
"Ayah...." teriak Luna sedetik kemudian menghambur ke arahnya dan memeluk beliau yang sudah memasuki pagar rumah Luna. Terlihat Maya masih membayar taksi online itu.
Beliau melepaskan tas travel bag, yang ada di tangannya, dan menyambut hangat pelukan Luna.
Luna meraih tangannya dan mencium takzim tangan yang mulai keriput, dengan pembuluh yang timbul di sekitarnya.
"Kamu sehat nak? Ayah mengusap lembut punggung luna. Meregangkan tubuh dan menatap luna dengan sendu.
"Alhamdulillah sehat Ayah. Ayah Bagaimana sehat?" Luna balik bertanya.
"Mbak...."Maya Adik Luna yang kini sudah ada di samping ayahnya, memeluk Luna dengan erat.
"Ayah, Maya. Ayo masuk." ajak Luna pada dua orang tercintanya.
Mereka masuk ke dalam rumah, mereka duduk istirahat di sofa. Luna bergegas melenggang ke dapur membuatkan teh hangat untuk mereka agar lebih segar, mengingat perjalanan mereka cukup jauh dari kota Medan menuju kota metropolitan.
"Lun, jadi Bram Sudah jarang pulang ke rumah ini lagi? ucapan ayahnya mengagetkan Luna. ternyata beliau mengakori luna di belakang. Luna membalikkan tubuhnya, menatap wajah teduhnya yang mulai di garis-garis kerutan.
"Ayah, ayah mengagetkanku saja. istirahatlah dulu Ayah, nanti aja bahas soal Mas Bram." kilah Luna.
"Dia sudah keterlaluan Lun." ucapnya terlihat memendam amarah di laut wajahnya.
Luna mahela nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Meletakkan dua cangkir teh hangat di atas meja.
"Duduk Ayah, Ini tehnya. Sebentar Luna Panggil Maya." Luna melangkah ke ruang tamu memanggil Maya adik kandung Luna.
"Maya, Mbak sudah buatkan teh hangat, yuk duduk di ruang makan." titah Luna pada pada Maya yang sedang asyik dengan gaweinya.
"Iya mbak." sahut Maya tersenyum merenggangkan kedua tangannya kemudian bangkit.
****
"Kakek..." seru Khairul pagi ini saat keluar kamar mendapati ada Ayah Luna yang sedang menonton televisi.
"Khairul cucu kakek." mereka berpelukan.
Pak Karyo menggendong tubuh Khairul meskipun usianya sudah tak muda lagi, tapi Pak sumijan masih gagah karena kesehariannya bertani di ladang.
"Kakek kapan datang?"
"Tadi malam sayang, sama tante kamu. Tante Maya juga loh. ucap Pak Karyo
"Oh ya, mana?
__ADS_1
"Itu lagi bantuin Mama masak." Pak Karyo menunjukkan ke arah Luna dan Maya yang sedang memasak di dapur.
"Tante Maya ...." seru Khairul memanggil Maya yang sedang menggoreng ayam goreng beserta tempe
"Iya sayang, Maya meninggalkan sebentar aktivitasnya, merenggangkan tangannya menyambut keponakannya dengan pelukan.
"Sudah gede sekarang ya." ucap Maya mencolek hidung Khairul.
melihat Maya sedang asyik dengan Khairul, Luna bangkit dari tempat duduknya meninggalkan sebentar sayuran yang sedang ia kupas. Berniat melanjutkan kegiatan yang Maya tinggalkan.
"Assalamualaikum, Luna."
terdengar suara seorang laki-laki yang sangat luna kenal. Bram datang
"Ma, itu Ayah." ucap Khairul yang juga sangat mengenali suara ayahnya.
"Khairul di sini aja dulu ya sama Mama sama tante, kakek mau bicara sama ayah." ucap pak Karyo pada cucunya yang secara otomatis juga berlaku pada luna dan juga Maya agar tidak ke depan dulu.
Ayam goreng dan tempe sudah matang. Luna segera mengangkat dan mematikan kompor.
"Khairul di sini aja dulu ya sama Tante Maya ya. Maya, Mbak ke depan dulu ya. Tolong temani Khairul." ucap Luna pada Maya dan dibalas anggukan dari Maya.
Dengan langkah cepat. Luna menyusul ayahnya yang sudah lebih dulu di depan
"A.....Ayah! ucap Bram dengan ekspresi kaget saat melihat Pak Karyo membuka pintu depan. Langkah Luna terhenti di ambang pintu, antara ruang tamu dan ruang tengah.
Plak!!!!
Namun, bukannya Pak Karyo memberikan tangannya untuk dicium oleh menantunya. Justru dengan cepat tangan itu mengayun dan mendarat di pipi kiri Bram. Wajahnya pria ini memerah karena tamparan yang cukup keras.
Bram tertunduk. Mungkin ia menyadari apa sebab Pak Karyo menamparnya.
"Jangan kau panggil aku Ayah. Karena kau telah menyakiti putriku." Ucap pak Karyo dengan penuh penekanan
"Kurang ajar kamu Bram! Pak Karyo menarik kerah baju Bram dan menariknya dengan kasar hingga Ia terduduk di sofa.
Brugh!
Luna hanya terdiam menutup mulutnya rapat-rapat dengan jemarinya. Melihat begitu murkanya Pak Karyo pada laki-laki yang masih bergelar suami Luna itu.
Pak Karyo sangat lembut dan sangat menyayangi kedua putrinya. Tak heran jika beliau akan sangat marah pada orang yang sudah menyakiti kedua putrinya itu.
Bram masih terdiam duduk, menunduk. Beberapa kali tampak mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.
__ADS_1
"Maafkan saya ayah! saya khilaf sebuah kata yang terlontar dari mulut Bram, masih menunduk seakan tak ada nyali untuk menatap wajah Pak Karyo , yang dipenuhi rasa amarah.
"Maaf kamu bilang? enak sekali bilang maaf. "Kamu pikir dengan kata maaf bisa menyembuhkan luka di hati Luna? hah! teriak Pak Karyo. Sepertinya Pak Karyo sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
"Apa kurangnya Luna sama kamu Bram? dia begitu sabar menemani kamu dari titik nol, ini balasan kamu!" kembali Pak Karyo bersuara lantang semakin membuat Bram menciut.
"Apa kamu lupa dengan surat perjanjian yang sudah kamu tanda tangani dulu?"
ucapan Pak Karyo kali ini sontak membuat wajah Bram mendongak dan kedua alisnya bertaut
Su.....surat perjanjian? Bram terlihat kaget sedetik kemudian ia menyugarrambutnya.
Pak Karyo tersenyum melihat Bram menarik sudut bibirnya
"Iya, apa jangan-jangan kamu lupa dengan surat perjanjian yang kamu tanda tangani sebelum menikahi Luna?
"Hari ini juga ayah akan menemani Luna mengurus semuanya. Dan ayah pastikan setelah putusan sidang bercerai, kamu angkat kaki dari rumah ini. Tanpa bisa membawa apapun! lepaskan Luna." Ucap pak Karyo lantang.
Bram tampak menggelengkan kepalanya. Seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya
"Beri saya kesempatan kedua ayah, saya janji akan memperbaiki semuanya. Saya belum siap kehilangan Luna juga Khairul." ucap Bram mengiba.
"Apa?
"Kamu belum siap kehilangan Luna dan Khairul, atau belum siap kehilangan asetmu? hah!"
"Tapi ayah...."
"Sudahlah Bram, Kamu yang memulai semuanya. Jangan harap Ayah akan memaafkan kamu. Sudah cukup kamu menyakiti luna dan Khairul. tukas pak Karyo
"Tapi bagaimana dengan Khairul? kasihan dia Jika kami bercerai yah!"
Bram berusaha membelah diri. Kali ini Khairul sebagai alasan agar rumah tangganya tetap bertahan. Tapi sayangnya apapun itu tak akan membuat Luna goyah.
"Cukup sampai di sini. Sudah jelas Khairul hanya sebagai alasan. Karena buktinya Bram selalu tak ada waktu untuk Khairul. Yang ada di pikirannya hanya Vanessa, Vanessa dan Vanessa lagi.
"Tak ada lagi yang perlu dipertahankan dengan rumah tangga yang tak sehat ini.
justru kasihan Khairul diasuh oleh seorang ayah macam kamu Bram." ketus pak Karyo
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA TEMAN EMAK YANG LAIN