
Wanita yang dulu selalu dia pandang sebelah mata oleh Mbak Rima, saat masih berstatus istri Bram, itu begitu lembut menguatkan hatinya.
Uhuk....uhuk....
"Terima kasih banyak ya Lun, Maafkan Mbak yang dulu sempat Begitu jahat sama kamu. kamu itu baik mbak yang salah. Maafkan Mbak ya, lun."ucap Mbak Rima terbata-bata diiringi batuk yang bertubi-tubi.
Nafasnya pun tersengal sepertinya kondisi Mbak Rima makin menurun.
Air matanya lurus menggenggam erat tangan luna. Terlihat jelas penyesalan mendalam pada sorot matanya.
Luna memeluknya dan mengusap pelan punggungnya.
"Sssst sudah Mbak, aku sudah sejak lama memaafkanmu, yang terpenting sekarang Mbak Rima harus semangat untuk sembuh,"ucap Luna lirih.
Pemandangan yang sangat mengharukan, sungguh Bram terharu. Luna memang baik. pantas Ia mendapatkan kebahagiaan yang sekarang bersama laki-laki sebaik Mala.
Tiba-tiba Mbak Rima kembali batuk-batuk, membuat tubuh kurusnya terguncang hingga ia tiba-tiba menutup mulutnya, dan saat selesai batuk di telapak tangannya terdapat darah.
Bram tersentak, begitu juga dengan Luna dan Mala. Jika batuk hingga sudah mengeluarkan darah, bukankah itu pertanda buruk.
"Mbak kamu nggak apa-apa?"tanya Bram yang sedikit panik.
Mbak Rima hanya menggeleng lemah, masih terlihat senyum terbit di sana, Bagaimana bisa sudah seperti ini ia masih merasa baik-baik saja, bahkan nafasnya pun tersengal.
Luna membersihkan tangan Mbak Rima dengan menggunakan tisu, sedangkan Mbak Rima terlihat begitu lemas.
"Mas kita bawa Mbak Rima ke rumah sakit sekarang."tegas Luna.
"Iya Lun."
"Ayo cepat bawa dengan mobilku,"ucap Mala.
dengan sigap Bram mengangkat tubuh Mbak Rima, Luna pun mengekor di belakang Bram .
__ADS_1
Mala yang sudah lebih dulu di depan, membuka pintu mobilnya, kemudian duduk di belakang kemudi. Tak Berapa lama Luna dan Khairul muncul dari dalam rumah dan masuk ke dalam mobil. Dengan langkah cepat Bram kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil dompet dan ponselnya, juga mengunci pintu.
Setelah itu Bram ikut masuk dan duduk di samping Mala. Mala mulai melajukan mobilnya. Bram menoleh ke belakang tampak Mbak Rima terkulai lemas tak berdaya.
"Aku mohon Mbak bertahanlah. Mala mengemudi mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, mereka yang berada di dalam mobil terdiam dengan pikiran masing-masing. Luna menggenggam erat jemari Mbak Rima seolah menyalurkan kekuatan dari dalam untuk Mbak Rima agar kuat.
Pikiran Bram berkecamuk tak menentu. Satu hal yang saat ini Bram takutkan, Mbak Rima pergi. Bagaimanapun juga hanya dia satu-satunya orang yang ada bersama Bram saat ini, Bram takut ya, Allah.
Luna, Mala, juga Khairul mereka semua diliputi kecemasan. Mobil yang melaju seakan terasa lambat padahal Mala sudah mengendarainya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Sekitar dua puluh menit, akhirnya mereka sampai di rumah sakit kota, Mala menghentikan mobilnya di depan lobby UGD Dan disambut oleh para perawat dengan sigap mendorong berakar.
Bram turun dan membantu petugas medis mengangkat tubuh Mbak Rima membaringkan di atas branker dan mendorongnya dengan setengah berlari memasuki ruang UGD.
"Maaf Pak, silakan tunggu di luar biar dokter menangani pasien di dalam ucap salah seorang perawat ketika Bram yang mereka dorong melewati pintu ruang UGD kemudian menutup pintunya.
Bram terdiam sejenak kemudian mengangguk paham. Bram lihat ke belakang, Mala dan luna serta Khairul sudah duduk di bangku yang tersedia di depan ruangan.
Bram mendaratkan bobotnya di sana. Bram tarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. " Ya Allah aku mohon selamatkan kakakku, pintanya dalam hati.
"Sabar Mas, kita doakan yang terbaik untuk Mbak Rima."terasa seorang menepuk pelan punggungnya saat Bram menoleh ternyata Mala. Bram mengangguk.
"Terima kasih Mala, kalau tak ada kalian Mungkin aku kebingungan sendiri "sahut Bram.
"Sama-sama kita adalah saudara Mas, sudah sepatutnya kita saling membantu." Mala duduk di sampingnya. Lelaki yang kini telah menggantikan posisinya di hati Luna dan menjadi Ayah sambung Khairul ini terlihat begitu santun, tak ada rasa cemburu walau Luna membantu Bram. benar kata Mbak Rima Mala laki-laki yang baik.
"Sekali lagi terima kasih, Kamu orang yang baik, Luna berada bersama orang yang tepat aku juga terima kasih kamu menerima Khairul."
Mendengar ucapan Bram terlihat sebuah senyum terbit di sana, menambah nilai ketampanan pada lelaki yang kini duduk di samping Bram.
"Aku tidak hanya mencintai Luna, tapi aku juga menyayangi Khairul, mereka berdua itu satu paket. Kamu juga ayah yang hebat. Khairul sering bercerita saat kalian bersama, dan Khairul begitu bangga memiliki Ayah sepertimu."
Bram merasa malu dengan Mala, Bram yang dulu Sudah menggenggam Luna dan khairul satu paket, hingga mereka menjadi keluarga yang lengkap, tapi Bram telah menodai kesucian pernikahan mereka, Bram juga salut pada Luna. Meski Bram begitu brengsek tapi Luna tak pernah sekalipun berkata pada Khairul Seperti apa kelakuannya. Luna selalu mengajarkan dan mendidik Khairul untuk selalu menghormati dan menyayangi Bram sebagai ayah kandungnya.
__ADS_1
lagi-lagi penyesalan terasa begitu menusuk ke lubuk hati Bram.
"Aku doakan selalu yang terbaik untukmu, jaga Luna dan Khairul dengan segenap hatimu."
"Pasti!"sahutnya tanpa ragu
ceklek
Suara pintu ruang UGD terdengar Seorang perawat keluar ruangan. Bergegas menghampirinya
"Bagaimana kondisi kakak saya suster?"
"Silakan bapak masuk, temui dokter di sana."jawab suster itu sambil menunjuk ke dalam. Tampak seorang dokter yang telah duduk di sudut ruangan itu.
"Terima kasih sus."tanpa pikir panjang Bram langkah masuk menemui dokter yang sedang sibuk di meja tugas menulis sesuatu.
"Permisi dok."sapa Bram.
Seorang dokter muda berkulit putih dan berkacamata itu sejenak menghentikan pekerjaannya, mengangkat wajahnya untuk menoleh ke arah Bram. Kemudian mengangguk
"Silakan duduk pak. Dengan siapanya Bu Rima?
"Saya adiknya, Bagaimana kondisi kakak saya sekarang dokter?"
Terdengar hembusan nafas dari dokter yang duduk depan Bram.
"Kondisinya masih lama penyakit komplikasi yang diderita mbak Rima sudah cukup parah Pak. Kenapa baru sekarang dibawa rumah sakit? kalau saja Bu Rima menjalani perawatan sejak kemarin-kemarin, mungkin kondisinya tidak seburuk ini. Kadar gula darah tinggi dan tensinya juga tinggi. Sekarang ini saya masih melakukan observasi lebih lanjut lagi. Karena sepertinya ada masalah juga di paru-parunya yang menyebabkan beliau batuk darah." jelas sang dokter.
Bram hanya mengangguk. Dalam hati Bram merutuki kelalaiannya. Andai saja Bram membawa Mbak Rima kemari dari kemarin-kemarin, mungkin Mbak Rima Tak Sampai kondisinya seperti sekarang ini. Harusnya Bram lebih tegas lagi, walau Mbak Rima selalu menolak saat Bram ajak ke rumah sakit. "Ya Allah selamatkan Mbak Rima." gumam Bram dalam hati.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN