Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 48. KEMBALI KE JAKARTA _ PDHP


__ADS_3

Hidup itu memang tak lepas dari yang namanya ujian, nak! Ayah yakin kamu bisa melewati semua ini, karena Allah tidak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuan hambanya."Pak karyo berucap seakan-akan ia mengetahui isi hati Luna.


"Iya Ayah, terima kasih atas semua dukungan Ayah untuk Luna." sahut luna lalu Pak Karyo mengangguk tersenyum.


"Pak Karyo! lagi santai sore, Pak? tanya seseorang, tiba-tiba melintas di samping rumah.


"Oh iya Malakiano, lagi santai aja nih mari mampir ngopi-ngopi dulu,"ajak Pak Karyo pada lelaki itu. Pandangan netranya beralih ke arah Luna. Perawakan tinggi, hidung mancung kulit putih serta memakai topi.


"Luna! Kalau tidak salah Kamu Luna bukan? apa kabar?'


Luna terdiam, seperti mengenal dia, tapi lupa lupa ingat siapa ya.


"Aku Malakiano! masih ingat nggak teman waktu kita SD, kita dulu satu sekolah. Ia seperti bisa menebak ekspresi wajah Luna yang sedikit bingung. Mungkin karena sudah terlalu lama mereka tidak bertemu, membuat Luna sepertinya tidak mengenali lelaki itu.


Sejenak luna mengingat kembali masa kecilnya.


"Ah, Malakiano yang dulu Hitam, dekil,kecil dan suka terlambat masuk kelas itu!"tebak luna setelah mengingat masa SD nya dulu.


" Iya Luna ingat, Malakiano biasa dipanggil Mala.


"Nah iya betul, aku jadi malu nih masa kecilku yang bulukan dan dekil." sahutnya sambil terkekeh.


"Iya aku ingat sekarang, Alhamdulillah aku baik. Kamu apa kabar? Luna balik bertanya


"Alhamdulillah aku juga baik."jawabnya sambil menarik bangku plastik yang ada di sudut.


"Ngopi dulu ya Mala."tawar Pak Karyo


"Tadi sudah ngopi Pak, ini kebetulan lewat sini mau ke rumah tante Almira


"Luna Kamu ke mana aja, kok aku baru lihat kamu di sini?" tanyanya.


"Aku baru beberapa hari pulang ke sini Mala, memang aku jarang pulang. Terakhir aku pulang tiga tahun yang lalu." jelas Luna singkat.


"Kamu sendiri, kok kayaknya aku udah lama sekali baru ketemu lagi? sampai aku lupa kalau kita satu sekolah dulu."tambah luna.

__ADS_1


"Setelah lulus SD, aku ikut pakde di Jogja Lun! dan jarang pulang. Memang pulang juga, tapi paling beberapa hari, terus ikut ke sana lagi. Ini aku baru beberapa hari juga di sini." Luna mengangguk.


"Suami kamu mana, kok nggak ikut ngobrol santai sore di sini? Luna terdiam mendengar pertanyaan Mala.


Rasanya tak pantas Luna mengatakan jika Luna baru saja bercerai dari Bram, apapun itu alasannya menjadi janda adalah status yang kurang enak didengar.


"Hm, Mala masih lama di sini? Pak Karyo mencoba mengalihkan pembicaraan. Beliau seperti tahu isi hati Luna.


"Seperti biasa pak, Mungkin seminggu paling lama Pak. Kerjaan di sana juga nggak bisa ditinggal lama-lama soalnya. Pak Karyo dan Luna mengangguk.


"Saya ke rumah tante dulu Iya Pak, takutnya dia nungguin saya." pamit Mala.


Kebetulan tantenya Mala rumahnya tepat di belakang rumah Pak Karyo, selang dua rumah saja.


Mala pun pergi usai pamit. Sepintas ia menatap Luna, hingga netra mereka bertemu tapi Luna buru-buru mengalihkan pandangan.


"Si Mala itu seorang duda. Istrinya meninggal, yang Ayah dengar istrinya meninggal karena sakit. Mereka belum dikaruniai seorang anak. Pak Karyo menjelaskan status Mala padahal luna sendiri tak bertanya.


"Sekitar setahun yang lalu, istrinya Mala meninggal."tambah Pak Karyo lagi. Luna hanya dia mendengarkan, tak tau harus menjawab apa.


Luna melihat Pak Karyo kembali menyesap kopinya, kopi yang tak lagi hangat, tapi beliau masih tampak menikmatinya.


Setalah bangun tidur siang tadi, Khairul main ke rumah saudara Tante Nuri adik bungsu ayahnya. Yang mempunyai tiga orang anak yang paling kecil seumuran dengan Khairul. yang sering mengajak Khairul main bersama.


Luna melenggang menuju rumah Tante Nuri, tak terlalu jauh hanya selisih beberapa rumah dari rumah Pak Karyo.


Dari kejauhan terlihat Khairul sedang asyik main kelereng bersama temannya. Luna mengajaknya pulang setelah masuk sebentar, ke rumah tante Nuri dan mengobrol sebentar


*****


Sekitar satu minggu sudah Luna berada di kampung. Kemungkinan besok sudah waktunya Luna kembali ke Jakarta. Waktu libur Khairul juga sudah habis dan harus kembali lagi ke rutinitas semula.


Luna buka aplikasi pembelian tiket pesawat secara online di ponselnya. Kemudian memesan dua tiket untuk keberangkatannya besok.


Luna bereskan semua pakaian Khairul ke dalam tas. Baju Khairul banyak, karena dia tak punya banyak baju di sini. Sedangkan baju Luna tak banyak, sengaja Luna meninggalkan beberapa baju di lemari kamarnya. Agar saat Luna pulang tak perlu banyak membawa baju.

__ADS_1


"Kamu nggak apa-apa Lun berangkat berdua saja dengan Khairul ? Ayah antar ya." tanya Pak Karyo. Terlihat gurat kekhawatiran di raut wajahnya. Luna tersenyum menatap Pak Karyo.


"Ayah, Luna kan sudah biasa pulang pergi ke sana. Hanya bedanya biasanya ada Bram, sekarang hanya berdua dengan Khairul. Ayah tak perlu khawatir, Luna akan baik-baik saja." Luna mencoba menenangkan hati ayahnya, meyakinkan ayahnya agar beliau tidak terlalu khawatir. Pak Karyo menganggukkan kepala pertanda ia paham maksud lunak


Pesawat berangkat pukul 08.00 pagi, satu jam sebelumnya keberangkatan luna sudah sampai di bandara diantar oleh Pak Imron suaminya tante Nuri, karena beliau yang memiliki mobil. Pak Karyo dan Maya turut serta ikut menghantarkannya ke bandara.


Terlihat cukup lama Pak Karyo memeluk Khairul. Mungkin beliau masih kangen dengan cucun laki-lakinya, sekaligus cucu satu-satunya. Tanpa terasa bulir bening luruh begitu saja menyaksikan mereka berpelukan.


"Kapanpun ayah bisa datang ke sana, atau kalau nanti Khairul libur panjang, Pasti Kami akan pulang Ayah. Ayah jaga kesehatan ya, biar kita bisa kembali berkumpul lagi." ucap Luna menumpuk punggung ayahnya yang terlihat gemetar dan memeluk Khairul.


"Kakek jangan sedih, nanti Khairul pasti pulang lagi ke sini. Kakek, Khairul sayang kakek." ucapnya polos melihat kesedihan di wajah kakeknya. Mata bulatnya pun mulai memerah dan perlahan air matanya ikut meleleh.


Luna dan Khairul sudah masuk ke ruang tunggu, beberapa menit lagi mereka akan segera menaiki pesawat


"Luna.... Khairul....! suara bariton seorang lelaki cukup mengagetkan. Membuat Luna dan Khairul serentak menoleh ke arahnya.


Luna terhenyak saat melihat orang itu.


terlihat ya sedang memegang ponsel dan mencocokkan nomor bangkunya.


"Ah, ternyata bangkuku ada di belakang Luna." ucapnya terlihat sedikit kecewa


"Oh oke, Kamu mau ke kota mana?


"Aku mau ke Jakarta, aku tak menyangka kita akan satu pesawat Lun. Kenapa kemarin nggak bilang kalau kamu berangkat hari ini juga? Jadi kan Bisa bareng pas pesan tiketnya." keluh Mala. Luna hanya tersenyum tak terlalu menanggapinya.


"Aku ke belakang sana ya! tambahnya lagi


"Iya silakan."


Luna merasa Mala menatapnya dengan Tatapan yang aneh. Kemudian tersenyum sebelum berlalu ke belakang.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2