Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 77. KEDATANGAN MALAKIANO _ PDHP


__ADS_3

Sayup-sayup terdengar suara percakapan Ayah dengan seseorang yang luna kenal suaranya. Malakiano.


"Kia! panggilan baru Luna untuk Malakiano, saat luna sampai di ambang pintu depan, mereka masih berbasa-basi di teras rumah.


"Kok mau datang nggak ngabarin dulu."Luna sedikit terkejut saat tahu tamu yang itu adalah Malakiano.


"Halah, aku chat aja juga jarang dibales toh, jadi ya aku nggak ngabarin," Kia terkekeh dan mendaratkan bobot tubuhnya di bangku teras, Begitu juga dengan Pak Karyo.


"Om, Mala!"seru Khairul kemudian mencium punggung tangan teman masa kecil lunak itu.


"Khairul, sehat? wah senangnya jadi ada temannya, rame ada Kakek di sini. senang nggak?"dia mengangkat tubuh Chairul dan mendudukkannya di pangkuannya.


Sedangkan Pak Karyo hanya tersenyum melihat kedekatan Khairul dan Kia.


"Mau duduk di sini aja, apa di dalam? Luna bikinin teh sebentar ya," ucap Luna pada ketiga lelaki berbeda generasi itu.


"Di sini saja Lun. Adem banyak angin."Kia menjawab dengan cepat


Luna bergegas masuk ke dalam untuk membuat kopi. Kebetulan sekali ada pisang goreng untuk teman ngeteh, Luna melihat tinggal sekali goreng lagi sudah selesai yang sedang dikerjakan oleh Maya.


"Ada siapa Mbak?"tanya Maya saat luna sampai di dapur.


"Malakiano,"jawab Luna singkat. Luna mengambil air untuk direbus.


Mendengar jawaban Luna, Maya tersenyum sambil tangannya lihai membalik pisang goreng di dalam penggorengan.


"Hmmm, diam-diam sering datang kemari toh,"ledeknya


"Ya, nggak sering juga. Baru dua kali ini, Mbak juga bingung sama dia, dari mana dia tahu alamat rumah ini. Padahal sering Mbak cuekin loh dia, tapi tetap nggak bosan kirim pesan atau telepon."cerocos Luna.


" Cie... Mas Mala itu kayaknya serius sayang sama Mbak loh,"ucap Maya tanpa menoleh ke arah Luna, tangannya sibuk mengangkat gorengan. ucapannya sontak membuat kedua alis Luna bertaut.


"Maksudnya?"


"Mbak, dia itu tahu alamat rumah ini dari ayah. Beberapa bulan setelah Mbak berangkat lagi ke sini, Mala sempat pulang ke kampung dan dia datang menemui ayah, Dia berbicara langsung dengan ayah, Jika dia ingin serius membina rumah tangga dengan Mbak Luna.


"Hah?! kamu serius Maya? perkataan Maya barusan sontak membuat Luna terkejut, bersamaan dengan terdengarnya teko siul yang sedang Luna gunakan untuk merebus air. Luna segera mematikan kompor.

__ADS_1


Maya hanya mengangguk. Sambil tersenyum ke arah Luna.


"Kok Ayah nggak cerita apa-apa ke, Mbak?"


Maya mengambil teko kecil dan menuangkan setengah bungkus teh serbuk di dalamnya, kemudian menuangkan air panas ke dalamnya.


Luna yang masih terkejut hanya berdiri melihat adiknya yang mengambil alih kegiatan Luna tadi.


"Maya sempat dengar ayah bilang begini, Ayah setuju kalau mbak sama mas Mala, tapi bagaimanapun semua keputusan ada di tangan Mbak Luna. Ayah tau Mbak pasti masih trauma dengan pernikahan, jadi ayah bilang jika Mas Mala berhasil menumbuhkan rasa cinta di hati Mbak Luna, silakan saja.


Luna baru mengerti sekarang, jika Kia mendekati Luna karena sudah lebih dulu meminta izin sama Pak Karyo.


Jujur Luna masih trauma dengan pernikahan, rasa takut untuk membina kembali rumah tangga. Takut akan penghianatan, takut akan kembali tersakiti.


Sejauh ini Luna menganggap Kia sekedar teman. Apalagi jika mengingat Luna di kota ini sendiri, kehadiran Kia tentu membuatnya senang. Karena luna seperti bertemu teman sekaligus saudara sekampung di kota ini.


"Terus terus, ayah ada cerita apa lagi May? tanya Luna mengintrogasi adik perempuannya sekaligus seperti sahabat untuknya.


"Sudah, ini bawa dulu tehnya ke depan, nanti aku lanjut lagi."Maya menyodorkan dua cangkir teh yang sudah siap di atas nampan beserta sepiring pisang coklat yang tadi digorengnya.


"Mbak bawa dulu ini ke depan, janji nanti lanjut lagi."


"Ini tehnya ayah, Kia!


"Khairul ke mana Ayah?"Luna meletakkan dua cangkir teh di meja.


"Itu, tadi anak tetangga depan rumah, mengajak Khairul main."Luna mengangguk paham, itu pasti anak mbak Rina, mereka memang akrab bermain bersama.


"Kia kamu sendirian?"Clara nggak ikut?"tanya Luna berbasa-basi pada lelaki yang sudah dari tadi memperhatikan luna. Beberapa kali sekilas kedua netra mereka bertemu. Namun, buru-buru mereka saling mengalihkan pandangan.


"Iya aku sendiri, kebetulan tadi lewat daerah sini jadi mampir kemari, nggak taunya ada Pak Karyo sedang ada di sini.


"Jadi Malakiano ini sedang membuka cabang rumah makannya di kota ini lun, lokasinya juga tidak jauh dari kompleks perumahan ini. jadi nanti lebih dekat dan bisa sering mampir kemarin buat nengokin kamu dan Khairul ucap Pak Karyo membuka suara.


"Nengokin? Memangnya orang sakit ditengok? Luna dan Khairul sudah terbiasa sendiri Ayah!"jawab Luna membuat kedua lelaki itu tertawa renyah, Luna hanya mengulang senyum, tanpa tahu sebelah mana yang salah.


"Luna masuk dulu ya, yah, Kia! mau salat ashar sebentar,"kilah Luan. Padahal tadi luna sudah salat.

__ADS_1


Luna bergegas masuk ke dalam, menghampiri Maya sedang duduk santai menyantap pisang goreng di piringnya.


"Lanjut dong May, ayah bilang apa lagi?"


"Cie.... kepo banget sih!"goda Maya


"Ih bukannya kepo, cuman penasaran aja."


"Jadi intinya, saat Mas Mala datang ke rumah menemui ayah, dia mengutarakan niatnya ingin serius dengan Mbak Luna, terus ayah bilang, Ayah setuju saja. Karena menurut ayah mas Mala orang yang baik. Ayah juga kenal baik dengan orang tuanya, Tapi semua keputusan ada di tangan Mbak Luna, gitu.


Sekarang Maya tanya, Mbak Luna sama Mas Mala bagaimana?"tanya Maya sambil memasukkan potongan pisang goreng ke dalam mulutnya.


"Ya, nggak gimana-gimana May! Mbak belum berpikir ke arah sana, rasanya Mbak udah nggak ingin menikah lagi May, biarlah Mbak hidup sendiri membesarkan Khairul."Luna menunduk dalam Setelah usai mengatakan itu.


"Mbak Luna juga berhak Bahagia, pikirkan Khairul, ia juga butuh keluarga lengkap di masa tumbuh kembangnya. Ya, walaupun Mas Bram tidak melupakannya. Tapi pasti akan lebih bahagia saat di rumah lengkap ada ayah ibunya.


Adik perempuan Luna ini mentang-mentang kulihat jurusan psikologi, bisa banget ngomongnya. Luna hanya tersenyum tipis ke arahnya.


"Mbak pikirkanlah pelan-pelan buka hatimu. Aku juga ingin melihat mbak bahagia."Maya menggenggam tangan luna dan menatap lekat ke arahnya. Luna hanya mengangguk.


Hening


"Mama!"


Tiba-tiba mereka dikagetkan oleh seorang Khairul yang tengah berlari ke arahnya.


"Sayang ada apa, kok lari-lari?"ucap Luna sambil mengusap pucuk kepalanya.


"Khairul mau pisang goreng juga dong, Ma."Khairul menata cemilan di piring dengan berbinar. Khairul memang menyukai cemilan ini.


Luna dan Maya sontak saling pandang dan tertawa melihat tingkah Khairul.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2