Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 62. INGIN CERAI _ PDHP


__ADS_3

Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi. Vanessa sudah bangun terlebih dahulu, sebelum dirinya membangunkan suaminya. Vanessa bangunkan Aldo dengan lembut. Kemudian menyiapkan semua kebutuhannya, mulai dari sarapan dan baju kerjanya.


Tak lupa Pagi ini Vanessa sudah mandi dengan mengoleskan body lotion pada tangan dan kakinya, ia juga mengoles bedak tipis dan memoles bibirnya dengan lipstik agar terlihat segar.


"Kamu mau ke mana tumben pagi-pagi sudah seger?"tanyanya heran ketika hendak beranjak ke kamar mandi, dan Vanessa sedang menyiapkan baju kerjanya. Karena biasanya Sejak pagi Vanessa sudah berkutat di dapur dan cucian hingga Vanessa baru sempat mandi sekitar jam delapan setelah suaminya pergi kerja.


Namun, Vanessa bangun pagi-pagi sekali untuk mencuci pakaian dan mencuci piring. itu sebabnya ia bisa cepat membersihkan diri. karena ia ingin memprioritaskan Aldo.


Vanessa tersenyum mendengar pertanyaan Aldo.


"Vanessa takkan Ke mana-mana. memang ada yang salah jika aku berusaha terlihat segar di hadapan suamiku?"sahut Vanessa.


"Tak salah, aku heran saja bisanya pagi begini kamu masih pakai baju tidur ataupun daster.


"Mandilah, aku siapkan sarapan untukmu Sayang!"ucap Vanessa dengan mengum senyum, yang ia buat si manis mungkin.


Aldo berjalan masuk ke kamar mandi dan Vanessa bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuknya. Hari ini Vanessa benar-benar bangun lebih pagi untuk masak sebelum Vanessa mandi tadi, Pekerjaan rumah ia siapkan sebelum suaminya berangkat kerja. Sekarang tinggal menata sarapan di meja makan.


Tak lupa Vanessa siapkan juga piring untuk kedua mertuanya, malam tadi terdengar Ayah mertuanya pulang. Setelah beberapa hari di luar kota.


"Vanessa, kamu sudah siapkan sarapan?"tanya ibu Alena yang berjalan menuju meja makan di mana Vanessa berada.


"Sudah, Bu! mari sarapan."Vanessa mencoba bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa kemarin. Ibu Alena pun terlihat demikian. Tak lupa Vanessa mengulum senyum untuk ibu mertuanya, meskipun Vanessa tahu dia tetap tak suka padanya. Terbukti senyum Vanessa sama sekali tidak ditanggapi oleh ibu Alena, Ia menatap Vanessa dengan datar.


Setelah semuanya selesai Vanessa kembali ke kamar, untuk memanggil Aldo agar sarapan bersama.


Saat pintu terbuka, terlihat Aldo sedang asyik dengan ponselnya saat Vanessa memasuki kamar, masih dalam keadaan bertelanjang dada. Memperlihatkan dada bidang dan perut sixpack yang handuk masih melilit di pinggangnya, rambutnya masih basah, menambah nilai plus pada wajahnya begitu tampan dan mempesona. Membuat getaran jiwa Vanessa semakin menggetar.


"Mas! sarapan sudah siap, Ayo sarapan!"


"Hmmm! kamu duluan, nanti aku nyusul."ucapnya masih fokus Menatap layar ponselnya, tanpa menolak sedikitpun ke arah Vanessa.

__ADS_1


"Okey, Aku tunggu di meja makan, ya."ucap Vanessa. Kemudian melangkah keluar kamar. di dalam hatinya masih bertanya-tanya, dengan siapa Aldo berkirim pesan hingga dirinya tidak pedulikan Vanessa yang mengajaknya untuk sarapan pagi pagi itu.


Baru saja Vanessa menutup pintu kamar, terdengar suara Aldo menghubungi seseorang. Vanessa kembali sedikit membuka pintu kamarnya agar Vanessa bisa mendengar suaranya.


"Halo, may! Kamu apa kabar sayang? Kamu sekarang di mana? Aku susul kamu, ya!"


Suara Aldo terdengar berat, seakan menahan rasa sesak di dada. Tunggu, dia menyebut May. Apa itu Maya mantan kekasihnya yang dikatakan Ibu Alena kemarin?


"May aku mohon, katakan kamu di mana, aku ke sana sekarang."


Jika benar yang dikatakan Ibu Alena kemarin, Vanessa hanya mendengar percakapan mereka membuat kepalanya semakin pusing, Vanessa bersandar di dinding, dan perlahan luruh terduduk di lantai, rasanya begitu perih.


Jika benar yang dikatakan Ibu Alena kemarin, Vanessa hanya pelampiasan Bagaimana jika Aldo akan meninggalkan Vanessa, karena Maya sudah berhasil ia hubungi.


"Aku tak sanggup berpisah darimu, sayang. betapa aku sangat tersiksa hidup tanpa kamu, Maya! "kembali ucap Aldo dengan suara parau, pada seseorang di seberang sana yang Vanessa duga seorang wanita yang membuat Aldo berubah.


Terdengar begitu pilu, seorang laki-laki gagah dan tampan seperti Aldo bisa begitu terpuruk karena wanita yang sangat ia cintai meninggalkannya.


Vanessa memberanikan diri membuka pintu kamar lebih lebar sedikit lagi. Terlihat Aldo masih duduk di bibir ranjang membelakangi pintu kamar, dengan ponsel masih digenggamnya dan ditempelkannya ke daun telinganya, terlihat punggungnya bergetar.


Hingga sambungan telepon Mereka pun berakhir. Aldo tertunduk dalam.


Di saat Vanessa ingin berusaha menarik kembali simpatinya, sepertinya menjadi sangat sulit setelah mendengar perkataan Aldo pada Maya.


Vanessa begitu nyeri, kenyataan di depan mata kalau suaminya sama sekali tak menganggapnya ada, karena hatinya masih terpaut pada wanita lain. Hingga tanpa sadar kedua netranya berembun, seakan bulir menyeruak ingin keluar dari persembunyiannya.


Tiba-tiba Aldo membalikkan badan.


"Vanessa! Ka... kau mendengar semuanya?"ucapannya terbatas saat melihat Vanessa terpaku berdiri di ambang pintu. Vanessa hanya mengangguk.


"Duduklah! Aku ingin bicara."Ia menepuk tepi ranjang, isyarat agar Vanessa duduk di sampingnya. Entah mau bicara apa Aldo terhadapnya. Yang pasti Vanessa belum mengetahuinya.

__ADS_1


"Siapa Maya? apa dia mantan kekasihmu?"ucap Vanessa serius. Netranya menatap lekat kedua manik hitam milik suaminya itu.


"Sepertinya Sekarang sudah saatnya aku jujur padamu."


Aldo menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan kasar sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Maafkan, aku tak bisa meneruskan pernikahan ini."


Duarrrr!


langit terasa runtuh, bagai petir di siang bolong mendengar ucapan Aldo itu sukses membuat mata Vanessa membelalak.


Seketika hati Vanessa bergemuruh, membuat asupan oksigen seakan menipis, Bahkan tak ada angin tak ada hujan, dengan entengnya Aldo mengatakan itu.


"A....Apa? Apa karena mantan kekasihmu itu kini telah kembali, kemudian kau mencampakkan aku begitu saja? Kau anggap Apa Aku ini, aku? hah! ucap Vanessa dengan tatapan nyalang.


Sungguh Vanessa tak terima dengan perlakuannya, selama ini apapun yang dilakukan Aldo pada Vanessa, Vanessa terima, bahkan keluarganya menjadikan Vanessa seperti pembantu rumah tangga di rumah itu Vanessa masih bisa bertahan.


Aldo tak bergeming, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya untuk menjawab pertanyaan Vanessa. Bilur bening yang sejak tadi ia tahan, luruh begitu saja tembok pertahanan Vanessa sudah tak tertahan lagi. ia merasakan begitu sakitnya dikhianati oleh sang suami. Ia jadi teringat di posisi Luna kala itu.


"Maaf! Jika Aku menjadikanmu sebagai pelampiasan atas kepergian Maya, tapi sekarang aku lepaskan kamu, aku pun sama, Ingin menggapai bahagiaku dengan Maya. Aku akan menemuinya dan menikah dengannya."


Vanessa benar benar tak percaya, begitu entengnya Aldo mengatakan kalau Vanessa hanya pelampiasan saja. Vanessa akan menyandang status janda untuk kedua kalinya. Benar-benar di luar dugaan Vanessa, Ia mengira menikah dengan Aldo hidupnya akan sangat bahagia, karena bergelimangan harta. Ternyata Vanessa Salah besar. hidupnya semakin hancur dirundung kesedihan.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2