Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 96. JOB TAMBAHAN _PDHP


__ADS_3

Ditemani angin malam Bram melajukan kuda besinya menuju ke rumah kecil yang Bram tinggali bersama Mbak Rima, deretan lampu Jalan menerangi jalanan yang mulai sepi. Lalu lalang kendaraan masih terlihat ramai karena masih pukul setengah delapan malam.


Hingga akhirnya Bram sampai di rumah. Tapi suasana rumah tampak sepi. Dimana Mbak Rima? Apa dia belum pulang? kenapa sepi sekali? lampu teras pun mati."


Bram melangkah dan membuka pintu.


ceklek!!


Sekali hentakan pintu terbuka. Ternyata tidak dikunci, tapi kenapa sepi sekali.


"Assalamualaikum Mbak Rima, Mbak!" panggil Bram Seraya memencet saklar dan menghidupkan lampu depan rumah.


Sepi, tak ada sahutan dari Mbak Rima. Apa Mbak Rima belum pulang? tapi kenapa pintu tidak dikunci?


Bram berjalan masuk ke dalam


Mbak tanggal berapa lagi.


Hingga tiba di ruang tengah pintu kamar Mbak Rima sedikit terbuka, Terlihat Mbak Rima tengah berbaring. "Oh sudah tidur rupanya, tumben masih jam segini sudah tidur."


Bram pun masuk untuk melihat Mbak Rima


"Mbak...., panggil Bram. Mbak Rima perlahan membuka mata.


"Hem, Bram kamu sudah pulang? Kenapa lama sekali? tanyanya lirih. Tunggu, Kenapa wajah Mbak Rima terlihat pucat sekali.


"Mbak kenapa kok pucat banget? Mbak sakit ya? tanya Bram Seraya menempelkan telapak tangannya ke dahi Mbak Rima yang terasa panas. Mbak Rima hanya mengangguk pelan.


Kenapa Mbak nggak telepon Bram, kalau mbak sakit? kan,biar bisa Bram pulang cepat.


"Mbak takut ganggu kerja kamu Bram." sahutnya.


"Maaf ya Mbak, Bram pulang telat karena tadi mampir dulu ke rumah teman. Mbak Sudah makan? Mbak Rima hanya menggeleng


Sebentar Bram ambilkan makanan ya, habis ini kita ke dokter, oke! Bram melangkah ke dapur untuk mengambil makanan. Ada sup sayur di meja, dan tempe goreng, Alhamdulillah Mbak Rima tadi sempat beli makanan. Bergegas Bram ambilkan nasi dan sayur, lalu membawanya ke kamar Mbak Rima

__ADS_1


"Makan dulu Mbak, badan Mbak panas sekali. setelah makan kita ke dokter ya." ucap Bram sambil membantu Mbak Rima duduk bersandar di ranjang, dan dengan telaten menyuapi Kakak perempuannya yang kini menjadi orang satu-satunya yang tinggal dengannya.


Baru beberapa suap makanan masuk, Mbak Rima malah muntah. Jadilah makanan yang baru saja masuk keluar lagi. Mbak Rima terlihat makin pucat dan tubuhnya lemas.


Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, tak pernah lepas dari ketentuannya. Manusia diciptakan dengan karakter dan watak berbeda. Begitu juga dengan nasib yang berbeda, jika saat ini nasib Bram dan Mbak Rima seperti ini, mungkin ini adalah akibat dari perbuatan buruk mereka di masa lalu.


Setiap orang pasti akan menuai apa yang ditanamnya. Hanya dengan doa yang tulus, Bram persembahkan. Agar Allah berkenan mengampuni semua dosa dan kekhilafannya di masa lalu itu. Karena kini, Bram hanya ingin hidup tenang dan tentram dengan lembaran Baru. Bram hanya ingin hidup ke depan lebih baik dan lebih bermakna.


Hari terus berganti hingga kini satu bulan sudah Bram melewati waktu. Kondisi kesehatan Mbak Rima semakin menurun. Badannya pun kurus. Saat Bram ajak untuk berobat ke rumah sakit, ia selalu menolak dan berbagai alasan.


Mbak Rima mungkin berpikir seribu kali untuk berobat ke rumah sakit. Karena memikirkan biaya mereka berdua untuk hidup dan makan saja pas-pasan. Penghasilan bekerja menjadi pelayan di restoran penghasilannya tak seberapa.


Selama ini Mbak Rima hanya berobat di klinik kecil tak jauh dari rumah.


Alhamdulillah akhir-akhir Ini Bram juga mendapatkan job di luar jam kerjanya. Terkadang ia bekerja mendapatkan job untuk menghias dekorasi pernikahan untuk menggantikan posisi temannya yang tak bisa mengambil pekerjaan itu, karena berhalangan.


Bram mulai kembali turun tangan merangkai setiap model dekor wedding. Alhamdulillah hasilnya lumayan walaupun masih tak seberapa, jika dibandingkan dengan saat Bram memimpin perusahaan milik om firman yang saat ini sudah menjadi milik Luna.


Dari masa lalu, Bram banyak belajar. Belajar bersyukur dengan apa yang belum dapatkan. Mendapat penghasilan tambahan yang tak seberapa itu. Ini saja Bram merasa bersyukur karena semenjak sakit, Bram memang meminta Mbak Rima untuk berhenti bekerja. karena Bram tak tega.


Bram selalu berusaha menyemangatinya agar tidak banyak pikiran. Bram berjanji akan berusaha mencari uang lebih untuk biaya pengobatannya. Jika bukan Bram yang peduli, siapa lagi? hanya Bram yang ia miliki sekarang. Sama halnya dengan Bram, hanya dia kakaknya satu-satunya keluarga yang Bram punya. Dia dan Khairul.


Malam ini Alhamdulillah Bram ada job untuk mendekor. Alhamdulillah pekerjaan mendekor memang bisa Bram kerjakan sore, atau di malam hari untuk acara pernikahan yang akan dilangsungkan besok paginya. Jadi itu sama sekali tidak mengganggu pekerjaan utama Bram di restoran.


Pukul empat sore, setelah pulang bekerja Bram langsung menuju mendekor yang sudah dikirim oleh temannya semua. Keperluan lainnya sudah disiapkan oleh rekannya satu lagi. Pekerjaan mendekor seperti ini memang mereka bekerja tim.


Lokasi wedding yang lumayan jauh, membuat Bram pulang agak malam. Sore tadi, Bram memang sudah mengabari Mbak Rima. Jika Bram ada pekerjaan lain, semoga Mbak terima di rumah baik-baik saja.


Hampir jam sepuluh malam, Bram baru sampai di rumah. Rumah sudah tampak sepi, mungkin Mbak Rima sudah tidur.


"Assalamualaikum mbak!"seru Bram Seraya memasukkan anak kunci, Bram memang berpesan agar Mbak Rima tidur duluan jika Bram pulang malam, Bram tak ingin kondisinya semakin menurun, karena harus menunggu Bram pulang


"Waalaikumsalam." Bram menjawab salamnya sendiri karena sepertinya Mbak Rima sudah tidur.


Bram masuk ke ruang tengah dan mengecek kamarnya. Benar saja, ia Sudah terlelap Bram ambil selimut dan menutupinya setinggi dada. Bram pandangi wajahnya yang terlihat pucat. "Kamu harus kuat mbak, hanya kamu yang menemani hari-hariku di sini. Kita akan sama-sama berjuang, Aku janji akan membawamu berobat ke dokter, agar penyakitmu sembuh." bisik Bram dalam hati.

__ADS_1


Seperti apapun garangnya dia, jika sedang marah. Tetap saja, di saat ia sakit begini, Bram begitu menyayanginya. Dia sudah seperti sahabat, teman, pengganti Ibu, semuanya. Tanpa terasa matanya meremang terasa panas dan terjatuh begitu saja bulir bening dari sudut Mata Bram.


Jika orang bilang Seorang laki-laki tak pernah menangis, itu salah. Ada kalanya lelaki menangis hanya saja saat ia menangis tak ada seorangpun yang melihatnya seperti Bram sekarang ini.


Bram pegang kedua pipinya dan bangkit, kemudian melangkah hendak keluar kamar Mbak Rima.


"Bram, kamu sudah pulang?" tanya Mbak Rima yang tiba-tiba terjaga. Bram menoleh dan menatap kedua matanya yang sayu


Bram tersenyum dan kembali mendaratkan bobotnya di sampingnya.


"Iya Mbak, aku baru pulang. Maaf ya Mbak, Bram pulang malam karena memang baru selesai Mbak Rima mengangguk.


"Mbak obatnya sudah diminum?" tanya Bram perhatian.


"Sudah, kamu sendiri sudah makan?"


"Sudah Mbak, tadi makan di sana


"Gimana keadaan Mbak, apa kita ke rumah sakit saja besok? tawar Bram sesungguhnya Bram tak tega melihat kondisinya yang semakin menurun. Tubuhnya kurus kelopak matanya cekung dengan bibirnya memucat ditambah lagi batuk yang tak kunjung sembuh.


Tak perlulah Bram, lagi pula ke rumah sakit kan biayanya mahal. Kita nggak punya uang banyak. Mbak nggak mau disisa umur mbak hanya merepotkan dan menjadi beban kamu." ucapnya lirih.


"Tapi Mbak, kondisi Mbak Rima makin menurun. Bram nggak tega Mbak.


"Walaupun uang yang ku punya masih belum banyak, tapi setidaknya cukup untuk berobat Mbak Rima.


Namun, lagi-lagi Mbak Rima menolak untuk berobat ke rumah sakit.


"Ya sudah, sekarang sudah malam. Mbak Rima istirahat lagi ya. Maaf jadi kebangun karena Bram. Mbak Rima mengangguk kemudian kembali memejamkan kedua matanya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2