Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 65. PENYESALAN SELALU TERLAMBAT _PDHP


__ADS_3

"Untuk apa aku hidup jika hanya menjadi wanita lumpuh seperti ini Maya!"Kenapa Tuhan tidak mengambil nyawaku sekalian. Hiks hiks hiks."


"Sssstt. Vanessa, kamu nggak boleh ngomong seperti itu. Ini sudah takdir, kamu berdua saja semoga kelumpuhan yang kamu alami saat ini tidak lumpuh permanen. mungkin bisa disembuhkan dengan pengobatan berbagai macam cara seperti terapi atau bagaimanapun itu."Maya menguatkan Vanessa.


"Sungguh malang sekali aku, setelah diceraikan suami, sekarang harus lumpuh. menyedihkan, sangat menyedihkan."tangis Vanessa seolah tidak terima keadaannya saat ini.


"Istirahatlah, hari ini sudah mulai petang, aku harus pulang, sebentar lagi ibumu tiba, aku sudah memberitahunya kalau kau di sini, besok aku datang lagi ke sini."Maya mengusap lembut tangannya, sebelum berlalu, Vanessa yang masih, hanya bisa terdiam dan tak menanggapinya.


Ruangan itu kembali sepi, hanya ada Vanessa sendiri. Pikirannya jauh melayang, entah Seperti apa nanti kehidupannya, yang hanya duduk di kursi roda, Apakah Vanessa bisa menjalani hidup seperti ini. Air matanya mengalir Lagi dan lagi begitu deras seolah enggan untuk berhenti. Vanessa benar-benar tidak kuat menjalani hidup setelah mengetahui kondisi terburuk dirinya.


Ceklek.


"Vanessa! Ya Allah Nak! Kenapa jadi seperti ini."ibunya Vanessa memasuki ruang rawat Ina Vanessa dengan tergopoh-gopoh menghampiri Vanessa dan tangisnya pun pecah saat berada di samping Vanessa.


Vanessa menatap lurus pada langit-langit ruang rawat inapnya, pandangannya kosong, hanya air mata yang berbicara.


"Vanessa Kau harus kuat, Kamu harus tabah, Nak! ada ibu di sini yang akan selalu menemani kamu,"ucapnya lagi sambil berurai air mata, tatapannya sendu saat melihat Vanessa yang masih tak bergeming.


Kemudian memeluk Vanessa dan kembali menangis.


"Ibu, Maafkan Vanessa Bu," ucapnya lirih dalam pelukannya


Beliau hanya mengangguk, sambil mengusap lembut rambut Vanessa.


" Ibu akan selalu ada di sini bersamamu, kamu harus kuat. "Ibu Vanessa melepaskan pelukannya, kemudian duduk di bangku samping berantara tempat Vanessa berada.


"Sekarang Vanessa lumpuh, Bu. hancur sudah duniaku, Bu. aku hanya akan menjadi beban dalam hidup ibu."teriaknya menangis, tangannya memukul kedua pahanya.


"Sabar, Nak. Kamu harus sabar dan tabah menghadapi semuanya. ini sudah takdir yang kuasa. kamu harus ikhlas,"mendengar itu, Vanessa kembali terisak.


"Istirahatlah, Ibu akan selalu menjagamu di sini."


Vanessa lihat Ibunya sudah mulai tenang, Vanessa memejamkan matanya."


****


Sepertinya janjinya kemarin, pagi ini Maya kembali mengunjungi Vanessa. Di ruang rawat inap di mana Vanessa dirawat

__ADS_1


"Assalamualaikum."Siapa wanita berhijab dan anggun itu sambil langsung berjalan menghampiri Vanessa dan ibunya di sana.


"Waalaikumsalam."jawab Vanessa dan ibunya secara bersamaan.


"Perkenalkan saya Maya, Bu."Maya mereh punggung tangan ibunya Vanessa dan menciumnya takzim.


"Terima kasih Maya, kamu sudah menolong Vanessa,"sahut ibunya Vanessa dan tanpa ragu memeluk Maya.


"Sama-sama Bu, sudah kewajiban kita sesama umat muslim saling menolong."Maya menyahut dengan santun dan mengusap lembut punggung ibunya Vanessa.


"Bagaimana keadaan kamu hari ini, Vanessa?"tanya Maya pada Vanessa dan kembali mendekati ranjangnya.


"Alhamdulillah sudah lebih baik,"Vanessa tersenyum getir. Tak ada yang bisa dibanggakan dari seorang wanita cacat seperti."


"Kebetulan Maya, Ibu titip Vanessa sebentar ya, Ibu disuruh ke ruangan dokter. kemungkinan siang nanti ayah dan adiknya Vanessa akan tiba."


"Iya, Bu. biar saya yang menemani Vanessa di sini,"sahutnya dengan mengulas senyum. ibunya Vanessa melanggar meninggalkan mereka di ruang rawat inap itu.


Tak lama kemudian berselang seorang suster masuk, untuk chat tensi pagi hari ini. berharap kondisi kesehatan Vanessa semakin membaik.


"Sebaiknya jangan dulu ya Mbak. kondisi pasien masih belum sepenuhnya pulih pasca operasi."Maya terlihat mengulum senyum kemudian mengangguk mengerti.


"Tensinya bagus ya, Bu. Saya permisi,"pamit sang suster."


"it's okay Vanessa, nggak masalah kita ngobrol di sini."kembali Maya mengukir senyum setelah suster keluar dari ruangan ini.


"Apa yang ingin kau bicarakan?"tanya Vanessa, melihat gelagatnya Vanessa mengerti, Ada yang ingin Ia bicarakan.


"Sebenarnya, Aku hanya ingin ngobrol santai saja denganmu. Kita bisa menjadi teman."ucapnya membuat kedua alias Vanessa saling bertaut.


"Kenapa kau bersikap baik padaku?"tanyanya pada wanita yang duduk di bangku taman di sampingnya.


"Vanessa, setiap orang punya kesalahan di masa lalu, dan setiap orang juga berhak berubah untuk memperbaiki diri.*


"Aku sudah hancur Maya, tak ada lagi yang bisa dibanggakan dari seorang wanita cacat seperti itu."Vanessa meremas kuat ujung bajunya.


"Vanessa, aku sudah tahu semua tentangmu, tentang kamu yang merebut mas dari Kak Luna. Tentang alasan kamu menikah dengan Aldo kembali. Ibu Alena juga menceritakan alasan kamu mengapa kamu menikah dengan Aldo.

__ADS_1


"Lalu untuk apa kau datang? untuk ikut-ikutan mereka menghakimiku."nada suara Vanessa sedikit meninggi.


"Tidak, Vanessa. sungguh aku ingin menjadi temanmu. Aku ingin mengajakmu untuk menjadi lebih baik lagi, bukankah setiap manusia yang berdosa, pintu ampunan Allah selalu terbuka lebar."Maya menatap lekat kedua netra Vanessa yang mulai berembun.


"Vanessa nggak tahu Maya, Apakah Allah masih menerima taubatku, Setelah semua yang sudah aku lakukan."dada Vanessa terasa sesak, netranya pun berembun.


"Vanessa, yakin padaku, mohon ampun pada Allah dan minta maaflah pada orang-orang yang pernah kau sakiti. Kau harus ikhlas, mungkin ini cara Allah menegurmu, Mungkin dengan cara ini Allah menunjukkan sayangnya, agar kau kembali dekat pada Nya."


Seketika air matanya terjun bebas, memang selama ini Vanessa melupakan Allah sang pemilik kehidupan, Vanessa terlalu sibuk dengan segala ambisinya yang hanya fatamorgana. Bahkan entah kapan terakhir kali ia sholat.


Vanessa menangis pilu, menatap kosong gawang awan dengan penuh penyesalan. penyesalan yang begitu dalam. Maya benar Mungkin ini cara Allah menegurku."gumam Vanessa dalam hati.


Vanessa merasakan tangan lembutnya mengusap bahu Vanessa yang bergetar, dan tangannya menggenggam erat tangan Vanessa.


"Aku akan membantumu, Vanessa. aku yakin kamu bisa menjadi wanita yang kuat, jadikan hidupmu ke depannya lebih baik lagi."


Vanessa hanya mengangguk, tak menyangka Maya sebaik ini padanya. Di saat semua orang menghinanya. Maya benar-benar wanita yang taat agama dan juga berpendidikan, entah terbuat dari apa hati Maya yang mau membantu Vanessa, sudah jelas-jelas Vanessa lah yang merusak rumah tangga kakaknya sendiri.


"Terima kasih, Maya."ucap Vanessa lirih iya pun tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya.


****


Sekitar kurang lebih satu tahun kemudian,


hampir satu tahun Luna hidup sendiri menjadi single parent, beberapa kali Mas Bram datang menemui mereka, Luna tetap mengizinkannya untuk menemui Khairul, Karena bagaimanapun Ia tetap ayah kandung dari Putra tunggalnya itu.


Bram juga sudah menyadari kesalahannya, iya bercerita bahwa dirinya sudah tidak bersama Vanessa lagi, mereka sudah bercerai karena Vanessa Ternyata bukan wanita baik-baik.


Luna hanya tersenyum getir mendengarnya. penyesalan memang datang terlambat, di saat kita sudah kehilangan, kita baru menyadari bahwa betapa berharganya apa yang kita miliki."


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2