Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 76. KEDATANGAN MAYA DAN PAK KARYO _PDHP


__ADS_3

"Assalamualaikum!"terdengar suara yang selalu luna merindukan, Luna yang tengah mencuci piring langsung menghentikan aktivitasnya dan mengelap tangan yang basah dengan handuk kecil. Yang sengaja Luna gantung di dekat cucian piring.


"Waalaikumsalam, ya sebentar!"seru luna sambil berjalan cepat ke arah depan.


Luna memutar anak kunci dan membukanya, Luna sudah biasa mengunci pintu dari dalam, karena Luna tinggal hanya berdua dengan Khairul. Jadi untuk jaga-jaga, pintu selalu luna kunci. Sekitar jam dua siang Pak Karyo dan Maya tiba di rumah.


Tampak lelaki yang mulai menua, berdiri gagah di ambang pintu senyum hangat mengulas di bibirnya, tatapan teduh yang selalu Luna rindukan.


"Ayah!"luna mengambil dan meraih tangannya yang mulai keriput, kemudian memberi salam dan mengecup punggung tangan Pak Karyo


"Gimana kabar kamu, Nak?


"Cucu ayah di mana?"tanyanya sambil mengelus punggung luna.


"Alhamdulillah Luna dan Khairul sehat, Ayah. Khairul masih tidur siang Mungkin sebentar lagi bangun."


Terlihat Maya sedang menutup kembali pagar rumahnya, usai membayar taksi online. Luna menghampirinya. Mereka pun saling berpelukan.


"Kamu sehat Maya?"


"Iya mbak, Alhamdulillah tubuh Maya sehat, hanya kantongnya saja yang kanker. Alias kantong kering." ucap Maya sambil terkekeh


"Kamu ini ada-ada saja kamusnya."sahut Luna


"Bagaimana kabar mbak Luna dan Khairul, sehat? mana Khairul Mbak?"tanyanya sambil celingukan


"Alhamdulillah sehat, Khairul masih tidur siang. Paling sebentar lagi bangun,


Ayo masuk.


Mereka jalan beriringan masuk ke dalam rumah. Luna langsung bergegas ke dalam dan membuat dua cangkir teh.


"Apa Bram sering kemari, Lun?"tanya Pak Karyo tiba-tiba saat Luna telah meletakkan cangkir teh di meja, teh panasnya dan asapnya masih terlihat mengepul di atasnya.


"Setiap minggu ia datang menemui Khairul ayah. Diminum dulu tehnya,yah biar segar setelah perjalanan tadi."Luna mendaratkan bobot tubuhnya di samping ayahnya.


"Bagaimana perasaanmu sekarang nak?

__ADS_1


"Tak seperti yang Ayah lihat, Luna sudah jauh lebih tenang dan Luna sudah mulai terbiasa tanpa Bram."


Pak Karyo hanya manggut-manggut mendengarkan.


"Lalu bagaimana dengan perusahaan kamu?


"Alhamdulillah ayah, bisnis berjalan dengan lancar, bahkan mengalami kenaikan omset lebih tinggi dari waktu masih dipegang Bram."Luna antusias menceritakan pada Pak Karyo.


"Alhamdulillah kalau begitu. Ayah ikut senang,"ucapan karyo sambil menyesap teh yang mulai menghangat.


"Bagaimana dengan kuliahmu May?"tanya Luna pada adik semata wayangnya yang sedang asyik memainkan ponselnya.


"Alhamdulillah sebentar lagi aku wisuda S2 Mbak, tesis yang baru saja aku selesaikan sudah ditandatangani oleh dosen pembimbing dan dosen pembina. Semuanya sudah rampung tinggal menunggu wisudanya saja." ucap Maya yang dibalas anggukan dari lunak


"Oh, iya yah. kemarin Malakiano datang ke sini, Kok dia tahu alamat rumah Luna ya Ayah?"berulang kali luna tanya Kia selalu bilang, tahu dari mana itu nggak penting, katanya."


"Ya uwes, memang nggak penting toh."Pak Karyo hanya melirik Luna sambil tersenyum.


"Kemarin juga, Vanessa datang ke sini yah."ucap Luna ragu.


"Apa? Vanessa? wanita murahan itu? untuk apa lagi dia menemuimu?"Maya sudah tidak terkejut mendengarkan hal itu tapi lain halnya dengan Pak Karyo.


"Maksud kamu?"


"Kemarin Ia datang bersama dengan ibu sumijan ibu kandung Vanessa, kondisinya cacat ayah, dia duduk di kursi roda. Luna sebenarnya iba melihat kondisinya sekarang, Tapi entah mengapa luka yang ia torehkan di sini, rasanya masih begitu terasa sakit,"Luna menempelkan telapak tangannya di dadanya.


Pak Karyo menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Mungkin itu balasan atas perbuatannya itu, Allah sendiri yang menegurnya."


"Benar ayah, kemarin Dia terlihat begitu pilu, menangis terguguk mau minta maaf sama Luna, tapi Luna belum bisa memaafkan dia Ayah."Luna menunduk dalam usai mengatakan itu.


"Ayah paham, nak! memaafkan memang terkadang terasa sulit. Karena rasa sakit di hati masih begitu terasa perih, tapi pesan ayah, sudah cukup Dia menderita atas teguran yang Allah berikan untuknya, kita sebagai sesama umat muslim, harus belajar ikhlas.


Pandanglah ke depan, Nak! masa depan yang jauh lebih indah telah menantimu, belajarlah ikhlas dan berdamai dengan masa lalu. song song kehidupan masa depan. Karena sehabis ada hujan pasti ada pelangi. Setelah rasa sakit yang kau alami , pasti akan ada kebahagiaan menantimu di masa depan." ucap Pak Karyo sambil mengelus pundak putrinya.


Luna masih tertunduk, tanpa terasa satu bulir bening telah luruh begitu saja. Mengingat apa yang terjadi di kehidupan Luna semenjak penghianatan yang dilakukan oleh Bram dengan Vanessa. Sulit bagi Luna menerima segalanya, memang tidak mudah untuk melupakan segala rasa sakit yang ditorehkan orang-orang yang melakukan kesalahan terhadap kita.

__ADS_1


****


Tak terasa waktu sepekan berjalan begitu cepat, sudah satu minggu Pak Karyo dan Maya di rumah Luna, menemani hari-hari Luna dan Khairul. Jika boleh memilih Luna ingin terus seperti ini, berada di tengah kehangatan orang-orang yang sangat luna cintai. Berada dekat dengan keluarga membuat Luna tenang.


Malakiano semakin berusaha mencoba mendekati luna, meski Luna sering mengabaikan dan cenderung bersikap cuek padanya.


Hari ini hari Minggu, seperti biasa jadwal kunjungan Bram untuk menjenguk Khairul, hari Sabtu kemarin dia mengatakan tak bisa berkunjung Karena ada urusan, dan mengusahakan untuk datang berkunjung di hari Minggu, Luna Hanya mengingatkan saja ucapannya melalui pesan Whatsapp.


Namun, hingga sore menjelang sepertinya Bram sibuk dan tak dapat mengunjungi Khairul, Luna pun tak mempermasalahkannya, Mungkin memang ia sibuk.


Sore ini Luna bersama Maya sedang membuat cemilan pisang goreng di dapur, pisang yang Maya dan Pak Karyo bawa dari kampung baru matang, setelah didiamkan beberapa hari.


Mereka sibuk di dapur sambil berceloteh berbagai cerita, termasuk mengenai Bimo. Ya, beberapa kali Luna memang mengajak Maya untuk ikut ke kantor bersamanya. Karena Khairul bisa bermain berdua dengan Pak Karyo di rumah, jadi Luna kerap mengajak Maya untuk ikut ke kantor, sesekali agar ia sedikit tahu tentang perusahaan yang dikelola oleh Luna.


Di kantor tentu Maya bertemu dengan semua karyawan dan rekan kerja luna tanpa terkecuali, yang paling sering berkomunikasi dengan Bimo


Setelah mereka berkenalan, dan beberapa kali bertemu, Luna bisa melihat adanya getaran ketertarikan dari sorot matanya Bimo. Bahkan dari sejak pertama mereka bertemu.


Tentunya Luna akan sangat setuju bila mereka dekat dan akhirnya menjalin hubungan yang serius, Luna sangat kenal Bimo dan keluarganya. Walaupun dia hanya tamatan SMK dan saat ini mencoba untuk memulai kuliah tapi kemampuannya dalam membantu mengurus perusahaan yang luna kelola dia paling bisa diandalkan. Selain anaknya yang jujur, tanggung jawab, dan selalu bersikap baik dan sopan kepada kliennya.


Saat mereka sedang asyik mengobrol sambil menggoreng pisang. Tiba-tiba terdengar suara ayah mengagetkan.


"Lun! ada tamu nih! seru Pak Karyo dari ruang tengah. Luna dan Maya saling tatap.


"Iya Ayah,"sahut Luna


"May, ini tinggal sedikit kan lanjutkan ya, Mbak ke depan sebentar."titah Luna kemudian berjalan cepat menghampiri ayah. yang terdengar sudah di ruang depan bersama Bimo.


Sayup-sayup terdengar suara percakapan Ayah dengan seseorang yang luna kenal suaranya. Malakiano.


"Kia! panggilan baru Luna untuk Malakiano, saat luna sampai di ambang pintu depan, mereka masih berbasa-basi di teras rumah.


"Kok mau datang nggak ngabarin dulu."Luna sedikit terkejut saat tahu tamu yang itu adalah Malakiano.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2