
Terngiang ucapan Mbak Rima, ada benarnya juga, melihat sikap agresif Dewi. Bisa saja dia ada niat menjebak Bram. Bram harus lebih hati-hati, jangan sampai terjadi seperti itu."Bram bergidik-gerik dalam hati.
"Kenapa kamu Bram?"tanya Mbak Rima tiba-tiba Mungkin dia tengah memperhatikan gerak-gerik Bram.
"Nggak apa-apa kok Mbak. He..he...he." Kilah Bram
"Awas kamu, jangan-jangan kesambet setan di rumahnya Dewi itu!"Mbak Rima menatap tajam ke arah Bram.
Sebelum Mbak Rima mulai ngomel segera Bram berjalan cepat masuk ke kamar mandi.
"Bram mandi dulu mbak, gerah!"seru Bram.
hari yang melelahkan. Setelah selesai mandi, Bram tunaikan salat tiga rakaat. Sekarang ini Bram memang sudah berubah, keadaan yang mengajarkan Bram untuk lebih giat lagi beribadah. Segala dosa masa lalu yang pernah ia perbuat kerap kali menghantui dirinya. Hanya dengan salat dan terus mendekat pada Allah agar merasa tenang.
Baru saja Bram mengucap salam. Terdengar suara Mbak Rima tengah berbincang dengan seseorang, sayup-sayup terdengar suara serak Mbak Rima.
"Untuk Apa Lagi kamu kemari Mas?"
"Rima, aku mohon Maafkan Aku. Aku benar-benar khilaf dan sekarang aku ingin kembali kita mulai hidup baru lagi."
"Setelah kau hancurkan semuanya kini kau datang dan meminta Kembali padaku! kamu benar-benar membuatku muak!"
Semakin lama suara Mbak Rima semakin meninggi. Siapa sebenarnya yang datang berkunjung hingga membuat Mbak Rima geram. Segera Bram selesaikan dzikir singkat setelah salat dan bangkit bergegas keluar kamar dan menghampiri mereka.
"Mas Dimas! sapa Bram kaget ternyata yang datang adalah Mas Dimas mantan suami Mbak Rima dulu.
Mbak rima dan Mas Dimas sontak menoleh ke arah Bram saat menyadari Bram sudah ada di dekat mereka Bahkan Bram masih memakai sarung dan kopiah.
"Mau apa lagi dia kemari! setelah apa yang telah dilakukan pada Kakak perempuannya, tentu Bram juga begitu muak melihat wajah pria yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
"Mau apalagi kamu ke sini Mas? belum puas kamu menyakiti Mbak Rima dan menghabiskan harta kekayaan milik ibuku?"Amara bra memuncak.
"Bram.....! Mas datang kemari ingin meminta maaf sama kakakmu juga sama kamu Bram maafkan mas,"jawabnya tertunduk lesu.
Bram tak akan terpengaruh oleh sikap sok polosnya. Selama ini kemana saja setelah dia meninggalkan begitu banyak hutang dan hingga rumah orang tua mereka telah diambil oleh pihak bank.
Bram menatapnya dengan tatapan nyalang. Ingat semua yang telah Ia perbuat. Seketika membuat emosinya naik hingga ke ubun-ubun. Dengan deru nafas memburu Dimas siap untuk melakukannya tanpa aba aba, Bram melangkah mendekatinya.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Tangan Bram meninju laki-laki yang telah menginjak-injak harga diri mereka.
Enak saja sekarang, setelah mereka sudah mulai hidup tenang walau dalam keterbatasan materi Dia meminta kembali. Kemana wanita murahan yang telah Ia bawa pergi bersama uang tabungan Mbak Rima? bahkan meninggalkan banyak hutang.
"Sakit? itu belum seberapa." geram Bram dengan nafas masih tersengal dan dada naik turun. Bram melihat Dimas terhuyung hingga hampir ambruk. Tapi tak sampai jatuh. Terlihat ujung bibirnya merah membiru, pecah ada sedikit darah yang keluar dari sudut bibirnya. Akibat Bogeman yang di berikan Bram kepada Dimas.
Mbak Rima terkejut melihat apa yang Bram lakukan. Dia menutup rapat mulutnya dengan telapak tangannya. Tapi dia tak menolong laki-laki yang baru saja Bram pukul
Bram menyingsingkan kedua lengan baju koko yang masih ia kenakan. Bram akan siap melawannya jika Mas Dimas membalas hantaman Bram.
"Bram sudah cukup! jangan sampai keributan ini menarik perhatian para tetangga! bisa malu kita Bram." ucap Mbak Rima sambil terisak.
"Untuk apa kamu kemari? hah! setelah melakukan ini pada kakakku kau pergi begitu saja bersama wanita murahan itu." ucap Bram lantang. Bram benar-benar kesal padanya.
"Ya sudah cukup malu, kalau dilihat orang. Mbak Rima masih terus mengingatkan Bram tapi emosi Bram seakan begitu sulit dibendung pada laki-laki yang dulu begitu Bram hormati sebagai kakak iparnya.
__ADS_1
"Bram, Rima, Mas datang ke sini ingin meminta maaf atas semua yang aku lakukan dulu." ucapnya dengan tatapan mengiba. ibu jarinya memegangi bibirnya yang pecah karena tonjokan Bram .
"Tidak, tidak ada maaf bagimu. Tidak ada lagi tempat untukmu di sini. Kami sudah cukup susah setelah Apa yang kau perbuat. Jadi jangan harap kami bisa memaafkanmu!
Bram benar-benar marah padanya. Andaikan saja ia tidak melakukan semua kecurangan itu pasti saat ini mereka masih bisa tinggal di rumah orang tua mereka tidak tinggal di rumah kontrakan kecil seperti sekarang ini.
"Rima...."Mas mohon maafkan mas. Kamu mau kan kembali sama Mas? Mas janji akan berusaha mengambil kembali rumah itu. Mas Dimas berlutut dan memeluk erat kedua kaki Mbak Rima.
Hal itu membuat Bram jengah. Jangan sampai Mbak Rima luluh dengannya dia sudah keterlaluan.
"Tidak Mas, maaf aku sudah hidup nyaman seperti ini. Walaupun aku harus kera kerja keras sebagai buruh cuci. Tapi setidaknya aku merasa tenang, jadi jangan harap kamu bisa kembali lagi dalam hidupku." Mbak Rima berucap dengan tatapan lurus ke depan. Bahkan ia tak goyah meski Mas Dimas bersimpuh di hadapannya.
"Sini kamu! kamu sudah dengar kan, Bagaimana jawaban Mbak Rima tak ada lagi tempat untukmu di sini pergi kamu!
Bram menarik kasar kaosnya dan mendorongnya.
"Kamu lupa mas, kita sudah bukan siapa-siapa lagi. Aku sudah mengurus semua perceraian kita setelah kau meninggalkan aku. Bahkan aku datang ke rumah orang tuamu. Mereka pun begitu acuh terhadapku. Sejak saat itu hatiku telah mati. Aku urus sendiri jadi jangan harap kita bisa bersama lagi. silakan kamu pergi datangi saja gundikmu itu." ucap Mbak Rima dengan tatapan nanar kata-katanya namun penuh penekanan.
Bram, Mbak Rima pun merasakan luka yang begitu dalam pada lelaki yang dulu begitu dia cintai.
"Baik, kalau kamu tak mau kembali padaku Rim, tapi aku mohon Maafkan aku. Sekarang aku sudah menderita. Aku kehilangan semuanya, rasa bersalah terus menghantui Ku." Ucap Dimas.
"Maaf! maaf kamu bilang! setelah Apa yang kamu lakukan pada kakakku, Kamu masih mengharapkan Maaf darinya. Asal kamu tahu, dulu aku bisa saja melaporkanmu ke polisi, saat kamu pergi bersama wanita murahanmu itu, membawa tabungan Mbak Rima. Bahkan membawa uang yang kamu pinjam dari bank dengan jaminan rumah orang tua kami. Aku bisa saja melaporkanmu saat itu. Tapi Mbak Rima masih punya hati dan mencegahku melakukan itu. Sekarang kamu datang dan minta maaf! tak ada maaf bagimu. Pergilah! pergi dari sini brengsek!" hardik Bram.
Bram menatap tajam dan nyalang. Mbak Rima Masih terisak. Mungkin ia teringat semua yang dilakukan oleh Mas Dimas dulu.
"Mbak Rima, masuk mbak!" titah Bram.
Ia pun menurut. Ia masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya.
__ADS_1
"Rima Maafkan aku, Rima. Maafkan aku." ucapnya lirih namun Bram masih bisa mendengarnya.