
Sudah beberapa hari Luna melakukan salat istikharah, dan hatinya seakan yakin dengan keputusan yang akan diambilnya. Ia memilih minta petunjuk kepada sang pemilik kehidupan, keputusan yang akan ia lakukan untuk masa depannya dan masa depan putranya.
Beberapa hari berturut-turut ia bermimpi tengah melaksanakan salat dan seorang laki-laki berdiri di hadapannya sebagai imam, saat laki-laki itu menoleh ia bisa melihat wajahnya, malah kiano.
Mungkin ini jawaban dari Allah atas doa-doa Luna. Luna mulai memantapkan hati untuk menerima Kia, tapi tak mungkin juga jika tiba-tiba ia menelpon lelaki itu dan mengutarakan menerimanya.
Luna akhirnya memilih menunggu saat Malakiano kembali mengungkapkan isi hatinya, kemudian saat itu ia akan mengatakan keputusannya
Hari ini seperti biasa ia akan sibuk di kantor dan Khairul belajar di sekolah.
Ting....
sudah seperti candu bagi Kia di saat jam makan siang, ia akan mengirimkan sebuah pesan untuk luna. Walau hanya sekedar mengingatkan makan siang, atau bertanya sedang ingin makan apa, karena khawatir Luna bosan dengan menu makanan yang ia kirim setiap hari. Walau menu makanan itu berbeda setiap hari.
Luna melirik ponsel miliknya. Wanita itu juga seakan hafal jam segini yang mengirim pesan itu untuknya pasti Kia.
Luna tersenyum saat membuka pesan itu dan membacanya
"Lun jangan makan siang, aku ingin mengajakmu dan Khairul makan siang di cafe dekat kantor kira-kira, bisa?"
"Bisa. tapi usai aku jemput Khairul nanti aku langsung menuju Cafe."balas Luna.
"Khairul, Hari ini kita makan siang di luar iya, Nak."
"Horeeee...." sahutnya riang.
__ADS_1
Luna melajukan motornya ke sebuah kafe tak jauh dari kantor miliknya. Di sana ada seorang laki-laki telah menunggunya.
"Om ... Mala"Khairul berlari menghambur ke arah Mala, Khairul sedikit kaget karena tadi mamanya hanya bilang akan makan siang di luar, tak mengatakan makan siang bareng Mala.
"Khairul gimana sekolahnya hari ini? menyenangkan? tanyanya pada bocah laki-laki yang kini membuat dirinya merasa senang jika berada di dekatnya. Entah mengapa dalam hati Mala timbul rasa ingin menjaga dan melindunginya.
"Menyenangkan dong, Om." sahutnya."
"Alhamdulillah, kalau gitu yuk, sekarang kita makan dulu. Khairul juga pasti udah lapar kan?
"He....he....he iya, Om."
"Mbak! malam melambaikan tangan pada seorang waitress yang kebetulan lewat tak jauh dari tempatnya duduk.
Wanita itu kemudian menyerahkan buku menu Mereka pun memesan makanan.
Mereka bertatapan tak lebih dari tiga detik begitulah luna, ia takkan memandang laki-laki yang belum menjadi muhrimnya berlama-lama, Luna dengan segera mengalihkan pandangannya. Malakiano pun segera menunduk kepalanya.
"Lun, untuk yang kesekian kalinya, aku mengatakan kali ini, maukah kamu menggelar sajadah di belakangku bersamaku, menghabiskan sisa hidup bersama ku?"
Luna hanya tersenyum mendengarnya. Entah sudah beberapa kali ia mendengar Malakiano mengatakan itu.
"Lun, aku bukanlah tipe laki-laki romantis. Entah aku harus mengatakan bagaimana lagi agar kau percaya akan rasa Ini." Luna melirik ke arah Khairul yang tengah sibuk memainkan ponsel Milik mamanya. Sepertinya putranya itu tak mendengar perkataan Mala. Karena fokus pada YouTube yang dia lihat.
"Kia, aku hanya seorang janda, umurku juga sudah tidak muda lagi. Seandainya kau cari yang jauh lebih muda, dan lebih cantik dariku tentu itu bisa dengan mudah kau dapatkan. untuk apa kau membuang waktumu hanya untuk menungguku?"
__ADS_1
"Lun, Jika hatiku sudah memilihmu maka aku tak bisa melabuhkan rasa ini ke hati yang lain. Aku bukan tipe laki-laki yang mudah jatuh cinta pada seorang wanita." ucap Malakiano
Hati ini telah menjatuhkan pilihan padamu dan aku ingin menua bersamamu.Tambahnya lagi. Mendengar perkataan Malakiano hati Luna menghangat. Denyut jantungnya juga berdetak tak karuan ia tak bisa membayangkan Seperti apa sekarang rona wajahnya.
Luna menatap kedua manik hitam laki-laki yang duduk di depannya, kemudian menganggukkan kepalanya pelan.
"Apa itu artinya kau telah siap dan mau menerimaku?" tanyanya.
kembali luna mengangguk pelan.
Seketika membuat wajah laki-laki itu berbinar, ia menangkup kan kedua tangan di wajahnya. Alhamdulillah.
Terima kasih Luna, insya Allah aku akan menjaga.
"Terima kasih Luna, insya Allah aku akan menjaga dan menyayangi kamu dan Khairul semampu aku bisa." hatinya begitu bahagia karena pada akhirnya cinta yang dipendamnya kini telah bersambut.
"Khairul sayang, sini sayang peluk Om."
"Hah ..."Khairul yang sedari tadi fokus pada ponsel Itu, tampak bingung.
Mereka merasakan kebahagiaan yang begitu nyata, usai sudah belenggu kelamnya masa lalu yang menyakitkan. Kini Luna telah siap menyambut hari esok dengan seorang yang baru yang memberinya harapan akan kebahagiaan bukan hanya di dunia.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN