
"Syukurlah kalau begitu, semuanya sudah lengkap dan hari ini juga saya akan memasukkan berkas-berkas ini ke pengadilan. Kamu tinggal menunggu surat panggilan sidang dari pengadilan." jelasnya dan Luna mengangguk.
Luna pamit pulang usai membahas terkait perceraiannya. Sekarang tinggal menunggu surat pengadilan dari kantor pengadilan.
Kembali Luna melajukan motornya menuju rumah. Tiba-tiba motornya sedikit goyang, membuat Luna harus menepi untuk melihat kondisinya.
"Astagfirullah, ternyata ban motornya Sepertinya bocor. Dan Luna harus menuntunnya hingga menemukan bengkel.
Memang sudah lama Luna belum ganti ban, apalagi semenjak Bram mulai tak peduli lagi dengannya. Dulu Bram yang selalu mengecek kondisi motornya, serta membawanya Ke bengkel untuk sekedar service.
Tapi semenjak ia mulai main gila, semua itu sudah tak ada lagi.
Mau tak mau Luna menuntun motornya mencari bengkel terdekat. Alhamdulillah tak lama, Luna berjalan. Luna menemukan bengkel. Tanpa pikir panjang Luna menuntun motornya ke arah bengkel itu.
"Alhamdulillah motornya sedang dipegang sama montir. Ah rasanya Luna haus sekali setelah berjalan tadi. Luna mendengarkan pandangan di seberang bengkel ada sebuah kafe.
Luna berada di cafe sekarang, setelah menitip pesan pada sang montir. " Alhamdulillah lega rasanya hilang rasa dahaga saat kerongkongan ku basah dengan segelas jus." gumam Luna
"Vanessa, akhirnya rencana Mbak menjodohkan mu dengan Bram berhasil, dan sedikit lagi Bram dan Luna akan bercerai. Kau akan menjadi satu-satunya di hidup Bram
Degh!!!!
"Apa?
Luna seperti kenal pemilik suara itu. Suara seorang perempuan yang duduk tepat di belakang Luna.
Itu suara Mbak Rima, kakak ipar Luna. Luna sedikit memiringkan tubuhnya berusaha melirik ke belakang, tepat dugaannya. Mbak Rima sedang duduk bersama Vanessa di meja belakangnya. Posisi Luna membelakanginya.
"Iya, Mbak, tapi kapan dong mereka akan bercerai?" terdengar suara wanita pelakor itu.
"Kamu tenang saja, secepatnya mereka akan bercerai. Kemarin mbak bertemu dengan Bram dan dia bilang, Luna memang sudah mengajukan gugatan cerai." ucap Mbak Rima dengan semangat.
"Oh ya,bagus deh. Biar nanti aku bisa jadi Nyonya di rumah itu." sahut wanita murahan itu.
"Mbak memang tidak cocok dengan Luna sejak dulu. Tapi Bram sangat mencintai dia. Jadi sulit untuk memisahkan mereka, dan saat Mbak kenal kamu, Mbak pikir kamu lebih cocok berdampingan dengan adik Mbak. bukan perempuan kampung itu. Luna tak menyangka kakak iparnya begitu picik dia menginginkan rumah tangga luna dan Bram hancur.
Luna menggeleng tak percaya dengan apa yang luna dengar. Tak lupa Luna pasang ponselnya untuk merekam percakapan mereka.
"Iyalah Mbak, lebih cantik aku ke mana-mana kan, wanita sialan itu berkata dengan gaya sombongnya.
"CK, cantik dari mana? cantik karena polesan make up dong, lihat aja nanti setelah kalian tahu kalau semua aset akan jatuh ke tanganku, Aku pastikan kalian akan gigit jari."
"Iya dong Vanessa, kamu cantik. lebih muda, jadi kita bisa sering jalan bareng shopping bareng, kan nanti."
__ADS_1
Mereka tertawa terbahak-bahak menertawakan sesuatu hal yang sangat mustahil. Karena jika nanti Luna resmi bercerai, Bram tak akan bisa bekerja di kantor lagi. Apakah jika Bram nanti menganggur mereka masih bisa shopping dan jalan-jalan?" rasanya itu sulit.
"Untung Mbak kenal kamu Vanessa, kamu perias dan Bram seorang pengusaha. Kalian sangat cocok. Makanya Mbak nyuruh kamu dekatin Bram. Ternyata gayung bersambut, Bram juga menyukai kamu. Jadi Mbak tak perlu repot-repot mendekatkan kalian. Mbak Rima berbicara dengan sesekali tertawa kecil terlontar dari mulutnya.
Luna masih duduk berdiam di tempat duduknya. Meski justru di hadapannya telah habis dan tanpa sisa
KESAL? tentu
MARAH? pasti
"Itu yang Luna rasakan. Ingin rasanya Luna bangkit dan menyumpal mulut mereka. Tapi Luna tak ingin jadi tontonan di sini. Percuma juga kalau Luna marah-marah dengan mereka, karena semua itu tak akan mengubah keputusan luna untuk bercerai.
Luna tak bisa lagi hidup bersama seorang penghianat, karena sejatinya lelaki setia tak akan tergoda. Meski godaan itu datang dalam bentuk yang indah seperti bidadari.
Namun, Bram dengan mudahnya terkena dan tergoda oleh bujuk rayuan wanita murahan seperti dia.
"Iya Mbak, aku naksir sama Bram Sejak pertama bertemu, mbak. Apalagi pas aku tahu Ternyata mas Bram seorang pengusaha, yang pastinya kita bisa berjalan sejalan dengan bidang ini kan?" ucap Vanessa.
Dalam hati luna tertawa tak tahu aja dia. kalau nanti Luna resmi bercerai dengan Bram, Dia takkan bisa menikmati apapun karena semua sudah jatuh ke tangan Luna.
"Mbak ke sini sebentar Mbak. luna manggil seorang waiters yang kebetulan lewat di depannya.
"Boleh minta Bil-nya mbak? sekalian sama meja yang di belakang itu ya." tanya Luna padanya saat dia sudah di hadapannya.
"Tak Berapa lama, ia kembali dan membawa stroke yang harus Luna bayar. Luna Melihat tagihan dari meja belakangnya, totalnya tak seberapa. Segera Luna mengeluarkan dompet dan memberikannya dua lembar uang berwarna merah.
Luna ingin lihat Bagaimana ekspresi mereka jika mereka tahu Luna mendengar semua percakapan mereka tadi.
"Terima kasih Bu." ucap waiters itu setelah menerima uang yang luna berikan.
"Kembaliannya ambil aja, ya. Dan tolong kasih tahu mereka, jika makan mereka sudah dibayar. Tapi katakan itu saat saya sudah bangkit dari tempat duduk ini." jelas Luna. dia mengangguk paham dengan instruksi luna
"Baik bu terima kasih." sahutnya
Luna mulai memasukkan ponselnya dan dompetnya ke dalam tas. Dan beranjak dari tempat duduknya, baru saja Luna melangkah beberapa langkah, terdengar sang waitres memberitahu mereka, jika makanan dan minuman mereka telah dibayar.
"Siapa yang bayar Mbak?" tanya Mbak Rima
mbak itu, yang bayar Bu."
luna melenggang hendak keluar Cafe, sepertinya waitress itu menunjukkan arah luna
langkah Luna semakin menjauh dari mereka, tapi Luna masih mendengar percakapan mereka. sengaja' Luna melangkah dengan pelan.
__ADS_1
"Bukankah itu, Luna? Apa maksudnya dia membayar makanan kita? apa jangan-jangan dia tadi mendengar semua obrolan kita?" ucap Mbak Rima dari suaranya terdengar panik.
"Luna!" panggil Mbak Rima.
Luna yang sudah diambang pintu keluar, menoleh sebentar ke arahnya, menarik sudut bibirnya. Mbak Rima bangkit hendak mengejar luna yang melenggang santai keluar Cafe.
"Luna...!tunggu
Luna menghentikan langkahnya, tanpa menoleh ke belakang.
"Apa maksudmu membayar makanan kami? hah!" kamu pikir, kami nggak bisa membayar?" ucapnya lantang.
Luna membalikkan tubuhnya, menatap dekat wajah kakak perempuan suaminya itu, yang sejak dulu tak pernah menampakkan senyum tulus untuknya.
"Iya, aku pikir kalian tak mampu bayar makanan di cafe ini, sampai Mbak berniat menghancurkan rumah tangga Aku. melalui perempuan murahan itu. Untuk apa? demi harta kan? jadi aku berinisiatif membayar sekalian makanan kalian." Luna berkata tajam pada wanita yang ada di hadapannya.
"Apa kau mendengar semuanya?
"Aku tidak tuli Mbak, tentu aku sudah mendengar semuanya. Entah dosa apa aku. memiliki kakak ipar sepertimu." ucap Luna lantang. Sontak membuat mata Mbak Rima terbuka lebar, ia terhenyak mendengar ucapan Luna.
Tapi sedetik kemudian, ia kembali bersikap biasa dengan cepat ia menguasai keadaan.
"Mbak Tenang saja. Walaupun aku sudah dengar semuanya, Aku tak mengubah keputusanku. Aku akan tetap bercerai dengan Mas Bram." Mbak Rima tampak berbinar sebuah seringai terlihat di sudut bibirnya.
Luna membalasnya dengan hal yang sama. sebuah seringai terukir dari sudut bibirnya, sebagai tanda luna siap menerima permainannya, tepatnya Luna Tak sabar melihat ekspresi Seperti apa, saat tahu Bram tak bisa membawa apapun.
"Permisi!" tukas lunak. Kemudian melenggang meninggalkannya sendiri.
Luna kembali berjalan menuju bengkel yang ada di seberang Cafe itu,untuk mengambil motornya. Sepertinya sudah selesai diganti dengan ban baru.
"Alhamdulillah motornya sudah selesai diganti ban dan servis. Luna bisa langsung pulang sekarang.
Luna melajukan kuda besinya, setelah membayar biaya ganti ban dan service. di perjalanan Luna masih terngiang ucapan Rina dan perempuan murahan itu di cafe tadi.
Tak habis pikir dengan kakak iparnya itu, "Sebenci itukah dia terhadap Luna?"
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1