajak Bram bicara, dan akan merestui pernikahan mereka jika Bram bersedia menandatangani surat perjanjian yang beliau ajukan. Tanpa pikir panjang Bram langsung menandatangani surat itu. Saat itu juga Bram memang tak punya apa-apa.
Pak Karyo tersenyum sinis ke arah Bram.
"Iya! jangan-jangan kamu lupa, dengan surat perjanjian yang kamu tanda tangani sebelum menikahi Luna?"
Sepertinya beliau membaca ekspresi wajah Bram, yang memang benar drum melupakan surat perjanjian yang Bram tanda tangannya sendiri secara sadar di atas materai sekitar sepuluh tahun yang lalu.
Beliau menegaskan jika niat luna sudah bulat, akan mengambil langkah bercerai, bahkan beliau sendiri akan menemaninya mengurus semuanya.
Bram menggeleng tak percaya, Bram akan kehilangan rumah, kehilangan pekerjaan dan kepemimpinannya yang selama ini mengelola perusahaan milik Paman Luna yang telah jatuh ke tangan luna. Bahkan mobil yang setiap hari Bram pakai itu juga terancam Akan berpindah tangan menjadi milik Luna. Jarena di surat itu tertulis dengan jelas, harta akan menjadi hak milik pihak yang tersakiti.
"Aduh! Bodoh! Bodoh! Bram menyugar rambutnya, meretuki kebodohannya bertindak tanpa berpikir panjang. Jika dilihat, Apa kurangnya Luna? dia baik, sabar, penurut, menemani Bram dari titik nol hingga seperti sekarang ini.
Tapi tak ada gunanya Bram menyesali semua yang sudah terjadi, sekarang Vanessa juga sudah menjadi istrinya. Meskipun masih sebagai istri siri. Mungkin nanti Bram bisa membangun hidup baru dengannya.
Bram menatap lurus ke depan, berusaha tenang. Memang semua ini salah Bram. Ia meratapi nasibnya. Berniat bahagia dengan dua istri, justru gram akan kehilangan semua harta bendanya
Tanpa sengaja kedua netranya menangkup luna, yang ternyata berdiri mematung di balik dinding pintu antara ruang tengah dan ruang tamu.
"Luna tunggu! Mas perlu bicara sama kamu Lun!"ucap Bram padanya. Namun, bukannya berhenti melangkah, dia justru melenggang masuk. Dengan langkah cepat Bram mengejarnya dan berhasil menghentikan langkahnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1