
"Enggak apa-apa, sayang! cuma tadi aku agak bingung aja, kok dia kayak nggak suka sama aku, Padahal aku sama sekali nggak kenal dia." Vanessa coba menjelaskan kegundahannya dengan sikap wanita itu.
"Ah, mungkin itu perasaanmu saja sayang. tante Rina orang baik kok, nanti kalau kamu udah kenal dekat sama dia, pasti kamu akan nyaman ngobrol sama dia, percaya sama aku, ya!
Seketika hati ini merasa tenang, seolah terhipnotis dengan perkataan Aldo. Semoga benar apa yang dikatakan Aldo.
Malam hari usai acara resepsi pernikahan, keluarga masih berkumpul di rumah itu, mungkin besok pagi mereka baru akan pulang ke rumah masing-masing, Begitu juga dengan keluarga Vanessa.
Vanessa duduk di depan cermin, menyisir rambutnya. " Mulai sekarang Vanessa akan tinggal di rumah ini sebagai istrinya Aldo." gumam Vanessa, kemudian tersenyum pada bayangan Vanessa sendiri di pantulan cermin.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, lelaki gagah bertubuh atletis, yang kini menjadi suaminya itu masuk, dan berdiri di belakang Vanessa, membelai lembut rambut hingga bahunya. membuat hati Vanessa berdesir, dan wajahnya menghangat.
"Sayang! Kamu cantik sekali hari ini."ucap laki-laki yang baru beberapa jam saja lalu sah menjadi suami Vanessa. Aldo menundukkan tubuhnya, dagunya bergelayut di bahunya, dan tangannya melingkar di perut Vanessa, kemudian mengacu tangannya. Seketika membuat Vanessa terbuai dengan kelembutannya.
Aldo menuntunnya ke peraduan, dan melewati malam pengantin ini, dengan saling terpuaskan.
"Sayang rumah kamu itu, daripada kosong, mending kamu jual saja. Kan, aku ini anak tunggal, jadi kamu akan selamanya tinggal di sini bersamaku."ucap Aldo sesaat setelah menyelesaikan aktivitas panas mereka.
"Kenapa harus dijual, Mas?tanya Vanessa.
"Ya, enggak apa-apa, toh juga sekarang kamu tinggal di sini sama aku, kalaupun rumah itu dijual juga terserah kamu, uangnya mau buat apa, kan itu hak Kamu."
Aldo menatapnya meyakinkan, sedetik kemudian kecupan hangat mendarat di bibirnya.
"Oke sayang, aku setuju untuk menjual rumah itu."sahut Vanessa, Di tengah pergumulan ini.
__ADS_1
Pagi hari, Vanessa sudah turun ke dapur membantu menyiapkan sarapan, di rumah itu memang ada Bi Marni, seorang asisten rumah tangga, tapi sebagai anggota keluarga baru di rumah ini, lebih baik Vanessa menunjukkan kalau Vanessa bukan wanita manja, Vanessa juga bisa mengerjakan pekerjaan rumah.
Mungkin setelah sarapan nanti, semua saudara kembali ke rumah masing-masing. Tapi sejak tadi Vanessa tak melihat tante Rina ada di sini, ke mana wanita itu, hati Vanessa bertanya-tanya. Sambil mendendarkan pandangan ke penjuru ruangan.
"Kamu cari siapa, sayang?"tanya Aldo sepertinya tahu kalau Vanessa tengah mencari seseorang.
"Tante Rina nggak nginep di sini,Mas?"
"Oh tante Rina langsung pulang kemarin."
"Kenapa? kok seperti ketakutan melihat tante Rina?"tanya ibu mertuanya tiba-tiba, sambil menarik kursi. Kemudian duduk untuk sarapan bersama. Meja makan yang panjang dengan dua belas kursi telah penuh diisi oleh keluarga ini, termasuk orang tuanya.
"Nggak kok Bu, Vanessa cuman tanya aja, Bu!"sahutnya, merasa sedikit canggung karena Vanessa merasa sikap ibu mertuanya sedikit berbeda, tak seramah biasanya, ada apa? apa ini ada kaitanya dengan tante Rina, hatinya menerka-nerka.
Beliau tersenyum tipis mendengar ucapannya.
"Aldo, Vanessa, kemarin sayang, Ibu ingin bicara."
Ibu mertuanya duduk di ruang keluarga, Sepertinya ada hal serius yang ingin beliau bicarakan. Yang pasti Vanessa sama sekali tidak mengetahui apa yang akan dibicarakan oleh ibu mertuanya. Vanessa dan Aldo bergegas menyusulnya.
"Aldo kamu sudah punya istri sekarang, ibu mohon kamu jangan lagi keluyuran malam bersama teman-temanmu, dan sudahi kebiasaan mabukmu!" tegas ibu mertua Vanessa.
"Dan kamu Vanessa, mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan mengurus rumah tangga, kalau bisa kamu tak perlu bekerja, karena kewajiban mencari nafkah itu kewajiban Aldo sebagai suami."Vanessa mengangguk patuh, Vanessa sudah punya suami orang kaya, Untuk apa Vanessa bekerja, hatinya tersenyum.
"Mulai besok bi Marni sudah tak mau kerja lagi di rumah ini, jadi semua urusan masak maupun kebersihan rumah, semuanya menjadi tugasmu, Vanessa."ucapan Ibu sontak membuatnya mengernyit. Hah? Memangnya aku ini babu?
__ADS_1
"Tak perlu pasang muka mencebik begitu, ini perintah!" tegasnya lagi.
Vanessa berdiri ke sampingnya, Aldo Tampak santai mendengar perintah ibunya.
****
Hari berganti Hari, setiap pagi Vanessa harus bangun lebih pagi, untuk mencuci, memasak dan mengoper semua ia lakukan dengan baik, karena jika Vanessa sangat sedikit saja, Ibu mertuanya sudah mengomel. Huh, Vanessa kira enak jadi istri anak pengusaha kaya, Eh taunya Vanessa di sini diperlakukan seperti pembantu.
Belum lagi Vanessa lelah dengan pekerjaan rumah yang tak ada habisnya, Aldo juga kerap kali pulang malam, dalam keadaan mabuk benar-benar membuat Vanessa muak.
Ternyata pergaulan Aldo dengan teman-temannya berimbas buruk pada kehidupannya, ia tak lagi mendengarkan kata-kata Vanessa. Vanessa hanya diperlakukan seperti pembantu di rumah, dan melayani Aldo di ranjang kapanpun dia mau, Aldo juga kasar dalam memperlakukan Vanessa di atas ranjang.
Sungguh berbeda dengan Aldo yang iya kenal dulu sebelum pernikahan mereka berlangsung. Tanpa terasa tiga bulan sudah pernikahannya, sejak Vanessa sah menjadi menantunya, Ibu Alena Justru tak pernah bersikap baik terhadapnya. Berbanding terbalik dulu sebelum Vanessa menikah dengan Aldo, beliau yang begitu baik dan ramah. Seperti biasa pagi ini Vanessa mengepel lantainya rumah, rumah yang besar dengan tiga lantai, cukup memakan waktu lama untuk mengepel lantainya.
Sayup-sayup Vanessa mendengar Ibu mertuanya sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon, di dalam kamarnya. Kamar tak sepenuhnya tertutup jadi Vanessa masih bisa mendengar suara ibu Alena, Ibu mertuanya sendiri.
"Kamu tenang saja, Rin! Dia takkan berani macam-macam, kerjanya mengurus rumah, dia tak akan bisa keluar dari rumah ini." ucap Ibu Alena di dalam sambungan telepon selulernya kepada seseorang yang entah siapa lawan bicaranya.
"Bagus kalau begitu, kasih pelajaran yang berarti buat dia, agar dia tidak terlalu terobsesi untuk mengejar harta kekayaan setiap lelaki, karena tetangga saya sudah menjadi korbannya. Dia merebut suami tetanggaku, karena ia mengetahui lelaki itu pengusaha kaya." ucap tante Rina menyahuti Ibu Alena.
"Tadinya aku kira dia wanita baik-baik, melihat kebiasaan Aldo yang suka mabuk, Aku berharap setelah menikah dia bisa merubah Aldo. Tapi sepertinya sampai sekarang perubahan itu tidak ada malah makin menjadi." ucap Ibu Alena di dalam sambungan telepon selulernya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN